Bab 6 Durian Runtuh

1123 Kata
“Bagaimana, Non?” Tanpa sadar Kinar menganggukkan kepalanya, lalu ia memegang tangan pria itu, lebih tepatnya lengan Ethan. Di tengah keramaian tatapan matanya masih tertuju ke arah Ethan, bahkan tidak berkedip sama sekali. “Kinar…” Keduanya menoleh ke arah pria yang mengenakan jas berwarna biru tua senada dengan celana yang ia kenakan. Pria itu melambangkan tangannya sambil tersenyum, melangkahkan kakinya mendekat. “Tuan Kevin Kusuma, selamat malam.” Ethan membungkuk sedikit untuk memberi salam. “Kevin?” Wanita itu mengerutkan dahinya sambil mengingat sosok pria di hadapannya. “Hai Ethan, bagaimana kabarmu?” sapa ramah pria itu. “Kabar baik Tuan, Tuan Kevin sendiri bagaimana kabarnya? Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu.” Kevin menepuk bahu pria itu. “Sangat baik apalagi setelah melihat Kinar.” Tatapan mata Kevin tertuju ke arah Kinar yang ia yakini sedang mempertanyakan tentang dirinya. “Nona Kinar, saya pamit ambil minuman dulu ya buat, Non,” pamit Ethan yang dijawab dengan anggukan kecil. “Sorry tapi gue enggak inget lo…” “Ya ampun Kinar… dulu waktu kecil kita sering mandi bareng loh, apa lo lupa?” sela Kevin. Seketika wajah Kinar memerah karena mendengar ucapan pria itu. Ia menilai kalau pria di hadapannya terlalu blak-blakan. Apalagi hal yang baru saja Kevin ucapan dianggap tidak pantas dikatakan. Pria itu terkekeh. “Sorry… abisan cuma itu memori masa kecil kita yang berkenan buat gue,” lanjut Kevin. “Hmmm…” Kinar mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ballroom hotel. “Bdw, selamat buat ulang tahun perusahaan lo ya.” “Terima kasih loh, tapi kayaknya lo juga harus ngucapin langsung ke bokap dan nyokap gw.” Tanpa basa-basi Kevin menarik tangan wanita itu hingga mengikutinya. Langkah kaki mereka terhenti di antara sepasang paruh baya yang sedang mengobrol. “Mama, Papa tebak aku bawa siapa?” tanya Kevin yang tampak antusias. Hadi dan juga Ratna berusaha untuk mengingatnya hingga tatapan mata mereka sempat bertemu. “Kinar?” tebak keduanya kompak. Kinar tersenyum. Entah kenapa wanita itu lebih ingat kedua orang tua Kevin daripada pria itu sendiri. “Halo Om Hadi, Tante Ratna,” sapanya. “Astaga Kinar, kamu apa kabar? Ternyata kamu sudah besar dan sangat cantik mirip seperti mamamu.” Ratna melemparkan pujian sambil memeluk tubuh Kinar sangat erat. Memang sudah lama sekali rasanya mereka tidak bertemu, apalagi sejak Yuda memutuskan untuk menikah lagi. “Terima kasih Tante, kabar aku baik, Tante sendiri apa kabar?” “Baik sekali tapi darimana kamu tahu tentang pesta ulang tahun perusahaan kami? Bukannya kamu…” “Kinar sekarang sudah kembali ke rumah Yuda dan meneruskan bisnis keluarga, Ma,” sela Hadi. Ratna sempat menoleh ke arah suaminya, lalu kembali memandang wajah ayu di hadapannya. “Benarkah itu, Kinar?” Wanita itu menjawabnya dengan anggukan kepala serta senyum tipis. “Tapi Om juga turut berduka ya Kinar soal calon suamimu,” kata Hadi. “Calon suami?” Kompak ibu dan anak tersebut mempertanyakan tentang apa yang mereka dengar. Memang tidak banyak yang tahu tentang alasan Kinar kembali ke kediaman Wiratama dan Hadi sendiri pun baru tahu kabar tidak mengenakan itu dari sahabatnya. “Ya… sebenarnya tahun ini aku berniat untuk menikah tapi takdir berkata lain jadi…” Ucapan Kinar menggantung ketika Ratna mengusap lembut punggungnya. “Tante tahu ini berat tapi kamu juga harus melanjutkan hidupmu ya Kinar,” pesannya. “Kevin sebaiknya kamu ajak Kinar makan sambil mengobrol ya,” titah Hadi. “Baik, Pa.” Tatapan mata pria itu beralih ke arah Kinar, menarik tangan wanita itu tanpa permisi untuk kesekian kalinya. “Bdw, gue turut berduka ya, enggak nyangka aja kalau udah lama enggak ketemu malah lo lagi kena musibah,” kata Kevin membuka obrolan di antara mereka. “Terima kasih untuk minumannya dan juga ucapan belasungkawanya,” balas Kinar sambil meraih segelas jus jeruk. “Sama-sama, terus habis ini lo mau ngapain?” “Mau makan, ngobrol sebentar abis itu balik deh.” Kevin berdecak. “Bukan itu, maksud gue sekarang tujuan hidup lo bakalan ngapain? Ke mana arahnya?” “Ooo… soal itu mungkin saat ini fokus di kantor karena bokap minta gue gantiin posisi dia.” “Terus gimana adek lo? Awalnya gue kira dia lo Nar yang bakalan gantiin posisi Om Yuda.” “Stop panggil dia adek gue, gue ini anak tunggal, Kevin!” tegasnya. “Ya ampun Nar tapi kan bokap lu udah nikah sama nyokapnya dia loh,” goda Kevin. Wanita itu memanyunkan bibirnya, memutar bola matanya malas. “Tapi gue setuju kok kalau lo gantiin posisi Om Yuda, soalnya gue sendiri ngerasa punya feeling yang enggak enak,” tambah Kevin, wajahnya tampak serius kali ini. “Maksudnya?” Pria itu tidak lantas menjawab pertanyaan Kinar, malah ia hanya tersenyum dan juga mengalihkan pembicaraan dengan menyapa Ethan yang menghampiri mereka. “Tan, titip Bu Kinar ya saya mau ke toilet dulu,” ucap Kevin. “Baik, Tuan.” Setelah pria itu melangkah pergi, pandangan Kinar beralih ke arah Ethan. “Seberapa banyak Kevin tahu soal masalah di kantor?” Ethan mengerutkan dahinya, bingung. “Maksudnya, Non?” Namun belum sempat pria itu menjawab beberapa orang mulai mendekati mereka untuk mengobrol seputar urusan bisnis. *** “Jadi Mama masih marah sama aku?” Sejak pergi tadi bahkan sampai Bunga bersiap untuk tidur wanita itu mengunci mulutnya rapat. Hal itu tentu membuat Yuda merasa tidak enak. “Oke aku minta maaf karena tadi siang itu aku udah salah bicara tapi setelah aku pikirkan….” Ia melirik ke arah istrinya yang baru saja duduk di sisi tempat tidur. Masih berusaha acuh padanya. “Papa akan pikirkan untuk memberikan kesempatan kedua bagi Irwan,” lanjutnya. Sudut bibir Bunga tertarik tapi ia berusaha menyembunyikannya tidak ingin terlalu senang. “Buat apa kalau cuman dikasih kesempatan? Gimana kalau ternyata akhirnya malah Kinar yang udah kamu pilih jadi CEO di perusahaan keluargamu?” Yuda memang belum sepenuhnya rela untuk menyerahkan posisi CEO kepada Irwan apalagi kalau Kinar memang akan menikah dengan seseorang yang berada di kalangan yang sama. “Udahlah Pa, enggak usah kasih janji palsu buat aku sama Irwan toh nyatanya sejak awal kalian juga tidak pernah menganggap kami ada.” Bunga merasa semakin kecewa apalagi ketika pria itu hanya diam tidak merespon ucapannya. “Papa…” Yuda memejamkan mata menarik napas panjang sebelum membuangnya. “Aku akan pertimbangkan Irwan untuk menggantikan posisiku dan Kinar di kantor, tapi aku juga mau lihat perubahan sikapnya yang benar-benar serius mengurus kantor atau hanya main-main saja, dan satu hal lagi aku akan resmi membiarkan Irwan mengalih alih perusahaan kalau Kinar sudah menikah.” “Benarkah itu?” Bunga yang semula hendak merebahkan tubuhnya, mendadak merubah posisinya menghadap ke arah Yuda dengan binar di matanya. Wanita itu seolah baru saja mendapat durian runtuh jika saja putranya benar-benar berada di puncak karir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN