"San, beritahu klien kita, kalau Kayla belum siap... Kenapa fotonya bisa terpajang?" Fani menggigig bibir bawahnya.
"Sudah, mami, tapi lelaki kaya itu tetap meminta Kayla untuk menemaninya hari ini"
"Aku khawatir Kayla akan mengecewakannya." Keluh Fani menatap foto Kayla yang terpajang di aplikasi online itu.
Sani meyakinkan, kalau Kayla akan siap dengan sedikit ancaman dan trik. Kayla akan bersikap elegan.
Di ruangan lain, Kayla telah di dandani dengan anggun, rambut panjang yang tergerai rapi, make up natural dan gaun softpink yang melekat di tubuhnya. Ia mengira akan memakai baju nan seksi, nyata masih terlihat formal, sepatu hills yang menghiasi kakinya.
Kayla sendiri mengagumi penampilannya, selama ini ia tak pernah berpenampilan semodis saat ini.
"Lelaki pertamamu sudah menunggu di apartemennya, layani dia dengan baik, jangan sampai aku mendengar keluhan dari dia. Kamu akan tahu akibatnya." tegas Sani saat menjemput Kayla di kamar bernuansa putih itu. Lalu menuntun Kayla berjalan ke arah mobil yang siap menghantarnya ke tujuan tempat ia bekerja malam ini.
Kayla mengangguk pasrah, ia sudah berpikir untuk lepas dari Fani setelah tahu keberadan Liora.
"Apakah setelah ini aku bisa bertemu dengan anakku?" tanya Kayla saat hendak memasuki mobil hitam mewah.
"Tentu saja, lakukan yang terbaik, maka hadianya Liora." Jawab Sani lalu mndorong Kayla masuk ke mobil dan menutup pintunya.
Mobil melaju meninggalkan rumah mewah itu. Kayla menatap gedung-gedung pencakar langit. Malam sudah merangkak sempurna.
Mobil hitam yang mengantar Kayla sampai di sebuah gedung bertingkat. Seorang lelaki menyambutnya saat pintu terbuka.
"Aku Niko. Mungkin kita akan sering bertemu, Nona." Ucap Niko menyambut wanita pilihan bosnya. "Mari ikut saya."
"I....ya". Jawab Kayla dengam suara bergetar, mata yang mulai memanas. Ada rasa sesak di d**a, namun teringat akan ancaman Fani dan Sani, ia harus bisa menjalankan tugasnya malam ini.
Mereka berdua sampai di depan kamar milik Galaksi, setelah menaiki lif dan melewati beberapa lantai apartemen.
Kayla menarik nafas dalam-dalam, seakan ia mengisi ruang dadanya dengan udara yang tak dapat ia hirup saat berada di balik pintu yang akan terbuka di hadapannya.
"Selamat malam, Pak Galaksi.." sapa Kayla saat memasuki ruangan yang terlihat sebuah tempat tidur luas, terdapat seorang lelaki tampan sedang bersandar di divan tempat tidur itu.
Saat bersama Sani, Kayla telah diberitahu nama kliennya malam ini. Lelaki berwajah tampan itu menatap wajah teduh Kayla dan tersenyum lebar.
"Selamat malam juga, Kayla." Seraya meletakkan ponselnya di meja sebelah tempat tidur.
Suara milik Galaksi seperti pernah di dengar oleh Kayla, namun ia lupa dimana pernah bertemu dengan lelaki itu.
"Apa hobimu, Kay?" tanya Galaksi mendekat.
"Saya tidak punya hobi, Pak." Jawab Kayla sedikit gugup dan mundur beberapa langkah. Kedua telapak tangan Kayla juga berkeringat dan gemetar.
"Kamu gugup?" tanya Galaksi semakin mendekat dan meletakkan tas tangan Kayla di meja dekat Kayla berdiri.
"Sedikit, pak." Jawab Kayla sambil menunduk, ia tak berani mengangkat wajahnya.
Dari dekat, wajah Kayla terlihat cantik, sangat berbeda saat bertemu di lobi, apa lagi dengan penampilan Kayla yang kumuh saat itu.
Galaksi merahi kedua pipi Kayla, membuat wajah Kayla terangkat, dan mau tidak mau Kayla menatap wajah Galaksi. Jarak wajah mereka hanya beberapa centi. Kayla melawan rasa takut dan jijiknya demi bisa bertemu dengan sang buah hati.
Namun saat ia mencoba menahan sesak di d**a, air matanya menetes membasahi pipinya dan mengenai tangan Galaksi yang masih memegangi pipi Kayla.
"Ada apa? apa ada keluargamu yang meninggal dunia?" tanya Galaksi saat ingin menyentuh bibir Kayla.
"Tidak ada, pak." Kayla memejamkan matanya, karena Galaksi semakin mendekatkan bibirnya kearah wajah Kayla. Kecupan itu melintas dibibir Kayla, membuat tangan Kayla mencekram kerah baju yang dikenakan Galaksi. Namun, reaksi Galaksi semakin memperdalam ciumannya. Kayla ingin sekali menendang lelaki dihadapannya. Tetapi, bayangan Liora muncul dipikirannya. Sebelum ia berangkat, Sani sempat menunjukan vidio anaknya yang di asuh oleh wanita tua bernama Devi. Sani juga memperlihatkan ada beberapa jenis senj*ta taj*am di laci dekat anaknya di asuh. Ancaman itu yang membuat ia menerima kenyataannya saat ini.
Galaksi melepas ciumannya, namun tangannya masih berada di kedua pipi Kayla. Galaksi menghapus air mata yang membasahi pipi Kayla. Galaksi melihat raut kerapuhan di wajah Kayla, tak sedikitpun terlihat sisi ekspresi menggoda di wajah Kayla, seperti halnya wanita panggilannya seperti biasa. Tidak ada kata rayuan manis dari bibir wanita di hadapannya itu.
"Sudah berapa lama jadi wanita panggil*n?" tanya Galaksi.
"Anda orang pertama, Pak." Jawab Kayla dengan bibir merah dan bergetar, air mata yang terus membasahi pipinya. "Hidup saya sangat pahit.... Saya terpaksa melakukannya."
"Alasan yang sudah biasa terdengar." Galaksi tersenyum getir, ia masih merasa Kayla hanya berpura-pura. "Faktor ekonomi. pasti itu alasan utamanya." Galaksi melepaskan pengait gaun yang digunakan Kayla, membelai rambut panjang hitam wanita yang dihadapannya.
"Lebih dari itu, pak." Kayla tertawa getir, dan air matanya semakin deras membasahi pipinya, Galaksi terus memainkan jarinya, sampai gaun yang dikenakan Kayla terjatuh.
Mimpi buruk itu akhirnya terjadi, Kayla hanya pasrah dengan segala perlakuan Galaksi.
***
Kayla terbangun dan menoleh keafah samping, namun tak terlihat lelaki yang bersamanya semalam. Hanya menyisakan bekas lekuk bantal dan selimut yang menyelimuti tubuh polosnya. Kayla memejamkan matanya, menahan sesak didada, ia merasa jijik dengan dirinya sendiri, namun sesal tiada guna. Semua demi keselamatan anaknya.
Dengan menceritakan kisah hidupnya, Kayla pikir Galaksi akan berbelas kasihan padanya, namun nyatanya, dunia memang kejam. Tidak ada bantuan yang geratis. Bayangan semalam menari-nari di pelupuk matanya. Ancaman yang terus diberikan Fani dan Sani membuat ia pasrah akan pekerjaannya yang selayaknya di lakukan pasangan suami istri.
Kayla turun dari ranjang dan meraih gaunnya berjalan menuju kamar mandi, untuk membersihkan dirinya. Ia berharap mimpi buruk ini akan segera pergi dati kehidupannya.
Ia membersihkan tubuhnya yang menyisakan aroma Galaksi. Lelaki itu memperlakukannya dengan lembut, seolah Kayla boneka yang rapuh.
Setelah membersihkan diri, Kayla melihat notif di ponselnya, Pak Kardi, supir yang menghantarnya semalam telah menunggu di bawah. Kayla bergegas turun dan kembali ke kediaman Fani. Tidak ada yang perlu disesali, semua yang terjadi harus di jalani. Namun suatu hari nanti, Kayla yakin mimpi buruk ini akan berakhir.
Memasuki mobil yang sudah menantinya, ia menghembuskan nafasnya dan memjamkan matanya. Terlintas bayangan Galaksi yang memperlakukannya begitu lembut. Kayla membuka matanya dan berusaha menghapus bayangan lelaki yang sudah menidurinya semalam.