BAB II
PEMBUKA RAHASIA
hari ini panca membuka mata dengan perasaan yang gelisah akan mimpinya tadi malam, seperti ada sesuatu yang mengganjal dipikirannya, Luna sudah lama pergi namun dia masih terbayang sosoknya itu, dia merasa semuanya hanya kepalsuan.
mimpinya tadi malam seolah begitu nyata.
Luna adalah sosok perempuan pertama yang mampu merubah kehidupan Pansa, itulah mengapa Pansa merasa gundah setelah kehilangan Luna selama bertahun-tahun. Bukan karna sesuatu yang mustahil dilupakan tapi tentang begitu berat keinginan seseorang untuk bisa terus bersama namun na'as harus berpisah.
delapan tahun lalu mereka harus berpisah karna sebuah ego dari orang lain yang memaksa hubungan mereka harus berakhir tanpa adanya sebuah kepuasan bagi mereka berdua.
kembali ke kehidupan yang saat ini, Pansa disibukan dengan suasana kantor yang begitu membosankan, dipikirannya saat ini sedang memutar kenangan-kenangan bersama Luna, perempuan yang menemaninya dari masa sekolah SMA, episode dimana Pansa dan Luna sedang tertawa bersama kontras teringant dipikirannya.
Bukan berarti tidak pernah berusaha untuk kembali mencari keberadaan Luna, begitu banyak upaya namun tidak pernah berhasil, seperti benang merah yang sudah terputus.
_
langkah sepatu hak terdengar berjalan mendekati Pansa yang sedang duduk menatap layar monitor, dia adalah Sally, perempuan cantik yang menjadi idaman para pria dikantornya, tidak ada satupun lelaki yang bisa meluluhkan perempuan itu.
" Pan.... "
" Pansaaa!!!! "
Sally berkali-kali memanggil Pansa yang tengah melamun.
" ehhh sorry! kenapa Sal ? "
tatapan kosong Pansa saat itu sedang memutar kenangannya bersama Luna.
" lagi kenapa si ngelamun aja ! " ucap Sally
" ini lagi liat trafik, lagi ga stabil kayaknya " alibi Pansa sambil menunjuk ke layar monitor.
Semua rekan kerja Pansa merasa iri kepadanya, karna di kantor hanya Pansa yang paling dekat dengan Sally, selain itu Sally juga terlihat begitu peduli dengan Pansa, beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditangani oleh Pansa kerap kali Sally turut membantunya.
" btw! pulang nanti dinner yu!? ada tenant resto baru opening hari ini, mereka lagi ada promo lumayan " ajak Sally.
Sally tahu betul sifat Pansa, dia adalah orang yang tidak begitu menyukai kemewahan, sering kali Pansa menolak ajakan makan di tempat mahal karna Pansa adalah orang yang selalu mempertimbangkan soal keuangan, layaknya orang yang berasal dari pedesaan, selagi ada makanan yang murah dan sehat apapun itu yang penting perutnya kenyang.
" boleh, nanti aku kabarin ya, kita ketemu di tempat biasa aja, aku beres-beres kerjaan dulu " balas Pansa.
_
Hari mulai gelap, cahaya lampu jalanan mulai menyinari kota jakarta, deruh mesin kendaraan memadati jalanan kota, orang-orang baru saja menyelesaikan aktivitas rutin mereka, karyawan kantor sibuk melihat jam tangan mereka menanti waktu pulang tepat waktu berjumpa dengan keluarga mereka, para pedagang menanti pundi rupiah mendatangi mereka. semua orang hanya memikirkan kehidupan mereka masing-masing. sama seperti Pansa yang saat ini tengah duduk di bangku taman menunggu seseorang datang menjemputnya.
_
" maaf ya lama! macet banget soalnya " ucap seorang perempuan yang baru saja menghampirinya.
Malam ini Sally tampil begitu cantik, beda dari biasanya, make up yang memanjakan mata para pria, gaun indah menyatu yang menyatu dengan kecantikannya. Pansa menatapnya seolah terpesona.
" kenapa? ga cocok ya penampilan aku? "
ucap Sally dengan raut wajah gelisah, Sally berharap Pansa memuji penampilannya malam ini.
" cantik kok " celetuk Pansa.
Sally tidak tahu pasti seperti apa perasaan Pansa kepadanya, dia merasa Pansa adalah pria yang sulit dipahami, Sally bahkan tidak tahu ucapannya tadi adalah ketulusan atau hanya pujian belaka.
padahal selama ini Sally sudah sangat terbuka dan jujur bahwa dia begitu menyukai Pansa, namun sampai saat ini Pansa masih belum memberikan jawaban pasti yang bisa meyakinkannya.
Mereka berdua baru saja sampai di tempat yang dimaksud Sally tadi siang selagi di kantor, suasana ramai memenuhi line kasir restoran tersebut, suara dapur yang terdengar kencang menandakan koki mereka sedang sibuk dengan masakannya. Pansa dan Sally mencari tempat duduk yang paling ujung, mereka memesan makanan satu paket dengan minuman khas restoran tersebut.
" tau nggak, ini makanannya viral banget di sosmed, penasaran banget akhirnya kesampaian juga " ucap Sally sambil mengambil suapan pertama.
Pesanan mereka berbahan dasar daging ayam ditaburi dengan sedikit tambahan saus kecap manis, dimasak lama dalam panci dengan taburan minyak wijen, yang menghasilkan aroma kuat, ditambah dengan minumannya yang berbahan tea membuatnya lebih rileks.
" enak sih, tapi kalo ga ada karbo jadinya kurang pas diperut aku " celetuk Pansa sambil menyantap pesanannya.
" haha.... aku udah yakin sih kamu bakalan ngomong kayak gitu " balas Sally.
Melihat dari cara Sally berbicara seperti ada yang ingin dia sampaikan kepada Pansa, Sally mengakui bahwa untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Pansa lehernya seperti sedang di lilit seekor ular.
Sally tidak tahu apa yang dirasakannya, padahal sebelumnya Sally dengan tegas pernah mengungkapkan perasaannya kepada Pansa tanpa adanya keraguan. Pada sat itu Pansa meminta kepada Sally bahwa untuk saat ini jangan pernah membahas tentang perasaan, alibi Pansa saat itu agar dia bisa fokus dalam karirnya terlebih dahulu, namun Sally yakin itu bukanlah alasan utamanya.
Semakin dalam mengenal sosok Pansa Sally semakin terseret kedalam kekosongan yang ada di dalam diri Pansa. namun Sally yakin suatu saat Pansa akan lebih terbuka kepadanya, yang perlu ia lakukan saat ini adalah mengisi kekosongan tersebut sampai Pansa bisa menyadari begitu banyak pengorbanan yang selama ini Sally berikan.
_
" udah malem nih, pulang yuk, istirahat "
ajak Pansa, saat ini mereka berdua sedang berada di pinggiran kota, selesai dinner mereka mencari jajanan ringan untuk dibawa pulang.
" sebelum itu aku boleh nanya sesuatu ga Pan? " ucap Sally dengan rasa ragu.
" boleh, soal apa? " balasnya.
Raut wajah Sally tiba-tiba serius, dia berusaha untuk tetap tenang meskipun Sally yakin bahwa Pansa bisa dengan mudah menjawab pertanyaannya.
" sebenernya perasaan kamu ke aku itu kayak gimana sih? meskipun dulu aku udah pernah menanyakan hal yang sama tapi jujur aku ga bisa menerima jawaban kamu waktu itu "
Seperti apapun setiap keinginan Sally untuk menjalin hubungan dengan Pansa, sebenarnya halangan yang paling besar adalah kenangan masa lalu Pansa yang belum berakhir, entah sampai kapan Pansa harus mengemban perasaan tersebut namun sampai saat ini belum juga terpikirkan untuk menjalin hubungan dengan orang lain dan melupakan sosok Luna.
Setelah mendengar pertanyaan Sally sontak kenangan-kenangan bersama Luna kembali diputar dalam ingatan Pansa, irama kisah yang pernah dialaminya menghadirkan rasa rindu yang semakin kuat. Pansa kebingungan saat ini, dia tidak tau harus memberikan jawaban seperti apa agar tidak mengecewakan perasaan Sally, bahkan untuk berbohong pun sepertinya Pansa sudah tidak bisa.
" jujur aja aku gak tau harus kayak gimana, tapi kalo kamu nanya aku suka apa enggak udah pasti suka, kamu cantik, baik, perhatian sama aku mau di tempat kerja atau dimanapun, kamu orang pertama yang ngasih tau kehidupan di kota saat pertama kali aku dateng ke sini, semua orang di kantor juga banyak yang suka sama kamu. tapi untuk saat ini tolong simpan dulu perasaan kamu ke aku, saat ini ada hal yang lebih penting lagi yang harus aku selesaikan " jelas Pansa.
" soal apa? soal karir kamu? kan itu semua bisa dijalanin tanpa harus mengorbankan hubungan kita misal kita udah bersama " balas Sally seolah tidak puas dengan jawaban Pansa.
" iya aku betul-betul memahami hal itu, tapi aku takut nanti kecewa sama aku, pada intinya aku belum bisa jelasin semuanya " Pansa menatap wajah Sally yang mulai meneteskan air mata.
" justru aku lebih kecewa lagi kalo kamu ga bisa ngasih jawaban pasti " ucap Sally yang kemudian berjalan meninggalkan Pansa.
" Sal... " Pansa dibuat terdiam melihat Sally pergi.
Perasaan kecewa belum bisa menerima kenyataan yang dirasakan Sally, dia tidak tahu harus dengan cara seperti apa agar Pansa bisa meluapkan isi hatinya, Sally hanya mengharapkan satu jawaban pasti tanpa ada pengecualian, bukan sebuah alibi seolah perasaannya tidak pantas dihargai.
_
Keesokan harinya sesampainya Pansa di kantor ia melihat Sally tidak ada di ruangannya, beberapa orang menanyakan keberadaan Sally, Pansa adalah orang pertama yang ditanyai oleh rekan kerjanya.
" semalem bukannya abis dinner bareng sama lu " ucap Bimo, rekan kerja terdekat Pansa.
" iya, gua coba telpon ga aktif lagi " balas Panca.
ruangan tiba-tiba menjadi hening setelah sorang direktur perusahaan memasuki ruangan dan menghampiri Pansa.
" saya tidak mau tau, hari ini ada meeting kita butuh Sally, saya ga mau scejule hari ini berantakan " ucap direktur tersebut kemudian berjalan meninggalkan Pansa.
" baik pak! " balas Pansa.
_