“GALA, ceuk si Bapak, maneh rek neangan kosan nu sejen?” (Gala, kata bapakmu, kamu mau nyari kos lain?) tanya Lilis sedih. “Kunaon? Kosan bibi teh teu ngeunaheun?” (Kenapa? Kos Bibi nggak nyamankah?)
“Eh. Henteu, da, Bi. Enakeun pisan, puguh.” (Eh. Nggak, kok, Bi. Nyaman banget, malah.) Gala melambai-lambaikan kedua tangannya gelisah.
Gala mengeluh dalam hati. Didekatkan bibir ke telinga sang tante agar lebih mudah berbisik. Sebelum dia benar-benar mengucapkan sesuatu, mata cowok itu bekerling ke kiri dan kanan terlebih dahulu. Ada kebingungan menyapa kala tak merasakan kehadiran Wira, tapi dia sangat bersyukur. Kalau bisa, hilang selamanya bocah itu.
“Masalahna, abdi kedah ngalih ameh Bibi sama Bayu aman.” (Masalahnya, aku harus pindah biar Bibi sama Bayu aman.)
“Emang kunaon?” (Memangnya kenapa?) Lilis ikutan berbisik.
“Aya jurig bocil nu ngaganggu Gala di dieu.” (Ada hantu bocil yang ganggu Gala di sini.) Jeda sepintas. “Dia juga ngancem bakal lukain Bibi dan Bayu, tapi Bibi nggak usah takut! Kita bisa pulang ke rumah kita di Ciamis aja, Bi. Sementara saja, soalnya ...”
“Aku nggak bisa kabur ke mana-mana karena jiwaku kayaknya terikat di tempat ini.”
***
“Maneh akhirna jalir jangji oge, nya.” (Kamu akhirnya ingkar janji juga, ya.) Wira duduk di kasur memandang kakinya yang mengayun dengan tatapan kosong.
Gala mundur satu langkah. “Mak-maksudnya?” tanyanya pura-pura tidak tahu apa maksud Wira.
“Jangan pergi, please.” Wira menyelipkan tangan ke lengan Gala. “Aku cuma bercanda. Aku nggak bakal bunuh siapa pun, jadi batalin pindah kosnya. Tolong cari asal-usulku. Kamu tega aku jadi hantu penasaran selamanya?”
Gala menampik tangan Wira setengah enggan. “Jangan ganggu aku. Aku ke sini jauh-jauh itu cuma buat menimba ilmu di SMANSATAS, bukan ikut campur urusan makhluk halus. Dari awal harusnya kamu nyari orang lain aja.”
“Tapi, cuma kamu yang bisa ngelihat aku selama aku berkeliaran di sini.” Awan kelabu suram bergelayut di wajah Wira yang tertekuk dalam. “Jadi, kamu sungguh-sungguh nolak bantuin aku, 'kan?”
Tak ada reaksi. Pertanyaan itu hanya mampu mengambang di udara tatkala Wira memahami situasi, lalu perlahan menghilangkan diri dibawa sepoi pagi.
Gala sejenak seakan lupa cara bernapas, sebelum mengehela udara dalam-dalam dan mengembuskannya pelan. Menyingkirkan rasa tidak enak yang menguasai hatinya.
“Nggak bakal ada masalah, ‘kan?” tanyanya sedikit waswas. Namun, cowok itu berusaha acuh tak acuh. Menggeleng kepala dan berjalan menuju lemari dan mulai mengumpulkan barang-barang.
***
“Nggak mungkin bocah jurig itu berani bunuh orang, 'kan?” Gala berbicara sendiri kala mengambil tiga kotak s**u pisang dari etalase ke dalam keranjang. “Ah, nggak mungkin, lah. Masih bocil juga.”
Gala berbalik terkejut. “Gimana kalau si Gelo itu serius? Dia pernah bilang kalau dia lebih tua dari aku, mungkin aja itu beneran.” Macam suara Wira melayang di kepala Gala.
Cowok itu keasyikan melakukan monolog sampai tak menyadari seorang cewek memperhatikan dirinya dari belakang.
Tepukan tangan menyentak. “Ah, s**l! Kenapa aku harus perca-” Gala berbalik lagi dengan bibir nyaris menabrak pipi seseorang. “Allahu Akbar! Eh, Gina, toh. Eh!” Cowok itu membekap mulutnya sendiri, menyesali refleks menyebalkannya. Apa yang bakal Gina pikirkan saat seseorang tahu namanya sebelum berkenalan?
Gina terbahak seolah memahami keterkejutan lawan bicaranya. “Kenapa? Biasa aja, kali, tahu nama kasir yang selalu make name tag di seragamnya.”
Melihat Gala masih diam, ketika Gina mengulurkan tangan. “Namaku Gina Nafisah. Kamu?”
Gala termenung beberapa saat sebelum menjabat dengan mantap. “Prawira Damanggala.”
Gina menyunggingkan senyum jail. “Salam kenal …” Cewek itu memberi jeda, tidak tahu harus bagaimana memanggil cowok yang berdiri kikuk di hadapannya.
“Gala, panggil aja Gala. Salam kenal, hehe.” Gala menggaruk belakang kepalanya.
“Oh, oke. Salam kenal, Gala.” Gina lagi-lagi terkekeh. “Mau nanya, dong. Kamu ini memang suka ngomong sendiri, ya?”
Alis Gala berkerut tajam. “Maksudnya?”
“Pertama kali kamu dateng, kamu kayak lagi berantem sama seseorang, padahal jelas-jelas lagi sendiri. Terus tadi juga di sini.” Bola mata Gina bergerak, seolah kilas balik ketika Gala berbicara sendiri tadi berbayang di mata.
Kalau bisa, mungkin otak Gala sekarang muncul lingkar loading yang memutar pelan. Namun, setelah memahami maksud Gina, detik itu juga wajahnya memerah.
“A-ha-ha-ha-ha.” Tawa canggung terdengar. “Ngggak, kok. Aku lagi bicara di telepon … pake ... earbuds. Iya, earbuds.” Wajah Gala semerah tomat. Cowok itu kemudian mengumpat dalam hati. Gara-gara Wira dia dikira gila.
Gala segera mengalihkan topik dengan bertanya, “Oh iya, kamu kenapa nggak pake seragam?”
“Apa?” Gina mengamati tubuhnya sendiri yang dibalut kaus putih polos dan celana jins panjang. “Oooh, iya. Sifku udah selesai.” Gina mencubit bajunya beberapa senti ke depan, lalu melepaskannya cepat sampai pakaiannya mengempis kembali secara perlahan.
“Oh, terus--”
Dering telepon memotong ucapan Gala yang sempat tertata.
“Sebentar, ya.” Gina menempelkan ponsel ke telinga di balik rambut bergelombang ringannya yang indah. “Eh? Beneran? Oke, oke. Aku ke sana sekarang.”
“Gala, kita ngomong lagi nanti, ya. Aku mau ketemuan sama temen dulu. Dadah.” Gina mengembangkan telapak tangan. “Bayar aja, tuh, sama cowok di sana. Dia yang gantian sif sampe malam.”
“Oh, oke. Daaah.” Gala turut melambaikan tangan.
Wah, kunaon abdi nembe terang aya istri sageulis eta? Padahal atos nyimpang sababaraha kali. (Wah, kenapa aku baru sadar ada cewek semanis itu? Padahal udah mampir beberapa kali.) Gala berpikir sejenak. “Ah, bener. Kemarin kapasitas anuku lagi di ujung tanduk badak.”
Berjalan menuju kasir, Gala bisa melihat cowok yang disinggung Gina berdiri di sana. Namun, senyum masih tak lekang di wajah tertunduk malu-malu ketika menyodorkan sejumlah uang.
“Aduh, Aa. Kenapa wajahnya merona begitu?” Kasir cowok itu berujar manja. Dia menggigit bibir bawah dan menyipitkan mata menggoda. “Aa mau minta nomorku, ya?”
Bagai kentut yang masuk kembali ke pabriknya, seluruh sipu di wajah Gala seketika tersapu rasa geli yang menegakkan bulu roma. “Amit-amit!” Dengan cepat dia menenteng plastik belanjaan keluar.
Namun, dering telepon menyeletuk lagi. Kali ini punya Gala. Cowok itu menjawab ketika melihat nama yang tertera.
“Halo, Bapak.” Gala menyapa bapaknya sembari menyapu pandang ke sekeliling. Tak ada Wira. Mungkin prediksinya benar, ancaman-ancaman itu hanya sekadar gertak sambal Wira. Dalam hati, ada lega sekaligus sebal menyisip karena bisa-bisanya dia termakan gertakan seorang bocah kecil.
“Gala, Bapak belum nemu kos yang cocok untuk kamu. Sekolahnya masih lama, kok. Kamu pulang ke rumah dulu aja, ya, sambil Bapak nyari kos kenalan Bapak di deket sekolahmu,” ujar Yandi di ujung sana.
Gala merasa kecewa sejenak melintas. “Oh, ya udah. Teu nanaon, Pak.” (Nggak apa-apa, Pak.) “Aku juga niatnya pulang untuk sementara aja, kok. Nanti ...” Saat itulah, Gala menghentikan ucapan ketika melihat sekelebat bayangan di seberang jalan. Dengung kebingungan Yandi dalam ponsel tak lagi diacuhkannya.
Wira melambung sekitar satu depa di udara. Darah menjijikkan; tempurung kepala retak terpancang membuat degup kengerian itu kembali merasuk ke jantung. Sejumput napas pun tak dapat masuk ke paru-paru Gala saat Wira memelesat sambil memancangkan seringai ke arahnya.
Ada deru kendaraan seketika bergaung di kejauhan. Lambat laun bergemuruh semakin keras dan tampaklah truk melaju kencang. Mengarah tepat pada seorang cowok yang kini bergeming diam.
Gala tak tahu harus bereaksi apa. Kakinya seolah terpaku ke tanah tanpa bisa digerakkan sama sekali. Lidahnya kelu; pita suaranya terkunci. Setiap sel otak mengirim sinyal bahwa dia sedang mengetahui betapa ajal menjemput kematiannya.
Dunia mendadak begitu hening. Hanya antara Gala, Wira, serta maut mendesak. Sesuatu seperti kilas balik menghunjam kepala. Masa lalu yang tak pernah dia ingat sebelumnya. Masa lalu penuh sesak nan mencekik. Hingga tiba-tiba suara Wira terdengar di telinga.
“Maneh rek langsung indit atawa cicing di dieu jeung aing?” (Kamu masih mau pergi atau tetap di sini bersamaku?)
Gala termenung, tetapi tak ayal sepasang netra cowok itu melirik truk yang seakan menembus angin karena begitu cepat. Jantungnya berdegup sekencang roda bus yang berputar tanpa henti.
“Aku ...”[]