Bab 3 Rasa Penasaran Yang Besar

1123 Kata
“Boleh…” Kinar melipat kedua tangannya dan bersandar di kursi. “Tapi hal ini juga berlaku untuk seluruh karyawan yang ada di kantor juga.” Baru sebentar Kinar berada di kantor tapi rasanya sudah banyak permintaan yang ia inginkan. “Baik, Non.” “Oke…” Kinar menghela napas. “Sekarang katakan apa saja agendaku hari ini.” Ethan mulai menatap layar tablet yang sejak tadi dan menyampaikan semua jadwal yang tertera di sana. Kinar pikir ini akan mudah tapi ternyata jadwal yang dibuat cukup bahkan sangat padat baginya. Sampai wanita itu mempertanyakan apa fungsi Irwan di kantor ini jika hampir semua hal dikerjakan oleh papanya selama lima tahun belakangan. “Tunggu sebentar…” Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah Kinar dengan kedua tangannya yang bertumpu di atas meja. Dahi wanita itu berkerut. “Iya Non, apa ada hal yang tidak berkenan?” “Semua yang kau sebutkan itu jadwalku hari ini, kan?” “Iya, Non.” Ethan menganggukkan kepala. “Lalu… apakah selama ini Pak Yuda tidak pernah meminta Pak Irwan untuk membantunya? Maksudku, ikut andil dalam beberapa kegiatan yang dilakukan Papa?” selidik Kinar. “Beberapa kali Pak Yuda pernah mengajak Pak Irwan untuk ikut tapi beliau selalu menolak dengan alasan sibuk.” “Memang di bagian apa Pak Irwan bekerja?” “Pak Irwan ada di divisi keuangan, Non.” “Divisi keuangan?” Ethan mengantukkan kepala. “Tapi belakangan Pak Yuda sepertinya menaruh…” Pintu ruang kerja Kinar tiba-tiba saja terbuka lebar dan menampakkan sosok manusia yang sedang mereka bicarakan. “Ah maaf… sepertinya aku sedang mengganggu kalian ya?” ucap Irwan dengan senyum mengejek. Melihat hal itu membuat Kinar merasa jengkel apalagi ketika sikap Irwan dinilai semuanya. Tapi ia berusaha menutupi rasa itu dengan senyum tipisnya. “Ethan, tolong tutup lagi pintunya bahkan kalau perlu kunci saja agar angin yang berlalu lalang di ruangan ini tidak masuk ke ruanganku seenaknya.” “Ba—baik, Non.” Ethan beralih menatap Irwan yang tampak kesal karena direndahkan oleh saudara tirinya, dianggap tidak ada layaknya angin. “Pak Irwan maaf tapi…” “Kinar, sikapmu sungguh keterlaluan! Ingat kamu belum resmi jadi CEO di perusahaan ini!” teriak Irwan. “Ethan, cepat tutup pintunya!” titah Kinar. Dengan terpaksa pria itu mendorong pelan Irwan yang sudah tampak emosi dengan sikap Kinar keluar ruangannya. “Maaf Pak Irwan tapi saya terpaksa melakukan hal ini.” Sementara semua tatapan mata karyawan yang ada di luar sana berhasil membuat Irwan malu untuk pertama kalinya di kantor. “Lepas! Lepas saya bilang!” bentak Irwan sambil merapihkan pakaiannya. Ethan segera mengangkat kedua tangannya ke udara untuk menunjukkan tidak ada lagi sentuhan fisik. Sedangkan wajah pria di hadapannya tampak memerah ketika tatapan matanya bertemu dengan beberapa tatapan mata para karyawan. “Apa yang kalian lihat, hah? Apa kalian sudah tidak betah bekerja di sini iya?" teriaknya, lalu tatapan mata Irwan beralih ke arah Ethan. “Saya akan mengingat semua hal yang sudah kamu lakukan kepada saya hari ini!” tunjuk Irwan. Ethan hanya diam, tidak berani menyauti ucapan Irwan yang sedang dikuasai emosi. Pria itu masuk ke dalam ruang kerja Kinar ketika Irwan sudah pergi. “Apa dia sudah pergi?” tanya Kinar. “Sudah Non tapi kenapa Nona mengusir Pak Irwan?” selidik Ethan. “Aku rasa tidak penting bagiku untuk berdebat di kantor tentang masalah pribadi jadi sebaiknya fokus saja bekerja.” “Baik, Non.” “Oh ya Ethan, apa kamu memiliki kenalan yang bisa mencari pelaku pembunuhan atau semacamnya?” Pria itu terkejut, menatap wajah Kinar bingung. “Maksudnya, Non?” “Ya apa kamu punya kenalan seorang dektetif yang bisa mengungkapkan kebenaran tentang kejahatan?” Sebenarnya Kinar agak ragu membicarakan hal ini apalagi sampai meminta tolong. Ia takut jika hal ini pula akan bocor sampai ke papanya. Wanita itu merasa belum sepenuhnya mengenal sosok Ethan, entah mengenai kepribadiannya atau yang lainnya. “Sepertinya untuk saat ini saya tidak ingat siapa orang yang tepat untuk membantu Non Kinar, tapi nanti akan saya informasikan lagi.” “Oke…” Kinar menganggukkan kepalanya. “Tapi aku minta hal yang baru saja kita bicarakan jangan sampai kamu laporkan kepada Papa atau keluargaku yang lain.” “Baik, Non.” “Ingat baik-baik jika sampai hal ini sampai bocor maka aku akan membuatmu menyesal seumur hidup,” ancam Kinar yang langsung ditanggapi anggukan kepala. Setelah itu pintu ruangan Kinar kembali terketuk dan ia mengizinkan orang di balik pintu itu masuk. Orang itu adalah Yuna, sekertarisnya. Wanita itu membawa beberapa tumpuk dokumen yang membuat dahi Kinar berkerut. “Permisi Ibu Kinar, saya membawakan beberapa dokumen yang harus Ibu tanda tangani serta harus diselesaikan hari ini karena sudah jatuh deadline,” kata Yuna. “Apa? Semua itu?” Yuna menganggukkan kepalanya. Tubuh Kinar melepas dengan helaan napas berat. “Kok bisa sih sebanyak itu dikasih ke saya? Memang sebelumnya kepada tidak langsung ditangani oleh Pak Yuda?” “Se—sebenarnya…” Yuna melirik ke arah Ethan, takut jika sampai diomeli oleh anak bosnya tersebut. “Ada apa?” desak Kinar. “Sebenarnya beberapa hari yang lalu Pak Yuda izin tidak masuk kantor karena harus berobat rutin ke Singapura, Non,” kata Ethan yang berusaha menjelaskan. Kinar benar-benar merasa buta bahkan bodoh karena ia tidak tahu banyak hal tentang papanya dan juga kantor ini. Entah apa mungkin nantinya ia masih bisa bekerja dengan tenang. “Berobat rutin?” dahinya berkerut. Di sana Yuna tampak bingung karena wanita itu sendiri baru bekerja di perusahaan Wiratama Company selama beberapa bulan. Tentu ia belum mengerti tentang gosip Kinar yang kabur dari rumah. “Yuna sebaiknya kamu kembali ke meja kerjamu dan pastikan kembali restoran yang sudah dipesan untuk reservasi malam ini tidak membatalkannya,” pinta Ethan dengan lembut. Yuna menganggukkan kepalanya. Lalu berpamitan kepada Kinar yang langsung direspons dengan anggukan kepala. “Jadi Ethan, apa kamu bisa jelaskan apa yang sudah terjadi?” Kinar berusaha mengulik informasi dari asisten pribadi papanya tersebut. Ethan masih bergeming, pria itu tampak sedang menimbang-nimbang untuk berkata jujur atau tidak karena ia berusaha menjaga perasaan Kinar yang baru saja kehilangan orang yang dicintainya. Wanita itu membuang napas kasar. “Katakan semuanya kepadaku tanpa harus kamu tutup-tutupi,”desak Kinar gemas. “Tapi Nona… saya minta satu hal dari anda sebelum saya mengatakan yang sebenarnya mengenai Pak Yuda ya?” Permintaan Ethan berhasil membuat jantung wanita itu berdetak tak menentu, pikiran serta hatinya yang belum sepenuhnya tertata rapi mendadak kacau balau. Ada ketakutan yang tidak bisa dijelaskan ketika hal buruk mungkin saja keluar dari bibir pria di hadapannya. Tapi ada rasa penasaran besar yang menyeruak di sana. Berusaha tidak peduli dengan apa yang terjadi nantinya, tapi tetap saja Kinar tidak mampu mengalihkannya sekalipun ia mengingat hal buruk yang mungkin papanya lakukan kepada mendiang Nathan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN