Awal Sebuah Takdir

1407 Kata
Bau menyengat di mana-mana. Bermacam-macam serangga yang menggelikan bahkan menjijikan dapat dengan mudah ditemui. Ada cacing, kaki seribu, kelabang, tikus, kecoa, lalat. Bahkan untuk lalat saja ada beberapa spesies di sana, mulai dari lalat rumah, lalat buah, lalat limbah sampai lalat hijau dan lalat daging ada di sana. Ya, dua lalat terakhir adalah lalat yang paling menjijikan menurut kebanyakan orang dengan ukurannya yang besar dari lalat spesies lainnya, serta kebiasaan mereka yang menanamkan larva pada bangkai. Seekor tikus got tampak mulai membusuk dan mengeluarkan banyak belatung dari tubuhnya, di sekitarnya dikerumuni jenis lalat-lalat besar tadi, mulai dari belatung sampai lalat dewasa berjumlah ribuan bahkan jutaan lalat berterbangan mengerumuni tempat dengan luas satu hektar itu. sudah berhari-hari bau yang ditimbulkan oleh bangkai tikus got itu semakin mengkontaminasi udara yang ada di sekitar pembuangan sampah akhir itu. Hanya berjarak satu meter lebih sedikit dari bangkai tadi, tampak sebuah manekin usang, kotor dan rusak tergeletak dengan posisi terduduk di antara bau menyengat dan timbunan sampah.   Matanya mengerjap-ngerjap, membiasakan cahaya dimana ia berada. Dengan susah payah ia memandang sekitarnya. Andai bisa bergerak ia sudah sedari tadi mengucek-ucek matanya atau menutupi pandangannya dengan telapak tangan. Seketika bau sangat busuk menusuk indra penciumannya. Sebuah bau yang familiar, yang sudah beberapa hari ini ia rasakan. Raja lalim dalam bentuk bonekanya itu tergeletak begitu saja dalam posisi terduduk dengan tumpuan sebuah tumpukan sampah. Tempat itu sungguh lembab dan bau. Sial! Aku masih saja di tempat j*****m ini! Umpatnya. Dia hanya bisa membatin, ia ingat betul sekujur tubuhnya sekarang hanyalah sebuah boneka menjijikan yang dibuang di sebuah area tumpukan sampah. Ia sudah bagaikan bagian dari sampah itu sendiri. Badan bonekanya tidak bisa digerakkan sudah beratus-ratus tahun lamanya. Tak berapa lama salah seorang pemulung mendekat ke arahnya. Pemulung itu membawa sebuah kantong dari karung besar lusuh di belakangnya, karung bekas dari wadah pakan ayam, jelas bisa terbaca meski tulisannya yang sudah memudar. Pemulung itu tampak masih muda, mungkin pria berumur dua puluh tahunan awal yang tampak mengais-ais sampah dengan tongkatnya yang terbuat dari besi dengan ujung bengkok. Di tengah asiknya mencari botol-botol bekas di antara tumpukan sampah, tiba-tiba ia justru tersandung oleh sesuatu. Tubuhnya oleng dan mulai jatuh dengan bebas ke tumpukan sampah, untungnya tidak sakit namun membuat baju lusuhnya semakin bertambah lusuh. Ia meringis dan sedikit kaget di awal, ketika mengetahui sebuah kaki yang awalnya dikira kaki manusia korban mutilasi itu tampaknya hanyalah kaki sebuah boneka rusak dan lusuh sama seperti dirinya. Si pemuda itu terbangun dan memeriksa benda yang sudah menyandungnya itu , semakin dekat lagi dan ia pun mengomel. “Oalah, setan! Ini ya yang sudah menghalangiku!” Pemuda itu lantas menendang benda yang ternyata kaki boneka yang sedang malang melintang, ya sebuah kaki yang dulunya sangat diagungkan, bahkan para rakyat akan berbondong-bondong mencium telapak kakinya untuk memohon atau meminta sesuatu. Kaki seorang Raja yang pernah paling berkuasa pada masanya. Karena kesal, si pemulung menyingkirkan boneka itu dengan kakinya secara kasar sekali lagi, lalu mengubur sebagian badan boneka itu dengan tumpukan sampah di sekitarnya. Membiarkan badan bagian atas dan kepalanya tetap terlihat. “Jangan sampai menyandung orang lagi!” katanya sebelum pergi. Raja Evgen dalam boneka sangat kesal luar biasa, belum tau siapa boneka itu sebenarnya. Namun, bagaimana marahnya, ia tak sanggup berbuat ap-apa. Ia hanyalah seonggok boneka sampah! Hanya bisa melihat, merasakan namun tak bisa berbuat apa-apa. Rasanya seluruh badannya kesal dan kaku-kaku semua. Kini ia seperti bermandikan benda-benda kotor, Aaaa!!! Sialan kau Penyihir Tua! Jeritnya dalam hati. Selang sejam kemudian… Sebuah truk pembawa sampah di tuang di dekat boneka Raja Evgan berada, seketika baunya semakin menerjang udara di sana. “Tunggu!” Teriak seseorang. Seorang gadis dengan baju kemeja berlengan pendek putih dan celana bahan warna hitam sedang berlari tergopoh-gopoh berusaha mendekati truk sampah itu. “Lah neng cantik ngapain ke sini?” Si supir truk itu heran saja, gadis yang biasa dilihatnya di komplek pertokoan kota justru menghampirinya di tempat yang tak terduga, tempat pembuangan sampah akhir! Gadis itu terengah-engah, menghentikan laju larinya ketika sudah sampai tempat yang dimaksud. Keringat bercucuran dari seluruh badannya terlihat dari basah seragam yang dikenakannya mengecap air. “Pak, ini apakah benar sampah-sampah dari blok A?” Tanya gadis dengan name tag bertuliskan Gita tersemat di dadanya. Sorot matanya terpancar harapan bahwa sedari tadi ia mengejar truk yang benar, karena ada beberapa truk sampah serupa yang memasuki area pembuangan sampah ini. Rasanya sedikit kecewa ketika gadis bernama Gita itu memanggilnya dengan sebutan "Pak" ketika usianya sebenarnya mungkin lebih muda dibandingkan dengan gadis itu, namun karena tampang dan pekerjaan lapangan sang supir yang sedari lulus SMP digelutinya, membuatnya jauh lebih tua 10 tahun. Ia pun memaklumi. "Benar Neng, kenapa ya?" Tanya supir itu lagi. "Baguslah." Ia seperti hampir menangis, meski sebenarnya apa yang dicarinya belum ketemu, namun setidaknya ia tak perlu mengorek-orek seluruh sampah yang ada di sini. "Ngomong-ngomong panggil bang aja ya neng, saya belum setua bapak-bapak kok." Kata Si Supir nyengir. Gita mengangguk sembari tersenyum mengiyakan. "Kenapa kemari, neng?" "Saya mau nyari sesuatu, Bang." Jawab Gita dengan sedikit malu. "Nyari apa, Neng? Abang bantu ya." Kata si supir seraya mematikan mesin truknya yang baru saja menuang seluruh sampah yang diangkut. Ia pun turun dan berjalan mendekati Gita. "Eh tidak usah, Bang. Saya bisa sendiri kok." Tolak Gita tak enak hati. "Lah tidak apa Neng, mumpung saya sedang lowong." Dan jomblo. Lanjut si supir dengan baju dinas berwarna oranye itu. Ia berharap siapa tau dengan membantu gadis itu bisa membuatnya berujung membawakan calon mantu untuk emaknya yang berada di kampung. "Benaran, Bang. Tidak usah." Si supir berkacak pinggang, “Loh Neng ini, pokoknya saya bantu!” Gita menyerah, yang penting ia sudah berusaha menolak dan pada akhirnya si supir turut membantunya mencari. Untungnya semua sampah-sampah di truk itu terbungkus dalam sebuah plastik hitam, jadi mereka cukup membuka satu per satu kantong plastik yang berisi sampah dari butik tempat Gita magang bekerja. “Ada ciri-ciri khusus tidak, Neng?” Tanya si supir sembari membuka satu per satu kantong plastik dan membiarkan Gita mengecek dengan sedikit mengais permukaan sampah di tiap plastik yang terbuka itu. “Ada bang, kalau sampah dari toko kami biasanya berupa kain, kertas atau bungkus makanan dan minuman cepat saji.” Mata Gita tak lepas dari memeriksa plastik-plastik itu. “Memang ada yang terbuang ya di sini?” Tolehnya ke gadis itu dan jarinya terampil membuka beberapa plastik. “Iya, catatan penting, Bang.” “Oalah…” Si Supir membatin, ceroboh sekali sampai barang penting terbuang di tempat sampah, namun ia tak berani mengatakannya tentu saja, takut menyinggung pastinya. Sebuah nada dering mengiang memecah kesunyian yang ada di area pembuangan sampah itu, sebuah benda bergetar dari dalam saku celana orangenya. Si supir petugas kebersihan itu mengambil benda yang sedari tadi bergetar dan mengangkat panggilan teleponnya. Ekspresi si sopir tampak kaget, dan dahinya mengkerut seperti sesuatu hal kabar baru saja diterimanya. "Baik Komandan, siap! Saya akan segera kesana" Ucapnya kemudian menutup panggilan telepon itu. Dengan menyesal si supir menghampiri Gita yang masih berkutat dengan kantong-kantong sampah yang terbuka. "Maaf Neng, saya tidak bisa melanjutkan membantu Neng, teman saya kecelakaan dan saya diminta menggantikan pekerjaannya." Sesalnya, padahal ia sendiri yang bersikeras ingin membantu Gita di awal. "Ya Tuhan, semoga temannya tidak apa-apa.." Ekspresi Gita tak kalah terkejutnya, bahkan ia tidak mengetahui kecelakaan seperti apa yang teman si supir alami, yang jelas mendengar kata "kecelakaan" saja sudah cukup membuatnya ngeri, terbayang ada beberapa kendaraan yang bertabrakan, pecahan kaca di mana-mana dan darah segar mengalir dari para korban. "Syukur, dia tidak apa-apa, Neng. Dia mengalami rem blong saat tanjakan di blok G sana, dan kemudian truknya membentur pohon besar yang ada di bawah tanjakan. Orangnya pingsan dan dibawa ke klinik sekitar." Jelas si supir membuat Gita lega, ternyata apa yang dibayangkannya terlalu berlebihan. "Syukurlah." Ucap Gita sembari tersenyum. "Yasudah, saya pamit dulu, Neng. Maaf, tadi nawari bantu eh malah kabur." Sesalnya "Lah, Abang sudah sangat membantu malah. Terimakasih banyak." Katanya sopan dan sedikit menganggukan kepala. Supir itupun juga ikut tersenyum dan kembali menaiki truknya lalu mengendarainya pergi meninggalkan Gita seorang diri. Gadis itu melanjutkan mencari benda yang dimaksud. Rasa bau sudah terbiasa ia hirup sejak beberapa menit ia berada di sana. Rupanya polusi udara di sekitar dikalahkan oleh tekadnya yang harus menemukan benda itu. Tiba-tiba sebuah kantong plastik paling atas menggelinding beberapa meter jauhnya dari tempatnya. Gita yang sempat melihat hal itu, lantas berlari menuju kantong plastik itu berhenti. Ia tak ingin melewatkan satupun plastik, untung ia melihatnya menggelinding, siapa tau itu kantong plastik yang ia cari.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN