Dengan hati-hati ia memijakkan sepatu pantofel yang dikenakannya di atas tumpukan sampah yang terasa empuk, karena sebagian besar sampah-sampah di sekitarnya berupa sampah plastik.
Ia mulai membuka ikatan kantong plastik tersebut dan berdoa semoga saja itu adalah plastik dari tempatnya bekerja. Ketika plastik itu terbuka dan mengais isinya sedikit dengan tangannya, ia terpekik girang. Ternyata benar itu adalah kantong sampah dari tempatnya bekerja, hal itu terbukti dari sampah-sampah yang familiar selalu ada di tempatnya magang itu. Ya, sampah-sampah berupa potongan kain, kertas dan masih banyak lainnya.
“Ahhh! Ketemu!” Ia mengambil secarik kertas catatan berwarna merah muda terang. Benar, benda itulah yang ia cari selama ini. Sebuah catatan pesanan yang berisi ukuran badan dari klien VVIP di butik tempatnya bekerja. Ia ingat betul, saat klien eksklusif yang terkenal sombong dan angkuh itu datang dan minta cepat-cepat mengukur badan anak perempuannya yang akan memesan gaun pengantin, karena semua karyawan ketakutan termasuk Gita, ia akhirnya segera mengambil catatan stiker yang selalu berada di kantongnya dan mencatatnya di sana. Hanya itu yang dipikirkan Gita saat itu, dan ketika si klien pergi, ia buru-buru ke meja kerjanya dan menempelkan catatan tadi pada dinding kaca meja kubikelnya. Bertepatan dengan itu pula telepon di atas mejanya berdering, ternyata pemilik toko memintanya untuk menemui terkait klien VVIP yang barusan datang. Ia lantas segera beranjak pergi dan lupa membawa catatannya, ia ingat saat sang bos menanyakan ukuran kliennya itu untuk segera ia rancangkan gaunnya. Gita baru tersadar meninggalkannya dan meminta izin untuk mengambilnya. Namun , sayang. Rupanya catatan itu sudah tidak ada di dinding kaca yang menjadi penyekat mejanya dan meja rekannya yang lain. Sudah dicari-cari keseluruhan sekitar mejanya, karena ia yakin tadi tertempel di sana, bahkan rekan-rekannya turut membantu, sampai salah satu dari mereka berkata.
“Mungkin kertas itu terlepas dan terjatuh di tempat sampahmu, Git.”
Mendengar itu Gita langsung mengecek tempat sampahya yang berwarna hitam, dan “Deg!” dia kaget dan sedih, rupanya keranjang tempat sampahnya sudah kosong!
Itulah kenapa ia sekarang berada di tempat pembuangan sampah akhir. Karena kertas catatan tempel yang sekarang dipegangnya!
Baru saja ia akan beranjak pergi, sampai sebuah benda menyandungnya dan membuatnya terjatuh sama seperti pemulung yang beberapa saat lalu terjatuh di tempat yang sama. Gita mengaduh, untungnya catatannya masih aman, segera ia masukkan ke dalam saku kemejanya. Gadis itu mencoba membersihkan kotoran-kotoran yang menempel di seragam yang dikenakannya. Coklat dan bau. Gita sampai nyengir kuda berusaha menahan aroma sampah yang mulai terasa menyengat setelah ia mendapatkan apa yang ia cari.
Gita berdiri dan memperhatikan benda yang sudah menyandungnya. Ternyata sebuah tangan!
Tadinya ia juga mengira itu adalah tangan manusia, namun setelah diperhatikan itu adalah tangan sebuah boneka. Boneka manekin!
Gita yang semakin penasaran dengan apa yang dilihatnya, lalu mencoba mengais-ais boneka itu dengan kayu yang berada di sekitar tempatnya berdiri. Ia menarik tubuh manekin itu dari kubangan sampah. Ketika keseluruhan manekin sudah terangkat, ia mampu melihat dengan jelas. Itu merupakan sebuah manekin yang cukup mahal!
Gita kegirangan seperti menemukan harta karun disana. Ia tahu betul berapa kisaran harga manekin hanya dengan melihat dari bahan, struktur, dan baut-baut yang berada di lengan manekin pria itu. Bisa-bisa ia harus merogoh setidaknya setengah dari gaji bulanannya hanya untuk membeli sebuah manekin seperti itu. Jika baru maksudnya. Ia memutuskan untuk membawa manekin itu. Lumayan, pikirnya bisa jadi tempat display gaun rancangannya. Dengan susah payah Gita menggotong boneka berbahan fiberglass yang lumayan berat itu ke sebuah keran air yang berada di pintu TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Ia bersihkan sekenanya dan membawanya dengan taxi online menuju rumah kontrakannya.
***
Pada masa periode tahun 1400-1700 masehi, ada puluhan bahkan ratusan ribu orang dijatuhi hukuman bahkan eksekusi mati lantaran dituduh sebagai penyihir yang membahayakan kerajaan di seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali di sebuah Kerajaan yang sebenarnya damai sejauh ini di bawah kepemimpinan Raja Grigori Leif Vorogov yang bijaksana dan adil. Sampai pada tahun 1520 sang Raja agung sakit karena sebuah wabah penyakit ganas yang melanda negerinya hingga menewaskan ribuan rakyat. Di tengah masa kritisnya, Sang Raja memandatkan kekuasaannya pada anak laki-laki satu-satunya yang menjadi putra mahkota kelak mewarisi takhta. Dialah Evgen Lief Vorogov, Raja baru yang memiliki sifat bertolak belakang dengan ayahandanya, ia memimpin kerajaan yang darurat dengan keji dan semena-mena. Usianya yang terbilang masih cukup muda, membuatnya belum cukup banyak cara menangani sebuah kerajaan. Puncaknya, ia ikut-ikutan tren yang ada di kerajaan belahan bumi lain dalam menuntaskan musuhnya atau orang-orang yang dianggapnya mengancam jalannya kekuasaannya. Salah satu yang tak beruntung adalah Surva, seorang wanita tua yang tinggal di pinggiran hutan bersama putrinya. Ia dikenal sangat ramah dan suka menolong rakyatjelata dengan kemampuannya menyembuhkan penyakit. Dia juga salah satu orang yang paling menentang dengan berkuasanya Raja Baru. Ia dengan sangat vokal mengutarakan protesnya di depan istana yang juga ia lakukan di pasar. Kericuhan di tempat umum itu akhirnya sampailah terdengar di telinga Raja Evgen Lief, bahwa ada seseorang yang berani menentangnya terang-terangan, ia begitu marah dan merasa terhina, orang yang tak dikenalnya itu bagaikan duri dalam kuasanya. Terlebih banyak rakyat yang pada akhirnya berani mengikuti jejak protes wanita tua itu dan dengan berani menyuarakan suara mereka terhadap cara kepemimpinan Raja Evgen.
Orang-orang mulai meragukan Raja mereka, dan diam-diam membencinya. Mengetahui hal itu, Raja Evgen murka, dan segera memerintahkan pengawalnya untuk mencari dalang keladi dari kerusuhan yang terjadi di kekuasaannya. Munculah nama Nenek Surva. Dalang dari huru-hara yang dapat mengkhawatirkan kuasanya. Mengetahui bahwa Surva adalah wanita tua yang dihormati dan disegani rakyat Vorogov, Raja tak bisa begitu saja menahannya atau jika ia nekat tanpa perencanaan matang, Rakyat akan semakin membencinya. Penasehatnya yang setia menyarankan untuk Raja Evgen membuat siasat agar bisa menghukum Surva. Sebuah siasat busuk dilancarkan. Sang Raja menuduh dengan tega memfitnah Surva menjadi dalang dan orang yang paling bertanggung jawab atas sakit parah Raja sebelumnya dan wabah yang sedang melanda Vorogov.
Raja Evgen memerintahkan para prajurit untuk menggeledah kediaman Surva yang disaksikan oleh ribuan masyarakat Voro. Benar saja, di dalam rumah kayu itu terdapat sebuah boneka voodoo berukuran besar yang ditemukan juga di beberapa rumah warga termasuk istana, hanya saja ukurannya lebih kecil, seukuran segenggam tangan manusia, berbeda ukuran yang ada di rumah Surva, voodoo itu seukuran kacang panjang, benda itu tersembunyi di bawah rumah panggung Surva. Ada persembahan di sekitarnya. Mereka menuduh bahwa boneka voodoo yang ada di rumah Nenek itu adalah bukti nyata bahwa dialah biang keladinya. Voodoo yang ada disana merupakan inang dari voodoo-voodoo lain yang tersebar dalam ukuran kecil.