Aku

1799 Kata
Alarm digital di ponsel Pansa berbunyi, memecah keheningan artifisial kamarnya. Tidak ada kicau burung, hanya dengung pendingin udara. Cahaya pagi yang masuk melalui jendela kaca raksasa apartemennya di lantai 32 terasa pucat, dipantulkan oleh gedung-gedung pencakar langit lainnya. Rutinitas paginya digambarkan secara mekanis. Kaki telanjangnya menapaki lantai parket yang dingin. Mesin kopi otomatis mengeluarkan cairan hitam pekat yang aromanya lebih terasa kimiawi daripada alami. Di kamar mandi, air dari pancuran dengan tekanan sempurna terasa seperti ribuan jarum kecil yang gagal membangunkannya dari mati rasa. Saat bercermin, ia tidak benar-benar melihat dirinya; ia hanya melihat serangkaian tugas: bercukur, menata rambut, mengenakan kemeja yang terasa kaku di kulitnya. Perjalanan ke kantor adalah sebuah simfoni keterasingan. Di dalam lift yang meluncur turun dengan cepat, ia berdiri di antara orang-orang berwajah serupa, semua menatap layar ponsel, terisolasi dalam gelembung digital masing-masing. Di dalam mobilnya, terjebak kemacetan Jakarta, suara klakson dan deru mesin menjadi musik latar yang menyesakkan. Pemandangan di luar hanyalah beton, kaca, dan baja. Pansa menatap semua itu tanpa melihat, pikirannya kosong, hanya ada dengung keresahan yang konstan di dasar kesadarannya, seperti suara frekuensi rendah yang tak pernah berhenti. Kantornya adalah sebuah kubikel steril di lautan kubikel lainnya. Cahaya lampu neon yang tajam membuat segalanya tampak tanpa bayangan, tanpa kedalaman. Pekerjaannya melibatkan menatap layar monitor selama berjam-jam, menganalisis data, membuat grafik, dan menyusun presentasi PowerPoint. Kata-kata seperti "sinergi", "optimalisasi", dan "pertumbuhan eksponensial" mengisi layarnya, tetapi terasa hampa, seperti bahasa asing yang ia kuasai tata bahasanya namun tidak pernah mengerti jiwanya. Pansa sedang di tengah rapat penting. Ia mempresentasikan proyeksi keuntungan kuartal berikutnya kepada jajaran direksi. Layar proyektor besar di belakangnya menampilkan grafik yang menanjak naik dengan indah. Ia menggerakkan penunjuk laser, menyorot angka-angka. Namun, saat ia melihat pantulan wajahnya di meja rapat yang mengkilap, ia melihat seorang asing. Matanya kosong, gerakannya terlatih. Keresahan itu tiba-tiba terasa fisik, seperti tekanan di dadanya, membuat napasnya dangkal. Ia menyelesaikan presentasi dengan sempurna. Tepuk tangan terdengar, tetapi baginya suara itu seperti hujan yang jatuh di atap seng, jauh dan tidak berarti. Ia kembali ke mejanya, menatap monitor yang menyala, dan merasa lebih lelah dari sebelumnya. Kelelahan yang bukan berasal dari fisik, melainkan dari jiwa. Malam itu, saat mencari dokumen lama di apartemennya, tangannya menyentuh sesuatu yang terlupakan di dasar laci meja kerjanya. Sebuah benda kecil dari kayu. Ia menariknya keluar. Itu adalah sebuah patung burung kecil yang kasar, diukir dari sepotong kayu jati, sayapnya terbentang seolah siap terbang. Permukaannya tidak mulus, masih ada bekas-bekas guratan pisau yang kikuk. Benda itu adalah pemicunya. Memori yang telah lama terkubur menyeruak ke permukaan dengan kekuatan dahsyat. Bukan sebagai gambar yang jelas, tetapi sebagai perasaan. Perasaan hangat matahari sore di punggungnya, kehangatan tawa seseorang dan suka cita ketika bersama seseorang, suara tawa seorang wanita yang sabar mengajarinya cara memahami arti kata sabar. Memori itu berasal dari sebuah dunia yang sama sekali berbeda, sebuah rumah panggung kayu di desa yang jauh, tempat ia menghabiskan waktu bersama pujaannya. Kontras antara kehangatan memori itu dan dinginnya apartemennya yang steril begitu menusuk. Burung kayu di tangannya terasa hidup, berdenyut dengan kenangan. Sementara segala sesuatu di sekelilingnya, ponsel canggih, laptop mahal, perabotan desainer terasa mati. Malam itu, Pansa tidak tidur. Ia hanya duduk di sofa, memandangi burung kayu itu di bawah sorotan lampu baca, sementara bayangan gedung-gedung lain menatapnya dari luar jendela seperti mata-mata raksasa. Keresahan itu kini memiliki nama : kerinduan akan sesuatu yang telah hilang. Keputusan itu tidak datang melalui pemikiran rasional atau daftar pro dan kontra. Keputusan itu datang seperti air bah yang menjebol bendungan. Pagi berikutnya, ia berdiri di depan cermin kamar mandi, dan kali ini, ia benar-benar melihat dirinya. Ia melihat lingkaran hitam di bawah matanya, kekosongan dalam tatapannya. Ia melihat retakan-retakan halus di fasad kesuksesan yang telah ia bangun. Dengan gerakan yang tenang dan disengaja, ia melakukan sesuatu yang di luar kebiasaannya. Ia tidak menyalakan mesin kopi. Ia tidak memeriksa email di ponselnya. Ia membuka lemari, mengambil sebuah tas ransel tua yang sudah lama tidak terpakai. Ia memasukkan beberapa helai pakaian, dompet, dan burung kayu kecil itu. Ia meletakkan ponsel kerjanya, laptop, dan kunci mobil di atas meja dapur. Ia memandang sekeliling apartemennya untuk terakhir kali, bukan dengan kesedihan, tetapi dengan kelegaan seorang narapidana yang menemukan pintunya tidak terkunci. Ia keluar dari apartemen itu, menutup pintu di belakangnya, dan meninggalkan gema kehidupannya yang lama. Perjalanan Pansa digambarkan sebagai sebuah proses pemurnian. Ia naik kereta api ekonomi, bukan kelas eksekutif yang biasa ia gunakan. Gerbong itu penuh sesak dan berisik, tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa menjadi bagian dari sesuatu yang nyata. Ia merasakan getaran rel di bawah kakinya, melihat keringat di dahi penumpang lain, mencium aroma aneka ragam makanan. Ia menatap keluar jendela selama berjam-jam. Pemandangan berubah secara bertahap. Gedung-gedung pencakar langit yang angkuh digantikan oleh pabrik-pabrik berasap, lalu perumahan padat, lalu hamparan sawah hijau yang tak berujung. Setiap kilometer yang ditempuh kereta seolah mengikis satu lapisan kepalsuan dari dirinya. Ia tidak membaca, tidak mendengarkan musik. Ia hanya menonton dunia berlalu. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, pikirannya tidak merencanakan, tidak menganalisis. Pikirannya hanya mengamati. Matahari terbenam di atas sawah, mewarnai langit dengan warna oranye yang dramatis, sebuah pemandangan yang tak pernah bisa ditandingi oleh layar monitor mana pun. Setelah perjalanan panjang dengan kereta dan dilanjutkan dengan angkutan pedesaan, ia akhirnya tiba di desanya. Udara terasa berbeda lebih berat oleh kelembapan, dipenuhi aroma tanah, bunga liar, dan kayu bakar. Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang dikenali jiwanya, menuju rumah panggung kayu peninggalan kakeknya. Rumah itu berdiri sunyi di antara pepohonan rindang, tampak tua dan lelah. Catnya telah mengelupas, beberapa papan kayu lapuk, dan halaman ditumbuhi rumput liar. Namun, bagi Pansa, rumah itu terasa seperti pelukan. Ia membuka pintu yang berderit. Di dalam, segalanya terselubung debu tebal dan sarang laba-laba. Perabotan tua ditutupi kain putih, membuatnya tampak seperti hantu-hantu yang sedang beristirahat. Sinar matahari sore menerobos melalui celah-celah dinding, menciptakan garis-garis cahaya di udara yang berdebu. Keheningan di dalam rumah itu begitu pekat, namun tidak hampa. Keheningan itu penuh dengan bisikan masa lalu. Pansa meletakkan tasnya, dan untuk pertama kalinya sejak ia pergi, ia merasakan beban di pundaknya terangkat. Hari-hari berikutnya diisi dengan kerja fisik. Pansa tidak punya rencana besar. Ia hanya melakukan apa yang perlu dilakukan. Ia memulai dengan membersihkan rumah. Gerakannya lambat dan penuh kesadaran. Ia menyapu lantai, membersihkan debu yang telah mengendap selama bertahun-tahun, membuka jendela-jendela agar udara segar bisa masuk. Setiap tindakan adalah sebuah ritual. Mengangkat kain penutup dari kursi tua, ia mencium aroma kayu dan kapur barus. Membersihkan jendela, ia melihat dunia luar menjadi lebih jelas. Ia memperbaiki tangga yang goyang, mengganti genteng yang pecah, mencabuti rumput liar di halaman. Tangannya yang biasa hanya mengetik di keyboard kini menjadi kapalan dan lecet. Otot-ototnya yang jarang digunakan terasa sakit. Ia berkeringat di bawah matahari, merasakan kelelahan fisik yang memuaskan di penghujung hari, jenis kelelahan yang menghasilkan tidur nyenyak, bukan kegelisahan. Ia menemukan irama baru dalam hidupnya, yang ditentukan bukan oleh jam atau tenggat waktu, melainkan oleh matahari terbit dan terbenam, dan oleh kebutuhan-kebutuhan sederhana dari rumah tua itu. Pansa menjadi seorang pengamat. Ia tidak berusaha untuk bersosialisasi. Ia hanya menonton kehidupan desa yang mengalir di sekelilingnya. Ia melihat seorang petani tua berangkat ke sawah setiap pagi dengan langkah yang mantap. Ia melihat anak-anak bermain layang-layang di lapangan saat sore hari, tawa mereka terdengar lepas. Ia melihat seorang ibu menenun kain di beranda rumahnya, jari-jarinya bergerak dengan ketangkasan yang diwariskan turun-temurun. Tidak ada yang terburu-buru. Setiap orang memiliki tujuan yang jelas dan nyata. Petani menanam padi untuk makan. Penenun membuat kain untuk dipakai. Tidak ada target abstrak, Kehidupan mereka terjalin langsung dengan bumi dan kebutuhan. Pansa merasa seperti hantu, mengamati dari kejauhan, tetapi melalui pengamatan ini, ia mulai memahami apa yang hilang dari hidupnya: tujuan yang membumi, koneksi yang otentik dengan pekerjaan dan hasil. Suatu sore, saat membersihkan gudang di bawah rumah, ia menemukan sebuah peti kayu tua. Di dalamnya, terbungkus kain belacu, adalah peralatan lukis milik kakeknya. Kuas-kuas dengan berbagai ukuran, gagangnya telah menghitam dan halus karena sering digenggam. Di sampingnya, ada beberapa kanvas yang belum sempat ditaburi cat. Pansa membawa peralatan itu ke beranda. Ia mengambil salah satu kanvas dan kuas terkecil. Ia duduk, meletakkan burung kayu dari laci mejanya di hadapannya sebagai model. Tangannya terasa kaku dan canggung. Arsiran pertamanya terlalu dalam, sedikit merusak permukaan kanvas. Arsiran berikutnya terlalu ragu-ragu, nyaris tak meninggalkan bekas. Proses ini menjadi meditasi barunya. Selama berjam-jam, setiap hari, ia akan duduk di beranda, mencoba melukis. Ia tidak memikirkan pekerjaan, tidak memikirkan masa depan. Seluruh kesadarannya tercurah pada interaksi antara kuas dan serat kanvas. Ia belajar membaca arah anatomi yang tepat, merasakan di mana kuas itu akan mudah di arsir dan di mana ia akan melawan setiap goresannya. Ia mulai memahami bahwa melukis bukanlah tentang memaksa kuas untuk mengikuti kehendaknya, melainkan tentang bekerja sama dengan kanvas untuk menyingkap bentuk yang sudah ada di dalamnya. Keresahan dalam dirinya mulai menemukan penyaluran. Energi gelisah itu kini fokus pada satu titik: ujung kuas lukis. Proses belajar itu menyakitkan. Jari-jarinya penuh dengan cipratan cat dan sedikit kebas akibat terlalu lama memegang kuas. Beberapa kali, karena frustrasi, ia hampir melempar kanvas yang gagal ke halaman. Setiap kegagalan adalah cerminan dari ketidaksabarannya, dari kebiasaan otaknya yang terbiasa menginginkan hasil instan. Namun, ia tidak berhenti. Rasa sakit fisik itu terasa nyata, sebuah pengingat bahwa ia hidup. Berbeda dengan sakit emosional yang tumpul dan kronis yang ia rasakan di kota. Setiap kali ia merentangkan jarinya, ada kepuasan kecil. Setiap kali ia berhasil membuat sebuah lengkungan yang halus, ada kegembiraan yang murni. Ia belajar melalui luka dan kegagalan. Ia belajar tentang kerendahan hati. Ia sadar bahwa keahlian membutuhkan waktu, kesabaran, dan pengorbanan—sesuatu yang telah dilupakan oleh dunianya yang serba cepat. Setelah berminggu-minggu mencoba, akhirnya sesuatu mulai terbentuk. Dari sebuah kanvas yang kosong, perlahan muncul kepala, tubuh, dan sayap seekor burung. Arsirannya masih kasar, jauh dari sempurna, tidak sehalus buatan kakeknya. Namun, burung itu memiliki karakternya sendiri. Ada jejak perjuangan dan keraguan dalam setiap guratannya. Momen puncaknya adalah ketika ia menyelesaikan ukiran itu. Ia memolesnya hingga halus, merasakan tekstur kanvas yang hangat di telapak tangannya. Ia memegang lukisan burung hasil karyanya sendiri di satu tangan, dan burung kayu buatan kakeknya di tangan yang lain. Keduanya berbeda, namun keduanya adalah bagian dari cerita yang sama. Pada saat itu, sebuah pemahaman mendalam menyelimutinya. Kebahagiaan bukanlah tentang mencapai tujuan akhir yang sempurna, melainkan tentang menemukan makna dalam proses penciptaan itu sendiri. Ia tidak merasakan euforia yang meledak-ledak, melainkan sebuah kedamaian yang tenang dan mendalam. Keresahan itu tidak hilang, tetapi telah berubah bentuk. Ia tidak lagi menjadi musuh yang harus dilawan. Kenangan yang melekat diingatannya selalu menanyakan bagaimana kabar seorang pujaan hati yang selama bertahun-tahun ia tinggalkan, kini orang itu sudah tidak bisa ia temui lagi, perjalanan pansa pulang ke kampung halamannya masih belum selesai, dia ingin sekali lagi melihat pantulan fatamorgana dari wajah seseorang yang selama ini dia rindukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN