"Astaga! Apa yang kamu katakan itu sungguhan, Nak?" Surva tak pernah menyangka bahwa kebahagiaan yang baru saja diberikan di keluarganya dengan kehadiran seorang cucu perempuan yang sudah lama dinantikan, tiba-tiba langsung berbalik 180 derajat, mereka akan segera menerima malapetaka yang amat sangat dahsyat dan tak pernah mereka duga-duga sebelumnya.
“Benar, Nek. Buat apa sayang lari-lari kesini hanya untuk berbohong?” Ujar Feodor berusaha membuat Surva mengerti. Ia adalah pemuda yang dulunya pernah hampir mati karena sebuah guna-guna yang dilayangkan padanya oleh seorang saingan pedagang di pasar, kebetulan Feodor adalah pemuda yang sangat sukses dalam menjual bahan benda-benda dari anyaman bambu. Kemungkinan karena rasa iri lah yang membuat ia mendapatkan perlakuan buruk itu. Untungnya ada Surva yang menolongnya dalam melawan guna-guna itu. Meski Nenek Surva tak pernah mengakui bahwa ia adalah orang sakti, tapi sebagian besar rakyat Vorogov percaya bahwa Surva memang sakti mandraguna. Semenjak wanita tua itu membantu menyelamatkannya, Feodor sangat sayang pada Nenek tersebut dan sudah dianggap keluarga sendiri. Tak hanya Feodor yang merasakan rasa sayang dan peduli dengan Surva tapi hampir selurug rakyat negroni itu juga. Makanya saat ada berita yang tak enak didengar, Feodor buru-buru berusaha menyampaikan hal itu pada penyelamatnya agar ada kesempatan untuk mengambil tindakan.
“Sebenarnya ada apa kali ini? Mereka tak ada alasan untuk menangkapku.” Gumam Surva masih mencari tau dalam ingatannya yang masih bagus.
“Katanya mereka sudah memiliki bukti kuat dan yakin Nenek tak bisa mengelak, sayangnya saya tak tahu bukti apa yang mereka maksud, Nek.” Kata Feodor berusaha menjelaskan.
Surva terpaku begitu saja, dari info yang Feodor berikan sepertinya ada seseorang yang berusaha menjebaknya. Ia benar-benar tak melakukan kesalahan fatal. Surva berpikir keras, “Kini apa yang harus kita lakukan?” Lanjutnya bergumam lagi, Feodor juga tampak tak ada ide.
Surva juga lantas berpikir, bagaimana jadinya jika ia memberitahukan kepada seluruh keluarganya mengenai hal ini, hatinya sekarang benar-benar sangat kacau, di sisi lain ketika kondisinya yang semakin melemah karena termakan usia, ia juga memiliki beban memikirkan bagaimana caranya untuk mengatakan berita buruk tadi kepada semua keluarganya.
"Sudah, begini saja aku minta tolong, kamu carikan aku sebuah keranjang." Pinta Surva.
"Untuk apa, Nek?"
"Sudah turuti saja apa kemauanku, ku mohon ini permintaan terakhirku padamu, Nak." Ada sorot kepedihan di mata Surva yang tak mungkin bisa Feodor tolak kemauannya.
"Ya sudah nek, saya carikan terlebih dahulu." Kata Feodor. Pemuda itu lantas cepat-cepat mencari benda yang dimaksud Surva di tokonya. Ia memang masih menjual peralatan dari anyaman meski setelah guna-guna yang pernah membuatnya hampir kehilangan nyawa pernah menerpanya. Tak sulit bagi pemuda yang memang semakin dekat dengan keluarga Surva tersebut untuk menemukan benda yang Surva cari, karena memang ia juga menjualnya. Dengan girang ia kemudian membawa keranjang itu untuk orang yang sudah seperti nenek sendiri untuknya, ia ingat, selain karena sudah ditolong perihal soal guna-guna dahulu itu, Feodor juga dekat dengan keluarga Surva terlebih juga karena ia hidup sebatang kara sejak kedua orang tuanya meninggal ketika usianya 16 tahun.
"Terima kasih ya, Nak." Ucap Surva tepat setelah feodor memberikan keranjang yang ia maksud.
Feodorpun mengangguk, "Tentu saja apapun yang Nenek inginkan, tinggal katakan saja. Apakah ada lagi yang lainnya? Aku akan segera mencarikan semua yang Nenek butuhkan."
“Tidak Nak, ini pun semuanya sudah lebih dari cukup kamu membantuku. Sekarang aku minta kamu segera pulang ke rumahmu dan berdoa untuk keselamatan kita semua ya.” Ucap Surva yang ternyata mengucapkan permintaan lain.
“Maksudnya apa? Aku akan tetap di sini menemani nenek, terutama saat para prajurit utusan itu sudah sampai di sini, pasti nenek sekarang ketakutan bukan?” Ada raut kecemasan yang ditunjukkan Feodor dan kemudian memegangi tangan Surva yang sudah tak elastis lagi. Kulit-kulit di tubuhnya mulai mengendur dan tampak rapuh. Feodor masih tak habis pikir, alasan apa yang kerajaan cetuskan demi gegabah ingin menangkap wanita tua yang tampak tak berdaya itu.
“Tidak, tidak! Kamu tidak boleh di sini, nak. Nenek minta dengan sangat kamu pulang ke rumahmu terlebih dahulu, hal itu justru akan sangat membantuku saat ini.” Kata Surva berusaha membuat Feodor mengerti dan menjauh agar tak terkena masalah.
“Tapi nek..” Mata Feodor tampak berkaca-kaca dan masih berusaha kukuh untuk tetap tinggal di sana.
“Kumohon..” Kini Surva seraya menangkupkan kedua telapak tangannya ke hadapan Feodor.
“Baiklah, baiklah, nek. Aku akan pergi. Tapi janji, nenek harus baik-baik saja!”
Surva mengangguk, “Aku janji.” Ucapnya tersenyum. Feodor kemudian pergi dari tempat itu.
Sepeninggal Feodor, Surva gontai untuk masuk kembali ke dalam rumahnya, untungnya saat itu Adriana beserta anak yang digendong keluar.
“Kenapa tadi Feodor datang, ibu?” Tanyanya belum mengetahui tentang apa yang akan terjadi. Namun, Surva tak segera menjawab, ia justru menatap ibunya itu, “ Ibu? Astaga kenapa wajah ibu sangat pucat sekali? Apakah ibu sakit?” Tanya Adriana dengan nada sedikit tinggi sehingga menimbulkan rasa penasaran dari Damian yang sempat mendengar dari dalam rumah.
Suami Adriana itu pun segera menghampiri mereka, Ada apa? Ibu sakit?” Kini ia ikutan panik.
Surva tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan dari anak dan menantunya itu, ia justru masuk dengan tatapan kosong menuju bangku dari kayu yang ada di dalam rumah mereka. Adriana dan suaminya pun mengikuti wanita tua itu dengan tanda tanya besar.
“Nak, maaf, sepertinya Ibu telah menyeret kalian ke dalam sebuah malapetaka.” Kata Surva tiba-tiba membuat lawan bicara Surva tersebut terbelalak.
Adriana dan suaminya saling bertukar pandanga, “Maksud ibu apa?”
Surva menarik nafas dalam-dalam dan dengan segera melepaskannya, “Mungkin seharusnya kebenaran tidak pernah diungkapkan, mungkin seharusnya kita hanya bisa terdiam ketika orang lain terinjak-injak, seharusnya seperti itu, tapi Ibu tidak bisa melihat ketidak adilan yang terjadi, dan karena ulah ibu, kita semua kemungkinan akan dihukum oleh kerajaan.” Akhirnya Surva bisa juga mengatakannya, mungkin karena telah diburu waktu.
Wanita tua itu juga memberitahukan semua apa yang ia dengar dari Feodor kepada mereka. Seketika Adriana menangis sesenggukan karena ia paham benar bagaimana sifat dari Raja baru mereka yang sama sekali tidak ada belas kasihan, bahkan terkenal karena kezaliman dan kekejamannya. Raja baru itu bisa saja membunuh dengan tanpa rasa belas kasihan pada siapapun yang dianggap sudah melampaui batas. Andreas yang melihat sang ibu menangis sesenggukan jadi ikut merasa iba dan mendekati ibunya.
“Ibu, kenapa kenapa kalian tampak sedih. Jangan menangis ibu.” Ada raut keheranan yang terpancar dari bocah lelaki tersebut.
“Tidak Nak, Ibu tidak apa-apa.” Namun beberapa saat kemudian nyatanya tangis Adriana kembali membuncah, belum hilang rasa sakit di perutnya setelah melahirkan anak keduanya, rupanya kini dia harus menerima serangan mental karena rasa takut pada hal yang akan menimpa keluarganya. Bahkan rasa sedih Adriana kini menjalar ke bayi yang sedang digendongnya, bayi yang baru saja tertidur pulas itu kini terbangun dan menangis sangat kencang hingga memekakan telinga orang-orang disekitarnya.
“Adinda, tenanglah ada kami disini,jika kau bersedih maka bayi kita juga akan ikutan sedih.” Kata sang suami berusaha menenangkan. Surva sendiri hanya diam karena ia tidak pernah membayangkan hal ini sebelumnya.
“Anak-anakku, cukup begini saja lebih baik kalian segera tinggalkan rumah ini dan pergilah ke tempat yang sangat jauh lalu jangan pernah kembali, kecuali jika ada utusan dariku untuk menjemput kalian, kalian beri tanda saja dimana kalian berada nantinya.” Surva menyorotkan wajah tegar dan tegas sekaligus saat mengucapkannya.
“Kenapa ibu berbicara seperti itu? ibu akan ikut kami pergi.” Kata Adriana.
“Maafkan Ibu, anakku. Ibu harus tetap di sini, karena ini adalah tanggung jawabku. Lagipula usiaku memang tidak akan lama lagi.” Sulva berusaha tetap tegar.
“Tidak ibu! Aku tidak mau meninggalkan Ibu sendirian di sini, bagaimana mungkin!” Balas Adriana tak kalah keras kepala. “Aku akan tetap di sini saja, lebih baik kangmas beserta anak-anak segera kabur saja, aku akan tetap menemani ibu.” Lanjutnya pada sosok yang sudah ia nikahi selama kurun 8 tahun ini.
“Adriana, ibu mohon patuhi perintah ibu, ini semua demi kebaikan kita semua. Cucu ragilku masih membutuhkanmu untuk menyusuinya, menyayanginya begitu juga dengan Andreas dan suamimu.” Pinta Surva pada anaknya.
“Tapi Bu, tidak mungkin aku meninggalkan ibu sendirian, aku tidak mau!” Tolak wanita muda itu.
“Tolong jaga Adriana dan anak-anak kalian ya, itu permintaan terakhir ibu. Kumohon segera pergilah dari sini.” Pinta Surva kepada Damian, menantunya yang terlihat tampak bingung karena di sisi lain ia juga tidak tega meninggalkan mertuanya sendirian di sana.
Surva mendekati suami Adriana tersebut, “Ibu harap kalian bisa menuruti kemauan ibu. Ibu mohon.”
Mendengar Ibu mertuanya berkali-kali mengucapkan hal yang sama dan tampak pasrah dan tak bisa melakukan hal lain selain itu dan dia sudah dipasrahi untuk bertanggung jawab atas Adriana dan anak-anaknya maka dengan sangat berat hati ia membawa istri dan anak-anaknya pergi dari sana.
Surva lalu menyerahkan keranjang yang didapatnya dari Feodor tadi ke Damian, “Nak, tolong ya bawa bayimu dengan keranjang ini, ibu memiliki firasat buruk tentang hari ini, tapi cobalah untuk pergi sejauh mungkin dari sini, ibu akan berusaha menahan mereka semampunya.”
Dengan berat hati suami Adriana itu lalu pamit membawa istri serta kedua anaknya yang tentu saja berusaha untuk tetap tinggal, namun dengan sekuat tenaga akhirnya Damian mampu membujuk istri dan anak-anaknya tersebut untuk segera keluar. Mereka keluar dari belakang rumah, lalu menyusuri anak sungai. Mereka tak bisa berlari dengan sangat cepat karena mengingat kondisi Adriana yang baru saja melahirkan anaknya dan tentu pula Andreas juga masih kecil masih berumur 7 tahun, mau tidak mau sang suami menyamakan jalan mereka.
Di dalam rumahnya, Surva tertunduk lesu. Ia selalu berdoa kepada Tuhan untuk menyelamatkan keluarganya tersebut. Tak berselang berapa lama benar saja prajurit utusan dari kerajaan datang mengepung rumahnya. Orang-orang yang menyadari ada keramaian turut penasaran dan segera menambah ramai area rumah Surva.
“Geledah dan cari semua bukti yang ada!” Perintah salah satu prajurit yang tampak memiliki pangkat lebih tinggi dari prajurit-prajurit lain.
“Tangkap semua orang yang ada di rumah itu tanpa tersisa satupun!” Perintahnya lagi.
Pimpinan pasukan prajurit itu segera menghambur masuk ke dalam rumah Surva dan mereka dengan mudah menemukan wanita tua itu, lalu menyeretnya keluar. Tanpa rasa belas kasihan para prajurit yang usianya jelas jauh berbeda dengan Surva itu tak menunjukkan rasa sopan sedikitpun saat memaksa wanita tua itu keluar.
“Lapor! Kami hanya menemukan seorang saja dalam rumah tersebut.” Kata salah seorang prajurit kepada pimpinannya.
“Aku memang tinggal sendiri di rumah ini, tak ada siapapun kecuali aku!” Kata Surva berusaha melindungi keberadaan keluarganya.
Namun pimpinan para prajurit itu tak begitu saja langsung percaya. Oleh sebab itu, ia tidak menghiraukan apapun kata-kata yang keluar dari mulut Surva.
"Sudah kubilang tidak ada siapapun! Percayalah, kalian tidak tidak akan menemukan apa-apa di dalam rumah itu." Surva berusaha memberi tahu.
Tak selang berapa lama prajurit lain datang melapor, "Lapor! Kami menemukan ada beberapa baju wanita, anak-anak dan laki-laki di dalam rumah tersebut. "
"Segera cari semua anggota keluarga dari wanita ini dan tangkap semuanya! Telusuri terus seisi rumah, siapa tau ada tempat tersembunyi!" Ucap sang pimpinan dengan tegas. Rakyat Vorogov yang menyaksikan betapa lantang prajurit itu memberi perintah, membuat mereka jadi takut, tampaknya masalah yang keluarga Surva alami sekarang tampak terlalu pelik.
"Baik, Kami segera laksanakan!"
Mendengar hal itu Surva langsung lemas seketika, memang tak mudah membuat mereka begitu saja percaya terhadapnya. Tapi, setidaknya dia bisa mengulur waktu untuk membuat keluarganya berlari lebih jauh lagi.