Tak Mudah

972 Kata
Setelah melakukan sarapan, mereka berdua bersama berangkat kerja menaiki mobil milik Gisel. "Bagaimana urusanmu tentang perceraian dengan mantan istrimu?" tanya Gisel membuka obrolan. Rian yang fokus menyetir melihat ke arah Gisel, "Sudah aku ajukan ke pengadilan, kamu sabar saja. Dalam waktu dekat ini aku pastikan sudah resmi bercerai dengan dia." "Aku sudah tidak sabar ingin menikah denganmu, aku capek kalau seperti ini terus." ujar Gisel. "Aku juga masih harus mengurus renovasi rumahku, masih butuh biaya juga. Kalau kita menikah secepat itu, aku takut uangnya kurang." Rian sebenarnya tidak memiliki rasa apapun pada Gisel, hanya karena Gisel anak orang kaya dan anak pemilik perusahaan tempat ia bekerja, itu adalah jalan terbaik buatnya untuk merubah nasibnya. "Kamu tidak usah khawatir, aku akan ngomong dengan Papa. Papa pasti siap membantu kita." Gisel sudah terlanjur jatuh hati pada Rian, hanya karena Rian pandai bermain di ranjang dengannya. "Tapi, sebelum semuanya berjalan mulus, kamu harus pintar mengambil hati Galaksi." "Galaksi?" Rian menagap bingung dengan ucapan Gisel. "Siapa dia? bukankah kamu anak satu-satunya?" Rendra mengira kalau Galaksi adik Gisel. "Dia pewaris satu-satunya di perusahan Bantul Grup." Jawab Gisel yang membuat Rian terdiam. "Oh ,aku pikir Papa mu pemilik perusahaan itu." "Dia sepupuku, dia yang memegang kendali. Aku tidak begitu peduli, karena kami selalu dilimpahi uang yang banyak dan fasilitas yang lengkap. Papa juga di percayakan sebagi pemimpin tertinggi di perusahaan itu." Ujar Gisel. Selama ini Rian tidak mengetahui kenyataan kalau Bantul Grup bukanlah milik Papanya Gisel seorang. Kenyataan yang baru ia tahu, bahwa ia harus pintar mengambil hati pewaris tunggal perusahaan tempat ia bekerja. *** Di kantor, Rian mendapat panggilan ke ruangan pimpinan utama. Sesil,sekertaris pribadi Galaksi mengantarkan Rian ke ruangan Galaksi. "Pak Galaksi. Pak Rian sudah ada di sini." Ucap Sesil saat memasuki ruangan Galaksi. "Suruh dia masuk dan tinggalkan ruangan ini." Perinta Galaksi pada wanita di hadapannya. "Selamat siang Pak Galaksi." ucap Rian pertama kali saat memasuki ruangan Galaksi. Rian sedikit canggung. Selama bekerja di perusahaan ini dia sama sekali tidak mengetahui tentang Galaksi. Setiap karyawan juga tidak pernah menyinggung nama Galaksi. Rian hanya merasa tidak asing dengan wajah Galaksi, namun dia lupa dimana pernah bertemu dengam Galaksi. "Sudah berapa lama berhubungan dengan Gisel?" Tanya Galaksi sambil memainkan pulpennya di meja. "Sekitat dua bulan, Pak." "Istrimu?" Tanya Galaksi kembali. "Kami sedang menjalani proses cerai." "Apa benar istrimu selingkuh dan menjual diri hanya demi kesenangannya?" Galaksi menegakkan posisi duduknya, dan menatap tajam pada Rian. "Benar, Pak." Jawab Rian cepat. "Apa kamu tidak mencukupi kebutuhannya?" "Saya selalu mencukupi semua kebutuhan istri saya, Pak. Tapi memasang dia saja yang punya kebiasaan buruk. Pakaiannya saja memakai hijab, tapi aslinya saya yang tahu, Pak.Bahkan anak kami bukanlah darah daging saya, Pak." Jelas Rian mencari pembelaan diri,dengan mimik wajah memelas. "Rian..." Rian mengangkat wajahnya dan menatap wajah pria di hadapannya. "Jangan kamu pikir dengan menikah dengan Gisel, kamu bisa naik jabatan dengan cepat. Kamu mungkin bisa menikmati sedikit uangku." Ucap Galaksi tegas dengan senyum sinis. "Hanya itu yang ingin aku sampaikan, Sekarang keluarlah." "Iya, pak." Jawab Rian dengan wajah kecew. Ia keluar ruangan Galaksi dan menutup pintunya. Galaksi melihat ambisi di wajah Rian, dari cara bicaranya yang menjatuhkan istrinya, membuat Galaksi tidak yakin dengan pria pilihan sepupunya itu. *** Liora didiagnosa demam berdara, Kayla yang tidak memiliki uang, hanya mengharapkan bantuan dari ibu Naomi tetangga kosnya. Kayla masih mencoba menghubungi Rian, namun di abaikan, bahkan Kayla pernah datang kekantor Rian namun di hadanh oleh security kantor tempat Rian bekerja. "Saya istrinya, Pak. Putrinya saat ini sedang di rawat d Rumah sakit. Saya janji tidak akan membuat onar." Kayla memohon pada securyty. "Tidak bisa, ini perintah dari ibu Gisel. Anda tidak di izinkan masuk ke dalam kantor ini." "Kalau begitu, tolong sampaikan pesan saya, kalau Liora putrinya sedang di rawat di rumah sakit." Kaylapun memilih untuk mundur dan melangkah pergi setelah mengucapkan pesannya untuk Rian. Keterlaluan! Rasanya Kayla ingin berteriak. Kayla pun berjalan kearah halte bus terdekat. Menunggu angkutan kota tujuan rumah sakit anaknya di rawat. Ia memakan arem-arem dan beberapa kue yang dibawakan bu Naomi setiap pagi padanya. Beruntung saat ini ia masih memiliki Bu naomi yang peduli akan dirinya dan Liora. Sesampainya di Rumah sakit, Kayla berjalan menuju ruangan anaknya. "Bagaimana, Kay?" tanya bu Naomi saat melihat Kayla masuk mendekat kearah tempat tidur anaknya. Kayla menghembuskan nafasnya dan duduk di sisi kanan anaknya, "Tidak ketemu, bu. Pihak security menahan saya untuk tidak masuk ke kantor dan tidak di bolehkan untuk bertemu mas Rian, Bu." jelas Kayla setelah meneguk air mineral yang ada di meja nakas sebelah tempat tidur anaknya. "Kalau begitu pakai saja dulu uang ibu Fani, kamu bisa mengangsurnya setiap bulan. Ini kartu nama beliau." ujar bu Naomi seraya memberi selembar kartu nama. Kayla menerima kartu nama tersebut dan berjalan kearah luar kamar, lalu menekan nomor telfon yang terdapat di kartu nama tersebut. "Halo Assalammualaikum, bu Fani, saya Kayla." "Ya ada apa, Kayla?" "Saya izin pakai uang ibu, dan saya akan cicil setiap bulannya pada ibu." jawab Kayla kembali. "Itu tidak usa kamu pikirkan, pakai saja dulu, urus anakmu sampai benar-benar sehat. Maaf saya lagi ada urusan ya." tidak lama bu Fani pun langsung mematikan telfonnya setelah mengucap salam dan di balas oleh Kayla. Kayla sedikit lega, awalnya ia mengira akan mendapatkan bunga persenan yang tinggi jika meminjam uang pada orang lain. Ia berharap bu Fani adalah malaikat penolongnya saat ini. Esok hari Liora sudah di perbolehkan pulang, Kayla sudah harus menyelesaikan administrasi rumah sakit. Saat ingin kembali, Kayla tidak sengaja melihat dua orang pria yang tidak asing baginya. Salah satunya tunangan Renata dan lelaki berpakaian rapi dengan jas dan dasi di tubuhnya sedang menerima telfon duduk dikursi taman. Namun yang membuat Kayla bingung, kenapa tunangan Renata tidak ikut duduk di samping pria berjas tersebut, malah berdiri di samping kursi sambil memegang tas kerja dan botol mineral. Kayla sedikit bingung, mencoba memperhatikan kembali siapa lelaki yang sedang menerima telfon tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN