
Akan aku pertanyakan kemana perginya setiap perasaan yang kini mulai memudar, padahal dulu kita saling memuja bahwa perasaan kita kian tumbuh untuk hidup yang kita inginkan.
Persembahan hidup tentang harapan menjadi hampa setelah apa yang selama ini kita puja kian runtuh ditelan egoisme kehidupan yang sesungguhnya. Aku pertaruhkan roman kita untuk memilih siapa diantara semuanya yang paling bijak dalam memilih.
Hamba tuhan mana yang merasa baik-baik saja setelah kehilangan. Jika ada, tolong pertemukan aku dengan sosok itu, maka akan aku jadikan seorang guru yang patut untuk digurui oleh semua umat.
‘ berjanjilah kepadaku, bahwa perjalanan kita baru dimulai hari ini ‘ ucapku kepada perempuan itu.
Dia marah dengan rasa haru yang menyelimuti isi cerita kita bersama setelah sekian lama takdir menuntun hidup diantara kita berdua, aku meyakini apa yang dirasakannya saat itu adalah tangisan haru yang sengguhnya dari sebuah janji.
Ku berikan mawar indah ini sebagai bentuk rasa tulus dari perasaanku kepadanya, dia tersenyum tulus menerima mawar itu. Ku pikir ini adalah jalan yang benar untuk bisa mengisi kekosongan yang selama ini menyelimuti kita, namun nyatanya salah, bahkan setelah sekian lama aku bersamanya, untuk mengucapkan kata tulus saja leherku seperti sedang di lilit seekor ular.
Sebenarnya akupun merasa bahwa dia bukanlah sosok sempurna yang aku harapkan, tapi aku mencoba untuk meyakini bahwa setiap pembelajaran itu memiliki makna mendalam meskipun kita tidak tahu mana jalan terbaik yang pantas disebut sebagai takdir tuhan.
Aku kembali ke keadaan yang tidak bisa aku mengerti lagi, perasaan hampa seolah nadi ini mengalir di dalam keheningan, menatap gelapnya jiwa yang tidak beraturan lagi, aku memanjatkan do’a bergema samapai mana do’a itu sudah tidak bisa lagi ku dengar.
Ternyata tuhan memberi pilihan yang menurutku itu sama saja seperti membawaku ke akhir kisah antara aku dan dia, pilihan yang hanya memberi jawaban perpisahan, aku berdalih sampai jiwa ini memberontak, tapi itu semua tidak ada artinya, kini aku hanya menjalani takdir itu sendiri tanpa memperdulikan seperti apa akhirnya nanti.
Tuhan memberikan jawaban bahwa aku telah keliru dalam mengambil keputusan, aku menyadari hal itu tapi di dalam alur yang aku jalani selama ini semuanya seperti sama saja membawaku ke keadaan yang sama. Mari kita saksikan takdir tuhan mana yang bisa menghentikanku untuk berhenti mengagumi sosok yang pernah aku anggap sempurna.
-
Siang itu aku berada di stasiun kota berencana untuk pergi mencari ketenangan, Jakarta adalah kota yang akan aku singgahi, meninggalkan kota hujan untuk mengadu bahwa disini aku mulai gelisah.
Merasa hati yang sudah meredup kembali melihat keadaan yang memudar, kali ini aku mencoba untuk merubah kehidupan yang mengecewakan ini, aku tidak perduli dengan apa yang saat ini aku hadapi tapi satu hal yang aku tahu bahwa aku sudah benar-benar kecewa atas apa yang selama ini aku anggap sempurna ternyata hanya sebuah ilusi kejam.
Gerbong kereta menjadi saksi bahwa semua orang disini memiliki peranan masing-masing dalam kehidupan mereka, seperti seorang pria paruh baya yang duduk disampingku, aku merasa sepertinya dia sudah banyak menjalani waktu dalam kehidupannya dengan segala permasalahan yang pernah ia hadapi, raut wajah memancarkan kekosongan seolah semua hal yang dia rasakan hanya memberikan waktu yang tidak tergantikan bagaikan paradoks, garis nadi waktu yang mulai berantakan.
Aku yakin semua hal yang aku jalani hanyalah permasalahan yang tidak pernah aku selesaikan secara tuntas, aku hanya tidak pernah belajar untuk mengerti apa itu pembelajaran, aku hanya menghakimi ketidakadilan itu sendiri seolah aku sudah digariskan untuk tidak pernah memahami.
-
Pertanyaan dasar dari semua manusia adalah, apakah tuhan itu ada? dan kalau memang ada, kenapa di setiap permasalahan dan berdo’a tidak selamanya terjawabkan seolah ia tidak perduli. apakah tuhan itu ada atau hanya sebuah ilusi? Untuk menyimpulkan bahwa dunia ini tercipta, kehidupan terjadi secara kebetulan, menurutku itu sebuah kebetulan yang mustahil bisa dipecahkan oleh sains ataupun ilmu pemahaman lainnya. Filsafat, psikologi, sains, sastra dan seni akan nampak kebingungan akan keberadaan tuhan. Dan kali ini aku berani membuktikan keberadaan tuhan dengan nyata, logisnya manusia selalu bergantung dengan emosi yang berasal dari akal, keputusasaan yang dirasakan manusia adalah bentuk kekecewaan akan keberadaan tuhan, oleh sebab itu manusia sering kali merubah cara berpikir mereka, padahal tuhan sudah memberi isyarat bahwa perasaan kecewa yang dirasakan manusia saja sebenarnya milik tuhan.
Jika tuhan tidak ada, lantas dengan siapa kau berbicara didalam qalbu?
aku hanya akan mempertanyakan jalan hidup dalam kesendirian jiakalau aku sudah tidak bisa berjalan dan berdamai dengan keadaan ini akan aku pertanyakan seperti apa nasib kehidupanku setelah perpisahan ini berlanjut dikemudian hari demi mencapai keinginan aku sendiri untuk mencari kebahagiaan

