Adriana dengan susah payah menyusuri pinggiran sungai sembari menggandeng Andreas, bocah yang belum mengerti apa-apa itu masih kebingungan kenapa orang tuanya tampak gelisah dan meninggalkan neneknya sendiri di rumah, tapi ia tak ingin menambah beban orang tuanya yang terlihat kerepotan dan terburu-buru dan berencana akan menanyakan nanti jika mereka sudah berhenti, sedangkan Damian sang suami tampak membawa bayi mereka yang masih merah beserta keranjangnya. Sampai sejauh ini ia masih belum paham mengapa sang ibu mertuanya memintanya untuk membawa serta keranjang bayi tersebut, jika dipikir-pikir membawa keranjang sebesar itu justru malah merepotkan mereka dalam kabur. Sesekali Adriana menengok ke belakang, masih ada sedikit rasa lega di dalam hatinya, rupanya belum ada tanda-tanda satupun prajurit yang terlihat mengejar mereka, namun entah kenapa ia bisa memastikan bahwa sebentar lagi para prajurit itu akan segera menyadari keberadaan mereka.
"Adinda? Kenapa?" Tanya sang suami saat melihat istrinya itu tampak berhenti sesaat dengan melihat ke belakang.
"Ibu, tak apa-apa kan, Bang?" Pertanyaan Adriana terdengar ragu, karena sebenarnya ia sendiri yakin mereka sedang dalam masalah besar. nMaun, entah mengapa ia berharap Damian mampu memberikan jawaban bahwa ini semua mimpi dan tak nyata.
"Tidak apa-apa, Adinda. Abang yakin hanya ada kesalahpahaman saja dari pihak kerajaan soal ibu dan mereka pasti akan segera melepaskannya." Kata Damian berusaha menenangkan meskipun ia sendiri ragu mengenai betapa gentingnya hal ini. Tentu saja, tanpa sepengetahuan mereka rupanya raja yang sedang berkuasa sedang membuat rencana busuk untuk memfitnah ibu mertuanya. Sedari awal sang raja menginginkan untuk menyingkirkan Surva beserta keluarganya. Untungnya, jarak antara istana kerajaan dengan rumah Surva terpaut jarak yang jauh, bisa setengah jam jika berjalan kaki. Mereka masih cukup waktu untuk melarikan diri jauh menuju aliran sungai akan bermuara.
"Ayok, sebaiknya kita meneruskan perjalanan dulu. Nanti, saat masalah sudah membaik, kita bisa kembali dan bersama ibu kembali." Pinta Damian yang tak ingin menyia-nyiakan waktu barang sedetikpun.
Adriana mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya, meskipun setelah mendengar perkataan suaminya yang berusaha menenangkannya, namun hal itu tak sedikit pun mampu mengurangi kecemasan yang menyelimuti. "Baiklah." Mereka pun melanjutkan pelarian mereka mengikuti arah kemana sungai mengalir. Mereka berusaha tetap berjalan di antara batu-batuan agar jejak mereka tak nampak. Meski tak bisa berjalan dengan cepat, namun mereka berusaha tak berhenti agar tak bisa terkejar.
Di rumah Surva, tampak para prajurit utusan sedang menggeledah rumah kayu yang hampir reot termakan usia itu. Mereka tampak kasar saat menjalankan tugasnya, Semua benda yang ada di dalam rumah Surva diobrak-abrik, beberapa benda yang terbuat dari gerabah dilempar begitu saja, tempat-tempat pakaian dikeluarkan isinya dan dibiarkan tergeletak di atas tanah dan sebuah kendi besar yang digunakan untuk menadah air bahkan digulingkan sehingga air yang masih setengah gentong itu membuat becek ruangan yang tampak seperti pawon (dapur) tersebut. Saat itulah gentong yang hampir kosong itu menggelinding menabrak tungku yang terbuat dari batu dan akhirnya pecah, menandakan tak ada seseorang yang bersembunyi disana, setelah puas membuat kekacauan yang tampak nyata area pawon tersebut, para prajurit yang ada disana kemudian berpindah ke area lainnya. Mereka juga menyisir hutan dan kebun di sekitar tempat itu, siapa tau ada tempat persembunyian yang terselip. Namun, nihil rupanya tak ada tempat khusus semacam itu di area tersebut, rumah panggung Surva benar-benar dibuat sederhana dan terkesan yang penting bisa untuk berteduh. Warga setempat mulai berdatangan satu per satu hingga akhirnya menjejali pekarangan rumah Surva, setiap dari mereka berdoa semoga saja keluarga Surva berhasil kabur dan selamat dalam masa persembunyian nantinya. Bagaimanapun mereka adalah satu keluarga yang baik dan peduli dengan tetangga maupun warga lainnya. Saat beberapa prajurit mulai menyisir area bawah panggung rumah kayu tersebut, mereka menemukan sebuah boneka voodoo yang memang sebenarnya mereka sendirilah yang sengaja sudah menempatkan boneka tersebut disana untuk bisa dengan mudah ditemukan. Benda tersebut lalu dibawa ke depan pimpinan mereka dan dipertontonkan ke rakyat sekitarnya.
Semua rakyat terbelalak menyaksikan benda aneh yang mirip boneka itu. Boneka yang sama yang terdapat di beberapa rumah warga.
“Bagus, memang wanita ini biang keladinya!” Ucap sang pimpinan dan membuat warga di sekitar yang turut menyaksikan ikut terkejut.
“Aku tak pernah melakukan hal bodoh seperti itu, itu salah satu rencana kalian agar bisa menjebakku!” Gertak Surva tak terima. Tentu saja sebagian warga yang menyaksikan juga percaya dengan pernyataan wanita tua itu. Sang pimpinan prajurit hanya tersenyum sinis. Satu prajurit juga turut meneliti ke arah sungai ia sempat menemukan rumput rumput dan semak semak yang seperti tertekan karena injakan orang-orang dan dilihat dari kondisi rumput dan semak tersebut si prajurit bisa menyimpulkan bahwa ada orang-orang yang baru saja melewati nya, tak lama sebelum mereka datang. Ia pun segera melambaikan tangan untuk memanggil teman sesama prajurit yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Saat temannya sudah datang dan melihat apa yang ditemukan oleh prajurit pertama itu mereka berdua pun mengangguk dan temannya tersebut mendatangi sang pimpinan prajurit untuk melapor.
“Lapor! Kami menemukan jejak semak-semak yang terinjak oleh beberapa orang menuju ke arah sungai.” Kata seorang prajurit mendekat ke pimpinannya.
“Baik. Lanjutkan untuk proses pencarian, kemungkinan mereka berusaha menghilangkan jejak dengan menyusuri sungai.” Balas sang komandan.
“Baik, kami laksanakan!”
Surva masih berada di sana dalam posisi bersimpuh dan bisa mendengar semua laporan yang para prajurit itu utarakan, tentu saja hal itu seketika membuat detak jantungnya berdetak sangat cepat, matanya seperti nanar dan mengeluarkan air mata, ia begitu sangat takut jika anak dan keluarga kecilnya ditemukan lalu tertangkap.
“Tak ada siapapun di rumah ini ataupun kabur. Aku hanya tinggal sebatang kara disini sendirian. Percayalah padaku! Kalian hanya membuang-buang waktu saja! Cepat bawa aku menghadap ke raja kalian!” Teriak Surva tetap berusaha membohongi para prajurit itu dan mencegah mereka mengejar keluarganya.
“Diam kau nenek tua! Semakin kau bertingkah dan mengatakan bahwa kau tak memiliki keluarga, kami semakin yakin bahwa ada yang kau sembunyikan!” Seru sang pimpinan para kroco-kroco kerajaan tersebut.
Seketika ucapan prajurit itu membuatnya terdiam, Surva tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membodohi mereka dan mengulur waktu lebih lama lagi.
Adriana dan keluarganya masih terus menjauh dengan setengah berlari menyusuri sungai yang sama, ia melihat ke putranya yang tampak sudah kelelahan setelah berjalan berkilo-kilo meter jauhnya dari kediamannya tadi.
"Apakah kau kamu lelah, Nak?" Tanya Adriana dengan rasa iba pada anak laki-lakinya itu.
"Tidak, Ibu." Jawab Andreas tak ingin membuat ibu dan bapaknya bertambah kacau, meskipun ia akui dalam hati, berjalan berkilo-kilo jauhnya tanpa henti membuatnya kelelahan, tapi melihat kedua orangtuanya seperti terburu-buru dan sang Ibu terus-terusan melihat ke belakang seperti ada sesuatu yang mengejar mereka, Ia pun menahan rasa lelah itu. Untungnya adik bayinya masih terlelap tidur dalam gendongan bapaknya. Jika adiknya saja bisa setenang itu, maka ia sebagai abangnya juga harus memberikan contoh yang jauh lebih baik, yaitu sebuah ketegaran dalam menjalani berbagai situasi hidup.
"Lebih baik kita sembari bernyanyi yuk!" Usul Damian tanpa diduga-duga. "Andreas, maukan menemani Bapak bernyanyi?" Tanyanya kemudian.
"Tentu saja, Pak!" Jawab Andreas dengan sukacita. Bocah itu memang paling suka bernyanyi dan mendengarkan cerita, bahkan ia sempat mengutarakan ingin menjadi penghibur para rakyat melalui bakat seninya dalam mengolah kata. Adriana terharu mendengar niat mulia anaknya tersebut.
"Anak pintar, kalau begitu Bapak akan memulai menyanyikan lagu kesukaanmu, lalu nanti Andreas yang melanjutkan ya.." Pinta Bapak Andreas dengan masih tetap berjalan setengah berlari dan menggendong bayinya. Andreas mengangguk di tengah lelahnya.
"Sungai kami yang jernih sumber segala kehidupan.." Damian mulai bersenandung dengan merdu. Kemudian mata lelaki tersebut mengarah ke Andreas untuk segera melanjutkan.
"Sungguh baik Sang Pencipta ciptakan air berlimpah, tertampung dengan indah dalam sebuah hilir sungai, mengalir melewati bebatuan dan tanah, memberikan sumber kehidupan bagi para makhluk.." Lanjut Andreas yang bersenandung.
"Air sungai yang menyejukkan, membasuh sanubari dan menyegarkan jiwa.." dengan kompak lirik selanjutnya dinyanyikan oleh Andreas dan kedua orang tuanya. Mereka tampak sedikit terhibur dengan menyanyikan lagu yang bersyukur pada alam tersebut. Sesekali Adriana mencipratkan air sungai yang melewatinya ke arah anak laki-lakinya itu. Andreas belum sempat menghindar, namun bocah itu justru senang, rupanya air sungai yang dingin membuatnya terasa sejuk saat bersentuhan dengan kulit.
Melihat jika dengan bernyanyi, semangat justru muncul meski ngos-ngosan menyertai, mereka pun memutuskan terus bernyanyi selama melanjutkan pelarian mereka. Tak henti-hentinya mereka bersenandung menyanyikan smeua lagu yang mereka ketahui. Sampai matahari mulai turun dan tiba-tiba Adriana tersandung oleh batu yang kurang awas dilihatnya. Wanita yang baru melahirkan itu pun jatuh tersungkur sampai-sampai Andreas yang sedang ia gandeng juga turut jatuh, untungnya bocah itu jatuh menindih Adriana sehingga tak ada luka sedikitpun padanya.
"Maafkan ibu, Nak". kata Adriana merasa bersalah. Bocah itu lantas berdiri dan membantu Adriana untuk bangun.
"Tenang saja Ibu, aku tidak apa-apa. Bagaimana dengan keadaan ibu?" Andreas kemudian membantu sang ibunya untuk bisa duduk, dan tepat saat itu juga bayi dalam gendongan suami Adriana menangis
"Adikmu sudah bangun, nak. Kau ingin melihatnya?" Tawar Sang Bapak kepadanya, bapaknya lalu merendahkan tingginya supaya Andreas bisa melihat dengan leluasa.
"Adik sayang, jangan nangis ya, cup cup cup" .Ucap Andreas seraya membelai pipi adik perempuannya itu. Rupanya badan anaknya itu sudah mulai tampak gembul dari pertama ia ingat sang bayi masih cukup kecil dan keriput. Jika dipikir-pikir bayi itu bak balon yang bisa langsung tampak berisi setelah beberapa hari dilahirkan. Sungguh anak yang menggemaskan, pikir Adriana. Wanita itu memeluk dengan hangat bayi mungilnya, serasa ia tak ingin jauh-jauh dari bayi itu.
"Sepertinya, ini adalah kode supaya kita memang harus rehat sejenak, mungkin saja mereka memang tak tahu dan tidak mengejar kita." Kata suami Adriana. Adriana lalu melihat ke arah belakang lagi memang sejauh ini ia tidak melihat satupun prajurit yang mengejar, namun entah mengapa hatinya seperti berdesir ketakutan mengatakan pada diri sendiri bahwa, sebenarnya mereka mengejar hanya saja memang jaraknya belum membuat mereka terlihat oleh para prajurit itu. Namun, setelah melihat Damian dan Andreas tampak butuh rehat sejenak dia setuju dan terlebih sang bayi juga harus ia susui, maka ia pun juga setuju untuk berhenti. Untungnya saat itu arus sungai sedang tidak deras, justru cenderung mengalir dengan lumayan tenang. Air mengalir ke arah laut yang berada jauh di depan mereka. Air ini mengalir dari atas pegunungan sana. Mungkin karena cuaca panas dan masih musim panas, jadi sungai aman dilewati, berbeda jika saat musim penghujan, sering air sungai meluap dan deras arusnya melewati anak-anak sungai dan berbahaya jika menyusuri saat waktu seperti itu tiba. Damian meraup air sungai dalam cangkupan kedua telapak tangannya lalu membilaskan ke mukanya beberapa kali, setelah itu mencangkup air lagi untuk membasahi kerongkongannya yang kehausan, Andreas tampak mengikuti tingkah laku Bapaknya itu. Dengan hati-hati, Sang suami lalu membawakan air dalam cangkupan tangannya ke arah Adriana yang sedang menyusui bayi mereka, dengan senang hati Adriana meneguk air pemberian kekasihnya itu. Rasa haus memang sudah melandanya dari awal mereka lari. Sang bayi yang berada dalam pangkuannya juga tampak berdahaga, hal itu tampak dari cara sang bayi yang terus menerus menghisap asi dalam dirinya. Ia membelai kepala putri kecilnya dengan perasaan yang cukup teduh menyaksikan betapa sang anak menikmati air suci itu, pikirnya sembari tersenyum.
Jadilah anak yang berbakti, kuat, dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitarmu, Nak. Berbahagialah dalam menjalani kehidupan yang tak terduga ini.. Batin Adriana dengan tatapan sendu. Seketika ia jadi kembali teringat dengan ibunya. Surva. Dan matanya menggenangkan air mata jika membayangkan nasib sang ibu yang telah membesarkannya sampai sebesar ini. Ibu yang tidak hanya begitu peduli dan baik terhadapnya, namun kepada semua rakyat di negeri ini. Ibu yang selalu menolong orang lain saat kesusahan itu harus dituduh yang tidak-tidak oleh sang penguasa negeri ini.