"Bahagia gak harus kita yang berkorban demi orang lain, kan?"
-xXx-
Jam killer sudah berakhir setelah bel baru saja berbunyi dan sekarang adalah mata pelajaran yang paling membosankan. Pak Muriadi a.k.a guru bahasa yang selalu saja membuat semua murid terpulas dalam mimpi.
Beliau selalu saja menerangkan semua materi dengan baik tanpa ada satu pun yang terlewat, beliau juga memberikan tugas yang sedikit itu pun tak membuat semua muridnya pusing.
Guru berkacamata ini sangat suka pada sikap Alfa yang selalu sopan dan juga rendah hati. Pak Muriadi adalah guru idaman semua murid di SMA Garuda.
"Fa, lo gak mau ikutan tidur nih?" tanya Rachel Velinda a.k.a teman sebangku Alfa yang baru.
"Nggak, gue mau nulis materi di depan, lo tidur aja dan semoga mimpi indah," ucap Alfa sambil tersenyum ke arah Rachel kemudian kembali memperhatikan papan tulis.
"Ya udah" ucap Rachel kemudian kembali keposisi sebelumnya, tidur.
Dari semua murid yang tertidur hanya ada beberapa murid yang masih terjaga. Jika Alfa sibuk dengan catatan bahasa, Wildan malah sedang merayu kelima pacarnya. Sinta Meriana, seorang mahasiswi semester tiga jurusan ilmu pendidikan; Angelona, seorang siswi kelas tiga SMP; Ferronica Putri, seorang siswi kelas satu SMA; Abella Naura, seorang model majalah dan yang terakhir Viranita seorang mahasiswi semester lima jurusan pertanian.
Back to earth, Wildan tidak menjadi seorang yang kualahan tentang semuanya, bahkan sebelumnya ia pernah berpacaran dengan salah satu anak dari seorang pengusaha terkenal.
Alfa masih sibuk mencatat sampai terdengar bunyi dering ponsel yang berpusat di sebelah bangku Alfa. Wildan. Ia tahu jika bunyi ponsel itu adalah milik Wildan namun Pak Muriadi tidak menghiraukannya sama sekali bahkan melirik saja tidak.
Alfa hanya mendengus kesal melihat kelakuan Wildan, Alfa tak menyukai satu hal pun dari Wildan. Ia berharap agar ia tak akan pernah bertemu seorang Wildan Thaufan lagi.
Bel sudah berbunyi menandakan pelajaran sudah berakhir dan jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Semua murid satu persatu pergi meninggalkan kelas dan mengabaikan seluruh materi di papan tulis. Kecuali, Alfa dan teman sebangkunya yang masih tertidur dan mulai mengigau tentang hal yang aneh.
"Wildan ... Gue suka sama lo," igau Rachel sambil tersenyum di tidurnya. Alfa hanya menatap temannya itu dengan muak. Wildan Wildan Wildan kenapa gak Manurios ato Cameron Dallas sih?.
Alfa segera membereskan semua bukunya kemudian berdoa dan tak lupa ia membangunkan teman sebangkunya itu.
"Hel? Rachel? Ini udah pulang, lo mau nginep disini?" tanya Alfa berulang kali sambil menggoyang-goyangkan tubuh Rachel namun yang dibangunkan tak kunjung bangun.
1 detik
5 detik
10 detik
"Gue ngantuk lo pulang aja dulu" ucap Rachel seraya mengkibas-kibaskan tangannya, mengusir.
"Oke kalo itu mau lo, gue pulang dulu ya." pamit Alfa yang hanya diangguki lemah oleh Rachel.
Alfa sebenarnya tak tega meninggalkan Rachel tapi ia juga tidak ingin pulang terlalu larut dan ia pun memutuskan untuk pulang terlebih dahulu dan meninggalkan Rachel dengan mimpinya.
-xXx-
Ia masih memandangi foto dua orang yang penting dalam hidupnya yang terpampang jelas disana. Kejadian dua tahun yang lalu membuat ia harus tegar menjalani hidup.
"Alfa, makan dulu nak!" teriak seseorang dari bawah yang membuat Alfa harus mengusap jejak air matanya.
"Iya pa, bentar!" jawab Alfa kemudian ia bergegas mencuci muka dan pergi ke ruang makan, tempat semua orang berkumpul.
Alfa dan sang ayah duduk di meja makan. Ia melihat banyak makanan yang tersedia namun ia merasa ada yang hilang saat itu juga.
"Pa, Elfa kemana?" tanya Alfa yang dari tadi tak melihat Nadine Elfa a.k.a kembaran Alfa.
"Oh itu, tadi Elfa pamit untuk pergi sebentar tapi jam segini belum pulang," ucap Bambang Widyantoro a.k.a Ayah Alfa. Alfa hanya menjawab dengan ber-oh ria.
Nadien Elfa sebenarnya adik Alfa yang lahir hanya selisih lima menit. Elfa adalah anak yang aktif dan ceria. Namun, setelah kejadian dua tahun yang lalu membuatnya menjadi seorang yang berantakan bahkan ia sampai dijuluki bad girl oleh teman seangkatannya.
Dan mereka pun kembali menikmati makanan yang telah tersedia.
-xXx-
Alfa Pov
Aku segera berlari menuju kelas Malda yang berada lumayan jauh dari kelas ku. Saat aku bertemunya di depan kelas aku segera menariknya menuju taman di samping kelasku.
"Bentar-bentar ngapain lo narik narik gue, Alfa?" tanyanya sambil mengangkat kedua alisnya. Dengan sigap aku mengeluarkan sebuah kotak yang membuat aku menjadi seperti ini.
"WHATT?! Lo punya secret admirer ya? Cie cie," tanya Malda dan aku pun menjawab dengan mengendikkan bahu saja. Aku mulai curiga terhadap seseorang.
Flashback On
Aku baru saja tiba dan dengan segera aku berjalan menuju ke kelas agar mendapatkan meja yang aku inginkan, tak sengaja aku lihat dari jauh ada seseorang yang berlari keluar dari kelas ku.
Dengan cepat aku melangkahkan kakiku. Sesampainya disana aku tak melihat seorang pun kecuali kotak berbentuk kubus berwarna peace yang berada di atas meja yang biasa aku duduki.
Aku segera membukannya, sebuah bolpoin hitam yang bertuliskan namaku dan juga sepucuk surat berwarna violet.
This for you
Semangat buat ngerjain tugas kerajinan
Secret admirer 'XI'
Aku sempat ternganga ketika membaca surat ini tapi mengapa dia tahu jika aku ada tugas untuk pameran kerajinan. Ada satu orang yang mungkin tahu.
Flashback Off
"Intinya lo punya secret admirer tapi lo gak tau siapa dia?" tanyaynya yang hanya aku jawab anggukan.
"Lo mau cari tau?" tanyanya lagi dan kali ini aku hanya mengendikkan bahu.
"Menurut gue sih gak begitu penting, jadi abaikan aja lah," ucapku sambil mengambil kotak itu dari tangan Malda dan memasukkan ke saku ku.
"Lo kok gitu sih, fa. Pokoknya lo wajib cari tau kalo gak lo harus traktir gue di mall," ucapnya yang membuatku geleng-geleng kepala. Sungguh rumit.
"Ya udah deh" ucapku menyerah kemudian meninggalkan Malda yang masih berdiri disana. Aku gak begitu yakin kalo yang ngasih itu dia.
-xXx-
Author Pov
"Dap...dapo, lo nanti ke cafe biasa gak?" tanya Wildan pada Dapo a.k.a Daffa Levarindo teman sekelas Wildan.
"Iyalah bro, emang ada apa?" jawab Dapo sambil meletakkan sebuah kursi di samping meja di sudut ruangan.
"Gue butuh saran dari lo," jawab Wildan lalu melihat Dapo yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Masalah cewek? Kenapa lo gak minta saran ke Ardi? Kenapa harus gue?" tanya Dapo bertubi-tubi sambil meminum segelas moccacinno latte miliknya.
Wildan berdeham, "ya gue cuma mau cari refrensi aja, dap," jawab Wildan sambil mengambil sepuntung rokok dari sakunya.
"Lo masih ngerokok, wil? Gila lo!, nanti kalo ketemu Bu Carloz ato Pak Ridwan gue jamin lo langsung bersiin seluruh toilet di sekolah ini!" tegas Dapo sambil menatap temannya yang dari tadi tak bergeming sambil menatapnya.
"Lo kok rempong banget sih dap, kayak emak-emak," protes Wildan sambil membakar ujung rokok yang sudah ada di tangannya.
"Yah itu kan demi kebaikan lo juga, lagian lo masih punya stok cewek kan, jadi ngapain lo mau cari cewek lagi?" tanya Dapo sambil mengangkat kedua alisnya.
"Gue dah bosen sama stok cewek yang gua punya, pada rempong semua, mungkin nanti sore gue bakal putusin mereka semua kecuali Naura," jawab Wildan sambil menghembuskan asap putih pekat dari hidung dan mulutnya.
"Kenapa Naura?" tanya Dapo sambil menatap Wildan miris. Penuh keprihatianan. Nih, anak bener-bener gak waras.
"Ya diakan model jadi cantik bisa dibuat cuci mata habis seharian belajar di sekolah, ya gak?" ucap Wildan sambil menyungging senyum kepada sahabatnya. Dapo hanya memutar matanya malas lalu meminum moccacinno lattenya lagi.
"Belajar? Belajar apa lo? Gue kira lo cuma ngerokok, nongkrong itu doang di sekolah terus pulang," tanya Dapo lalu diberi senyuman oleh Wildan.
"Belajar mencari cewek cantik buat dijadiin pacar," jawab Wildan sambil menghembuskan asap.
"Ya Allah, aneh lu" ucap Dapo sambil memberikan tatapan aneh pada Wildan dan Wildan hanya tersenyum tanpa dosa dan melanjutkan aksi merokoknya tadi.
-xXx-