“Sebenarnya Non Kinar tidak seharusnya minta maaf karena apa yang terjadi juga memang kesalahan saya apapun alasannya.”
Wanita itu menatap ke arah Ethan. Pria itu sama sekali tidak berusaha membela diri malah ia sadar betul dengan tindakannya.
“Lagi pula sudah seharusnya saya belajar untuk menyesuaikan diri dan juga lebih bertanggung jawab,” lanjutnya.
“Maksud kamu?”
Ethan tersenyum. “Ini bukan karena saya ingin membandingkan antara Nona Kinar dan Pak Yuda tapi murni saya sadar kalau tidak selamanya saya bekerja tanpa tanggung jawab penuh.”
Wanita itu memiringkan kepalanya, dahinya berkerut seolah ada pertanyaan besar di sana.
“Jadi, dulu itu saya sering sekali izin terlambat datang ke kantor karena beberapa kali Oma jatuh sakit bahkan sampai dirawat. Sebenarnya Pak Yuda juga sudah menawarkan saya untuk menyewa orang agar bisa menjaga Oma tapi Oma nggak mau karena merasa kurang nyaman jika ada orang asing di rumah.”
“Papa melakukan hal itu?”
Ethan mengangguk dengan antusias. “Pak Yuda itu orang yang sangat baik, malah hampir semua staf di kantor sering menerima bantuan dari beliau.”
“Tapi kalau kamu kerja Oma sama siapa? Maksud aku pasti kamu juga kepikiran kan ninggalin Oma sendirian?”
“Kepikiran sih udah pasti Non, tapi ya gimana ya Non Kinar saya juga bingung, apalagi sekarang unit di sebelah apartemen saya kosong jadi saya nggak bisa minta bantuan lagi sama dia juga.”
“Unit sebelah? Tetangga kamu?”
Entah sejak kapan rasanya Kinar mulai tertarik dengan cerita hidup orang lain, termasuk Ethan yang baru ia kenal.
Tapi yang pasti ada perasaan di mana wanita itu ingin meringankan sedikit beban pria yang sudah selalu ia repotkan sejak hari pertama di kantor.
“Ia Non, tetangga sebelah apartemen saya, dia wanita yang sangat baik dan juga perhatian sehingga Oma sempat menganggapnya seperti anak sendiri.”
“Oh, ya? Sampai sedekat ya Oma kamu dan tetangga sebelah apartemen kamu, pasti sekarang Oma bakalan merasa kesepian,” lanjut Kinar.
Pria itu tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Sepertinya begitu, Non.”
“Tapi apa kamu enggak punya sanak saudara lain yang mungkin bisa menjaga Oma?”
Mendadak wajah Ethan berubah menjadi sedikit murung, ia menggeleng pelan.
“Selama ini saya yang mengenal mendiang Papa dan juga Oma Nana selebihnya mereka tidak pernah bercerita apalagi menghadiri pertemuan keluarga setiap bulan seperti orang-orang.”
Kinar mengerutkan dahinya. “Sorry tapi kenapa? Dan apa lo ini anak tunggal? Atau emang punya saudara lain yang…”
Wanita itu berusaha mengorek lebih dalam tentang Ethan yang memang mungkin saja memiliki hubungan darah dengan mendiang mantan kekasihnya.
Karena selama ini ia merasa kalau berada dekat dengan pria itu sama nyamannya dengan berada dekat dengan mendiang Nathan.
“Iya Non, saya anak tunggal.”
Ada perasaan kecewa ketika mendengar jawaban Ethan. Tapi apa yang diharapkan jika memang Ethan memiliki saudara kandung lain?
“Non, saya bayar dulu makanannya dulu ya habis itu kita pulang,” kata Ethan seraya bangkit dari tempat duduknya.
Kinar membalasnya dengan anggukan kepala. Wanita itu tiba-tiba teringat salah satu sahabat dekatnya hingga ia meraih ponselnya.
[Halo Mbak Raya, apa kabar? Aku boleh nggak ya minta bantuan, Mbak?]
Ketika pesan sudah terkirim, Kinar bangkit dari tempat duduknya dan melangkah mendekat ke arah asisten pribadinya.
“Berapa total semuanya? Biar aku ganti,” kata Kinar.
“Nggak usah Non, anggap aja kali ini saya yang traktir.”
“Traktir? Tahu gitu tadi saya pesen yang banyak aja ya sekalian buat orang rumah,” canda Kinar.
“Boleh kok Non, apa mau saya pesenin lagi?”
Siapa sangka kalau candaan Kinar malah ditanggapi serius oleh pria itu.
“Enggak usah saya cuma bercanda kok, ayo pulang.”
Wanita itu melangkahkan kakinya lebih dulu ke area parkir.
“Oh ya, Non.”
“Ada apa? Eh tunggu tadi saya udah minta kamu kan jangan panggil Non atau Nona, terus sama satu lagi jangan terlalu formal saya jadi ikutan kebawa deh.”
“Iya Non…” kedua bola mata Kinar membulat. “Baik, Kinar.”
“Kalau di luar kantor anggap aja aku ini teman atau sahabat mungkin itu juga kalau kamu mau, biar nyaman,” katanya seraya masuk ke dalam mobil.
“Nyaman?” gumam Ethan mengernyitkan dahinya.
“Oh ya, tadi kamu bilang unit sebelah apartemen kamu kosong, kan?”
“Iya.”
“Kalau gitu, bisa kan besok kamu sewa atau beli buat aku?”
“Kalau boleh tahu buat apa kamu sewa apartemen itu, Kinar?”
Ada nada ragu ketika Ethan berusaha menyebutkan nama wanita itu, mengingat status kekuasaannya yang lebih-lebih di atasnya.
“Hmmm… ada deh pokoknya kamu lakukan aja apa yang aku perintahkan ya, lalu besok kabarin aku,” kata Kinar seraya membenarkan posisi duduknya.
Tentu Ethan bertanya-tanya tentang apa yang ingin dilakukan oleh wanita itu. Apalagi apartemen yang disewanya saja bukan apartemen mewah, bahkan sederhana.
Selama perjalanan pulang tanpa sadar Kinar memejamkan matanya dan tepat di sebelahnya ada Ethan serta bahunya yang menjadi bantalan pria itu.
“Sepertinya ada yang baru pulang berpesta untuk merayakan kesuksesannya yang baru saja resmi jadi CEO di Wiratama Company.”
Terdengar nada sumbang ketika Kinar tidak langsung masuk ke kamarnya, melainkan melangkahkan kakinya ke dapur untuk mengambil air minum.
Wanita itu hanya menatap dengan senyuman sinis ke arah Bunga yang sepertinya sengaja menunggu kehadirannya.
“Kinar, tunggu!” tahan wanita paruh baya itu sambil memegangi tangannya kuat.
“Lepas atau aku akan panggil Papa sekarang!” ancam Kinar depan tatapan tajam.
Bunga langsung melepaskan tangan putri tiri yang tidak pernah dianggap.
“Apalagi yang sebenarnya kamu inginkan? Apa belum cukup kamu merebut jabatan yang seharusnya menjadi milik Irwan dan sekarang kamu usik hidup putraku?”
Kinar terkekeh betapa konyolnya ucapan ibu tirinya tersebut? Bahkan ia berpikir tidak pernah merebut apalagi sampai mengusik.
Malah sebaliknya wanita itu dan putranya lah yang sudah merebut dan mengusik hidupnya saat ini.
“Jangan main-main ya kamu sama saya, Kinar!”
Bunga seolah baru saja melayangkan sebuah ancaman kepada wanita muda di hadapannya.
Ia gemas melihat sikap Kinar yang tampak lebih berani, jauh berbeda dari lima tahun yang lalu.
“Memang siapa yang ingin bermain-main?” tanya Kinar sambil meletakkan botol di atas meja.
Kali ini wajahnya berubah menjadi lebih serius, tatapan seakan berusaha merobohkan dinding keberanian Bunga hingga wanita itu mundur satu langkah.
“Pertama aku tidak pernah merebut apapun karena apa yang aku miliki adalah murni milikku, bahkan sejak aku lahir. Kedua aku tidak pernah sekalipun mengusik hidup putramu!” tegas Kinar.
Bunga bergeming beberapa menit sebelum akhirnya mendengar pintu utama yang didobrak kencang oleh seseorang hingga keduanya berlari meninggalkan dapur.