Bab 10 Sisi Lain Kinar

1112 Kata
“Makan malam?” “Iya makan malam yang diadakan sama Pak Irwan?” kata Ethan mengingatkan. “Yang saya dengar makan malam itu juga sengaja diadakan oleh beliau untuk merayakan peresmian Nona sebagai CEO.” Kinar ingat tentang hal itu tapi ia tidak yakin kalau Irwan masih mau mengadakan makan malam dengan alasan ingin merayakan kesuksesannya. Mengingat saat rapat tadi ia terlihat seolah-olah menyerangnya di hadapan para kepala divisi karena memang Kinar merasa ada yang tak beres dengan kinerja adik tirinya tersebut. “Oh, ya? Tapi kok aku ragu ya kalau dia masih mau adaiin acara makan malam ya?” Kinar bangkit dari tempat duduknya. Lalu melangkahkan ke arah meja kerja untuk merapikan beberapa barang bawaannya. Pria itu itu sempat mengedikkan bahunya, ia sendiri tidak tahu tentang kebenaran acara makan malam tersebut. “Saya sendiri nggak tau sih Non acara makan malamnya jadi atau enggak tapi akan saya tanyakan ke Yuna,” jawab Ethan, ia meraih ponselnya dan mengirimkan pesan kepada rekan kerjanya tersebut. “Sebenarnya jadi atau enggak saya sih nggak peduli karena saya bakalan dateng,” kata Kinar sambil melipat kedua tangannya. “Tapi karena kamu sudah di sini jadi kamu harus ajak saya makan malam ke tempat yang paling kamu rekomendasikan.” “Baik Non, tapi kalau saya boleh tahu Non lagi suka makan apa?” “Apa aja boleh.” “Kalau begitu kita ke restoran yang biasa Pak Yuda datangi saja Non di sana….” “Nggak mau,” sela wanita itu hingga Ethan mengerutkan dahinya. Pria itu seolah sedang mempertanyakan dari jawab Kinar yang terasa kontras dari sebelumnya. “Saya tadi kan sudah bilang kalau saya mau makanan yang kamu rekomendasikan.” “Tapi…” “Gini deh makanan favorit kamu apa? Ada tempat makan langganan, kan?” potong Kinar yang sudah tidak sabar. “Tapi apa Non yakin mau—” Ucapan Ethan terputus ketika wanita itu menarik tangannya untuk segera keluar dari ruangannya. Rasa lapar seakan membuat Kinar menjadi liar dan juga tidak sabaran. Sekitar tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di tempat makan favorit Ethan yaitu sate taichan, yang beberapa waktu sempat viral. “Non yakin mau makan di sini?” tanya Ethan ragu. “Yakin kok emang ada yang salah?” tanya Kinar balik bersamaan dengan pedagang yang membawakan pesanan mereka yaitu sate ayam dan kulit. Bahkan mereka sempat memesan yang menggunakan toping keju mozarella. “Silahkan dimakan, Non.” Kinar mengangguk pelan lalu mulai mencoba makanan yang ada di hadapannya. Rasa pedas dan gurih membuatnya tidak berhenti mengunyah sampai ia mencoba untuk mencicipinya menggunakan lontong juga. “Ethan, ayo ikut makan,” ajak Kinar ketika sadar kalau sejak tadi hanya dirinya yang sibuk makan. “Non Kinar saja yang makan karena sepertinya Nona sangat lapar.” Tapi penolakan Ethan berhasil memancing tingkah jahil Kinar yang dengan sengaja menyodorkan setusuk sate ayam ke arahnya. “Tidak usah, Non,” tolaknya. “Makan atau kita pulang,” ancam Kinar tidak malu kalah. Alhasil Ethan membuka mulutnya menikmati suapan langsung dari Kinar hingga wanita itu tersenyum. “Terima kasih, Non.” “Sama-sama tapi kamu juga ikut makan karena saya juga nggak akan mungkin habis kok,” balas Kinar. Setelah itu Ethan ikut makan bersama Kinar walau ya rasanya masih canggung sedikit, apalagi makannya dengan sang bos. “Oh ya, kalau di luar kantor kamu nggak usah panggil aku Nona tapi panggil nama aku aja,” pinta Kinar. “Tapi saya enggak enak, Non.” “Itu karena kamu enggak terbiasa jadi biar enak biasakan dari sekarang.” “Tapi…” “Kenapa lagi?” potong Kinar dengan tatapannya yang tajam. “Sa—saya merasa enggak pantas panggil nama Non Kinar sebab yang saya tahu usia Nona lebih dewasa dari saya.” Jantung Ethan hampir copot ketika berusaha untuk menjelaskan tentang hal tersebut, apalagi beberapa bahkan hampir setiap wanita merasa sensitif ketika sedang membahas masalah umur. “Apa?” Kinar terkejut, “Memangnya berapa usiamu, Ethan?” “Dua puluh lima tahun, Non.” Wanita itu menggeleng pelan, sorot matanya masih tertuju ke arah Ethan yang ia pikir seumuran dengannya. Mengingat selama ini sikapnya tampak lebih dewasa dari umurnya. “Jangan bercanda, pasti kamu sedang berbohong, iya kan?” Kinar terkekeh. “Saya enggak bohong Non, saya serius.” Pria itu bahkan merogoh kantong sakunya mengeluarkan dompet dan menunjukan kartu identitas miliknya sebagai bukti yang valid. “....” “Memang Non Kinar sebelumnya tidak pernah mengecek profil tentang saya ya?” Kinar menggelengkan kepalanya lemah. Rasanya ia baru saja tertampar oleh fakta yang cukup membuatnya terkejut hingga ia merasa waktu berjalan sangat cepat. Wanita itu seolah terjebak di tubuh dewasa tapi dunianya masih berputar di masa mudanya. “Pantas waktu kamu panggil saya dengan sebutan Ibu, apa aku tampak tua bagimu?” Baru kali ini Ethan melihat sisi yang berbeda dari wanita itu yang tampak tidak percaya diri. Di mana dalam beberapa hari yang ia kenal Kinar tampak mantap dalam mengambil keputusan. Eh tunggu dulu…. Mungkin nggak sih pertanyaan Kinar ini seperti jebakan? “Bukan begitu Non Kinar tapi saya cuman berusaha menghargai kalau….” “Jadi kamu membenarkan kalau saya ini udah tua ya?” Mendadak hati Kinar terasa terluka, bahkan nafsu makannya menurun tapi di waktu yang tepat karena semua makanan yang mereka pesan sudah habis. “Bukan seperti itu Non tapi…” Ethan tampak kebingungan, rasanya jawaban yang keluar dari mulutnya akan menjadi masalah besar. “Non Kinar jangan salah paham ya, tadi itu saya mengatakan hal tersebut karena tidak ingin jika sampai saya bersikap tidak sopan apalagi permintaan Non Kinar tadi itu…” “Kalau begitu tetap panggil dengan nama saya dan usahakan jangan bersikap formal,” kata Kinar. “Hah? Apa, Non?” “Iya.” Kinar mengangguk cepat. “Lagian nih ya dengan cara seperti itu aku jadi merasa kita setara, jauh lebih muda,” jelasnya dengan sudut bibirnya yang tertarik lebar. Bahkan senyuman ini jauh lebih menakutkan daripada tatapan tajam wanita itu hingga Ethan hanya merespons dengan anggukan kepala. “Oh ya, aku juga mau minta maaf ya karena tadi pagi tanpa mendengarkan penjelasanmu, aku hampir saja memutus kontrak kerjamu secara sepihak,” kata Kinar dengan penuh penyesalan. Setelah ia pikirkan kembali tidak seharusnya Kinar mengambil keputusan ketika sedang marah, bahkan Kesalahan Ethan tersebut bukan faktor utama yang membuatnya marah besar. Banyaknya tekanan dari berbagai pihak yang seolah tidak percaya dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya seperti sedang merendahkannya. Apalagi ketika kenangan buruk tentang sang tante yang disangkut pautkan dengan kinerjanya di masa lalu dan hal yang paling membuat Kinar marah adalah kenapa mereka membahas tentang Nathan yang seakan menjadi alasan kalau mendiang kekasihnya akan menjadi batu yang akan membuatnya tersandung di kemudian hari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN