Prolog
Jika bumi berputar mengelilingi matahari, dan bulan selalu bersama bumi. Aku akan selalu ada di sampingmu meski matahari dan bulan mulai membenci bumi.
-xXx-
Laki-laki dengan baju tak rapi itu tengah berdiri sembari sesekali melihat ke belakang dan kanan kirinya untuk memastikan tidak ada seorang pun yang sedang melihatnya. Perlahan-lahan sepuntung rokok keluar dari saku celana abu-abunya, kemudian ia selipkan di bibirnya lalu dibakarnya dengan penuh nafsu.
Tanpa ia sadari seorang gadis dengan kuncir rambut ekor kuda tengah mengekorinya dari balik punggungnya, setelah laki-laki itu merasa aman ia pun berbalik untuk pergi menuju ke rooftop, di mana tempat dirinya dan teman-temannya berkumpul. Mungkin ia harus menundanya sebentar ketika ia harus berurusan dengan gadis di depannya itu.
“Ngapain lo?!” Tanya laki-laki itu sedikit membentak, gadis di depannya itu mulai mengendus sejenak kemudian mengangkat kedua alisnya, yang pasti laki-laki itu sudah mengetahui arti ekspresi itu.
“Dilarang merokok di sekolah, dan lo melanggar peraturan itu,” gadis itu lalu mengeluarkan sebuah notebook kecil dari sakunya. Kemudian mulai menuliskan sesuatu disana, laki-laki di depannya hanya menatap dengan tatapan bingung. Setelah ia selesai menulis diberikannya secarik kertas berwarna kuning itu pada laki-laki yang sedang berdiri di depannya.
Seketika bola mata laki-laki di depannya membulat sempurna, kemudian pandangannya beralih pada gadis yang tengah melipat tangan di depan d**a seraya menyungging senyum.
“Oke, oke, gue bakal buang nih rokok, puas?” laki-laki itu pasrah karena ia sudah tertangkap basah merokok di sekolah. Dan ia pun tahu apa konsekuensinya jika melanggar tata tertib sekolah. Tapi melakukan sesuatu seperti ini sudah menjadi sebuah kewajiban disetiap harin untuknya. Gadis itu hanya mengangguk puas dan membiarkan laki-laki itu pergi.
BK, dua huruf yang begitu bermakna bagi kebanyakan siswa sekaligus menjadi ruang paling menyeramkan di SMA Bina Bangsa, bahkan setiap murid yang sudah pernah masuk kesana dijamin tidak akan mau untuk mengunjunginya lagi. Guru yang menjaga pun cukup kejam untuk membuat siswa angkat tangan atas apa yang telah mereka perbuatan.
-xXx-
"Gimana? Lo bawa, sekarang?" tanyanya dengan mengangkat satu alisnya. Ia sedang melakukan kebiasannya sejak pertama duduk dibangku kelas delapan dulu. Sebenarnya ini semua berawal dari kakak kelasnya yang super bandel mengajarkan cara menjadi lelaki sejati, katanya.
"Beres lah, gue bawa, nih," jawab cowok di depannya sambil menyerahkan sebungkus rokok bermerk itu padanya. Ia pun mengabil alih sebungkus rokok itu sekarang dari tangan adik kelasnya yang baru saja ia suruh. Baginya ini semua adalah cara terbaik untuk melakukan pelanggaran di sekolah. Cowok itu membuka bungkus rokok tersebut lalu mengambil dua puntung rokok dari dalam bungkus.
“Lo mau nggak?” tanyanya pada adik kelasnya itu seraya menyungging senyumnya. Cowok yang berbeda usia satu tahun lebih muda darinya itu tersenyum lalu mengangguk. Tampang cowok nakal ya seperti ini, menciptakan bibit generasi bangsa dengan mode suap rokok. Ia memberikan rokok tadi kepada adik kelasnya itu.
“Makasih, Bang.”
"Sama-sama btw thanks ya, sekarang lo boleh balik."
Setelah adik kelasnya itu pergi ia memngambil seputung rokok dari dalam kotak, kemudian diselipkannya di bibir merahnya kemudian dibakarnya sampai menghasilkan asap putih yang perlahan terbang terbawa angin. Wildan Thaufan, atau lebih akrab di panggil WT cowok yang selalu membuat onar dimanapun dan kapanpun ia berada. Pelanggan tetap ruang BK adalah gelarnya untuk beberapa tahun terkahir setelah berhasil mengisi lebih dari dua puluh pelanggaran dalam satu tahun.
-xXx-
"Pungumuman untuk seluruh siswa kelas sebelas harap berkumpul di aula utama sekarang juga, terima kasih."
Dengan segera semua murid berbondong-bondong menuju ke aula utama untuk memenuhi permintaan dari siapapun yang memanggilnya barusan seluruh murid dengan cepat membentuk barisan yang rapi dan guru bagian kesiswaan pun mulai membuka suara.
"Selamat siang anak-anak, baik tidak perlu bertele-tele, saya akan memberitahukan bahwa kalian tidak akan sekelas lagi dengan teman kalian yang dulu, namun semua kelas akan diacak. Untuk pembagian kelas, kalian bisa melihatnya di mading dekat perpustakaan nanti. Kelas yang baru ini akan diberlakukan mulai besok, jadi hari ini kalian masih menempati kelas yang lama. Baik itu saja yang dapat saya sampaikan, terima kasih." ucap Bu Carloz mengakhiri pidato singkatnya.
Semua murid mulai mengeluh atas keputusan gurunya itu. Memang tiga tahun terakhir mulai diadakan kelas diacak seperti ini, untuk menambah teman dan supaya tidak kuper, itu kata gurunya. Begitu pula dengan Alfa yang mulai dilanda kesedihan karena berpisah dengan sahabatnya. Aisyah Malda Aprezona, sahabat Alfa dari kelas tujuh. Ia seorang yang periang dan pandai dalam pelajaran fisika.
“Sebenernya gue mau protes masalah ini sama Bu Carloz tapi sesuai peraturan sekolah yang baru jadi gue gak bisa nolak,” Ucapnya pada Malda yang berdiri di depannya dengan seulas senyum manis.
“Gak apa lagi, Fa. Kita kan bisa dapet temen baru kalo suasanya juga baru,” Ujarnya seperti laykanya Malda Teguh. Alfa terdiam sejenak mengingat jika ia sekelas dengan Wildan, cowok yang hampir setiap minggunya mendapat death note darinya. Ia tidak bisa membayangkan apa jadinya jika nanti ia satu kelas. Bisa jadi setiap waktu Wildan mendapat death note nantinya.
“Lo satu kelas sama siapa dari kelas kita yang lama?” tanyanya pada Malda yang matanya tengah menyisir keadaan sekitar. Malda menunjuk orang yang berdiri tak jauh dari sana sebagai jawaban. Tidak buruknya juga jika sekelas dengan Genta.
Tak lama berselang, mereka berdua mendengar ada sesuatu yang jatuh dari arah koridor utara. Para siswa-siswi yang masih berada di aula pun segera berbondong-bondong pergi kearah kemana suara itu berasal. Alfa dan Malnda pun memutuskan untuk pergi kesana juga.
“Itu bukannya Wildan sama Reza, ya?” tanya Malda pada Alfa yang berdiri d sebelahnya, menatap intens adegan adu tojos yang dilakukan dua cowok berandal itu. Alfa pun berjalan mendekat namun tangannya keburu dicekal oleh Malda.
“Jangan nekat deh, Fa. Gue gak mau lo ikut kena nanti,” ucapnya melarang Alfa pergi. Ia tahu jika Wildan bukan cowok biasa yang mudah takhluk dengan namanya peraturan begitu pula dengan Reza yang notabennya anak karate yang terkenal garang dan tidak mau mengalah.
“Kalo gue biarin, itu dua anak b*****h bisa kayak daging kornet nanti,” ucapnya membela. Tidak ada yang berani melerai mereka berdua sekarang, dan satu-satunya yang berani adalah Alfa sebagai juru death note. Gadis itu pun meyakinkan sahabatnya itu lalu pergi melerai pertengkaran itu.
“Udah, udah,” ucapnya sebagai penengah diantara mereka. Siswa laki-laki yang ada di sana pun ikut membantu menenangkan keadaan. Alfa melihat Wildan dan Reza bergantian, wajahnya penuh dengan lebam yang cukup parah. Apalagi Wildan yang terlihat seperti hewan yang habis tercabik-cabik wajahnya.
“Kalian itu udah SMA bukan anak TK lagi yang suka ribut cuma karena hal yang sepele, terutama lo Wildan, udah berapa kali gue ingetin, jangan buat ulah seolah-olah sekolah ini punya bokap lo,” ucapnya dengan sedikit emosi. Wajahnya menatap Wildan dengan kilatan emosi yang terpancar jelas dari matanya.
“s**t! Lo gak tahu apa-apa tentang masalah gue, gak perlu ikut campur kalo lo gak mau kena batuhnya, jangan mentang-mentang lo anak kesayangannya BK lo bisa seenaknya ngatur gue!” teriaknya penuh emosi lalu meninggalkan Alfa disana. Gadis itu kini benar-benar benci pada Wildan. Emosinya tidak bisa dikontrol sendiri, selalu marah-marah dan jika berkata tidak pernah disaring, itu semua sangat Wildan.
Alfa berjalan mendekati Malda yang menatapnya dengan raut bersedih. Wildan memang memiliki sifat keras kepala dan mudah emosi, dan Malda yakin kini Alfa sangat membenci Wildan.
“Dia emang cowok b******k,” umpatnya seraya menatap kerumunan siswa yang mulai berhamburan. Karena acara gulat sudah selesai. Malda mencoba menenangkan Alfa yang sudah terbakar emosi. Yang dilakukan Wildan tadi cukup membuat Alfa malu karena diteriaki di depan umum seperti itu, tapi ini memang konsekuensinya jika ia mencoba menegakkan peraturan di sekolah dan melawan para pembuat ulah.
“Kadang kala kita harus ngalah sama orang lain yang nyatanya gak suka sama kita, tapi mengalah juga belum tentu kalah, Fa, dan gue yakin pasti dia gak akan selamanya kayak gitu,” ucapnya seraya menepuk pundak Alfa pelan. Gadis itu hanya mengangguk lalu menyungging sedikit senyum.
“Gitu dong, baru sahabat gue,” Alfa tersenyum sedikit lebih lebar. Malda memang orang yang selalu ada untuknya selama ini. Menggantikan seluruh teman yang ada di dunia ini menjadi satu orang yang paling mengerti dirinya.
-xXx-