Tiga hari kemudian.
Kinar baru saja diresmikan sebagai CEO di Wiratama Company oleh papanya di hadapan para anggota dewan keluarga dan juga para pemegang saham.
Walau beberapa di antaranya sempat menyatakan tidak setuju di rapat rups sebelumnya dengan alasan Kinar adalah seorang wanita yang mungkin saja akan mengulangi kesalahan sang Tante di masa lalu.
Ditambah isu tentang ia kabur dari rumah berhasil membuat mereka sempat goyah tapi Yuda berusaha meyakinkan mereka kalau Kinar bisa mengemban tanggung jawab tersebut.
“Kamu terlambat!”
Sorot mata Kinar yang tajam berhasil membuat pria itu kesusahan menelan salivanya.
Untuk kedua kalinya Ethan terlambat datang ke kantor karena urusan pribadinya yang mungkin tidak akan pernah diterima oleh wanita yang berdiri di hadapannya.
“Maaf Bu, tapi tadi itu saya ada urusan penting jadi…”
“Sudah dua kali dalam seminggu kamu terlambat, bahkan di hari yang saya anggap penting, Ethan!” sela Kinar, raut wajahnya mengeras, tangannya mengepal kuat, dan tarikan napas terasa cepat.
Sebenarnya sejak tadi Kinar sudah berusaha menahan amarah yang bergejolak di dalam dirinya, seperti air mendidih yang siap meluap.
Alhasil Ethan yang baru saja muncul di ruangannya dengan satu kesalahan yang sama berhasil membuat wanita itu melampiaskan amarahnya.
“Kamu saya pecat!” tambah Kinar.
Namun siapa sangka pemecatan Ethan yang baru saja dilayangkan oleh wanita itu tanpa sengaja didengar oleh Yuda yang baru saja masuk tanpa mengetuk pintu.
“Kinar, kenapa kamu memecat Ethan?”
“Tuan Yuda…” lirih Ethan seraya membungkukkan badannya untuk memberi salam.
Kedatangan pria paruh baya itu seolah seperti malaikat bagi Ethan karena mungkin bisa saja menyelamatkan dirinya dari tindakan Kinar yang dianggap semena-mena.
“Papa, kenapa masuk ke ruangan aku tanpa mengetuk pintu?”
Bukan menjawab tapi Kinar malah melemparkan pertanyaan kepada sang papa.
Yuda menghembuskan napas pelan. “Sebelumnya Papa minta maaf karena sudah masuk tanpa izin tapi kenapa kamu memecat, Ethan? Apa kesalahannya?”
Kinar memutar bola matanya malas, lalu melangkahkan kakinya menuju sofa dan duduk di sana.
“Papa tanya aja sendiri apa salahnya.”
Kini tatapan pria paruh baya itu tertuju kepada Ethan. “Ada apa? Apa yang membuat Kinar marah sampai memecatmu? Apa ada hubungannya dengan keterlambatanmu hari ini?”
Ethan mengangguk pelan, ia menunduk sesaat sebelum akhirnya mengangkat kepalanya menatap Yuda.
“Sebenarnya alasan saya terlambat hari ini karena Oma tiba-tiba tidak bisa bicara dan jatuh pingsan jadi saya membawanya ke rumah sakit.”
Penjelasan pria itu barusan berhasil menusuk bagian hati Kinar paling dalam hingga timbul rasa bersalah sekaligus terkejut. Bahkan ia sempat memastikan dengan menatap wajah Ethan, tidak ada tanda kebohongan di sana.
“Lalu, apa kata dokter?”
“Dokter bilang itu stroke ringan.”
Yuda melemparkan pandangannya ke arah Kinar yang masih duduk manis di sofa dengan raut wajah bersalah. Ia yakin kalau putrinya pasti belum tahu betul tentang kehidupan asisten pribadinya.
“Jadi, bagaimana Kinar? Apa kamu masih mau memecat Ethan setelah mendengarnya sendiri?”
Yuda bertanya seakan ia tidak ingin ikut campur dengan urusan putrinya dalam mengambil keputusan.
Pria paruh baya itu juga ingin tahu apakah benar Kinar sudah dewasa dan layak menjadi pemimpin di perusahaan keluarga yang sudah dijaga secara turun temurun.
“Aku tidak jadi memecatnya tapi aku juga tidak ingin jika di kemudian hari Ethan menggunakan alasan ini hanya untuk kepentingan pribadinya.”
Keduanya kompak menatap Kinar, seolah mereka baru saja melihat keajaiban. Apalagi keduanya kurang lebih tahu sikap wanita itu yang terkenal tegas hingga beberapa orang menyebut Kinar sebagai manusia yang tidak memiliki hati.
“Terima kasih Nona Kinar, saya janji tidak akan menyalahgunakan kepercayaan yang Non berikan ke saya,” kata Ethan dengan senyuman di wajahnya.
“Oke, sekarang kamu bisa keluar,” perintah Kinar.
“Papa bangga denganmu, Kinar.”
Yuda melangkahkan kakinya lalu bergabung dengan putrinya duduk tepat di sebelahnya.
“Aku kira tadi Papa langsung pulang tapi kenapa malah ke sini? Ada apa?”
“Papa hanya ingin tahu kondisimu setelah konferensi pers tadi, maksud Papa….”
“Seperti yang Papa lihat kalau aku baik-baik saja jadi sebaiknya Papa pulang saja karena aku masih banyak kerjaan,” potong Kinar seraya bangkit dari tempat duduknya.
Ia beralih menuju meja kerjanya yang sudah dipenuhi oleh beberapa tumpukan dokumen.
Yuda tahu kalau putrinya mungkin bisa saja berbohong tapi ia tidak ingin memaksanya dan memutuskan untuk pergi.
“Ya sudah Papa pamit pulang ya.”
Wanita itu hanya merespons dengan anggukan kepala. Malah ketika sang papa benar-benar pergi Kinar tidak melirik sedikitpun.
Namun tak lama pintu ruangannya kembali terbuka dan kali ini menampilkan sosok Kevin yang datang membawa bunga serta kantung berisi kue.
“Halo Kinar,” sapanya.
Wanita itu melirik ke arah pria itu. “Mau apa lo ke sini? Gue sedang sibuk,” katanya.
Pria itu tersenyum meletakkan barang bawaannya di atas meja kerja Kinar.
“Gue ke sini cuma mau kasih ucapan selamat langsung sama lo tapi kayaknya lo wnggak senang liat gue di sini jadi gue langsung pamit pulang deh.”
“Oke hati-hati di jalan ya,” kata Kinar sambil meletakkan pena miliknya di atas kertas.
Kevin sempat terkejut dengan sikap Kinar yang memang sudah berubah jauh dari terakhir ia bertemu.
“Astaga Kinar, apa lo benar-benar mau gue pergi?” tanyanya dengan nada kecewa.
“Emang buat apalagi lo ada di sini? Bukannya tujuan lo udah terealisasikan?”
Pria itu menarik kursi yang ada di depan meja kerja Kinar dan duduk sambil membuang napas kasar.
“Gue tadi itu cuman bercanda tau, harusnya nih lo tawarin gue minum dulu baru deh gue pulang.”
“Oke.”
Kinar menghubungi sekretarisnya lalu memintanya untuk membawakan minuman untuk Kevin.
“Nar, gue boleh nanya sesuatu enggak?”
“Apa?”
“Kok lo sekarang berubah?”
Ia yang semula menatap lembaran kertas di hadapannya mulai mengalihkan pandangannya ke arah Kevin.
“Maksud lo?”
“Ya… dulu kan lo itu ceria banget terus ceriwis dan sekarang lo jadi lebih cuek.”
“...”
“Apa karena kehilangan Tante, ditambah bokap nikah lagi, dan calon suami lo meninggal jadi…”
Ucapan Kevin terputus ketika Yuna mengetuk pintu dan masuk sambil membawakan dua cangkir teh dan dua piring kecil yang sempat Kinar minta.
“Tunggu sebentar… “
Kinar mengambil dua bagian kue untuk dirinya dan juga Kevin lalu memberikan sisanya kepada Yuna.
“Buat kamu sama Ethan,” lanjutnya.
“Baik Bu, terima kasih.”
Yuna keluar dan Kinar mempersilahkan pria di hadapannya untuk minum serta menikmati kue yang dibawanya.
“Sorry ya Nar kalau gue jadi…”
“Tolong! Bu Kinar!”
Suara Yuna di luar sana berhasil membuat keduanya saling bertatapan sebelum akhirnya mereka kompak berdiri dan keluar dari ruangan itu.
Di sana Yuna dan Ethan sudah dikelilingi oleh para staf, suasana di sana mendadak tampak mencekam ketika melihat tangan pria itu memegangi dadanya, napasnya terdengar berat dengan wajah pucat, dan bibirnya mulai membiru.
“Panggil ambulans sekarang,” teriak Kevin.
“Yuna apa yang terjadi sebenarnya?”
Wanita itu sempat melirik ke arah Kevin sebelum akhirnya menunjuk ke arah kotak kue yang dibawa pria itu.
“Vin, kue itu lo kasih racun ya?” tanya Kinar.