Siasat Licik

800 Kata
Setelah seminggu kepulangan anaknya dari rumah sakit, saat jam sudah menunjukan pukul dua belas malam, tiba-tiba pintu kamar kos Kayla di gedor oleh seseorang. Karena waktu sudah larut, Kayla tidak langsung membuka pintu kamarnya, karena ia takut terjadi sesuatu. Namun, karena lama tidak di buka oleh Kayla. Terdengar suara pemilik kos yang menyuruh Kayla membuka pintu. "Mba Kay, tolong di buka pintunya, ada keluarga mbak Kay yang datang, nih." terdengar suara pemilik kos di balik pintu kamar kos Kayla. Kayla pun segera mengambil jilbab instan dan kardigannya, lalu membuka pintu, terlihat dua lelaki berbadan tegab dan pemilik kos yang berdiri tepat didepan kamar kosnya. "Ada apa, Pak?" tanya Kayla bingung saat melihag lelaki berbadan tegap dan wajah yang sangar. Lelaki itu tidak menjawab, namun mulut Kayla langsung di bekap dan lelaki satunya mengambil Liora di ranjang. Pemilik kos hanya diam saja saat menyaksikan Kayla di bawa paksa masuk kedalam mobil van hitam. Mobil itupun melaju ke sebuah rumah mewah berpagar tinggi. Kayla di bawa kesebuah ruangan besar, kaya twrus memberontak namun kekuatannya kalah dengan dua pria bertubuh besar yang memegangnnya. "Buka mulutnya." ujar seseorang wanita dari sudut ruangan yang membelakangi Kayla. "Baik Nyonya. " jawab dua pria bertubuh nesar itu. "Mana anakku?" tanya Kayla saat mulutnya di buka. "Anakmu baik-baik saja." Ujar wanita berpakaian modis di sudut ruangan dan memperlihatkan wajahnya pada Kayla. "Kau akan bekerja untukku, Kayla. Sampai hutang-hutangmu lunas." Kayla terperenjat kaget, saat melihat wajah wanita paruh baya yang menghadap ke arahnya. "Kerja apa?" tanya Kayla sedikit gemetar suaranya, menahan rasa takut, akibat di ajak paksa oleh orang yang tidak ia kenal. "Kupu-kupu malam. Indah bukan?" ujar Fani sambil menyesap rokok di tangannya. "Aku tidak mau." jerit Kayla saat mengetahui apa maunya wanita paruh baya itu yang sudah memberikan uang padanya. "Menurut padaku, atau anakmu akan aku jual." Ancam Fani, wanita paruh baya itu memyuruh seluruh bodyguardnya keluar, dan tinggallah asistennya Sani dan dirinya. Fani menyuruh Sani untuk melucuti semua pakaian yang melekat ditubuh Kayla. Dengan paksa semua yang melekat ditubuh Kayla terlepas, Kayla hanya bisa pasrah dan kedua tangannya menutupi tubuhnya. "Tubuhnya indah, Nyonya. Putih bersih...." Sani menarik kedua tangan Kayla, dan terlihat seluruh tubuh Kayla. "Pay*daranya, bulat sempurna, masih kencang, tubuhnya juga indah. Dia bisa jadi komoditi kelas VIP, Nyonya." ujar Sani sambil berjalan kearah belakang tubuh Kayla. Fani memperhatikan tubuh Kayla, senyum lebar terpancar di bibirnya. Fani mengambil pakaian bersih yang sudah ia siapkan di meja lalu memberikannya pada Sani. "Renata tidak bohong, ternyata di balik pakaian lusuh, dan wajah kusutnya, ada keindahan." Ujar Sani lalu memberikan baju dari Fani. "Bu, tolong saya. Saya mohon lepaskan saya. Saya janji akan melunasi hutang saya pada ibu." Kayla memohon sambil mengemakan baju yqng diberikan Sani. "Tidak bisa. Kami berhutang seratus juta padaku. Cara mengembalikannya padaku hanya dengan cara melayani laki-laki." Fani mematikan puntung rokoknya di meja kerjanya. "Apa? Seratu juta?" Kayla terkejut. Ia tidak merasa pernah memakai uang sebanyak itu. "Bukanlah saya hanya memakain uang ibu sepuluh juta?" tanya Kayla kembali, ingin dia mendekat pada Fani, namun di cegah oleh Sani, hingga tubuh Kayla mundur beberapa langkah. "Bisa saja aku lepaskan, aku anggap hutangmu lunas. Tapi...." Fani kembali menyesap rokoknya, dan menghembuskan nafas asapnya. "Tapi apa, bu?" Tanya Kayla melangkah ingin mendekat pada Fani, namun tetap di cegah oleh Sani. "Anakku alan aku jual ke luar negri, lalu aku akan mendapatlan uang. Dan hitangmu lunas." Ujar Fani dengan santai yang sedang duduk di kursi kerjanya sambil kedua kakinya terangkat keatas meja. Kayla mendengar pernyataan Fani, merasa marah, sungguh ia telah dijebak. Ia tidak menyangka kalau semua ini Renata yang melakukannya. Ia tidak punya pilihan lain. Ia terpaksa rela dengan pilihan yang diberikan Fani pada nya. Ia rela kehilangan harga dirinya demi anaknya Liora. "Bawa dia." Ujar Fani lalu pergi meninggalkan asistennya dan Kayla. Sani membawa Kayla ke sebuah kamar yang luas, terdapat kamar mandi di dalam dan lemari pakaian yang tertata rapi didalamnya jenis baju. "Kamu mandilah." ujar sani sambil menunjuk arah kamar mandi. "Dimana anakku?" tanya Kayla saat masukkan kedalam kamar, namun tidak melihat anaknya. "Anaku aman, selama kamu menurut dengan printah Nyonya. Setiap tiga hari sekali kamu bisa bertemu dengannya." Sani mengeluarkan baju dari dalam lemari dan meletakkannya di atas tempat tidur. "Mandilah! Nyonya Fani sudah menyiapkan semua perlengkapanmu di sini, besok pagi kamu akan kedatangan tamu yang spesial." Sani keluar dari kamar luas itu dan mengunci pintunya dari luar. Kayla hanya bosa pasrah, tak ada yang bisa ia lakukan, mau kabur juga pintu terkunci dari luar, jendela kamar juga terkunci. Air matanya menetes membasahi pipinya, ia berusaha untuk tetap tegar, namun tetap saja tidak bisa. Hatinya remuk redam dan tak bisa pulih lembali. Berharap tak ada hari esok dan akan berhenti malam ini juga. Mau meminta bantuanpun tak tahu harus kemana, ponsel dan semua barangnya tertinggal. Ia hanya membawa pakaian yang di tubuhnya tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN