bc

Balikan Sama Mantan? Seriusan Lo?!

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
family
HE
second chance
drama
sweet
lighthearted
city
office/work place
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

Dulu, gue pikir Miko adalah cinta pertama dan terakhir gue. Kita pacaran dari kelas dua SMA, jadi couple paling bikin iri satu angkatan. Tapi ternyata, cinta doang gak cukup. Setelah lulus, dia ngilang—tanpa penjelasan. Sakitnya? Masih kebawa sampai sekarang.

Lima tahun kemudian, gue jadi manajer kreatif di agensi iklan top. Hidup gue udah rapi... sampai Miko muncul lagi. Bukan lagi anak bandel tanpa arah—dia sekarang CEO start-up digital yang kerja bareng proyek kantor gue. Dan sialnya, dia masih sama: ngeselin, dominan, dan suka banget bikin gue salah tingkah.

"Gue tahu lo masih cinta gue, Rin."

Gue pikir perasaan itu udah mati. Tapi kenapa hati gue deg-degan setiap kali dia deket?

Sekarang gue harus kerja bareng mantan yang pernah gue benci setengah mati... dan mungkin masih gue cinta setengah mati juga.

Apakah balikan sama mantan itu ide paling bodoh, atau... satu-satunya cara buat gue sembuh?

chap-preview
Pratinjau gratis
Reuni yang Gagal Move On
Langkah kaki gue beradu dengan marmer dingin lantai lobi Balindra. Wangi kopi mahal dari kafe di sudut sana menusuk hidung, berbaur dengan aroma parfum orang-orang yang melintas. Gue rapikan blazer hitam, mencoba memantapkan diri. Hari ini big day. Meeting proyek kolaborasi Cipta Raya Agency dengan start-up yang lagi naik daun itu. Rara, rekan gue dari tim konten, menyenggol lengan gue. Matanya melirik gugup ke arah lift. "Gila ya, Rin. Katanya CEO-nya masih muda banget. Udah gitu hot," bisiknya. Gue cuma mendengus. Hot. Udah berapa kali gue denger deskripsi itu? Kerja ya kerja. Nggak usah mikirin bonus pemandangan. Lift membawa kami naik, meluncur mulus ke lantai eksekutif. Pintu terbuka. Lorong hening, karpet tebal meredam setiap suara. Udara di sini terasa beda. Lebih kaku, lebih… polished. Ruang meeting utama ada di ujung, pintunya udah terbuka. Gue masuk lebih dulu, Rara mengekor. Ruangan itu didominasi meja panjang dari kayu gelap, dikelilingi kursi-kursi ergonomis. Jendela besar menghadap ke Merpati Raya Business District, gedung-gedung pencakar langit menjulang, terlihat kecil dari sini. Beberapa orang udah duduk di seberang meja, senyum tipis terpasang. Pandangan gue menyapu ruangan. Tim mereka udah siap. Gue mencari sosok yang disebut "CEO muda hot". Jantung gue berhenti berdetak. Atau malah berdetak terlalu kencang? Dia. Duduk paling tengah di seberang gue. Kemeja biru tua pas badan, lengan digulung sebatas siku. Jam tangan silver melingkar di pergelangan. Rambut hitamnya sedikit gondrong, jatuh menutupi kening. Senyumnya… senyum itu… Miko. Miko Ardian Prasetya. Mantan yang raib tanpa jejak delapan tahun lalu. Mantan yang tiba-tiba duduk di sana, di depan gue, sebagai CEO start-up klien gue. Rasanya kayak ditonjok ulu hati pakai besi. Gue nggak siap. Demi apa pun, gue nggak siap ketemu dia lagi, apalagi dalam posisi kayak gini. Senyum di wajahnya melebar sedikit. Senyum santai, seolah kami baru ketemu kemarin sore di kantin SMA. Nggak ada canggung, nggak ada salah tingkah. Cuma ada… pengakuan? Atau malah keangkuhan? Dia tahu gue shock, dan dia menikmatinya. b******n. Gue mengeraskan rahang. Otak gue langsung pasang mode perang. Dingin. Profesional. Nggak ada tempat buat nostalgia di sini. "Selamat pagi," suara gue stabil, bahkan lebih dingin dari yang gue bayangkan. Gue ulurkan tangan ke orang di sebelahnya, bukan Miko. "Karin Putri Anindya dari Cipta Raya Agency. Ini Rara, rekan saya dari tim konten." Orang itu, cowok rapi berjas, menjabat tangan gue. "Adit Permana," katanya ramah. "Partner Miko. Senang akhirnya bisa ketemu langsung, Mbak Karin. Kami sudah dengar banyak tentang reputasi Cipta Raya." Adit. Ya, gue pernah baca sekilas namanya. Tim mereka. Gue mengangguk sopan. Mata gue menghindari Miko. Rara di sebelah gue kayaknya masih belum ngeh, matanya melirik-lirik antara gue sama Miko. "Silakan duduk, silakan," kata Adit. Kami duduk. Gue ambil tempat di seberang Miko. Dia masih diam, mengawasi gue. Nggak ngomong apa pun. Nggak bilang, "Apa kabar, Rin?" atau "Lama nggak ketemu." Cuma tatapan mata yang bikin gue nggak nyaman. Kayak ada sesuatu yang dia tahu, sesuatu yang gue coba kubur dalam-dalam. Rara berbisik di samping gue. "Rin, itu… itu Miko? Miko Wijaya Bakti?" bisiknya nggak percaya. Gue cuma mengangguk singkat, tanpa menoleh. "Gila… astaga… dia… dia CEO?!" Gue pengen nyumpahin Rara biar diem. Tapi gue tahu dia nggak salah. Ini emang gila. Rasanya nggak nyata. Miko, si anak bandel yang suka bolos, yang hobinya bikin masalah, yang ngilang kayak ditelan bumi setelah kelulusan… sekarang duduk di sini, memimpin perusahaan. Adit memulai obrolan, memecah keheningan yang bikin gue pengap. "Jadi, sebelum kita masuk ke detail proposal, mungkin Miko bisa kasih sedikit gambaran tentang visi besar startup kita untuk kolaborasi ini," Adit mempersilakan. Miko akhirnya membuka suara. Suaranya… nggak berubah. Masih berat, ada sedikit serak di ujungnya. Suara yang dulu sering bisikin gombalan nggak penting di telinga gue. "Yap," katanya, santai banget. Tangannya menyentuh mouse di depannya. "Intinya simpel. Gue bangun startup ini karena gue lihat ada gap besar di pasar. Orang butuh platform yang seamless, gampang dipakai, tapi juga powerful. Visi kita bukan cuma nyediain layanan, tapi bangun community. Bikin orang ngerasa belong." Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa disengaja. Gap. Seamless. Powerful. Community. Dia ngomong dengan kepercayaan diri yang luar biasa. Beda banget sama Miko yang dulu. Miko yang dulu lebih sering ngomong pakai bahasa isyarat, atau senyum miring yang bikin hati meleleh. Gue menunduk, pura-pura baca slide di depan gue. Berusaha mengabaikan keberadaannya. Tapi gimana bisa gue ngabaikan sesuatu yang udah jadi bagian dari diri gue bertahun-tahun? Sesuatu yang ninggalin lubang menganga waktu dia pergi? "Kita butuh Cipta Raya bukan cuma buat campaign biasa," Miko melanjutkan. "Tapi buat storytelling. Gue tahu Cipta Raya jagonya bikin narasi yang kuat. Narasi yang bisa nyentuh emosi orang. Karena di era sekarang, yang laku bukan cuma produk, tapi cerita di baliknya." Narasi. Cerita. Emosi. Kata-kata itu melayang di udara, terasa personal. Dia ngomong soal storytelling di depan gue. Mantan ketua ekskul jurnalistik. Mantan cewek yang hobinya nulis cerita tentang dia. Kebetulan? Atau dia sengaja? Rara nyikut gue lagi. Kali ini lebih keras. Gue mendongak, pasang wajah tanya. "Dia kok tahu banget ya soal lo?" bisiknya pelan, matanya melirik curiga ke arah Miko. Gue nggak tahu harus jawab apa. Dia tahu. Ya, dia tahu. Dia tahu semua hal tentang gue. Atau setidaknya, dia tahu Karin yang dulu. Karin yang gampang luluh, Karin yang bucin setengah mati sama dia. "Oke," gue potong, suara gue sedikit kencang. Gue lihat langsung ke Adit, menghindari kontak mata sama Miko. "Kami paham visinya. Proposal yang kami kirim sudah mencakup beberapa ide storytelling yang kuat. Mungkin kita bisa langsung bahas detail teknisnya?" Adit tersenyum. "Tentu, tentu." Tapi Miko nggak. Dia masih menatap gue. Senyum di wajahnya udah hilang, diganti tatapan yang sulit dibaca. Tatapan itu… dalam. Ada penyesalan di sana? Atau malah tantangan? "Sebelum itu," Miko memotong Adit. Suaranya rendah. "Ada hal yang perlu gue klarifikasi." Jantung gue kembali berdebar kencang. Klarifikasi apa? Soal apa? Soal masa lalu? Di sini? Di depan orang-orang ini? "Saya pikir kita harus fokus ke proyek, Pak Miko," kata gue, berusaha menjaga nada profesional. "Masa lalu tidak relevan di sini." Dia tertawa pelan. Tawa yang renyah, familiar. Tawa yang dulu sering gue denger setiap kali gue ngomong pakai gaya sok serius. "Siapa bilang gue mau bahas masa lalu?" Miko mengangkat satu alis. "Gue mau klarifikasi, kenapa Cipta Raya pasang tarif segini? Ini lumayan di atas rate pasar, Rin." Nafas gue tersangkut. Dia manggil nama gue. Di tengah kalimat formal. Di depan Adit dan timnya. Kayak dia punya hak buat ngelakuin itu. Kayak dia masih punya kendali atas emosi gue. Gue paksa diri gue tersenyum. Senyum yang dibuat-buat. "Rate kami sesuai dengan kualitas dan pengalaman kami di industri ini, Pak Miko," kata gue, menekankan kata "Pak Miko". "Kita bisa bahas negosiasi nanti, bukan di kick-off meeting." "Menurut gue, harga ini mencerminkan branding Cipta Raya yang kuat," Miko mengabaikan bantahan gue. "Dan jujur, gue terkesan sama portofolio kalian. Terutama kampanye yang itu… yang tentang self-love? Gue suka angle-nya." Dia ngomong seolah nggak ada apa-apa. Seolah kami nggak punya sejarah. Dia memuji kerja gue. Kerja yang gue bangun mati-matian setelah dia pergi. Setelah gue hancur. Gue nggak menjawab. Gue cuma mengangguk kaku. Rara di sebelah gue udah kayak cacing kepanasan, melirik ke gue, ke Miko, lalu kembali ke gue. Adit berdeham, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba jadi tegang. "Baik, baik," katanya. "Soal budget bisa kita bicarakan di sesi terpisah. Sekarang, mari kita lihat detail strategi campaign dari Cipta Raya…" Sisa meeting berjalan seperti kabut. Gue berusaha fokus, mendengarkan presentasi Adit dan timnya. Tapi setiap kali gue melirik, pandangan mata Miko ada di sana. Mengawasi. Menilai. Atau mungkin, mengingat? Gue presentasi bagian gue. Ngomong soal target audiens, channel komunikasi, metrik keberhasilan. Gue pakai semua jargon industri yang gue tahu. Mencoba terdengar sesukses dan sekokoh mungkin. Mencoba menunjukkan kalau Karin yang sekarang bukan Karin yang gampang rapuh kayak dulu. Karin yang dulu nangis berhari-hari gara-gara pesannya nggak pernah dibales. Miko mendengarkan. Wajahnya datar. Nggak ada ekspresi. Dia nanya beberapa hal teknis. Pertanyaannya tajam, menunjukkan dia ngerti banget apa yang dia kerjain. Dia memang pintar. Dulu juga gitu. Pintar, tapi malas. Sekarang dia pintar dan… sukses. Meeting akhirnya selesai. Udara terasa sedikit lebih ringan. Kami berdiri, saling bersalaman. "Terima kasih atas waktu dan presentasinya, Mbak Karin, Mbak Rara," kata Adit, tersenyum tulus. "Kami akan pelajari lagi proposalnya dan segera kabari untuk tindak lanjut." "Sama-sama, Pak Adit," kata gue, mencoba terdengar lepas. "Kami menunggu kabarnya." Sekarang giliran Miko. Dia berdiri, tinggi menjulang. Senyum tipis kembali terpasang. Dia mengulurkan tangan ke Rara lebih dulu. "Miko," katanya singkat. "Rara," jawab Rara, suaranya agak tercekat. Mukanya merah. Jelas dia terpesona sama 'CEO muda hot' ini, terlepas dari statusnya sebagai mantan b******n gue. Lalu tangannya terulur ke gue. Jemari panjang, kokoh. Sama persis kayak dulu. "Senang bisa ketemu lagi, Karin," katanya. Nada suaranya bukan profesional. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat, tapi juga dingin. Kayak es yang terbakar. Gue terdiam sejenak. Otak gue berteriak, "Jangan pegang tangannya!" Tapi tubuh gue nggak nurut. Tangan gue terulur, menjabat tangannya. Sentuhan itu… seperti listrik. Bukan kejutan yang menyenangkan. Lebih kayak sengatan listrik statis yang bikin bulu kuduk merinding. Tangan itu yang dulu selalu menggenggam gue, yang dulu selalu menarik gue ke dalam pelukannya. Tangan yang sama yang menghilang begitu saja. Tatapan matanya mengunci mata gue. Cokelat gelap, intens. Di mata itu, gue nggak lihat CEO sukses. Gue lihat Miko yang dulu. Miko yang… Jleb. Memori itu datang begitu saja, tanpa permisi, menusuk langsung ke inti. Koridor SMA Wijaya Bakti yang ramai. Bau keringat, bedak, dan mi ayam dari kantin. Bunyi sepatu berdecit di lantai keramik. Gue lagi jalan cepat, kesal karena dia bikin janji tapi nggak nongol lagi seharian. Nggak bales chat. Nggak ngabarin. Kayak biasa. Langkah gue terhenti. Dia ada di depan gue. Berdiri di tengah keramaian, di antara hiruk pikuk teman-teman yang berpapasan. Dia tersenyum miring. Tangannya… tangannya terulur. Menarik pergelangan tangan gue. Lembut, tapi tegas. Menarik gue, menjauh dari koridor yang padat, menuju tempat yang lebih sepi. Menuju… Matanya. Tatapan matanya yang tajam itu… persis seperti saat itu. Waktu dia menarik tangan gue di koridor sekolah.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook