Ketika tatapan mata mereka tertuju padanya, pria itu langsung menggelengkan kepala berharap mereka tidak langsung percaya.
Sungguh apa yang ia bawa itu sama sekali bukan makanan beracun.
“Nggak, Kinar! Mana mungkin sih gue mau ngeracunin lo buktinya tadi lo liat kan gue juga ikutan makan?”
Tunggu!
Mendadak situasi ini mengingatkan Kinar tentang sesuatu yang begitu familiar baginya, apalagi setelah mengamati gejala yang dialami oleh Ethan.
“Jangan bilang kue ini…”
Kinar mendekat ke meja kerja asisten pribadinya untuk memeriksa kue yang ternyata terdapat selai kacang di dalamnya.
Wanita itu menduga kalau apa yang terjadi dengan Ethan saat ini karena alergi kacang sama seperti Nathan dulu.
“Ethan, di mana kamu menyimpan epipen itu?”
Pria itu menunjuk ke arah tas kerja miliknya. Dengan sigap Kinar menggeledah tas Ethan dan mengambil alat yang berisi obat darurat yang bisa menyelamatkan jiwa untuk anafilaksis.
Setelah itu membuka penutupnya, Kinar langsung menyuntikannya tepat di paha Ethan sekitar tiga sampai sepuluh detik ketika sudah membenarkan posisi duduknya.
Tentu apa yang dilakukan oleh wanita itu berhasil membuat hampir semua orang di sana bergidik ngeri dan takut kalau tindakan Kinar malah membahayakan nyawa pria malang itu.
“Kinar…” Kevin menarik tangannya hingga wanita itu menoleh ke arahnya. “Apa yang udah lo lakuin ke Ethan barusan?”
“Ya gue berusaha kasih pertolongan pertama buat dia.”
“Tapi apa yang lo lakukan itu bisa aja berbahaya karena kita enggak tahu apa yang sebenarnya terjadi sama Ethan, Kinar,” kata Kevin yang berusaha mengingatkan.
Apalagi yang ia tahu di antara mereka tidak ada yang memiliki pengalaman di bidang kesehatan apalagi kedokteran.
“Tuan Kevin tidak usah khawatir karena apa yang Nona Kinar lakukan adalah tindakan yang tepat,” kata Ethan dengan kondisinya yang saat ini sudah jauh lebih baik, napasnya jauh lebih lega dari sebelumnya.
Kinar menarik tangannya kasar dari genggaman Kevin, sorot matanya tajam.
“Lo liat kan Vin keadaan Ethan sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya, walau gw sendiri bukan perawat atau dokter!” kata Kinar dengan penekanan di akhir kalimat.
Mata wanita itu tampak berkaca-kaca bukan karena disalahkan oleh Kevin tapi ada hal lain yang membuatnya mendadak sedih.
“Yuna setelah ini pastikan kalau Ethan dibawa ke rumah sakit ya,” pesannya sebelum kembali ke ruang kerjanya.
Ketika Kinar duduk di sofa, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Isak tangis mulai terdengar melewati sela-sela jari lentiknya.
Bayangan akan masa lalu mulai berputar ketika saat itu Nathan mengalami hal yang sama. Bedanya saat itu ia tidak tahu hal apa yang harus diperbuat.
Suara benda dari arah ruang tengah berhasil membuat wanita itu berlari sambil memegang dua gelas air.
Kinar mendapati kekasihnya memegangi dadanya dengan keadaan sesak napas. Bahkan beberapa bagian tubuhnya mulai bengkak dan tampak ruam.
“Sayang… kamu kenapa?” tanya Kinar panik.
“A– aku alergi kacang,” jawabnya dengan suara serak serta bicara yang putus-putus tapi masih dimengerti oleh Kinar.
“Kalau gitu kita ke rumah sakit sekarang,” ajak Kinar.
Namun saat wanita itu berusaha menopang tubuh kekasihnya, Nathan malah memegangi tangannya serta berusaha membuka tas miliknya.
Awalnya Kinar bingung tapi ia berusaha untuk membantu kekasihnya sampai mereka menemukan sebuah benda mirip pensil/spidol kecil.
“Apa ini, Sayang?” tanyanya dengan air mata yang masih menetes.
Ada rasa penasaran yang menyelimuti hatinya tapi Nathan malah membuka penutupnya dan memberikan isyarat untuk menyuntikannya benda ke pahanya.
Kinar menggelengkan kepalanya pelan. “Enggak! Aku nggak bisa! Kita ke dokter aja ya.”
Tentu apa yang wanita itu rasakan saat ini adalah perasaan takut sekaligus ragu kalau tindakannya mungkin akan membahayakan kekasihnya, dan hal itu pula yang Kinar pikir sebaiknya dilakukan oleh sang ahli.
“Sa…”
Suara Nathan menghilang dan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Seolah keadaan semakin memburuk dan dari tatapan mata pria itu ia seakan memohon untuk melakukan apa yang sempat ia minta sebelumnya.
Kinar menarik napas panjang, ia sudah tidak bisa lagi berdebat dengan dirinya sendiri, harus ada tindakan darurat untuk menolong kekasihnya.
“Sayang, aku harap ini adalah keputusan yang tepat,” ucapnya sebelum menyuntikannya benda itu tepat di paha Nathan.
Tangan pria itu bahkan berusaha menggenggam tangan Kinar agar tidak segera melepaskan benda tersebut.
“Kinar, gue minta maaf soal kejadian tadi.”
Suara Kevin berhasil membuat wanita itu kembali ke masa ini, di mana tidak ada lagi Nathan di sisinya.
Bahkan jantungnya masih berdebar, tangannya dingin dan perutnya terasa mual saat ini. Tapi wanita itu berusaha menyembunyikan semuanya, menghapus sisa air matanya, dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Wanita itu menoleh ke arah Kevin. “Bagaimana? Apakah Ethan sudah dibawa ke rumah sakit?” tanya Kinar.
“Sudah… baru saja gue mastiin dia dibawa ke rumah sakit dengan ambulans tapi Kinar, gue mau minta maaf soal tadi.”
“Udahlah enggak usah dibahas lagi, Kevin. Tadi itu wajar kok lo juga enggak tahu kan harus berbuat apa, kebetulan aja gue pernah ada di posisi itu pas mendiang Nathan masih hidup.”
Tidak ada perasaan kesal apalagi marah yang Kinar tujukan kepada pria itu. Apa yang terjadi di luar tapi memang terlihat seakan ia marah besar.
Namun bukan berarti wanita itu memiliki kepribadian ganda tapi Kinar hanya terbawa suasana dan keadaan yang seolah berusaha mengingatkannya dengan mendiang calon suaminya tersebut.
“Sekali lagi gue minta maaf karena gue udah ngeraguin lo, Nar,” ucap Kevin dengan penuh penyesalan.
Kinar tersenyum tipis seraya bangkit dari tempat duduknya. “Ya anggap aja impas karena tadi gue juga enggak sengaja buat…”
Belum sempat wanita itu menyelesaikan kalimatnya Kevin lebih dulu memeluk tubuhnya.
“Dari awal gue tahu kalau lo enggak bener-bener berubah dan lo masih Kinar yang sama seperti dulu, maafin gue ya kalau udah ragu sama lo.”
Kinar mengerutkan dahinya. Berusaha mendorong tubuh pria itu agar menjauh darinya tapi sialnya Kevin malah semakin memeluknya erat.
“Vin, lepas enggak atau gue teriak nih!” ancam Kinar.
“Enggak apa-apa kok kalau lo mau teriak sampai keamanan datang ke sini, tapi kalau ada apa-apa gue siap kok Nar bantu lo jadi gue mohon jangan pernah berubah ya.”
Siapa sangka ucapan Kevin barusan terdengar seperti malaikat pelindung yang rela mengorbankan hal apapun untuknya.
Dan hal itu pula yang berhasil memenangkan Kinar karena ia tidak harus lagi merasa sendirian.
“Waw… menarik sekali.”
Suara seseorang yang entah sejak kapan masuk ke dalam ruang kerja Kinar berhasil membuat keduanya melepaskan pelukan mereka dan berhasil memancing suasana canggung di antara mereka.