“Irwan, gue harap lo nggak salah paham karena apa yang gue lakuin sama Kinar itu enggak seperti yang lo pikir,” jelas Kevin.
“Kalau sama seperti yang ada di pikiran gue juga enggak apa-apa kok, lagian kalian juga udah sama-sama dewasa tapi ya kalau bisa jangan di kantor nggak enak loh kalau sampai dilihat staf,” katanya dengan senyum mengejek.
“Irwan…”
Kinar memegangi tangannya hingga pria itu menoleh ke arahnya. Wanita itu menggeleng pelan.
Kini sorot matanya yang tajam tertuju ke arah adik tirinya yang tampak senang seolah baru menemukan celah kecil untuk mengusiknya.
“Ada apa?” tanyanya datar. “Lo ke ruangan gue bukan untuk menyelinap jadi maling, kan? Pasti ada hal yang lebih penting.”
Kinar melangkah menuju meja kerjanya lalu menyerut secangkir teh yang sudah dingin.
“Kebetulan ada Kevin di sini jadi gue mau ajak dia buat ikut ke acara makan malam sekaligus pesta kecil-kecilan buat ngerayain kemenangan kakak gue yang cantik, yang baru aja resmi jadi CEO di Wiratama Company.”
Wanita itu meletakkan teh miliknya sambil mengernyitkan dahi. Entah sejak kapan Irwan dengan suka rela menyiapkan acara makan malam yang diselingi dengan pesta peresmian atas dirinya tersebut.
Bukankah hal itu seolah menandakan kalau pria itu bahagia dan setuju dengan posisinya saat ini? Padahal yang Kinar tahu kalau beberapa hari sebelumnya Bunga tampak kesal dengan dirinya yang kembali menginjakkan kaki di perusahaan.
Tentu saja ia jadi berpikir kalau ada hal yang tidak beres di sini.
“Kevin nggak akan datang ke acara itu karena gue juga enggak bakalan dateng,” tegas Kinar yang sudah berbalik.
“Astaga Kak Kinar, masa kamu tega sih membiarkan aku dan para staf lain kecewa, padahal kita jelas-jelas mengadakan acara ini khusus loh buat kamu.”
Nada bicara Irwan terdengar seakan kecewa, pria itu bahkan berusaha memohon agar kakaknya datang dengan mengatasnamakan para staf yang juga suka rela mengadakan acara tersebut.
Sementara Kevin seolah terjebak di antara perang dingin kedua saudara tanpa ikatan darah tersebut.
Beruntung Yuna masuk ke dalam ruangan Kinar sambil membawa tablet milik Ethan.
“Permisi Nona Kinar, maaf mengganggu tapi saya ingin mengingatkan kalau sepuluh menit lagi akan ada kick-off meeting proyek Dwiwara Group di ruangan Raffles. Seluruh kepala divisi juga sudah konfirmasi akan hadir. Untuk materi presentasi dan agenda sudah saya siapkan di tablet,” jelasnya.
“Oke kalau begitu, saya akan segera ke sana jadi kamu tunggu saja di luar sebentar.”
“Kinar, kalau gitu gue pamit pulang sekarang ya,” kata Kevin, gerakannya cepat seolah ingin segera kabur dari tempat itu sebelum perang dimulai kembali.
Wanita itu merespons dengan anggukan kepala. “Hati-hati di jalan.”
“Terima kasih, Kinar.
Pria itu mengepalkan tangannya ke udara sebagai isyarat kalau Kevin baru saja memberikan semangat untuk Kinar.
“Irwan, gue pamit dulu ya,” katanya yang buru-buru ingin pergi tapi sial pria itu menahan tangannya.
“Jangan lupa nanti malam datang,” kata Irwan mengingatkan.
“Oke… kirimin aja infonya ke nomer gue.”
Kevin melepaskan tangan Irwan dengan senyum tipis, lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan.
“Gue rasa lo juga harus bersiap karena di meeting kali ini banyak hal yang mau gue tanyain soal anggaran proyek ini.”
Ucapan Kinar terdengar seperti sebuah ancaman bagi adik tirinya hingga berhasil membuat tubuh Irwan menegang dan kaku.
“I—iya gue pamit balik ke ruangan gue ya.”
Pria itu melangkah keluar dari ruangan Kinar dengan setengah berlari, seolah ia baru saja melihat hantu.
“Setelah saya amati anggaran proyek dari Dwiwara Group melonjak sekitar dua puluh tiga persen dari proyeksi awal.”
Tatapan mata Kinar kini tertuju ke arah kepala divisi yang tidak lain adalah Irwan. Wajah pria itu tampak pucat sejak awal rapat dimulai.
“Apa Pak Irwan bisa memberikan saya jawaban yang rasional terkait hal ini? Dan saya harap jawaban anda bukan tentang opini ataupun dari data yang ada,” lanjut Kinar.
Suasana di ruangan itu kini tampak mencekam, bahkan semua orang di sana seakan menahan napas.
“Ka—kami sedang mengkalkulasi dampaknya, Bu.”
“Tidak! Anda bahkan mengajukan angka sebelum kalkulasi selesai!”
Suara Kinar yang tegas terdengar seperti balon yang baru saja meletus di ruangan yang sangat hening hingga beberapa orang sempat terkejut termasuk Irwan sendiri.
Ia mulai meletakkan tablet di atas meja. “Pak Irwan, itu bukan kesalahan kecil tapi itu kelalaian,” tekannya.
Pria itu menelan ludah. Bibirnya sempat terbuka tapi menutup lagi. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Irwan.
Adik tirinya seolah mati kutu di hadapan banyak orang.
“Mulai hari ini, saya mau setiap kenaikan anggaran di atas lima persen harus lewat meja saya. Dan rapat ini akan dilanjut setelah anda mampu membawa angka yang bisa dipertanggungjawabkan, Pak Irwan,” tambah Kinar dengan nada datar.
Wanita itu meraih tablet miliknya, berdiri, dan tampak mengatakan hal apapun Kinar keluar dari ruangan itu.
Ia tidak lagi peduli dengan anggapan orang-orang di sana terkait sikapnya yang mungkin dinilai tegas atau bahkan dicap berusaha mencari kesalahan orang lain melalui fakta yang ada.
***
Pukul satu siang, Kinar merebahkan tubuhnya di sofa dengan tangan kirinya berada di atas kepala, lebih tepatnya digunakan untuk menutupi kedua matanya.
Lelah.
Satu kata yang sejak ia mulai bekerja di perusahaan milik keluarganya. Bahkan Kinar hampir lupa dengan tujuan utamanya kembali ke rumah.
“Astaga aku lupa untuk mencari detektif yang handal untuk mengusut kasus Nathan,” gumamnya pelan.
Tanpa sadar Kinar menutup kedua matanya, ia berniat memejamkan mata sebentar sebelum kembali memulai aktivitasnya yang super padat itu.
“Nona Kinar…”
Suara seseorang yang terasa familiar bagi Kinar berhasil membuatnya membuka matanya. Kedua manik matanya menangkap sosok Ethan yang tersenyum dalam jarak yang sangat dekat.
“Ethan?” ia merubah posisinya menjadi duduk. “Kenapa kamu ada di sini? Bukannya aku sudah memintamu untuk tidak usah bekerja hari ini?”
Kinar mengerutkan dahinya, ia menatap penampilan Ethan dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Pria itu tidak menggunakan pakaian kantor yang rapi seperti biasanya tapi kaos dan jaket lebih santai.
“Tadi saya dihubungi oleh Yuna karena sejak tadi siang sampai tadi Nona Kinar masih tertidur di kantor jadi saya berniat datang untuk menjemput Nona,” jelasnya.
“Emamg sekarang jam berapa?”
“Jam enam, Non.”
“Astaga jadi sudah selama itu aku tidur? Tapi kenapa Yuna tidak membangunkanku? Bukannya aku masih harus bertemu dengan…”
Seketika wajah Kinar berubah panik karena seharusnya ia melakukan janji temu dengan seseorang yang penting.
“Soal itu Non Kinar enggak usah khawatir karena menurut informasi yang saya dapat Pak Rehan dari perusahaan Indotekni ada urusan mendadak di luar negeri jadi janji temu dengan beliau dibatalkan.”
Kinar membuang napas lega bersamaan dengan perutnya berbunyi karena lapar.
“Apa Nona mau ikut makan malam bersama dengan yang lain sebelum pulang ke rumah?”