Chapter 5

1249 Kata
Bukan urusan hati tentang pasal saling benci membenci tapi sudah urusan hati jika membenci itu berujung mencintai.  -xXx- Pagi ini Alfa memutuskan untuk membawa mobil kesayangannya yang sudah lama ia tak gunakan. Elfa sudah pergi pagi-pagi sekali jadi Alfa tidak bisa mengatakan selamat pagi pada kembarannya itu. Alfa menghentikan langkahnya dan kembali mengecek isi tas nya. Sudah lengkap. Alfa kembali melanjutkan langkahnya sebelum ponsel miliknya berbunyi dengan sigap ia mengambil ponselnya yang sudah lama berada di sakunya. "Halo," sapa Alfa dari balik ponselnya. Sependengaran Alfa ia mendengar bunyi barang yang jatuh dan sepertinya itu gelas. "Halo fa ini gue Rachel, gua gak bisa masuk hari ini, bilang aja gue sakit," ucap Rachel dengan suara sedikit serak, yang membuat Alfa memincingkan matanya. Ia sedang berpikir jika ada yang tidak benar dengan Rachel saat ini. "Oh ok Hel, gua doain lo cepet sembuh ya," balas Alfa namun kali ini tidak ada jawaban yang ia dengar hanya teriakan seseoarang. Alfa segera mematikan sambungannya lalu berjalan menuju mobilnya dan melesat pergi ke sekolah. Ada yang gak beres disini -xXx- Pandangan Alfa terhenti pada buku hitam yang tergeletak di depannya. Matanya membulat sempurna ketika tangan itu membuka halaman buku hitam secara bergiliran, lembar demi lembar.  Dengan susah payah ia menelah salivanya. Matanya kembali menatap wanita paruh baya yang sedang duduk di depannya sambil memegang sebuah bolpoin hitam di tangannya. Ia tak pernah merasa seperti terbakar seperti ini sebelumnya. "Apa kamu tahu, ibu memanggil kalian kesini untuk apa?" buka Bu Carloz yang membuat Alfa menundukkan kepalanya, Wildan hanya diam sambil sesekali membetulkan rambutnya yang sudah ia beri pomade tadi pagi. "Maafkan saya bu, ibu bisa menghukum saya sesuai yang ibu mau," sesal Alfa sambil mengangkan kepalanya perlahan. Ia sekarang benar-benar sangat marah akan seseorang cowok yang sedang duduk di sampingnya itu. Rasanya kepalanya hampir meledak karena ini. "Saya sudah memafkan kalian untuk masalah ini karena saya tidak ingin merusak mood saya hari ini hanya karena memarahi kalian berdua," ucap Bu Carloz yang membuat Alfa tersenyum lega. Ia tak sabar untuk memarahi Wildan setelah ini. "Tapi ibu hanya mengingatkan kalian berdua bahwa tugas menjadi pengurus kelas itu tidaklah mudah, kalian tidak boleh ceroboh dan egois khususnya kamu Wildan," jelas Bu Carloz yang membuat Wildan menatap wanita itu dengan malas. Ia sudah sangat bosan untuk mendengarkan wanita itu berbicara tiada henti. "Baik bu," itulah yang hanya bisa di katakan Wildan untuk saat ini, ia sedang tidak berselera untuk berdebat dengan wanita tua dia depannya. Karena itu semua membuatnya pusing. "Baiklah kalian boleh kembali ke kelas dan jangan lupa beritahu Vina untuk pergi ke ruangan Pak Ridwan," balas Bu Carloz sambil membereskan buku-buku yang berserakan di atas mejanya. "Baik bu," jawab Alfa sopan kemudian mereka berdua beranjak dari kursi dan berjalan keluar ruangan. Alfa merasa akan tertelan hidup-hidup di dalam sana. Alfa berjalan mendahului Wildan, jadi Wildan dapat melihat Alfa dari belakang. Namun Wildan merasa ada yang aneh dengan Alfa, ia pun segera berjalan lebih cepat untuk mendekati Alfa. Dengan cepat Wildan menarik kuncir rambut yang tadi mengikat rambut Alfa dengan rapi. Saat itu pula, Alfa menghentikan langkahnya, "ginikan lo lebih cantik fa," ucap Wildan kemudian senyum kemenangan terukir di wajahnya. Alfa diam kemudian membalikkan badannya agar dapat menatap Wildan, yang telah membuatnya hampir terbunuh di hadapan Bu Carloz. "Lo kenapa sih wil?! lo tahu gue tuh gak suka sama lo, benci sama lo, gue harap lo bisa ngejauhin gue dan gue harap lo gak bakal muncul lagi di depan gue karena gue selalu berharap lo gak pernah ada di dunia ini?!" omel Alfa panjang lebar, Wildan tersenyum kali ini ia hanya ingin melihat Alfa seperti ini. "Lo lebih cantik fa kalo marah," ucap Wildan dengan senyumnya. Alfa semakin marah. Ia tak tahu bagaimana berbicara dengan anak alien di depannya ini. "Wildan! Lo kok nyebelin banget sih, gue tabok nih," kesal Alfa yang membuatnya tak bisa mengontrol emosinya lagi. Wildan lagi lagi hanya tersenyum seperti orang gila. Alfa sudah jera akan masalah ini ia segera berjalan menjauhi Wildan sambil mendumel hal-hal yang tidak berguna. Lain halnya dengan Wildan ia hanya tersenyum, karena ia telah menemukan hobby barunya yang telah lama terpendam. Mengganggu Alfa. -xXx- Alfa dan Malda berjalan beriringan menuju ke perpustakaan yang terletak tidak jauh dari kelasnya. Setelah sampai di sana mereka segera menuju bagian rak buku yang terletak di samping sebuah meja yang disana sudah di huni, Wildan. Malda yang sedari tadi melihat Alfa mendumel sendiri mulai curiga ia segera menghampirinya. Namun sebelum itu tangannya segera dicekal oleh Pandego. Malda tersentak dan segera menoleh ke seorang cowok di belakangnya itu. "Lo di panggil Pak Muriadi katanya disuruh ngoreksi kuis minggu kemarin," ucap Pandego yang sedikit berbisik. Malda memincingkan matanya curiga. Kemudian segera tersenyum. "Oke, thanks udah ngasih tahu gue," balas Malda kemudian meninggalkan Alfa disana sendirian. Pandego tersenyum menang. Alfa yang sedari tadi mencari buku, akhirnya ketemu juga. Setelah itu ia segera mencari Malda. Dari ujung ruangan sampai pintu masuk, ia tidak menemukan batang hidung sahabatnya itu."Iih Malda mah gitu gue ditinggal," dumel Alfa. Kemudian ia mendaratkan pantatnya di kursi dekat jendela yang tidak jauh dari tempat Wildan duduk. Lalu Wildan beranjak dari kursi dan berjalan menghampiri Alfa yang sedang sibuk membaca novel dengan sampul biru itu. Dengan cepat Wildan mengambil novel yang Alfa baca, Alfa mendongakkan kepalanya dengan cepat. Matanya berapi-api seakan dibakar oleh api kebencian. Ia sedang tidak mood untuk berdebat sekarang tapi Wildan sudah menyulut api di dalam dirinya. "Lo lagi, lo lagi mau lo apa sih?!" kesal Alfa sambil berdiri beranjak dari kursinya, sedangkan Wildan hanya tersenyum penuh kemenangan. Ia sangat suka melihat Alfa marah seperti ini. "Kenapa sih fa lo harus cantik kayak gini," ucap Wildan yang lebih mirip seperti pertanyaan. Alfa sedang tidak main-main sekarang, rasanya ia ingin memakan Wildan hidup-hidup dan Wildan, ia hanya tersenyum seperti orang gila lagi dan lagi. "Gue benci banget sama lo, sumpah demi apapun gue gak bakal ngemaafin lo sampe kapanpun, inget ucapan gue," balas Alfa dengan tatapan maut miliknya dengan segera ia melangkahkan kakinya menuju keluar namun pergelangannya tercekal oleh tangan kokoh milik Wildan. "Gue sayang sama lo, jadi gue mohon jangan jauhin gue," ucap Wildan lembut. Namun dengan kata-kata lembutpun Alfa tidak akan pernah berubah. Ia bukan seorang yang mudah luluh dengan rayuan sampah seperti itu. Alfa melepaskan genggaman Wildan dengan kasar dan segera pergi meninggalkan Wildan sendiri. Kalo lo yang ngejauh, gue yang bakal usaha buat ngedeketin lo -xXx- Sesekali angin menerbangkan beberapa helaian rambutnya, air matanya sudah membanjiri pipinya namun ia tak ingin seperti anak kecil lagi. Sudah cukup air mata yang ia habiskan untuk dua tahun belakang ini. Gundukan tanah di depannya itu seakan sudah tahu semua penderitaannya. Ia mengingat kembali kenangan lama yang sudah ia kubur. Sudah dua tahun ia menjalani hidupnya yang kesepian. "Ma, pa, maaf kalo Al gak ngajak El buat kesini," ucap Alfa yang membuat air matanya terus saja mengalir tak mau berhenti. Ia memejamkan matanya perlahan dan menangkup wajahnya, menenggelamkan semua sedih ini. Kemudian ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya supaya ia merasa lebih tenang. "Maaf ma, Alfa belum bisa nepatin janji Alfa tapi Alfa bakal perjuangin itu semua demi mama dan papa," ucap Alfa yang mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri. Setelah itu ia menaburkan bunga di makam mama dan papanya. Dan memberikan kecupan selamat tinggal di batu nisan yang menandai nya. Alfa berdiri kemudian meninggalkan pemakaman itu sambil sesekali menyeka air matanya yang mulai menetes satu demi satu. Dengan mobil miliknya ia melaju sekencang kuda melewati udara dingin yang menusuk sampai tulang. Bukan tidak mengerti hanya saja belum mengerti apa yang dimaksud. -xXx-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN