Jiwa yang asing

1227 Kata
Note : Sempatkan untuk membaca prolog ini sebelum masuk kedalam cerita. Prolog ; Kau datang bukan laksana tamu yang mengetuk di siang hari, Bukan pula sebagai perampok yang mendobrak pintu di tengah malam buta. Tidak. Kau lebih halus dari itu. Kau adalah semilir angin di kala senja, Yang membawa hawa dingin merayap perlahan ke dalam tulang. Kau adalah bayangan yang memanjang saat mentari mulai lelah, Menyelinap masuk melalui celah jendela yang lupa kututup rapat. Kau tidak berteriak, tidak memaksa. Kau hanya duduk di sudut ruangan, dalam diam yang memekakkan. Jubah kelabumu terhampar di lantai, Menyerap sisa-sisa cahaya dan tawa yang pernah ada. Matamu adalah telaga sunyi, memantulkan langit mendung yang tak pernah berkesudahan. Kau hadir tanpa undangan, namun tinggal seolah telah menjadi bagian dari perabotan. Dan aku, sang tuan rumah yang malang, Hanya bisa memandangimu, terpaku, Sembari bertanya dalam hati yang mulai membeku, Sejak kapan kau memutuskan untuk memilihku sebagai kediamanmu? Hidup adalah rangkaian ruang, katamu suatu ketika. Ruang pertemuan, ruang perpisahan, ruang penantian. Namun, Kesedihan, kau mengubah setiap ruang menjadi museum. Museum kenangan yang tak lagi bisa disentuh. Lihatlah kursi goyang di dekat perapian itu, Masih ada lekuk tubuhnya di sana, samar namun terasa. Tawanya seolah masih menggema, terperangkap di antara serat kayu, Namun yang terdengar kini hanyalah derit rapuh saat angin malam meniupnya pelan. Setiap sudut rumah ini berbisik tentang "dulu". Aroma kopi di pagi hari yang kini hanya angan. Suara langkah kaki di koridor yang kini hanya ilusi pendengaran. Buku-buku di rak menatapku dengan halaman yang tak pernah lagi terbuka, Kisah di dalamnya membeku, sama seperti hatiku. Aku berjalan menyusuri lorong-lorong memori, Sebuah labirin yang kubangun sendiri dari serpihan masa lalu. Setiap belokan adalah potret yang menguning, Senyum yang terpahat abadi dalam pigura waktu. Aku mencoba menyentuhnya, namun jemariku hanya bertemu kaca yang dingin. Mereka di sana, tertawa, bercengkrama, hidup. Sementara aku di sini, menjadi penonton bisu dari kebahagiaanku yang telah usai. Kesedihan, kau adalah kurator yang paling kejam. Kau menata setiap artefak kepedihan dengan begitu rapi. Kau putar kembali lagu-lagu lama yang menusuk kalbu, Kau bisikkan kembali janji-janji yang tak pernah sempat ditepati. Kau membuatku rindu pada sesuatu yang tak akan pernah kembali, Sebuah kerinduan yang begitu dalam, begitu tajam, Hingga napas pun terasa seperti menghirup serpihan beling. Ruang ini tak lagi hampa, katamu. Benar. Kini ia penuh sesak oleh ketiadaan. Ada badai yang tak terlihat oleh mata dunia. Ada lautan yang bergelora di dalam rongga d**a. Kesedihan, kau adalah sang nakhoda dari kapal karamku. Kau menenggelamkanku perlahan ke palung terdalam. Bermula dari gerimis tipis, Rasa pilu yang datang dan pergi seperti awan yang lewat. Kukira hanya mendung sesaat, yang akan sirna seiring fajar. Namun gerimis itu menjadi hujan deras yang tak kunjung reda, Membasahi seluruh fondasi jiwa, membuatnya lapuk dan rentan. Lalu hujan itu menjadi badai, dengan guntur yang menyambar harapan, Dan kilat yang menyilaukan mata dari segala keindahan. Dadaku kini adalah samudra. Setiap tarikan napas adalah gelombang pasang yang berat, Menghempas-hempas karang kesabaran hingga terkikis. Setiap detak jantung adalah dentuman ombak di lambung kapal, Mengingatkanku betapa rapuhnya dinding pertahananku. Aku mencoba berenang, menggapai permukaan, Mencari seberkas cahaya mentari yang menembus air keruh ini. Namun kakiku terbelit rumput laut kekecewaan, Tanganku ditarik oleh arus penyesalan yang deras. Di kedalaman ini, suara menjadi redam. Teriakan minta tolongku hanya menjadi gelembung-gelembung udara, Yang pecah bahkan sebelum mencapai permukaan. Dunia di atasku terus berjalan, kapal-kapal lain berlayar dengan gagah, Tak ada yang tahu, tak ada yang peduli, Bahwa satu jiwa sedang tenggelam dalam sunyi. Garam dari air mata telah menyatu dengan lautan ini, Membuatnya semakin asin, semakin perih. Dan kau, Kesedihan, kau adalah sauh berkarat, Yang menahanku di dasar, membiarkanku akrab dengan kegelapan dan tekanan yang menghimpit. Mengapa? Pertanyaan itu menggantung di udara, tak pernah terjawab. Seperti layang-layang putus yang terbang tanpa tujuan. Aku menengadah pada langit yang senantiasa kelabu, Langit yang seolah memahami warna hatiku. Aku bertanya pada bintang yang enggan bersinar, Pada bulan yang sembunyi di balik awan pekat. Aku bertanya pada angin yang hanya membawa dingin tanpa jawaban. Mengapa aku? Apakah hidup ini sebuah panggung sandiwara, Dan aku dipilih untuk memerankan tokoh yang paling tragis? Apakah tawa yang pernah kumiliki hanyalah pinjaman sesaat, Yang kini harus kubayar lunas dengan bunga duka yang tak terhingga? Aku melihat orang lain berjalan di bawah matahari, Wajah mereka bercahaya, langkah mereka ringan. Mereka membangun istana pasir kebahagiaan di tepi pantai, Sementara aku hanya bisa melihat ombak takdirku menghancurkannya berkali-kali. Iman menjadi seutas benang yang rapuh, Tergoyang oleh badai keraguan yang terus-menerus. Doa-doa yang kupanjatkan terasa seperti gema di gua kosong, Memantul kembali tanpa pernah sampai ke tujuannya. Aku mencoba merangkai kepingan-kepingan logika, Mencari makna di balik setiap kehilangan, Mencari hikmah di balik setiap air mata. Namun yang kutemukan hanyalah teka-teki yang lebih rumit, Sebuah labirin penderitaan tanpa pintu keluar. Aku lelah. Lelah berpura-pura bahwa topeng senyum ini tidak berat. Lelah mengatakan "aku baik-baik saja" saat jiwaku menjerit. Lelah menjadi kuat saat setiap sendi di tubuhku ingin remuk. Kesedihan, kau telah mengubahku menjadi filsuf yang paling pesimis, Yang melihat retakan di setiap cangkir, Dan melihat senja di setiap fajar. Waktu terus berjalan, tanpa kompromi. Musim berganti, daun-daun mengering lalu tumbuh kembali. Namun musim di hatiku seolah abadi. Hingga suatu hari, aku berhenti melawan. Aku berhenti mencoba mengusirmu, untuk Kesedihan ini. Aku sadar, semakin keras aku mendorongmu pergi, Semakin erat kau memelukku. Semakin kencang aku berlari darimu, Semakin setia kau menjadi bayanganku. Maka, aku berhenti. Aku duduk di sampingmu, di sudut ruangan yang sama. Kita memandang keluar jendela bersama, dalam diam yang kini terasa berbeda. Bukan lagi diam yang memekakkan, melainkan diam yang menenangkan. Aku mulai melihatmu bukan sebagai musuh. Kau adalah guru yang paling getir. Kau mengajariku tentang kerapuhan manusia, Tentang betapa berharganya setitik cahaya di tengah gulita. Kau mengupas lapis demi lapis kesombonganku, Mengingatkanku bahwa aku tak punya kuasa atas takdir. Kau menunjukkan kepadaku kedalaman jiwaku sendiri, Palung-palung yang tak pernah kuselami, Gua-gua tersembunyi tempat kutitipkan luka-luka lama. Kau membuatku lebih berempati. Saat kulihat tatapan kosong di mata orang asing, aku mengenalinya. Saat kudengar getar dalam suara sahabatku, aku memahaminya. Kau adalah bahasa universal, sebuah jembatan tak terlihat yang menghubungkan jiwa-jiwa yang terluka. Kau adalah bekas luka yang tak akan pernah hilang, Namun menjadi penanda bahwa aku telah bertahan. Bahwa aku pernah bertarung dalam pertempuran yang tak terlihat, Dan meski babak belur, aku masih di sini. Masih bernapas. Lara duka, kau tak pernah benar-benar pergi. Kau masih di sini, duduk di kursi goyang itu. Namun kini, jubahmu tak lagi tampak begitu kelabu. Terkadang, saat fajar menyingsing, Seberkas cahaya keemasan menerobos masuk melalui jendela, Menyinari wajahmu, dan untuk sesaat, aku melihat ada warna lain di sana. Warna kebijaksanaan, warna penerimaan, warna kedamaian. Kau tak lagi lautan yang menenggelamkan. Kau kini adalah sungai tenang yang mengalir di dalam diriku, Membawa endapan memori, namun juga mengalir menuju muara harapan. Kau bukan lagi bayangan yang menakutkan, Melainkan bagian dari diriku, bagian dari lanskap jiwaku yang utuh. Sebuah lembah gelap yang membuatku lebih menghargai puncak gunung yang terang. Hidup terus berjalan, dengan segala getir dan manisnya. Tawa kini terdengar lebih tulus, karena aku tahu betapa mahalnya ia. Senyum kini terasa lebih hangat, karena aku tahu dinginnya air mata. Dan aku, sang tuan rumah, tak lagi merasa malang. Aku telah belajar menari bersamamu di tengah badai, Belajar menyeduh teh untuk kita berdua di keheningan senja. Karena tanpamu, duhai jiwa yang asing, aku mungkin tak akan pernah mengerti, Arti sesungguhnya dari menjadi manusia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN