Chapter 1

1684 Kata
Perasaan seseorang tidak seperti matematika yang hanya memiliki satu jawaban - Math -xXx- Sekolah cukup sepi hari ini, jadi Alfa bisa mendapatkan bangku yang dia ingin kan di kelas. Setibanya di kelas baru, Alfa langsung meletakkan tasnya dan pergi menuju ke perpustakaan yang terletak di lantai dua gedung barat. Sementara itu, Wildan hanya duduk termenung di rooftop sambil berpikir apa yang akan ia lakukan setelah ini. Troublemaker adalah jati dirinya sejak kelas sepuluh. Flashback on "Ayo adik-adik silahkan baris menjadi tiga bersab, kalo tidak baris dengan baik akan ada hukuman yang akan menunggumu," ucap seorang anggota OSIS dari depan dengan menggunakan microphone. Hanya orang yang mau mati saja yang berani membantah perintah kakak OSIS. Disana ada seorang cowok dengan sok coolnya duduk di bawah pohon kelengkeng yang ada di pinggir lapangan. "Hei kamu! Kenapa tidak berbaris?! Mau cari mati?!" tegas seorang anggota OSIS yang berteriak dari ujung. Cowok itu hanya menatap dengan datar dan dingin. Setelah itu salah satu anggota OSIS menghampirinya dengan tatapan berapi-api. "Kenapa lo gak baris, ha?!" tanya seorang cowok yang bername tag Bima J. K. "Suka-suka gua lah!" jawab Wildan sambil menyungging senyum miring. "Lo berani sama gua?!" tantang Bima dengan tegas. Ia sudah geram akan tingkah anak belagu macam itu. "Berani, kita sama-sama makan nasi ngapain gue harus takut sama lo," jawab Wildan mantap, tanpa adanya sedikit keraguan. "Lo nyolot ya?!" gertak Bima sambil melayangkan satu bogeman mantap kemudian segera ditangkis oleh Wildan, yang tingginya pun hampir sama. "Eitss... Jangan main pukul dulu, sabar bro, slow down," ucap Wildan enteng sambil menghempaskan tangan Bima yang hendak memukulnya. Wildan pun melangkah mendekat ke Bima. "Lo kakak kelas kan, jadi hargai dan hormati adik kelas lo walau itu cuma beberapa persen dari jidat lebar lo itu," bisik Wildan di telinga Bima. Kemudian berlalu menuju kelasnya. "s**t!" umpat Bima yang masih bisa terdengar oleh Wildan. Dan itu membuat senyum kemenangan terukir di wajah Wildan. Flashback Off Alfa mulai memincingkan matanya saat melihat pemandangan yang begitu aneh dari atas rooftop. Ia melihat Wildan menerima sesuatu dari Ardi a.k.a Ardi Yudha sahabat Wildan sejak kelas tujuh. Rasa penasaran Alfa sudah memenuhi otaknya, akhirnya ia memutuskan untuk mnghampiri dua orang yang mencurigakan itu. "Nih, kapan lo tobat, Wil?" tanya Ardi sambil memberikan sebungkus rokok pada Wildan. Ardi tahu sebenarnya Wildan bukanlah seseorang yang seperti ini. "Gak tau," jawab Wildan seadanya sambil menyulut rokok yang sudah ada di tangannya itu. Ardi hanya memutar bola matanya malas. Ia tahu tepatnya mengapa Wildan bisa berubah seratus delapan puluh derajat seperti ini. Dari jauh, Alfa sudah mempergoki dua sahabat itu. Apa Wildan yang asli itu lebih baik dari yang ini? Merasa di perhatikan sejak tadi Wildan mulai menebarkan pandangan ke segala arah dan terhenti di satu titik di mana Alfa berdiri. "Ngapain lo?!" tanya Wildan sambil mengangkat satu alisnya kemudian menghembuskan asap dari mulut dan hidungnya. "Gu ... Gue lagi--" belum selesai Alfa bicara sudah dipotong oleh Ardi. "Lo temennya Malda kan?" potong Ardi sambil menunjuk ke Alfa yang hanya tersenyum kikuk di sana. "Lo kenal dia?" tanya Wildan pada Ardi, karena ia pun tak pernah melihat Alfa sebelumnya. Ardi mulai berpikir sejenak kemudian kembali membuka suara. "Iya, gue kenal dia. Kalo gak salah dia temennya Malda sekaligus temen SD gue, ya kan Fa?" tanya Ardi pada Alfa, yang hanya diangguki oleh Alfa. "Fa? Nama dia ... Fafa? ... Daffa? ... Zafa? Apa ... Sofa?" tanya Wildan dengan gaya oonnya. Alfa mulai merasa bahwa ia sedang diejek secara tidak langsung oleh Wildan. "Enak aja ngatain dia sofa, namanya itu Alfa lebih tepatnya Alfa Siregar." jawab Ardi dengan benar dan tepat. Dan Wildan hanya menjawabnya dengan ber-oh ria. -xXx- "Selamat pagi anak-anak, mungkin kalian sudah tahu saya terutama untuk Wildan ya. Perkenalkan nama saya Carlozena Pinata atau biasa di panggil Bu Carloz. Saya adalah wali kelas kalian yang baru," ucap Bu Carloz yang diakhiri oleh senyum manis beliau. Wildan hanya menatap datar dan dingin menurutnya tidak ada yang istimewa, hanya hal membosankam yang ada. "Baik, sekarang kita akan memilih ketua kelas dan juga sekretarisnya. Langsung saja ya, untuk ketua kelasnya adalah Wildan dan sekretarisnya adalah Alfa," ucap Bu Carloz yang sukses membuat Alfa serangan jantung seketika. Alfa pun mengacungkan tangan dan langsung di tanggapi oleh Bu Carloz. "Iya, ada apa Alfa?" tanya Bu Carloz lembut. "Bu saya tidak setuju, jika saya menjadi sekretaris dan saya juga tak ingin memiliki ketua kelas seperti Wildan," ujar Alfa sambil menatap Wildan saat menyebutkan namanya. "Kenapa Alfa?" tanya Bu Carloz ramah. "Karena menurut saya jadi sekretaris itu membosankan, Bu. Tugasnya hanya menulis dan menulis itu pun tak ada bagus-bagusnya jadi sekretaris. Saya juga tidak setuju dengan ketua kelasnya karena dia itu troublemaker dan juga tukang bolos Bu," ucap Alfa panjang lebar yang membuat semua murid di kelas mulai berbisik-bisik mengenai masalah ini. Bu Carloz tampak berpikir, namun salah satu murid juga mengacungkan tangannya yaitu Jessy Felonesia a.k.a fan fanatik Wildan. "Iya Jessy?" tanya Bu Carloz sambil mengangkat satu alisnya. "Saya gak setuju bu sama Alfa, saya ingin ketua kelasnya tetap Wildan saja, tapi kalo sekretarisnya jangan Alfa Bu, mending saya saja kalau Alfa tidak mau," ucap Jessy dengan nada memuja saat menyebut nama Wildan. Oh, apakah Wildan itu dewa? Sampai dipuja seperti itu. "Baik. Keputusan saya tetap dan tak dapat diganggu gugat." ucap Bu Carloz dengan nada final. Alfa hanya mendengus kesal dan berbalik dengan Wildan, ia hanya tersenyum penuh arti. Kringgggg.... "Well, pelajaran sudah selesai, kemasi buku kalian dan untuk Alfa dan Wildan ayo ikut ibu." ucap Bu Carloz setelah itu berjalan keluar kelas sambil membawa tas jijing berwarna merah. Alfa hanya menurut saja meski logikanya ingin menolak tapi perasaannya sudah mengambil alih semuanya. Dan Wildan, ia tetap sama, selalu membawa sebungkus rokok kemana-mana yang ia sembunyikan di balik saku celana abu-abunya. -xXx- "Silahkan duduk," pinta Bu Carloz pada dua insan yang sedang menatapnya sekarang. Alfa hanya diam dan menuruti kemauan wanita di depannya itu. Mereka bertiga diam sesaat sampai Wildan membuka suara. "Saya di sini cuma disuruh duduk diem kayak gini doang?" tanya Wildan sambil menatap mata Bu Carloz. "Jaga bicaramu Wildan! Kamu ingin di hukum seperti dulu?" tanya Bu Carloz dengan tegas dan lugas. Hukuman? Hukuman apa? Flashback On "Wildan! Apa kamu tak memperhatikan apa yang saya ajarkan tadi?!" suara bariton itu membuat perhatian seluruh murid tertuju pada Wildan yang sedang tidur di bangkunya dengan earphone terpasang di kedua sisi telinganya. Untuk menyadarkan Wildan, Ardi segera menyikut Wildan, dan akhirnya Wildan pun terbangun dari tidur siangnya, yang diganggu oleh Ardi. "Apaan sih lo?! Gua enak-enak tidur malah lo bangunin, b**o!" umpat Wildan pada sahabatnya dan tak sadar semuanya sudah terekam jelas oleh mata Pak Ridwan a.k.a guru fisika tergalak sesantero jagad sekolah. "Wildan! Ayo ikut saya! Dan untuk yang lainnya kerjakan soal halaman 55, jika saya kembali kesini semuanya harus sudah selesai!" ucapnya tegas tanpa adanya sedikit keraguan untuk mengampuni seluruh murid-muridnya. "Baik pak," ucap seluruh murid di kelas itu sambil mulai mengerjakan sekolah. Pak Ridwan dan Wildan berjalan menuju arah ruang BK yang terletak di samping ruang kepala sekolah, gedung timur. Ketukan pintu itu sudah dibunyikan, berarti Wildan sudah berada di ambang pintu masuk neraka namun di dunia. "Ada keperluan apa, Pak Ridwan?" tanya Bu Carloz ramah. "Ini Bu, dia tidak mendengarkan saat saya menerangkan pelajaran di depan kelas justru ia tidur sambil mendengarkan lagu dan satu lagi bu, dia mengumpat pada teman sebangkunya," terang Pak Ridwan pada Bu Carloz yang hanya diangguki oleh beliau. "Baiklah pak, saya akan mengurus anak ini bapak bisa kembali ke kelas bapak," ucap Bu Carloz ramah dan diseratai senyum yang memperlihatkan lesung pipitnya. "Terima kasih Bu Carloz" ucap Pak Ridwan lalu berjalan keluar dari ruang BK. "Apa benar yang dikatakan oleh Pak Ridwan?" tanya Bu Carloz mencoba seramah mungkin. "Hmm," ucap Wildan balik tanya, kepala Bu Carloz sudah mulai memanas seketika. "Sudah berapa kali ibu bilang, kamu itu harus menjaga etika dan lisan mu, Wildan! Dan satu lagi, nama kamu itu sudah menjadi penghuni tetap di buku hitam ini, apa kamu masih mau memperbanyak nama itu?" tanya Bu Carloz dengan tegas sambil menujuk buku bersampul hitam di depannya. Wildan hanya memutar bola matanya malas. "Kenapa ibu selalu menyuruh saya untuk melakukan apa yang ibu mau, orang tua saya saja tidak mengengkang saya seperti ini. Apa ibu menganggap saya seperti hewan ya--" "WILDAN!!" bentak Bu Carloz sekuat tenaga, semua kesabarannya sudah habis untuk meladeni seorang yang keras kepala seperti Wildan. "Kamu harus di hukum, agar kamu jera akan apa yang kamu perbuat " ucap Bu carloz yang mulai bisa menetralkan kesabarannya. Wildan masih terdiam sambil sibuk dengan pikirannya sendiri. "Hukuman yang cocok dengan kamu adalah membersihkan seluruh toilet di sekolah ini, tanpa terkecuali!" ucap Bu Carloz sambil menekankan pada kata 'tanpa terkecuali'. "Oke." jawab Wildan singkat kemudian beranjak dari kursi dan pergi keluar ruangan. Flashback Off "Ibu memiliki tugas untuk kalian, minggu depan akan ada pekan kerajinan, ibu harap kelas ibu akan memamerkan sesuatu yang berbeda dari yang lain," ucap Bu Carloz sambil tersenyum ke arah Wildan dan Alfa secara bergantian. "Baik bu, kami akan mengusahakannya sebaik mungkin," jawab Alfa sopan sambil tersenyum ke arah Bu Carloz. "Oh kalo begitu, saya serahkan semuanya kepada kalian berdua ya." ucap Bu Carloz senang. Wildan hanya diam sambil menatap Alfa sejak tadi, yang terus berbicara sopan. "Baik bu, kalau begitu kami permisi dulu karena ini sudah masuk jam pelajaran," pamit Alfa sesopan mungkin yang hanya dijawab anggukan oleh Bu Carloz. Lalu mereka berdua pun beranjak dari kursi dan pergi meninggalakan ruang BK. "Kenapa sih lo harus ngomong sesopan kayak gitu tadi?" tanya Wildan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Karena kita itu harus ngejaga etika dan lisan saat bersama orang lain apa lagi sama orang yang lebih tua dari kita, kalo lo mah mungkin gak ngerti yang begituan," ucap Alfa sambil menoleh ke arah Wildan yang saat ini berjalan di sampingnya. "Menurut lo, gue ini pantes gak dapetin cewek yang sebaik diri lo?" tanya Wildan yang langsung ditoleh oleh Alfa. "Hmm mungkin nggak, karena di dunia ini lagian siapa yang mau sama troublemaker kayak lo? Gak ada kan?  kecuali kalo yang begituan itu mah banyak." jawab Alfa sekenanya, yang hanya di jawab anggukan oleh Wildan. -xXx-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN