Madu

822 Kata
"Sudah sampai, mba Kayla!" suara supir yang mengantarkan Kayla ke kediaman Fani mengagetkannyadari lamunannya. "Makasih, Pak!" balas Kayla serasa melangkah keluar dari mobil. Sani telah menunggunya di teras rumah dan menyambut dengan senyum yang lebar saat melihat Kayla, "Hebat kamu, Kay.. Pelayanan apa yang kamu berikan pada Pak Galaksi?" tanya Sani sambil menggandeng tangan Kayla berjalan ke arah dalam rumah. "Pelayanan bagaimana, Sani? Aku tidak mengerti maksud kamu!" Kayla merasa bingung dengan pertanyaan yang di lontarkan padanya. Ia tidak merasa melakukan yang berlebihan, bahkan yang lebih aktif semalam adalah kliennya. "Dia menebus kamu dan Liora, selamat!" Kata Sani sambil tersenyum sinis. "Benarkah?" Kayla tersontak kaget dan memberhentikan langkahnya. kedua matanya memandang wajah Sani dengan ekspresi tidak percaya. "Kamu di tinggu, mami Fani di ruangannya." Sani berjalan terlebih dahulu, untuk mengarahkan Kayla ke arah ruangan bos besar mereka. Kayla mempercepat langkahnya, agar bisa segera sampai di ruangan yang biasa mereka sembut Mami. Kayla masih tidak percaya dengan ucapan Sani. Saat memasuki ruangan yang cukup luas itu, Kayla menutup bibirnya dan matanya berkaca-kaca. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan anaknya saat ini. "Liora?" Kayla meraih anaknya dari tangan pengasuhnya beberapa hari ini. Ia menangis bahagia dan menciumi tubih mungil anaknya. "Pergilah bersama anakmu. Aku sebenarnya menyukaimu, tapi alu tidak bisa melawan Galaksi si lelaki Singa itu." Fani tahu, setiap permintaan Galaksi haruslah terpenuhi, kalau tidak maka semua akan kena imbasnya. Oleh karena itu, Fani tidak ingin ada keributan di wilayahnya. "Kayla, beruntung sekali kamu." Ujar Sani sedikit kecewa karena Kayla akhirnya lepas dari mereka. "Minum jamu apa kamu? bisa membuat Galaksi terpesona denganmu?" Kayla tidak menanggapi apapun yang mereka ucapkan. Bagi Kayla saat ini, cukup bahagia bisa bertemu kembali dengan anaknya dan terlepas dari dunia gelap ini. Kayla ingin melangkah keluar, namun langkahnya terhenti oleh suara Fani yang memanggil namanya, "Pak Galaksi menitipkan ini, untukmu!" Fani mengeluarkan amplop berwarna coklat dari lacinya dan meletakkannya di atas mejanya. Kayla yang melihat hanya tersenyum dan menjawab dengan sopan, "tidak terimakasih, aku tidak membutuhkan benda itu." Kayla tidak ingin mengambil uang haram itu, ia tidak ingin memberi makan Liora dengan hasil menjual di*i. "Sombong sekali, kamu!?" "Diam kamu Sani!!"bentak Fani. "Baik, nanti aku akan sampaikan pada asistennya. Selamat jalan Kayla, hati-hati." ***** "Nyawa siapa yang terancam, Kayla?" Galaksi menarik perlahan Gaun yang dikenakan Kayla, terlihat punggung yang indah, kulit putih yang halus, seolah tak pernah tersentuh oleh apapun. "Putri saya, Pak." Jawab Kayla sedikit berbisik. "Kalau bukan demi keselamatannya, mungkin saya sudah lari dari sini." Galaksi tertawa. Galaksi mendorong tubuh Kayla ketempat tidur, membuat wanita itu terduduk disisi tempat tidur. Galaksi berjongkok dan melepas sepatu hells yang digunakan Kayla. "Jadi kamu terpaksa melakukan pekerjaan sebagai wanita pengh*bur?" Galaksi memdongak, memandang wajah Kayla yang memerah dan matanya mulai berkaca-kaca. "Iya..." Kayla menarik nafas dalam. Galaksi tertegun, ia teringat akan kata-kata Rian. Jadi siapa sebenarnya yang berbohong? Lagi, jari tangan Galaksi menangkup kedua pipi Kayla. Ada rasa kasihan saat melihat wajah dan mata sendu Kayla. Namun, hasrat lelakinya tidak bisa ia tahan. Perempuan itu mengikuti irama permainan Galaksi. Akan tetapi,pada satu titik menjelang pelepasan. Saat Galaksi bergerak cepat, ia melihat air mata turun membasahi wajah Kayla. Dan mata mereka beradu. "Maafkan aku." Entah dorongan apa yang membuay Galaksiengucapkan itu. "Untuk apa minta maaf, Pak? ini sudah tugas saya, melayani anda." Kayla tersenyum, senyum yang mematikan bagi Galaksi. "Pak Galaksi, ini ada beberapa berkas yang harus bapak priksa." Sekretaris Galaksi membuyarkan lamunannya yang teringat akan aksinya semalam dengan Kayla. "Letallan saja di meja. Tolong buatkan minum, untukku." Printah Galaksi, ia mengusap wajahnya, tidak menyangka akan terbayang permainan mereka semalam. "Baik, Pak." Selertarisnya itu keluar dan bersamaan dengan masuknya Gisel keruangan Galaksi. "Ada apa?" tanya Galaksi ketus saat melihat Gisel berada diruangannya. "Kok gitu si?" semenjak aku berhubungan dengan Rian, kamu jadi sinis gitu sam aku." Gisel duduk di kursi dan memandang Galaksi dengan tidak terima. "Lelaki yang berani meninggalkan istrinya demi wanita lain, mungkin akan berbuat sama juga di lain hari." Kata Galaksi menyindir Gisel. "Kamu sekarang tidak asik, Gala. Hidupmu berubah kaku semenjak di tinggal wanita pujaanmu itu." Ejek Gisel dan bergegas pergi meninggalkan Galaksi. Galaksi sedikit memanas saat masa lalunya di ungkit, betapa ia sakit hati dengan kekasihnya dulu. tok...tok.... "Masuk!" Titah Galaksi saat mendengar ketukan dari luar, membuat rasa amarahnya hilang sesaat. Terlihat Niko yang memasuki ruangannya dengan berjalan tegap, "Kayla Attaya, menolak pemeberian anda, pak." ucap Niko saat berdiri di hadapan Galaksi. Galaksi tersenyum tipis, ternyata Kayla tidak seperti wanita lainnya yang singgah di ranjangnya. Padahal secara materi, Kayla sangat membutuhkan uang. "Kemana dia?" Galaksi menyandarkan punggungnya di kursi. "Kayla kembali kekosnya yang kumuh, pak." "Apa kamu tahu di mana alamatnya?" Galaksi semakin penasaran dengan wanita itu. "Iya, saya tahu, pak. Apa bapak akan menemuinua?" "Saya hanya ingin melihat keadaannya, apakah dia baik-baik saja." jawab Galaksi. Dalam sudut hatinya, ia menyesal tidak bisa menahan hasratnya, ia tidak bisa menahan keinginannya untuk tidak menodai wanita itu. Apa lagi saat melihat wajah dan tubuh Kayla yang seperti madu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN