Perbedaan itu menyatukan bukan memisahkan, seperti aku dan dirimu - sweet
-xXx-
Tinggal hari ini saja kesempatan Alfa untuk memperjuangkan nasib kelasnya, ia memutuskan untuk membuat benda pajangan dengan bahan dasar akar wangi dan anyaman bambu.
"Fa, lo udah siapin semuanya?" tanya Dapo yang duduk disebelah Alfa.
"Udah dap, tinggal ngebentuk aja," jawab Alfa sambil memberikan satu kresek besar yang berisi akar wangi.
Lalu mereka pun mulai mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan oleh Wildan juga. Alfa senang memiliki teman seperti Dapo karena dia rela membantu meskipun yang lain hanya mengabaikan saja.
Sementara itu, Wildan, Ardi dan Pandego tengah nongkrong di rooftop, Ardi hanya mengacuhkan kedua temannya yang tengah merokok sambil melihat majalah model yang telah dibeli Pandego kemarin.
"Wizz.. gilak bodynya, pingin dah gue punya pacar kayak gini, lumayan buat cuci mata abis seharian suntuk di sekolah," ucap Pandego sambil menunjuk model wanita di majalah itu.
"Mana? Mana? Coba gue lihat!" ucap Wildan sambil sibuk meletakkan majalah yang ada di tangannya. Kemudian mereka berdua menatap model itu dengan nafsu yang akut.
"Lo tuh gak bosen apa liat kayak begituan, istighfar," ingat Ardi sambil menggeleng gelengkan kepala melihat tingkah temannya itu.
"Gila lu nyet, ini kesempatan emas bro kalo udah ada Bu Carloz itu udah jadi kesialan, inget tuh," ucap Pandego sambil menghembuskan asap putih pekat lewat hidung dan mulutnya.
"Serah lu," ucap Ardi kemudian meninggalkan Wildan dan Pandego yang masih sibuk dengan majalah di tangannya.
"Wil, kenapa noh si Ardi?" tanya Pandego sambil meletakkan puntung rokoknya.
"Lagi pms kayaknya" jawab Wildan sekenanya. Pandego hanya mengendikkan bahu kemudian kembali melihat majalah yang ada di tangannya.
-xXx-
Alfa dan Dapo sudah meyelesaikan kerajinan yang harus ia buat untuk pameran besok.
"Thanks dap, udah dibantuin," ucap Alfa sambil menatap hasil kerjanya yang ia susah buat bersama Dapo sementara Wildan tak tau dimana batang hidungnya.
"Iya gak papa kok fa, kan sesama teman harus saling membantu," balas Dapo sambil tersenyum ke arah Alfa. Alfa hanya tersenyum kecil.
"Eh menurut lo kerajinan ini enaknya gue bawa pulang apa ditaroh di kelas aja?" tanya Alfa pada Dapo yang kali ini sedang mengambil ponsel dari sakunya.
"Hmm mungkin lo taruh aja di sekolah biar lo gak ribet besok bawanya," jawab Dapo.
"Iya juga ya, oke deh kalo gitu, gue duluan ya dap," ucap Alfa sambil meletakkan kerajinan itu di atas meja lalu berjalan mendahului Dapo.
"Oke, hati-hati fa jangan sampe jatoh!" teriak Dapo dari dalam kelas. Dan Alfa hanya tersenyum dan mengacungkan jempolnya.
-xXx-
Hari ini papa Alfa mengajaknya pergi ke rumah almarhum kakek Alfa yang cukup jauh jaraknya dari rumah, untuk menghentikan rasa bosan yang melandanya ia berfoto didekat taman disini yang dibantu oleh De Tok a.k.a. tukang kebun yang biasa membersihkan taman ini, dan mempostingnya di i********: miliknya.

❤ 1.456
alfasiregar Diam bukan berarti dia baik
396 Comment
malda_aprezona yah gue kagak diajak
rachel.velinda04
your word can make me vomit now
alfasiregar you can vomit now @rachel.velinda04 maap da lo kesini aja gak papa gue tungguin kok @malda_aprezona
malda_aprezona ogah, gue mending bocan aja dari pada nyamperin lo
alfasiregar up to you
wildanthaufpan21 cantik banget dah @alfasiregar
alfasiregar maksud lo??
wildanthaufpan21 nying sorry fa, dihack!
alfasiregar oh gitu
wildanthaufpan21 jangan ngefly fa
alfasiregar hmm lagian siapa yang mau ngefly @wildanthaufpan21
Setelah membaca komentar yang ditujukan padanya ia pun segera
memasukkan ponselnya di sakunya kemudian masuk ke dalam rumah.
Ia melihat Elfa sedang mengotak atik ponselnya di pojok ruangan, kemudian Alfa mengahampiri Elfa yang sedang sibuk itu.
"Elfa? Kamu lagi ngapain? Tumben kok sibuk sendiri," tanya Alfa yang mencoba mengajak Elfa mengobrol dengannya.
"Keppo deh," jawab Elfa sambil melihat Alfa sekilas kemudian kembali menatap ponsel yang masih setia berada di tangannya.
"Harus lah, kamu lagi ngapain sih kakak jadi keppo nih, kasih tau dong," bujuk Alfa sambil sesekali mencuri pandangan terhadap layar ponsel milik Elfa.
"Kakak ini ngapain sih, urusin urusan kakak sendiri aja jangan campurin urusan orang lain," ucap Elfa tegas sambil melempar tatapan membunuh pada Alfa.
Alfa tertunduk lesu ia berjalan menjauhi Elfa yang tengah menatap muak dirinya, ia memilih untuk pergi ke bukit belakang rumah karena hanya disana ia bisa melepaskan semua uneg-uneg yang selama ini ia pendam.
Bangku panjang itu adalah saksi bisu semua tangisan Alfa selama dua tahun ini, setiap ia pergi ke rumah kakeknya, ia selalu menangis disana. Ia kecewa, menyesal, sedih, marah semua bercampur aduk menjadi satu.
Terkadang ia fikir ia tak ingin dilahirkan di dunia ini, dan selama ini ia mencoba bertahan meski setiap detik ia selalu teringat akan kejadian itu saat semuanya berubah seratus delapan puluh derajat.
Pernah sekali saat ia terpuruk, pisau dapur hampir menjadi sasaran Alfa untuk bunuh diri namun rencananya itu digagalkan oleh ayahnya.
Bertahan di atas batu karang hanya membuat diri bertambah terpuruk dan pada akhirnya pun akan mati juga.
-xXx-
Kelas terlihat sepi dan hanya ada beberapa barang disana kecuali ... kerajinan yang akan dipamerkan hari ini, Alfa mencari ke seluruh perjuru kelas namun tak ada.
Ia ingat betul bahwa kerajinan itu ia letakkan di atas meja di dekat mading kelas, namun sekarang tidak ada bahkan tidak meninggalkan jejak sama sekali seperti sulap yang bisa menghilang seketika.
Alfa mulai khawatir akan nasib kelasnya ini, bagaimana kalau itu hilang? Bagaimana kalau kelasnya didiskualifikasi? Bagaimana jika Bu Carloz marah? Bagaimana kalau teman sekelasnya membencinya karena kecerobohan ini? Semua pertanyaan itu berkecambuk di pikiran Alfa.
Ia tak ingin menjadi seseorang yang tidak bertanggung jawab dan selalu meremehkan sesuatu seperti Wildan.
Alfa segera mengahampiri salah satu temannya yang baru saja datang. Dengan panik ia menanyakannya namun tidak ada yang tahu kemana perginya benda itu.
Alfa pergi ke luar kelas dan berlari menuju ruang seni yang tak jauh dari kelasnya. Setelah sampai, ia pergi ke bagian bahan seni yang terletak di samping lemari tua yang sudah lapuk disana.
Tidak ada sisa anyaman bambu, tidak ada sisa akar wangi ataupun bahan yang bisa digunakan, semua telah habis. Hanya tersisa daun kelapa muda yang sudah berwarna kecoklatan disana. Alfa mulai bingung apa yang harus ia perbuat sekarang.
Tujuannya hanya satu sekarang, Wildan. Ia ingin menanyakannya pada Wildan. Mungkin ia tahu masalah ini.
-xXx-
Matanya menatap bertanya tanya pada gadis yang sedang berdiri di depannya ini. Wajahnya terlihat memerah seperti tomat tapi bukan blushing, Wildan tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
"What?" tanya Wildan pada Alfa yang sedang berdiri di depannya. Rooftop sekarang cukup sepi jadi Alfa bisa marah dan menanyakan hal ini sampai tuntas.
"Lo tahu dimana kerajianan yang gue buat sama Dapo kemarin?" tanya Alfa pada Wildan. Tatapannya belum berpindah dari wajah Wildan yang terdapat bekas lebam disana, tapi Alfa tidak mementingkan itu yang terpenting sekarang adalah nasib kelasnya.
"Oh kerajinan yang bentuknya mirip bebek di atas meja deket mading?" tanya Wildan pada Alfa yang tengah menatapnya seperti banteng yang akan memakannya hidup-hidup.
"Bebek? Lo kira-- tunggu lo tahu dimana kerajinannya?" tanya Alfa kali ini nada bicaranya naik beberapa oktaf yang membuat Wildan menaikkan kedua alisnya.
"Gue tahu, kemarin gue ambil terus gue kasih ke kakek gue, kenapa emang?" tanya Wildan lagi namun kali ini ia memajukan satu langkah kakinya. Alfa marah, tidak Alfa sangat marah pada Wildan.
"WILDAN! LO TAHU GUE AMA DAPO TUH UDAH BUAT ITU SUSAH SUSAH DAN KENAPA LO KASIHIN ITU KE KAKEK LO, b**o!!!" teriak Alfa tepat di depan muka Wildan. Wildan terdiam ia memikirkan ulang kata-kata Alfa tadi.
"Tunggu, jadi kerajianan itu punya kelas kita? Kenapa lo gak ngomong Alfa yang cantik? Maaf ya kalo gue buat salah," ucap Wildan sambil tersenyum lebar yang membuat emosi Alfa memuncak sampai gunung Evrest.
"GUE BENCI SAMA LO WILDAN, GUE MINTA LO BALIKIN KERAJINAN ITU SEBELUM JAM SATU SIANG," ucap Alfa dengan menatap Wildan dengan tatapan membunuh.
"Kalo enggak?" tanya Wildan sambil memajukan langkahnya lagi, dan Alfa memundurkan satu langkah kakinya.
"Kalo enggak..." ucap Alfa terhenti saat Wildan mendekatkan wajahnya ke wajah Alfa. Deru nafas berbau mint menyeruak di hidung Alfa. Mereka berdua terdiam sesaat.
-xXx-