“SELAMAT datang,” ujar seorang cewek yang berjaga di kasir GoMart menyambut Gala, tapi cowok itu tak mendengarnya karena sibuk cekcok dengan Wira.
“Kamu beneran bikin aku stres.” Gala mengacak-acak rambutnya dengan sebelah tangan yang tak menenteng keranjang. Lama-kelamaan ada amarah menggerogoti hati melihat Wira tenang-tenang saja dari tadi. “Ngapain juga kamu harus ganggu Bayu? Nggak punya kerjaan. Setidaknya merasa bersalah dikit, kek. Udah nggak merasa bersalah, sekarang malah nambah bebanku lagi.”
“Berarti kamu capek aku deket-deket sama kamu?”
“Waaah, nggak usah ditanya,” jawab Gala spontan sambil meraih makanan ringan yang anteng di etalase, khususnya s**u pisang favorit cowok itu. Bagaimana tidak? Wira bergelantung di leher Gala sambil mengayun-ayunkan kaki.
Rencanaku berhasil! Wira bergumam bahagia pada dirinya sendiri. “Aku bakal pergi ninggalin kamu, tapi dengan satu syarat.” Wira memberi jeda agar Gala penasaran.
“Apa itu?” Gala bersemangat sampai kepalanya berpaling menatap Wira.
“Sebenarnya, dari awal aku tahu kamu bisa lihat aku itu, aku udah berniat nyuruh kamu lakuin ini. Jadi,” Wira menarik napas, “tolong cari asal-usulku!”
“Dih, apa, sih!” Gala melangkah cepat menuju area minuman. “Kamu kira kamu siapa?”
“Ah, jadi kamu nolak?” Wira seolah menduga reaksi tersebut. “Ya udah, kalau gitu, aku nggak bakal pergi dan nempel terus sama kamu sampaaai beranak pinak. Belum cukup sampai di situ. Setelah kamu punya cucu, aku juga bakal menghantui mereka sampai stres dan bunuh diri kalau mereka masih nggak mau nyari asal-usulku. Bakal kuganggu sampai keturunanmu habis satu per satu.”
Gala seketika merinding. “Ngomong apa, sih? Aku nggak suka candaan yang kayak gitu, ih.”
“Tapi, aku serius. Aku nggak bisa kabur ke mana-mana karena jiwaku terikat di daerah ini.” Wira perlahan melayang turun dari bahu Gala. “Aku baru bisa 'pergi' kalau asal-usulku ketemu. Jadi, kalau kamu nolak, aku juga nggak bakal segan-segan!”
Gala tak lagi bicara sepatah kata pun sampai berakhir menuju kasir. Di pikirannya, dia merasa harus menjauh dari Wira. Setan tetaplah setan. Tak ada yang baik. Bocah hantu itu mulai menunjukkan kejahatan kecil.
Namun, ada hening menjeda tatkala lengan Gala maju menyerahkan sejumlah uang. Pupil matanya mengembang pada kasir cewek yang perlahan mengumpulkan rambut ke belakang dengan jari lentiknya. Sejenak dunia terasa lambat menatap bibir tipis merah jambu itu mengapit karet berwarna senada.
Gala terpana melihat tengkuk jenjang yang indah tak terjamah helai rambut. Bahkan kala mata bulat sang kasir meliriknya, Gala masih tak merapatkan rahang yang jatuh ke bawah. Hidung mancung yang cewek itu miliki begitu menambah pesona.
“Permisi.”
Satu kata yang diucapkan dengan nada selembut kapas tersebut, menghempaskan Gala kembali dari kahyangan. Kesadaran cowok itu makin pulih saat terkejut genggamannya belum melepas uang yang sudah ditarik beberapa kali.
“Eh, maaf.” Gala membungkuk malu-malu, tapi matanya langsung memindai tanda pengenal di baju kasir itu.
Gina.
Gala menghafal nama itu dalam hati bersama rona yang menghiasi pipi setelah keluar dari minimarket itu.
“Kamu terpesona sama cewek kumal itu?”
“Ngajedog sia.” (Diam kamu.)
“Eh, eh. Aku boleh ngomong kasar ke kamu, tapi kamu nggak boleh. Gini-gini aku lebih tua meski badan awet muda.”
Gala tak membalas lebih jauh. Dia secepatnya pulang ke indekos dan beristirahat di kasurnya. Dengan keempukan menyangga tubuh, Gala mengingat kembali omongan Wira di GoMart.
“Setelah kamu punya cucu, aku juga bakal menghantui mereka sampai stres dan bunuh diri.”
Awalnya, cowok itu merasa Wira tak berbahaya. Namun, ancamannya terdengar bukan seperti candaan. Bagaimanapun, siapa yang tidak ngeri ketika tiba-tiba bisa melihat hantu? Apakah dia harus segera pindah agar tak membahayakan siapa pun? Makin lama Wira jadi meresahkan.
Buk!
“Pe-rut-ku.” Gala terbangun dari tidur singkatnya ketika merasakan perih menghantam perut. “Sia teh geus gelo?” (Kamu udah gila?!) Nyaris tak bersuara dia berucap.
Ketukan terdengar. Gala menoleh ke pintu saat Wira juga menunjuk ke arah sana tak acuh. “Kamu dipanggil.”
“Alo, makan malam udah siap. Bibi beli ayam goreng serundeng sama gudeg nangka. Bibi juga goreng tahu tempe tadi. Makan, yuk.”
“Awas kamu, ya!” Gala memicingkan mata sambil menunjuk di depan hidung Wira, lalu berlari meraih gagang pintu. “Iya, Bi. Aku dataaang.”
Makan malam akhirnya berlangsung. Nuansanya sangat tenang ditemani suara jangkrik di luar jendela dan cahaya bulan yang menyinari gulita. Namun, Bayu masih terlihat waswas, sama sekali tak fokus pada makanannya.
“Udah, nggak papa, Bayu.” Lilis berusaha membujuk putra sulungnya. “Hantunya pasti udah pergi.”
“Nggak, Bu.” Bayu menggeleng. “Dia masih di sini. Aku bisa ngerasain hawa monyetnya.” Bocah itu merintih. Bangkit dan berlari menuju pelukan ibunya.
“Aduh.”
Lilis memegang perutnya yang berkedut perih tatkala menerima beban halus yang diberikan Bayu. “Sebentar dulu, Bayu.” Dengan lembut, wanita itu mengangkat Bayu agar anaknya tidak merasa bersalah sudah menubruknya tiba-tiba.
“Ini, Bi. Minum dulu.” Gala berharap segelas air bisa mengembalikan ketenangan yang sirna.
Sejenak, semuanya kembali tenang seiring napas halus yang lolos dari bibir Lilis. Denting jam menjadi nada pertama yang terdengar setelah kerusuhan barusan.
Namun, suara geraman terdengar. Saat itulah, Wira muncul merusak suasana. Memamerkan wajah yang tampak terlindas, mengalirkan cairan kental kehitaman. Bola mata memerah juga goresan penuh luka menjijikkan terpampang tepat di hadapan Bayu.
Gala terdiam menyaksikan bagaimana d**a Wira memompa naik turun setelah meraung ganas, juga Bayu yang tak bisa berkedip menatap kengerian tak pernah terbayangkan itu.
“Tah, bengeut aing tadi kakara jiga monyet.” (Nah, wajahku tadi baru kayak monyet.) Wira menyapukan jempol ke bawah hidungnya. “Ulah ngomong sangeunahna deui, nya, Bageur.” (Jangan ngomong sembarangan lagi, ya, Anak Baik.)
Gelas yang dipegang Gala lantas terjatuh.
***
Selepas salat Subuh, Gala kembali berbaring di kasur dan menyalakan ponsel. Suasana fajar terasa menyegarkan, apalagi air wudu menambah adem yang membuat Gala rindu hangatnya selimut.
Gala menghela dan mengembuskan napas perlahan. Bayu demam setelah melihat keganasan Wira yang murka. Apa itu maksud dari Lilis bahwa akan merepotkan jika Bayu melihat hantu?
Ditepisnya segala hal yang berkecamuk di pikiran dengan gelengan beberapa kali. Cowok itu kemudian membuka w******p.
Gala:
Bapak
Jigana abdi kedah ngalih kos.
(Kayaknya aku harus pindah kos.)
Bisa dilihat fitur terakhir dilihat dari bapaknya sekitar jam setengah dua belas kemarin malam. Lagi-lagi Gala mengeluarkan debas. Dia menunggu beberapa saat mengamati langit-langit, tanpa sadar status Yandi berubah menjadi online.
Bapak:
Kunaon?
(Kenapa?)
Gala:
Ngke wae ku Gala dijelaskeunna, Pak.
(Nanti aja Gala jelasinnya, Pak.)
“Kamu ngetik apa?” Wira muncul di sisi Gala. Belum sempat mengintip, cowok itu bangkit dan menghindar.
“Nggak tahu. Aku buta huruf.” Ada kekehan menyembunyikan gugup. Dengan cepat dia memasukkan ponsel ke dalam saku celana.
“Jangan bilang kamu mau …”
Gala tergamang menelan ludah.
“... ngasih aku kejutan?!”
Hening menguar untuk lima detik berikut.
“A-ha-ha-ha.” Tawa paksa meluncur bebas dari mulut Gala. Bocah hantu kurang ajar itu kembali ke sifat tengilnya. “Nggak, kok. Ke-geer-an.”
Matamu kejutan, aku mau kabur, anying.
“Aku nggak peduli kalau memang bukan apa-apa. Tapi,” Wira menatap Gala tepat di mata, “kalau sempat kamu macam-macam, misalnya, diam-diam kabur dari sini, kamu tahu kalau aku punya kuku panjang ini, 'kan? Bayu udah demam, tinggal adiknya yang belum lahir!” Wira tertawa keras.
Gala terdiam.[]