Bab 1 Kembali Pulang Ke Rumah
“Sayang, aku enggak tahu apa yang harus aku lakukan tanpa kamu di sisiku,” lirih Kinar nyaris berbisik.
Matanya tampak sembab ketika menatap ke arah gundukan tanah merah yang dipenuhi kelopak bunga serta aroma mawar yang menyeruak hingga ke indera penciumannya.
“Bu Kinar, saya—“
“Saya enggak mau pulang!” potong Kinar dengan tatapan nanar ke arah pria yang menggunakan kemeja putih yang dibalut dengan jas hitam.
Wanita itu seolah tahu kalau hal yang baru saja menimpanya mungkin saja akan menjadi kesempatan sang papa untuk memaksanya pulang ke rumah.
“Jadi sampaikan saja kepada Pak Yuda kalau saya tidak akan kembali ke rumah itu!” lanjut Kinar.
“Baik Bu, nanti akan saya sampaikan ke Pak Yuda kalau begitu saya pamit sekarang dan saya ucapkan turut berduka cita atas kepergian calon suami, Bu Kinar.”
Wanita itu sempat bergeming dan tidak langsung menanggapi ucapan pria itu. Untuk pertama kalinya ia merasa kalau kali ini sang papa mengirim orang yang sangat sopan serta memiliki empati tinggi.
“Terima kasih.”
Sayangnya pria itu tidak mendengarnya karena ia sudah melangkahkan kakinya pergi. “Siapa dia? Kenapa aku baru melihatnya?” gumam Kinar penasaran.
Memang sudah sekitar kurang lebih lima tahun memutuskan untuk keluar dari rumah ketika hubungannya bersama Nathan ditentang oleh papanya. Bukan karena kekasihnya memiliki kepribadian atau sifat yang buruk tapi karena latar belakang Nathan yang dianggap tidak setara dengan mereka.
Kepergian Kinar sendiri seolah ingin membuktikan kalau mereka bisa berjuang dari nol hanya untuk mencapai ke jenjang yang lebih serius. Namun hal itu harus terkubur bersama jasad pria itu di area pemakaman.
“Mohon maaf Mbak Kinar tapi sampai detik ini kami dan tim masih mengupayakan untuk mencari dan mengungkap pelaku tabrak lari yang menewaskan saudara Nathan, apalagi tidak adanya saksi dan bukti rekaman cctv di tkp.”
“Baik Pak Joe, terima kasih untuk informasinya.”
Kinar meletakkan ponselnya di atas meja yang ada di ruang tengah. Ia membuang napas putus asa mengingat sampai saat ini pelaku tabrak lari tersebut masih berkeliaran bebas.
“Apa mungkin Papa adalah dalang di balik tabrak lari ini?” monolognya.
Mungkin kalian mengira kalau pikiran serta hati Kinar tampak kacau sehingga wanita itu menuduh papanya dengan alasan tidak mendapatkan restu.
Tapi jauh sebelum Kinar bertemu dan memulai kisahnya bersama Nathan, Yuda dengan mudah menyekap mantan pacar wanita itu selama beberapa hari hanya karena ia tidak suka jika putrinya berpacaran.
“Ya mungkin saja begitu, tapi kalau aku langsung menanyakannya apalagi menuduh pasti Papa akan berkelit jadi aku harus menemukan bukti untuk mengungkapnya.”
Kinar mengepalkan tangannya kuat hingga telapak tangannya memutih. Ia beranjak masuk ke dalam kamarnya, mengemasi beberapa pakaiannya, dan memutuskan untuk pulang ke kediaman Wiratama.
“Kenapa kamu kembali menginjakkan kakimu di sini?” tanya Bunga dengan nada sinis.
“Sepertinya dia sudah mulai kehabisan uang atau mulai kesepian karena baru saja ditinggalkan oleh calon suamimu itu?” tambah Irwan.
Baru saja Kinar menginjakkan kakinya di rumah yang dipenuhi memori indah dan juga buruk tersebut, ia sudah mendapatkan sapaan yang berhasil membuat telinganya memanas.
“Mau aku kembali atau tidak itu bukan urusan kalian!” ucap Kinar seraya melangkahkan kaki menuju kamarnya di lantai atas, jika memang belum dipindahkan.
Tidak pernah wanita itu bayangkan kalau ia harus menginjakkan kakinya kembali ke rumah ini setelah bertahun-tahun. Padahal waktu Nathan masih hidup pria itu selalu memintanya kembali.
“Kinar Adeline Wiratama, putriku, kau kah itu?”
Ia berbalik menatap pria renta di depan pintu kamarnya yang terbuka. Kedua mata Yuda tampak berkaca-kaca dengan kedua tangannya yang sudah ia rentangkan lebar.
“Kelihatannya Papa tampak sehat walau aku tidak ada di rumah,” ucapnya ketus.
Tapi sindiran Kinar tidak mengurungkan niat Yuda untuk melepas rindu dengan memeluk tubuh putrinya.
“Papa turut berduka cita atas kematian Nathan, Kinar.”
Wanita itu rasanya ingin sekali meledak dan menanyakan hal yang menjadi tujuan utamannya tapi Kinar berusaha menahan diri.
“Terima kasih.”
“Papa tidak pernah menyangka kalau Nathan akan secepat itu meninggalkan ki—“
“Pa, aku ingin segera istirahat jadi bisakah Papa keluar sekarang?” potong Kinar.
Yuda tersenyum tipis. Sikap dingin putrinya berhasil menyadarkan hatinya yang dulu mengeras dan dengan enteng memandang rendah orang lain sehingga kini walau Kinar ada di hadapannya tetap terasa jauh.
“Baiklah Papa akan pergi sekarang,” kata Yuda, menganggukkan kepalanya pelan.
Pria paruh baya itu melangkahkan kakinya keluar dari kamar putrinya dan menutup pintunya sepelan mungkin.
“Pasti sikap Kinar masih sama kan? Malah lebih parah.”
Suara Bunga, ibu tiri Kinar yang berhasil membuat Yuda menoleh ke arahnya.
“Sudahlah ini bukan kesalahannya tapi aku.”
“Tapi Mas, aku tuh enggak tega liat kamu selalu diperlakukan buruk sama anak itu!”
“Terus kamu mau apa? Memarahinya?”
“Boleh kalau Mas izinkan,” jawab Bunga yang bersiap hendak membuka pintu.
“Jangan lakukan hal apapun kepada putriku, Bunga!” tahan Yuda, matanya menyalang. “Kalau sampai ada satu helai pun yang kamu sentuh, aku tidak akan tega mengusirmu dari rumah ini,” ancamnya.
Nyali Bunga menciut hingga wanita itu hanya diam di tempat, bahkan ketika Yuda pergi dari sana.
Sementara di dalam sana, Kinar masih sempat mendengar semua percakapan mereka tapi hatinya sama sekali tidak goyah.
***
Pukul tujuh Kinar sudah siap dengan pakaian kantornya dan duduk di meja makan menikmati sarapannya.
“Mau ke mana kamu dengan pakaian seperti itu?” selidik Bunga.
“Ke mana pun aku pergi itu bukan urusan anda lagi pula kita sudah punya kesibukan masing-masing jadi kau tidak usah ikut campur.”
Bunga merasa jengkel mendengar ucapan Kinar yang dirasa kurang sopan, wanita itu bahkan hendak melayangkan tangannya tapi ia mengurungkan niatnya ketika melihat sosok Yuda.
“Rasanya seperti mimpi melihatmu kembali sarapan di rumah ini, Kinar,” kata Yuda.
“Iya Mas, aku juga senang akhirnya kita bisa berkumpul kembali.”
Percayalah ratu drama baru saja memainkan skenario sebagai ibu yang baik hati di depan Yuda dan itu nyata!
“Lalu di mana Irwan?”
“Mungkin sedang mandi tapi biar aku panggilkan agar kita bisa sarapan bersama.”
“Tidak usah repot-repot karena aku ingin sudah siap berangkat ke kantor.”
Ucapan Kinar berhasil menahan langkah kaki Bunga, matanya melotot, tidak percaya kalau putri tirinya akan pergi ke kantor.
“Kantor?”
“Iya Ma, mulai hari ini Kinar sudah resmi menjadi CEO di perusahaan kita menggantikan papa.”
“Apa? Lalu bagaimana dengan Irwan, Pa?” tanya Bunga panik.
Awalnya wanita itu pikir posisi CEO nantinya akan diteruskan oleh putra mereka mengingat suaminya tidak merestui hubungan putrinya dengan kekasihnya itu.
Tapi kenapa kedatangan Kinar ke rumah ini seolah menjadi anak panah yang memburu ke arahnya dan juga putranya?