Bab 2 Jangan Saya Ibu!

1077 Kata
[Papa tahu kamu sedang dalam keadaan berduka tapi kapanpun kamu mau bekerja di kantor pintunya akan selalu Papa buka, dan Papa harap kamu bisa menggantikan Papa untuk mengurus perusahaan, Kinar.] Sebuah pesan baru saja masuk ke dalam ponsel Kinar ketika wanita itu bersiap hendak tidur setelah membersihkan diri. Awalnya ia ragu untuk bekerja apalagi mengantikan papanya menjadi CEO di perusahaan keluarga Wiratama. [Oke… besok aku akan mulai bekerja menggantikan Papa di kantor.] [Terima kasih, Nak.] Tapi kalau dipikirkan lagi ia juga tidak rela jika perusahaannya jatuh ke tangan saudara tirinya tersebut, mengingat kelakuan Irwan dan Bunga yang tampak sok berkuasa di rumah. “Pa, Papa enggak bisa dong bersikap enggak adil begini sama Irwan? Apalagi selama lima tahun ini Irwan yang bantu Papa di kantor,” tambah Bunga yang seolah tidak terima dengan semua pengorbanan yang telah dilakukan oleh putranya. “Soal itu Mama enggak usah khawatir karena…” “Maaf kalau aku menyela Pa, tapi aku benar-benar harus berangkat sekarang,” potong Kinar seraya bangkit dan meraih tas miliknya yang ada di kursi sebelah. “Iya Nak, hati-hati di jalan ya.” Yuda tersenyum. “Tapi untuk sementara kamu pakai mobil Papa dulu enggak apa-apa, kan? Soalnya mobil kamu yang dipakai Mama sudah dijual kemarin, jadi nanti akan Papa berikan yang baru.” Wanita itu sempat melirik ke arah ibu tirinya yang memberikan tatapan tajam kepadanya. Ia tidak menyangka kalau wanita tua itu dengan berani menjual mobil kesayangan miliknya. “Enggak apa-apa kok, Pa, lagian mobil itu juga cuman mobil bekas jadi enggak cocok kalau aku pakai lagi,” jawab Kinar dengan senyum tipis. Tatapan matanya sempat bertemu ketika ia melewati ibu tirinya, tapi tatapan mata Kinar kali ini terlihat seperti sedang mengejek hingga Bunga sempat mengepalkan tangannya dengan wajah merah padam. “Kenapa Papa hanya diam saat Kinar berusaha menghinaku, Pa?” “Menghina gimana? Apa yang tadi Kinar katakan itu benar Ma itu hanya soal mobil bekas, mungkin kamu saja yang terlalu sensitif menanggapi ucapannya.” Bunga yang kesal memilih pergi sambil menghentakkan kaki hingga suara sandal miliknya menimbulkan bunyi nyaring. “Irwan!” teriak Bunga. Wanita itu semakin kesal ketika melihat putranya masih nyaman terbaring di atas tempat tidur. Bunga melangkahkan kakinya setengah berlari dan menyibak selimut putranya. “Mama, ada apa sih? Ganggu aja deh!” omel Irwan. “Bisa-bisanya kamu masih tidur sementara Kinar udah berangkat ke kantor!” Pria itu tidak langsung mencerna ucapan mamanya karena nyawanya saja belum sepenuhnya berkumpul. Tapi beberapa menit kemudian tanggapannya malah di luar nalar Bunga. “Terus kalau Kinar berangkat ke kantor hubungannya sama aku apa, Ma?” Bunga yang geram langsung menarik telinga putranya. “Kamu ini bodoh banget sih! Gara-gara kamu enggak bisa ambil hati Papa kamu sekarang Kinar yang bakalan jadi CEO,” jelas Bunga. Saat itu kedua bola mata Irwan langsung membulat, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut. “Apa? Kok bisa sih, Ma?”tanyanya sambil menyingkirkan tangan sang mama dari telinganya. “Kamu pikir aja sendiri!” Bunga melipat kedua tangannya. “Padahal selama ini aku udah bantuin Papa di kantor loh, Ma. Masa sih sekarang yang jadi CEO malah Kinar?” Suara Irwan yang terdengar memelas berhasil membuat hati wanita paruh baya itu luluh. Apalagi selama ini yang Bunga tahu putranya sering pulang malam hanya untuk bekerja. “Sekarang sebaiknya kamu mandi dan ikut sarapan sama kami, nanti soal ini biar Mama yang berusaha bujuk Papa,” titah Bunga. Sudut bibir pria itu tertarik lebar bersamaan dirinya yang bangkit dan hendak memeluk mamanya. Tapi Bunga sudah lebih dulu menahan Irwan dengan tangannya. “Mandi Irwan!” kata Bunga yang kali ini dengan kedua bola matanya yang melotot. *** Sesampainya di kantor kedatangan Kinar langsung disambut baik oleh seluruh karyawan yang ada di sana. Sepertinya semalam Yuda memang sudah memberitahukan tentang hal ini kepada asisten priabdinya tersebut agar semua karyawan tahu tentang Kinar yang akan menggantikannya. Walau memang belum sepenuhnya resmi putrinya menjadi CEO di perusahaan Wiratama Company tapi Yuda tidak ingin putrinya dipandang remeh. “Permisi, Bu Kinar,” kata Ethan ketika ia sudah dipersilahkan masuk sebelumnya. Wanita itu melirik ke arah pria di hadapannya yang tampak tidak asing baginya. Ternyata pria itu yang kemarin datang ke pemakaman Nathan. “Sorry kamu kerja di divisi apa ya? Dan ada perlu apa?” tanya Kinar. “Perkenalkan saya Ethan yang akan menjadi asisten pribadi untuk Bu Kinar dan saya mau minta maaf karena datang terlambat jadi tidak sempat menyambut Bu Kinar tadi,” jelasnya. “Oh jadi kamu asisten pribadi saya yang menggantikan Pak Noah?” Ethan menganggukkan kepalanya. “Kamu tahu kan seharusnya kamu itu datang lebih awal, malah seharusnya kamu datang ke rumah utama untuk menjemput dan menyiapkan segala keperluan saya sebelum berangkat ke kantor.” Ada perasaan kecewa ketika Kinar harus bekerja dengan orang yang tidak bisa bersikap profesional. Kalau di awal pertemuan saja penilaiannya tentang Ethan sudah buruk entah apakah mereka bisa bekerjasama dengan baik nanti. “Sekali lagi saya minta, Bu,” kata Ethan sambil menundukkan kepalanya. Bagi pria itu hal apapun yang ia katakan mungkin bahkan tidak akan diterima baik oleh sang bos karena Ethan sadar sudah membuat kesalahan besar, apalagi hari ini pertama kalinya Kinar bekerja. “Untuk saat ini saya maafin kamu karena kamu kemarin sudah menyempatkan diri untuk datang ke pemakaman calon suami saya, walau saya tahu kamu datang juga disuruh sama Pak Yuda.” Ethan menganggkat kepalanya, melirik wanita yang duduk di kursi kebesarannya. “Terima kasih banyak Bu Kinar untuk kebaikan hatinya.” “Oh ya, mulai hari ini saya enggak mau ya denger kamu panggil saya dengan sebutan Ibu karena saya bukan ibu kamu dan saya juga masih muda.” Kinar memang merasa agak risih dengan sebutan itu, walau umurnya sudah 35 tahun tapi ia masih ingin dianggap muda. “Jadi… saya harus panggil Ibu dengan sebutan apa?” tanya Ethan polos. “Kan tadi saya udah bilang jangan panggil Ibu!” “Maaf Bu…” Ethan menutup mulutnya. Pria itu benar-benar menyesal sudah membuat kesalahan untuk kedua kalinya di awal pertemuan mereka. “Inget ya, sekali lagi kamu panggil saya Ibu, kamu saya pecat!” ancam Kinar sambil menunjuk pria itu. Rasanya energi Kinar pagi ini sudah terkuras setengah ketika berhadapan dengan pria itu. Astaga! Mimpi apa Ethan semalam? Kenapa pagi ini ia harus menghadapi bos yang banyak maunya dan dengan ringan melayangkan kata pecat? “Kalau begitu bagaimana kalau saya panggil dengan sebutan Nona? Apa I—anda keberatan?” tanya Ethan dengan sangat hati-hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN