Tiga hari sebelum eksekusi Surva dan keluarganya terjadi…
Pasar yang kita tahu adalah tempat dimana penjual dan pembeli saling berinteraksi satu sama lain. Seharusnya tempat itu ramai dengan orang yang menjual dan mempromosikan dagangannya sehingga menarik perhatian para pembeli yang berlalu-lalang kebingungan, meski dari rumah mereka sudah sempatkan untuk mengingat apa saja yang akan mereka beli setibanya di pasar, namun tidak dalam beberapa hari terakhir ini, memang sejak wabah telah melanda negeri ini, aktivitas di pasar sangat diminimalisir, hanya orang-orang yang benar-benar butuh saja yang bisa masuk dalam area pasar, hal ini diperlakukan karena pasar menjadi tempat yang memungkinkan penyakit cepat menular, disana akan banyak orang yang saling berpapasan satu sama lain tanpa mengetahui bahwa mereka apakah membawa penyakit ke tempat umum atau tidak. Hal itu pula yang menyebabkan pasar tak seramai saat sebelum wabah menyerang, namun tak seperti biasanya selama beberapa hari terakhir ini pasar justru tampak jauh lebih ramai dari hari atau bulan sebelumnya. Tampak segerombol orang dalam jumlah besar berkumpul dalam satu titik yang sama di sebuah area pasar. Rupanya ini dikarenakan adanya protes dari rakyat yang mulai berani menyuarakan pendapatnya soal otoritas kerajaan yang mulai mencekik rakyat bawah seperti mereka, terutama mereka yang sedang berkumpul sekarang adalah korban yang merasa paling dirugikan. Mereka protes pada raja baru yang dianggap telah menyalahgunakan kekuasaan dan mulai memeras mereka dengan berdalih untuk pembangunan dari pajak-pajak yang tidak masuk akal.
"Turunkan tahta Raja baru! Kami tidak butuh raja yang seperti itu!" Teriak seorang lelaki paruh baya seraya mengangkat kepalan tangan kanannya ke atas, membuat orang-orang yang melihatnya termotivasi untuk melakukan hal yang sama.
"Kembalikan kejayaan yang dahulu!" Benar saja orang-orang pemberani lain mulai bermunculan.
"Raja baru memimpin kerajaan dengan semena-mena!" Teriakan huru-hara para rakyat di negeri tersebut. Tak hanya wanita ataupun pria dewasa yang berada di sana, bahkan lansia juga anak-anak turut serta menyuarakan aspirasi mereka. Sebenarnya ada desir ketakutan pada diri mereka, namun karena rasa tertindas terlalu lama membuat mereka tegar dan berusaha berani untuk mengubah peraturan kerajaan dengan menyuarakan pendapat mereka bersama-sama. Surva berada di barisan depan, ia adalah seorang wanita tua yang yang pertama kali melontarkan protes kepada pihak kerajaan. Meski usianya sudah menginjak 60 tahunan, namun suaranya masih terdengar lantang, Ia juga yang sedari awal menyemangati para rakyat negeri ini untuk bersama-sama menentang ketidakadilan yang terjadi di negeri mereka. Dulu memang awalnya ketika Surva berteriak-teriak menyuarakan pendapatnya di muka umum, tak ada seorangpun yang berani mengikuti tindak-tanduknya, pun para prajurit yang ditugaskan untuk mengawasi keadaan luar kerajaan tak begitu menghiraukannya, mereka hanya tersenyum sinis dan memandang rendah jika Surva bukanlah sebuah ancaman besar untuk kerajaan, lalu untuk rakyat yang berlalu lalang melewati Surva hanya mampu menyetujui dalam hati masing-masing saja, mereka bahkan tak ada nyali sedikitpun untuk turut menyuarakan apresiasi maupun protes meskipun ketidakadilan sudah berlangsung lama menyelimuti mereka. Baru sekitar 2 hari setelah Surva melontarkan protesnya di depan umum, muncullah seorang pemuda gagah bernama Abrov yang akhirnya turut andil dalam protes yang Surva koar-koarkan saat itu. Ajaibnya, setelah pemuda itu ikut bergabung dalam formasi protes Surva, menjadikan pemuda-pemuda lain akhirnya tersadar jika mereka butuh adanya gerakan perubahan apabila mereka menginginkan negerinya jaya kembali. Memang,awalnya satu dua orang yang protes tidak akan menjadi ancaman untuk kerajaan terlebih ketika Raja baru menjabat, namun ketika pemuda-pemuda lain dan para kaum tua serta anak-anak lain ikut andil karena termotivasi dalam proses yang Surva dan Abrov galakan, tiba-tiba saja masa semakin bertambah banyak dan akhirnya menimbulkan huru-hara di seantero negeri. Saat itu nenek tua tersebut merasa bahagia karena akhirnya para rakyat menyadari potensi diri mereka untuk merubah kemungkinan keadilan yang akan terjadi. Iya mereka berharap jika raja baru mau mendengar apresiasi mereka dan bisa bersikap jauh lebih bijaksana dalam menjalankan kerajaan ini. Benar saja, setelah Raja Evgen mendengar perihal rakyatnya yang semakin tak bisa terkondisikan, ia pun marah besar, nyatanya sang raja terusik olehnya. Ia bahkan sudah memberikan peringatan pada Surva dan keluarganya untuk tidak meneruskan aksi protes tersebut,namun rupanya si nenek tak ingin mematuhi perintah rajanya itu dan masih teguh untuk memperjuangkan perubahan yang jauh lebih baik.
Surva masih hanyut dalam aksinya, sampai ketika dari arah luar pasar nampak seorang pemuda berlari dengan terburu-buru dan mencari sosok seseorang yang ikut andil terbesar dalam acara unjuk rasa itu. Pemuda yang belum diketahui namanya itu menelusuri dan mencari-cari setiap wajah yang perawakannya mirip Surva, saat dia mulai menepuk bahu wanita tua yang dikiranya Surva, lalu si wanita menoleh kaget bersama pemuda tersebut karena tidak menemukan Surva di manapun. Ia salah orang lagi rupanya.
"Nek, Nenek Surva?!" Teriak pemuda tersebut sembari celingak-celinguk mencari sosok Surva di antara kerumunan para pengunjuk rasa. Surva yang dari tadi ikut teriak dengan suara sedikit parau, lantaran ia menyuarakan suara dengan sisa-sisa tenaga lemahnya. Melihat ada yang datang dan sudah dipastikan mencarinya, tiba-tiba hal itu membuat jantung Surva mulai berdebar. Ada apakah gerangan pikirnya.
"Feodor! Ini aku ada disini!" Panggil Surva pada pemuda itu seraya melambaikan tangannya untuk memberi petunjuk kepada pemuda yang baru datang itu tentang tempat keberadaannya, lalu si pemuda dengan segera menoleh dan menyadarinya, segera ia menghampiri sosok nenek yang dari tadi membuatnya wara-wiri itu. Ia berjalan dengan hati-hati di antara banyaknya masa yang ada.
"Ada apa kau mencariku?" Tanya Surva tanpa basa basi.
"Nek, Adriana.. adri anaaa…" Suara pemuda bernama Feodor mulai tersengal-sengal, ia masih ngos-ngosan lantaran baru saja berlari sejauh lebih dari 1 kilo meter untuk menemui Surva.
"Tenang dulu, tarik nafas lalu keluarkan." Pandu Surva. Feodor mengikuti.
Kini pemuda itu merasa sedikit lega, "Lebih baik nenek segera pulang, Adriana akan segera melahirkan!" Akhirnya Feodor mampu juga menyampaikan maksud tujuannya
"Hah? Apa kamu bilang?" Sebenarnya Surva samar-samar sudah cukup mendengar, namun karena berisiknya suasana pasar saat itu menjadikannya ingin lelaki itu mengulang lagi informasinya.
"Nek, cucu kedua nenek akan segera lahir!" Feodor mengulang lagi kalimatnya. Kini Surva dengan jelas mendengarkan.
"Benarkah?" Balas Surva yang matanya seketika langsung berbinar dan takjub akan berita itu.
"Iya Nek, segeralah kesana!" Kata Feodor sengaja berbicara dalam volume tinggi agar kali ini ia tak harus mengulang lagi kalimatnya.
"Abrov! Aku harus segera pulang ke rumah, ada sesuatu hal yang mendesak di sana!" Kata Surva dengan nyaring kepada pemimpin para pengunjuk rasa itu, sesaat setelah lelaki yang dipanggil Abrov tersebut sampai di depan matanya setelah Surva panggil tadi.
"Tentu saja Nek, Nenek bisa pulang terlebih dahulu, aku akan melanjutkan bersama-sama rakyat lain." Kata Abrov mempersilahkan, semangat sedang menyelimuti pemuda itu, meski tanpa Surva ia akan berusaha tetap tegar dan memperjuangkan hak mereka.
"Baiklah, terima kasih. Aku akan mempercayakan semuanya padamu." Balas Surva sembari menepuk dua kali bahu tegap Abrov. Ia adalah sosok lelaki tangkas, cerdas, dan bertanggung jawab yang ditunjuk para tetua negri ini untuk menjadi pimpinan para pengunjuk rasa. Selain aksi heroiknya yang dulu ikut mempelopori aksi protes bersama Surva di awal-awal, rupanya pemuda tersebut juga bisa menarik rakyat yang takut untuk ikut andil bersama mereka.
Setelah dengan terburu-buru, kedua orang itu kemudian berhasil mengeluarkan diri dari keramaian. Meski larinya Surva bak orang sedang berjalan, namun sebenarnya ia sudah mengeluarkan segenap kekuatannya untuk berusaha secepat mungkin sampai ke rumahnya. Ia sedikit mencincing kain jarik yang dikenakannya agar lebih leluasa berlari. Mereka melewati pekarangan rumah-rumah warga untuk mempersingkat perjalanan, lalu menyebrangi anak sungai yang kedalaman airnya dangkal, sesampainya di seberang sungai mereka masih harus berjalan menyusuri jalan setapak yang menembus hutan dan di pinggiran antara hutan dan anak sungai lain yang menuju ke sungai besar, di sanalah mereka berhenti dan menemukan sebuah rumah panggung yang seluruhnya berupa gedek sederhana. Baru sesampainya di ambang pintu Surva sudah mulai mendengar suara erangan dari anak semata wayangnya. Di luar kamar yang hanya ditutupi dengan tirai kain, tampak seorang lelaki berusia paruh baya sedang terlihat cemas menunggu istrinya yang dari tadi kesakitan, di sampingnya terdapat seorang anak laki-laki yang tak kalah cemasnya juga sembari menggigit jari-jarinya yang sudah tampak mengiris kuku-kukunya, helas sekali raut cemas yang ditampakkan bocah itu.
"Demian, bagaimana keadaan istrimu? beneran mau melahirkan?" Tanya Surva sesaat setelah sampai di hadapan menantunya. Lelaki yang akan memberikan 2 cucu padanya.
"Benar Ibu, tapi ini dari tadi bayinya belum keluar juga." Terlihat jelas wajah Demian pucat dan penuh dengan kekhawatiran.
"Tidak apa-apa, melahirkan memang seperti itu, butuh proses yang kadang-kadang lama, jangan kau samakan dengan ketika kelahiran Andreas yang serba cepat." Kata Surva berusaha menenangkan menantunya.
Andreas cucunya yang berusia 7 tahun yang sedari tadi menggelendot di kaki bapaknya kemudian beralih menyambut neneknya Surva. Ia begitu amat dekat dengan wanita tua itu seperti biasanya.
“Nenek, berarti sebentar lagi Andreas akan memiliki adik?” Kata anak laki-laki itu dengan nada berharap. Surva mengelus kepala cucunya.
“Iya cucuku,nanti kamu harus baik-baik ya terhadap adikmu, sebagai abang harus bisa menjaganya.” Pinta sang Nenek.
“Iya, pasti Nek. Aku sudah lama menginginkan seorang adik,pasti aku akan menjaganya dengan sangat baik.” Ucap janji yang diucapkan dari bibir Andreas dengan sangat girang. Surva menatap haru cucu pertamanya itu seraya mengelus rambutnya kembali.
"Oekkkk oekk oek!"
Tepat setelah itu terdengar suara tangisan bayi yang memecah keheningan di rumah itu. Wajah bahagia seketika terpancar pada wajah setiap orang. Sontak semua yang ada di sana mengucap rasa syukur. Tanpa menunggu sang dukun bayi keluar dari kamar, para anggota keluarga yang memang sudah menunggu lama langsung saja mengarah memasuki kamar yang dijadikan tempat bersalin Adriana tersebut
“Bayinya perempuan, Mak.” Kata si dukun bayi yang membantu proses persalinan Adriana sembari menggendong seorang jabang bayi yang masih sangat merah dengan berlumur sedikit darah dengan bercak-bercak putih yang menyelimuti bayi tersebut. Bayi itu masih tampak keriput dan sangat kecil, namun tangisannya sungguh sangat nyaring. Sebelum si dukun memberikannya pada Surva maupun pada Bapak sang bayi, ia terlebih dahulu memandikan bayi itu dengan air hangat yang berada di baskom yang terbuat dari tanah, lalu memakaikan kain untuk membedong sang bayi, setelah itu memberikannya kepada Adriana untuk segera disusui dan supaya segera melahap makanan pertamanya setelah terlahir ke dunia, kemudian anggota keluarganya mendekat demi bisa melihat si kecil dengan lebih dekat dan bisa memegangnya.
“Adek, ini Abang Andreas… Abang sayang sekali dengan adek bayi.” Ucap Andreas seraya menyentuh dan mengecup tangan mungil bayi tersebut. Anggota keluarga lain terharu dan rasa syukur terpancar dari semua anggota keluarga yang mengelilingi bayi tersebut. Seorang anak perempuan baru saja menjadi bagian dari anggota keluarga besar Surva. Ini adalah sebuah kebahagiaan yang tidak terkira. Setidaknya kebahagiaan keluarga tersebut terjalin selama dua hari. Namun tepat di hari ketiga, sebuah kabar yang sangat buruk tiba-tiba dibawa oleh Feodor dengan berlari sangat kencang ke arah rumah Surva.
“Nek, Nenek Surva!”
Saat Feodor memanggil-manggilnya, Surva dan anggota keluarganya kebetulan sedang bersukacita bermain bersama sang bayi dan beberapa ada yang berusaha menyanyikan lagu merdu untuk meninabobokan bayi tersebut.
Mendengar seseorang berteriak memanggil namanya, kemudian nenek tersebut keluar dari rumahnya dan meminta Feodor untuk memelankan suaranya dengan memberi isyarat tangan.
"Psst! Jangan keras-keras, ada apa? Cucuku yang ragil mau tidur." Kata Surva setengah berbisik memperingatkan.
"Maaf Nek, tapi ini keadaannya sangat genting, para prajurit utusan kerajaan berusaha untuk datang ke sini!" Dengan ngos-ngosan Feodor memberitahukan hal buruk tersebut. Wajahnya terlihat jelas sangat ketakutan.
Saat itu Surva masih bisa tenang, “Untuk apa mereka kesini?”
“Nek, saya dengar dari salah satu utusan yang diam-diam pro rakyat, katanya mereka akan menangkap Nenek dan seluruh keluarga!” Balas Feodor berlumur keringat.
“Untuk apa mereka menangkapku? Aku bahkan tak melakukan kesalahan.” Kata Surva masih santai meskipun jantungnya sempat berdesir.
“Nek, nenek dituduh menjadi penyebab wabah yang sedang menjangkit negri ini, dan konsekuensinya mereka bisa menghukum Nenek dan keluarga dengan eksekusi mati!” Sengaja Feodor menekankan kata akhir di kalimatnya, karena para prajurit benar-benar sedang menuju ke rumah Surva.
Bagaikan mimpi buruk di siang bolong ,hampir saja Surva tidak mempercayai ucapan dari yang Feodor utarakan.