Bab 4 Kebetulan Yang Terasa Familiar

1126 Kata
“Baiklah, cepat katakan apa yang terjadi dengan Papa?” Kinar berusaha menelan salivanya untuk membasahi tenggorokannya, tapi sayang rasanya malah sebaliknya. “Jadi selama dua tahun belakangan Pak Yuda menderita penyakit yang belum diketahui namanya serta dari mana penyakit itu datang.” Mulut Kinar sedikit terbuka, kedua matanya membulat. “Penyakit itu perlahan membuat sistem saraf Pak Yuda melemah, bahkan beliau bisa saja lumpuh kapanpun,” lanjut Ethan. Mata wanita itu berkaca-kaca, ada perasaan bersalah karena sudah bersikap egois. Padahal kalau diingat kembali sosok Yuda adalah satu-satunya orang tua yang ia punya setelah sang mama wafat beberapa tahun lalu. “Selain itu…” “Ada apa?” tanya Kinar ketika pria itu tampak ragu untuk mengatakan kebenaran lainnya. “Sebenarnya sejak dua tahun yang lalu juga Pak Yuda sudah menaruh curiga kepada Pak Irwan yang diduga menggelapkan dana perusahaan, tapi ketika beliau berusaha menyelidikinya terungkap fakta kalau salah satu karyawan Pak Yuda yang melakukan hal itu.” “Siapa orangnya?” “Beliau adalah Pak Nuraga yang sempat berada di posisi kepala divisi tapi diturunkan menjadi wakil kepala divisi keuangan.” Kinar menggelengkan kepalanya, tidak percaya. “Pak Nuraga bukannya karyawan yang sudah lama bekerja di perusahaan ini bahkan saat kakek saya masih ada?” “Tapi menurut informasi semua bukti ditemukan di kediaman beliau, Non.” “Enggak…” untuk kesekian kalinya Kinar menggelengkan kepalanya. Kali ini ia bangkit dari tempat duduknya. “Saya kenal betul siapa beliau jadi rasanya tidak mungkin jika Pak Nuraga melakukan hal ini,” lanjut Kinar. “Pak Yuda juga berpendapat sama seperti Non Kinar tapi beliau tidak bisa berbuat apapun ketika semua bukti mengarah kepadanya, makanya beliau berharap banyak kepada Nona Kinar.” Wanita itu bergeming menatap para gedung pencakar langit di hadapannya. Sekarang ia mengerti kenapa sejak dua tahun yang lalu sang papa memaksanya untuk pulang ke rumah. Mungkin salah satu alasannya adalah hal yang baru saja ia dengar dari Ethan. Tapi bukannya seharusnya sang papa bisa mengusir Irwan atau menyelidiki hal ini lebih jauh. *** “Mama, bagaimana? Apa Papa mau mempertimbangkan aku sebagai calon CEO juga?” tanya Irwan sambil mengendurkan dasi lalu duduk di sofa. “Mama sudah berusaha membujuk Papamu tapi beliau sudah membuat keputusan, Irwan.” “Aku kecewa sama Mama karena Mama sama sekali tidak bisa diandalkan,” omelnya. “Sekarang kamu bilang kecewa sama Mama, padahal di sini Mama yang merasa sangat kecewa sama kamu, apalagi selama ini kamu sudah membodohi Mama iya, kan?” Kini giliran Bunga yang emosi apalagi ketika mengingat ucapan suaminya yang mengatakan fakta kalau putranya selama ini tidak benar-benar lembur bekerja di kantor. Malah selama ini Irwan jarang masuk kantor dan juga lebih sering menghabiskan banyak waktunya di luar kantor. Bahkan yang lebih parah laporan keuangan kantor sangat berantakan. Bisa dibilang banyak yang tidak sesuai. “Aku minta maaf soal itu Ma, tapi aku juga lelah terus-terusan bekerja di kantor jadi aku memutuskan untuk sesekali healing.” Suara Irwan melembut, ia seolah berusaha untuk memutarkan balikkan keadaan yang ada, menyakinkan kalau ia memang terpaksa melakukannya. “Benarkah itu?” Nahasnya Bunga selalu percaya dan luluh. Pria itu menganggukkan kepala. “Bahkan beberapa kali aku keluar karena mendapat undangan dari klien serta partner bisnis di perusahaan kita.” “Kasihan selalu putraku selalu mendapatkan ketidakadilan yang sudah seharusnya kamu dapatkan.” “Iya Ma, apalagi tadi aku baru saja diusir oleh Kinar dari ruangannya.” Irwan berusaha mengadukan apa yang sudah diperbuat oleh saudara tirinya tadi, ia berharap kalau sang mama akan memberikan pelajaran seperti sebelumnya. “Kurang ajar!” Bunga mengepalkan tangannya. “Anak itu memang harus diberi pelajaran.” “Aku setuju, Ma.” “Kamu tenang saja nanti jika waktunya tepat Mama akan balas semua perbuatannya kepada kita,” janji Bunga. “Tapi Ma, setelah ini apa yang harus kita lakukan? Bagaimana jika Kinar semakin berkuasa di rumah dan juga kantor?” “Untuk saat ini ikuti saja cara mainnya, nanti ketika lengah baru kita serang secara brutal.” “Oke aku akan menuruti kata Mama.” “Kalau begitu mulai hari ini kamu bekerjalah dengan giat siapa tahu Papa akan memberikan kesempatan kedua.” “Baik, Ma.” Panggilan telepon mereka berakhir, pria itu meletakkan ponselnya di atas meja lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa dan memejamkan matanya. Irwan masih mengantuk apalagi ia harus dibangunkan sepagi itu oleh sang mama secara tiba-tiba. *** “Permisi Non Kinar, saya bawakan kopi dan juga beberapa camilan asin untuk menemani Non mengerjakan tugas.” Ethan menunjukkan kantung makanan yang dibawakan ketika sudah dipersilahkan masuk sebelumnya. Kinar mengerutkan dahinya. “Tapi aku merasa tidak memesannya.” “Tadi saya hanya insiatif saja Non, siapa tahu Non Kinar mau tapi kalau Nona tidak mau biar saya berikan saja ke Yuna.” “Eh… tunggu sebentar,” tahan Kinar ketika pria itu hendak keluar dari ruangan kerjanya. “Ada apa, Non?” tanya Ethan yang sudah berbalik. “Letakkan saja di sini nanti bakalan aku makan dan minum.” Pria itu sempat tersenyum sebelum melangkahkan kakinya mendekat ke meja kerja Kinar. “Oh ya, berapa lama kamu sudah bekerja di sini?” “Baru lima tahun, Non.” Kinar berdecih. “Ternyata sudah selama itu ya, tapi apa sebelumnya kamu mengenal Pak Noah sehingga bisa bekerja di kantor ini? Atau kamu melamar memang lewat jalur mandiri?” “Saya sangat mengenal Pak Noah, bahkan sangat dekat dengannya karena beliau adalah papa saya, Non.” Kinar yang semula sibuk menatap lembaran demi lembaran di tangannya langsung menoleh ke arah pria itu. “Papa?” Ethan menganggukkan kepala pelan. “Maaf karena aku enggak tahu kalau Pak Noah adalah orang tuamu, tapi di mana beliau sekarang?” “Papa sudah meninggal sekitar kurang lebih tiga tahun yang lalu, Non.” “Memangnya beliau sakit apa?” tanya Kinar. “Papa sakit komplikasi yang cukup serius jadi sekitar lima tahun yang lalu beliau mengundurkan diri dan saya yang menggantikan posisi beliau.” “Sebelumnya saya turut berduka untuk mendiang papa kamu, Ethan.” “Terima kasih, Non.” “Oh ya, ngomong-ngomong di mana kopi kamu? Apa kamu enggak minum kopi?” Kinar memeriksa isi kantung makanan yang dibawa oleh Ethan barusan. “Kopi saya ada di meja, Non.” “Ooo… apa kamu juga beli iced americano?” “Sebenarnya tadi saya beli caramel latte karena saya tidak suka begitu pahit dan lebih suka yang creamy,” jawab Ethan. Mendadak kenangannya bersama Nathan berputar ketika mendengar penjelasan Ethan yang sama persis dengan kekasihnya tersebut. Seperti kebetulan yang terasa familiar bagi Kinar hingga tanpa sadar bulir air mata jatuh. Hal itu tentu membuat Ethan bingung sekaligus khawatir. “Non Kinar kenapa?” Bukan jawabannya yang pria itu dapat tapi tatapan kesedihan mendalam yang hinggap di sana. Bahkan sampai bisa Ethan merasakannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN