"Apa itu, Ren?" tanya Surti yang memperhatikan anak gadisnya sedang memakai kalung permata berwarna putih dilehernya. "Dari Danu?" tanya Surti lagi, iaerasa takjub dengan perhiasan yang di gunakan Renata. Terlihat dari penampilannya, sidah jelas harga yang sangat fantastis.
"Bukan, Bu. Hadiah dari Mami Fani. Karena dia menyukai Kayla." Jawab Renata tersenyum puas. "Katanya, Kayla memiliki daya tarik yang tinggi."
"Putri ibu memang hebat..." Puji Surti sambil melihay kalung berlian uang digunakan Renata.
Kedua wanita itu tertawa bahagia, Renata mendapatkan ide saat bertemu dengan teman sekolahnya dulu. Ia dikenalkan dengan Mami Fani. Dan disitulah awalnya Renata memiliki ide untuk menjebak Kayla.
Awalnya Fani menolak, Fani mengira Kayla adalah wanita kampung, apa lagi usianya yanh sudah hampir kepala tiga, sedangkan Fani hanya memakai wanita usia muda dan berbadan bagus. Tapi, saat Renata menunjuk Kayla di Rumah sakit, Fani berubah pikiran. Dibalik baju lusuhnya, ternyata Kayla memiliki tubuh yang indah.
"Mas Rian terselamatkan, bu. Namanya tetap bersih. Karena di sini sudah jelas kalau wanita kampung itu yang bekerja sebagai wanita panggilan." ujar Renata sambil tertawa.
"Bagaimana dengan Danu? Ibu ingin berkunjung kerumahnya lagi." Surti merasa takjub dengan rumah Danu yang terlihat seperti istana, tapi sayang, saat bertamu, mereka hanya sebentar.
"Danu sedang ada urusan ke Jepang, bu. Mereka sedang sibuk dengan bisnis baru meraka di sana. Nanti setelah balik ke Indo, aku akan minta kita kerumahnya dan bertemu orang tuanya."
"Kamu harus jebak Danu, bawa dia ke atas kasur, dan berikan dia kepuasan, agar kalian segera menikah." Surti memberikan ide gi la pada putrinya.
"Ibu tenang saja, Danu orangnya lempeng, dia juga cinta banget sama aku." Renata tersenyum sambil memainkan kalung berlian yang ada di lehernya. "Aku pastikan dia akan jadi milikku, bu. Dan semua harta kekayaannya akan jadi milik kita."
Surti yang mendengar penuturan sang anak, dapat membayangkan, kalau dirinya akan menjadi orang terkaya di komplek rumahnya.
****
"Apa kau sudah menyiapkan wanita baru untukku?" tanya lelaki bertubuh tegap dan bermata elang itu pada asistennya yang bernama Niko.
Galaksi, sosok lelaki dingin. Ia terlihat ramah hanya pada orang tertentu. Namun akan bersikap dingin seperti es. Ia memiliki rasa kecewa yang mendalam pada masa lalunya. Melisa, gadis yang ia suka sedari putih abu-abu, dan sempat menjalin kasih beberapa tahun dengannya. Namun harus berakhir, saat Melisa melanjutkan studynya di Paris. Melisa memilih Pria kelahiran Prancis dan kini sudah memiliki anak. Galaksi merasa kecewa, ia berharap ada kejelasan dari Melisa, namun bertahun-tahun ia menunggu, hanya kebohongan yang ia terima. Semua infomasi itu ia dapatkan dari asistennya Niko yang berusaha keras mencari tahu keberadaan Melisa hingga saat ini.
Tidak ada seorangpun yang bisa mengobati lukanya, bahkan saat ini, Galaksi hanya menghabiskan waktunya dengan wanita pang gilan kelas elit, niatnya hanya untuk melampiaskan hasratnya. Tidak untuk berhubungan dengan serius.
Niko meletakkan tabletnya di meja hadapan Galaksi, "Saya sudah mencari sesuai dengan kriteria bapqk, Tinggi, berambut panjang, dan wanita yang berbeda dari sebelumnya." Ujar Niko sambil memperlihatkan beberapa foto wanita cantik di aplikasi online, dimana aplikasi yang menawarkan ja sa wanita pang gilan.
Galaksi menggulir layar ponsel pipih itu, foti pertama terlihat wanita berprofesi sebagi model, namun tidak memiliki ketertarikan olehnya, hingga ke foto wanita ke empat, seperti tidak asing baginya. Galaksi membuka biodatanya, dan benar saja terlihat nama Kayla. Namun terlihat berbeda, saat ia bertemu dengan Kayla menggunakan kerudung.
"Jadi benar dia menjual di ri?" desis Galaksi
"Ada apa, Pak?" tanya Niko saat mendengar suara bosnya bergumam.
"Aku pilih dia. " ucap Galaksi
"Kayla?" Niko memastikan lagi. Ia tahu betul pilihan bosnya, setiap wanita yang ia pilih selalu wanita yang terlihat pintar, dan pintar di ranjang.
"Apa aku perlu mengulangnya lagi?" ujar Galaksi saat tahu, kalau asistennya merasa tidak yakin dengan pilihannya.
"Baik, Pak." Niko mengambil tablet yang ada di meja Galaksi dan keluar dari ruangan bosnya, laluencoba menghubungi aplikasi tersebut.
Galaksi merasa penasaran, apa yang membuat Kayla bisa masuk di aplikasi kelas dunia hitam itu? Galaksi mengetuk-ngetuk pulpennya di meja, dan membayangkan wajah teduh Kayla, dan cara berbicaranya saat bertemu dengannya. Sangat mustahil jika ternayat benaf kalau Kayla melakukan hal sekotor itu.
"Hai Bro..." Hakam masuk ke ruangan Galaksi, membuat Galaksi tersadar dari lamunannya.
"Apa yang membuatmu kembali ke sini, Bos?" Galaksi berdiri dan memeluk sang adik, yang hanya beda satu tahun saja dengannya. Hakam lebih memilih tinggal di rumahnya sendiri, rumah hasil dari usaha kerasnya berjualan lukisannya. Halam lebih suka mengembangkan hobinya yang memegang kuas dan kanvas di banding melanjutkan bisnis orang tuanya.
Hakam tidak ingin berurusan dengan dunia bisnis usaha keluarganya. Baginya, berada di kakinya sendiri adalah keinginannya sedari kecil, walau Halam memiliki penyakit kelainan jantung, namun dia bahagia dengan jalannya. Semenjak orang tua mereka meninggal, Hakam dan Galaksi tinggal terpisah. Hakam hanya sesekali datang berkunjung kerumah dan perusahaan peninggalan orang tuanya.
"Kamu makin ganteng aja, bang. Tapi sangking gantengnya, gak laku-laku." Ledek Halam pada saudara sedarahnya itu sambil tersenyum tipis.
"Kau sendiri?"
"Usiaku tidak lama lagi, buat apa aku mencari pendamping hidup."
Mendengar hal itu, hati Galaksi merasa perih, satu-satunya keluatga uang ia miliki hanya adiknya Hakam. Namun Hakam selalu menolak pemberian Galaksi untuk membawanya berobat kenegara yang lebih canggih.
"Jangan bicarakan kematian saat bersamaki." tegar Galaksi.
Hakam tersenyum dan meneguk air mineral yang ia bawa di tangannya.
"Aku dengar Gisel akan menikah?" tanya Hakam, ingin mencari kebenarannya tentang sepupunya itu.
"Iya, dengan lelaki bodoh dan ambisius. Aku tidak habis pikir, apa yang di lihatnya dari lelaki itu..." ujar Galaksi kesal.
"Mungkin dia mempunyai kelebihan lain. Dan yang tahu hanya Gisel." kelekar Hakam
"Permisi, pak!" Seseorang mengetuk pintu dan masuk mengahdap Hakam.
"Ada apa Danu?" ujar Hakam yang melihat supirnya, sekaligus asisten pribadinya menghampirinya.
"Jadwal bertemu dengan coustemer dafi Jepang jam tujuh malam ini, pak." ujar Danu sambil memperlihatkan pesan masuk di ponsel miliknya pada Hakam.
"Cewek or cowok?" tanya Galaksi langsung.
"Cowok, sudah sepuh." Jawab Hakam kesal. "Aku pergi dulu." Hakampun meninggalkan ruangan sodaranya itu, dan bergegas untul bersiap bertemu dengan kostemernya. Hakam harus mempersiapkan lukisan yang akan di jualnya pada pengusaha Jepang tersebut. Hakam termasuk seniman yang terkenal,dan salah satu seniman yang masuk sepuluh besar dalam dunia seniman. Hasil lukisannya tidak ia sia-siakan begitu saja. Hakam memiliki beberapa tempat intuk ia donasikan, bahkan Hakam sudah mendirikan sebuah tempat untuk anak-anak yang memiliki kelainan sepertinya. Bahkan hampir setiap minggu, Hakam akan menyempatkan diri untuk berkunjung melihat anak-anak yang nasibnya hampir serupa dengannya. Bahkan, usia mereka bisa di hitung berapa lama lagi akan bertahan di dunia.