Bab 5 Menepis Perasaan Aneh

1119 Kata
“Enggak apa-apa, Kok.” Kinar rasa mungkin dirinya masih belum bisa menerima kepergian Nathan hingga ia berpikir kalau apa yang diucapkan Ethan atau orang lain akan sama persis dengan pria itu. “Nona Kinar yakin?” Wanita itu menganggukkan kepala. Tersenyum tipis. “Kamu boleh kembali ke mejamu, Ethan,” titahnya. “Baik, Nona Kinar.” Setelah pria itu benar-benar keluar dari ruangannya, Kinar menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu terdengar suara isak tangis. “Aku kangen banget sama kamu, Nat. Aku enggak yakin kalau aku sanggup menjalani hari tanpa kamu, apalagi sampai bertemu pelaku tabrak lari yang…” Kinar tidak sanggup mengungkapkan apa yang akan ia ucapkan, bahkan ia merasa tidak kuat jika harus mendengarnya lagi. *** “Pa, minum obatnya dulu yuk,” kata Bunga dengan segelas air putih dan kotak obat di tangannya. “Iya, ma.” Sambil tersenyum wanita itu melangkahkan kakinya mendekati suaminya yang saat ini sedang duduk di kursi persis di ruang perpustakan sambil membaca buku. Bunga mulai memainkan perannya seolah menjadi istri yang baik di hadapan Yuda. Dengan sabar dan telaten membantu pria renta di hadapannya untuk minum obat dan vitamin. “Habis ini Papa langsung tidur siang, kan?” “Kayaknya iya Ma, memang ada apa?” “Sebenarnya Mama ada janji Pa mau pergi arisan sama teman-teman mama.” “Ya udah kamu pergi saja sekarang.” “Tapi, Pa…” “Ada apa, Ma?” “Aku masih kepikiran soal Irwan dan juga Kinar, Pa.” Yuda mengerutkan dahinya. “Memangnya ada apa dengan mereka?” “Tapi Papa jangan marah ya?” “Iya, ada apa sih?” tanya Yuda gemas. “Aku hanya khawatir kalau nanti Kinar malah diremehkan oleh para dewan direksi dan juga partner bisnis yang sudah lama bekerja di perusahaan kita.” “Diremehkan?” “Iya Pa, kamu ingat kan dulu kasus Tante Nirma pernah jadi CEO sebelum akhirnya kamu yang menggantikan?” Yuda menganggukkan kepalanya sambil mengingat kembali kejadian yang sudah lewat berpuluh-puluh tahun yang lalu, jauh sebelum ia bertemu dengan Bunga. “Dari mana kamu tahu hal itu?” selidik Yuda. “Sebenarnya sudah lama beberapa orang di sekitar kita termasuk Tante Nirma selalu mewanti-wanti aku akan hal ini, Pa.” “Papa yakin Kinar mampu menjadi CEO di perusahaan kita tanpa ada masalah sekalipun apalagi kalau sampai diremehkan orang lain,” tegas Yuda. Pria itu sendiri sebenarnya sudah memikirkan matang-matang keputusannya, bahkan Yuda semakin mantap mengambil keputusan tersebut semenjak ia menaruh curiga kepada Irwan. Hal itu juga yang selama ini pria itu simpan rapat bahkan beberapa kelakuan buruk Irwan lainnya dari sang istri. Yuda hanya tidak ingin membuat Bunga sedih jadi ia terpaksa tutup mulut. “Lalu… bagaimana kalau nantinya Kinar menikah dengan seseorang yang juga memiliki bisnis yang mungkin lebih dari kita? Apakah Papa masih bersikeras membiarkan Kinar menjadi CEO tanpa mau memberikan kesempatan untuk Irwan?” Yuda menatap tajam ke arah istrinya. Pria itu seolah tahu ke mana arah pembicaraan mereka. “Jangan bilang kamu masih ingin membujukku untuk memberikan kesempatan kepada putramu itu ya, Bunga?” tebaknya. “Dia juga putramu, Pa!” Sebenarnya nyali Bunga sudah menciut ketika pria di hadapannya menatapnya seperti seolah ingin memaksa tapi ia berusaha tenang dan berani untuk membela putranya. “Apa selama ini hanya aku yang mengganggap Kinar putriku sementara kau tidak pernah sama sekali menganggapnya putramu?” Tangis wanita itu pecah hingga berhasil menimbulkan rasa bersalah di dalam diri Yuda. “Bu—bukan maksudku untuk…” “Cukup, Pa! Aku sudah benar-benar kecewa denganmu,” potong Bunga lalu wanita itu memutuskan untuk pergi. Yuda hanya bergeming, kepalanya mendadak sangat pusing. Ia menyesali ucapannya yang dirasa kurang bijak. Tidak seharusnya ia mengatakan Irwan seolah hanya putranya Bunga. Walau ia pikir ini hanya perasaan curiganya saja tapi tidak seharusnya ia bersikap tidak adil kepada Irwan. *** “Permisi Nona Kinar, saya membawakan pakaian yang akan anda gunakan untuk memenuhi undangan ulang tahun perusahaan keluarga Kusuma di hotel Crystal malam ini jam tujuh.” Senyum yang sempat menghiasi wajah cantik Kinar karena ia berhasil menyelesaikan tugasnya di kantor mendadak pergi bersama datangnya pakaian itu. “Astaga… aku hampir saja lupa kalau masih memiliki agenda lain tapi bisakah kamu memesankan makanan seperti burger atau pizza untuk mengganjal perut?” Ethan tersenyum dan menunjukkan satu kantung yang ada di balik punggungnya. “Kebetulan tadi saya juga sudah memesan makanan cepat saji untuk anda, tapi saya tidak tahu apa yang anda inginkan jadi….” Kinar mengulurkan tangannya, memberi isyarat untuk pria itu agar berjalan mendekat ke arahnya. “Mana-mana.” Bersamaan dengannya yang melangkahkan kaki ke sofa. Wanita itu langsung memeriksa isi kantung makanan tersebut yang berisi kentang goreng, ayam goreng tepung, mini burger dan puding. Kedua matanya berbinar melihat makanan yang ada di atas meja. “Kalau begitu kita makan sama-sama sebelum berangkat,” ajak Kinar sambil melirik ke arah Ethan yang masih berdiri di sampingnya. “Tapi Non, saya membelikan itu semua khusus hanya untuk anda.” Kinar melipat kedua tangannya. “Apa kamu pikir aku bisa menghabiskan semuanya? Walau aku lapar tapi aku tidak rakus, Ethan.” “Tapi…” “Kalau kamu tidak ikut makan denganku, aku tidak akan datang ke acara itu,” potong Kinar. “Ba—baik Non, tapi biar saya ambilkan minum di pantry dulu ya.” Ethan langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari wanita itu. sedangkan Kinar hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Kenapa dia polos sekali? Tapi sudahlah yang jelas aku harus makan sekarang sebelum pergi.” Sebelum benar-benar menikmati makanan di hadapannya, Kinar sempat ke kamar mandi yang ada di ruangannya untuk mencuci tangan. Bersamaan dengan itu Ethan sudah kembali membawakan dua gelas es teh tawar. Kalau dipikirkan kembali tidak seharusnya pria itu mengambilkan minuman karena di dalam kantung sudah ada minuman bersoda. Sekitar pukul tujuh akhirnya Kinar dan Ethan sampai di salah satu hotel untuk menghadiri pesta ulang tahun perusahaan rekan bisnis yang sudah lama bekerjasama dengan perusahaan Wiratama. Wanita itu tampak gugup karena sudah lama sekali ia tidak datang ke pesta yang berisikan banyak tamu penting. “Ada apa, Non? Apa Nona Kinar sakit?” tanya Ethan ketika melihat wajah Kinar tampak pucat. “Aku sudah lama sekali tidak datang ke tempat seperti ini, jadi rasanya akan sangat canggung apalagi aku tidak hanya bisa diam saja tapi harus berbaur untuk membangun koneksi dengan yang lainnya, kan?” Pria itu mengangguk pelan, seakan paham rasa khawatir yang hinggap di diri Kinar. “Kalau Non Kinar tidak keberatan, apa Nona mau saya menggenggam tangan Nona sampai setidaknya Non Kinar merasa nyaman atau anda bisa melepaskannya sedang mengobrol dengan yang lain?” tawar Ethan. Perlahan Kinar menoleh ke arah pria itu, dahinya berkerut. Ia ingin menepis perasaan aneh di dalam dirinya sekali lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN