Cinta itu ibarat kayu jika kau tidak menjaganya, dia akan lapuk dimakan rindu - AS
-xXx-
Matanya terhenti tepat pada wanita paruh baya yang tengah duduk di atas kursi roda sambil menatap keluar jendela. Sungguh miris ketika menatapnya.
Ia berjalan mendekat ke arah wanita itu kemudian memeluknya dari belakang. Ia rindu akan saat ini. Wanita itu terdiam saja.
"Mama, ini Wildan" ucapnya dengan suara bergetar, ia mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh. Wanita itu hanya diam tanpa berkutik, ia terus menatap langit senja.
"Mama gak kangen sama Wildan?" tanya Wildan dan kali ini ia hanya mampu untuk melihat mamanya dari belakang, itupun sudah membuatnya senang.
"Kennan," panggil wanita itu sambil meraba pipi Wildan dari belakang. Wildan tak bisa mendengar nama itu lagi, nama itulah yang membuat semua seperti ini.
"Itu kamu Kennan? Mama kangen sama kamu nak," ucap wanita itu sambil menitihkan air mata perlahan. Wildan hanya menghela nafas pelan.
"Ma ini Wildan bukan Kennan," ucap Wildan lembut sambil sesekali membetulkan helaian wanita di depannya. Wanita itu tak bergeming ia hanya diam.
Wildan pun mencoba untuk bersabar dan mungkin jika suatu hari nanti ia akan membuat mamanya kembali tersenyum seperti dulu. Saat semua ini belum dimulai.
-xXx-
Pagi ini SMA Garuda mengadakan Go Green School. Alfa lah yang menjadi salah satu panitia dari acara ini. Ia sekarang tengah membersihkan ruang seni yang terletak di gedung barat.
"Di, lo bersiin yang sebelah situ tuh, masih kotor kayaknya" ucap Alfa kepada Dion kemudian ia keluar dari ruang seni menuju gudang sekolah.
Disana cukup lembab jadi Alfa menutup hidungnya dengan masker. Alfa memperhatikan diujung ruangan seperti ada seseorang yang tengah melakukan sesuatu disana. Ia pun segera menghampiri seseorang itu.
Matanya membelalak sempurna ketika melihat pemandangan ini. Sungguh gila, kemudian ada seseorang yang datang dari belakang, Ardi. Ia datang dengan cangkul kecil ditangannya.
"Fa--huft" Alfa langsung membekap mulut Ardi kemudian menunjuk sesuatu disana dengan matanya. Ardi pun sama, ia juga terkejut akan pemadangan itu karena dapat merusak mata seketika.
Kemudian Alfa melepaskan tangannya dari mulut Ardi. Mereka pun berjalan mengahampiri kedua orang itu dengan perlahan sampai kedua orang itu menoleh yang membuat Alfa dan Ardi membulatkan matanya sempurna.
"Lo!"
-xXx-
Alfa bersandar pada pintu ruang OSIS sambil memijit perlahan pelipisnya, ini adalah hari yang memusingkan karena ia harus berurusan dengan Wildan lagi.
"Fa, ini buat lo" ucap Dapo sambil memberikan segelas teh hangat kepada Alfa. "Makasih dap," balas Alfa sambil tersenyum lalu menenggak teh hangat itu sampai habis.
Kemudian datanglah Vina dengan nafas terengah-engah, Alfa dan Dapo hanya diam sambil mengangkat kedua alisnya. "Huh huh huh fa...fa Bu...Bu Carloz--haduh capek gua," ucap Vina sambil mencoba mengatur nafasnya.
"Bu Carloz kenapa vin?" tanya Alfa sedikit panik. Vina hanya terdiam sambil mengingat apa yang akan ia katakan tadi. "Oh iya, lo dipanggil Bu Carloz katanya sih masalah Wildan," lapor Vina.
Alfa hanya memutar bola matanya jengah, ia tak ingin berurusan dengan Wildan tapi kenapa takdirnya tidak membiarkan Alfa hidup bahagia. "Kenapa harus gue, kok gak Jessie atau Ardi aja sih?!" ucap Alfa. Vina hanya mengendikkan bahunya.
"Makasih banyak dap teh angetnya," balas Alfa pada Dapo sambil memberikan gelas kosong. Alfa segera melangkahkan kakinya ke ruang BK.
Tiada hari tanpa Wildan, mungkin itulah takdir Alfa. Ruang BK sekarang tengah penuh dengan orang, entah apa yang dilihat siswi disini. Alfa hanya menatap heran terhadap gadis-gadis yang tengah melihat Wildan dari balik jendela. Apa sih hebatnya Wildan? Menurut gue sih gak ada hebat-hebatnya sama sekali.
Alfa segera masuk ke dalam ruangan, disana ada Wildan yang duduk dengan kaki yang diangkat ke meja dan Ardi yang sibuk dengan buku tebal bersampul kuning di depannya, terlihat seperti proposal.
"Silahkan Alfa," ucap Bu Carloz nyaring yang membuat Wildan menolehkan kepalanya dan tersenyum manis ke arah Alfa. Alfa mendaratkan pantatnya di kursi samping Ardi.
"Ibu memanggil kalian karena ibu ingin merencanakan sesuatu untuk acara bulan depan," ucapnya sambil membuka buku tebal bersampul kuning seperti milik Ardi.
"Bulan itu kan, akhir tahun jadi ibu ingin menyusun acara akhir tahun jadi kita akan mengundang beberapa band untuk memeriahkan acara" jelas Bu Carloz sambil menyerahkan beberapa daftar band yang akan di undang.
"Tapi bu, bagaimana dengan anggarannya?" tanya Ardi yang mulai serius dengan pembicaraan ini.
"Begini Ardi dan Alfa, kalau anggaran kalian tidak perlu khawatir ibu sudah menyiapkan semua jadi kalian hanya perlu membuat acara ini semakin menarik," jawab Bu Carloz sambil menatap ke arah Ardi dan Alfa.
"Mohon maaf bu jika saya menanyakan hal ini, tapi apakah Wildan ikut dalam panitia inti juga?" tanya Alfa sopan agar tidak menyinggung perasaan siapapun di ruangan ini.
"Hmm ibu kira, jika Wildan ikut dalam kepanitiaan acara akhir tahun tidak terlalu buruk namun jika dia tidak mau juga tidak apa," balas Bu Carloz sambil menautkan tangannya.
"Saya mau kok bu!" jawab Wildan sambil menyeringai lebar yang membuat Alfa mendengus kesal.
Karena ia sudah menjamin jika Wildan ikut menjadi panitia semua akan jadi berantakan, meski Wildan masuk organisasi OSIS itu tak akan menjamin jika ia bisa melaksanakan tanggung jawab ini dengan baik.
"Semua ini saya serahkan pada kalian," ucap Bu Carloz sambil tersenyum.
"Baik bu, kami akan melakukannya sebaik mungkin, terima kasih bu kami permisi dulu," ucap Ardi kemudian ia segera beranjak dari kursi dan meninggalkan ruang BK, begitu juga dengan Wildan. Kecuali Alfa.
"Alfa, ibu harap dengan adanya Wildan di kepanitiaan ini membuat kepribadian dan tingkah lakunya menjadi lebih baik dari yang dulu," ucap Bu Carloz yang hanya diangguki Alfa. Permainan dimulai.
-xXx-
Sekarang anggota dari OSIS, PMR dan Dewan Ambalan Penegak Pramuka sedang berkumpul di aula SMA Garuda karena akan ada pembagian tugas untuk membuat acara akhir tahun ini sukses. Di depan ruangan sudah ada Ardi Yuda a.k.a ketua OSIS SMA Garuda, Alfa Siregar a.k.a ketua Dewan Ambalan Pramuka SMA Garuda dan Savina Fourdicia a.k.a ketua PMR SMA Garuda.
"Sebagai ketua OSIS saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran teman-teman pada rapat ini," ucap Ardi membuka rapat ini.
"Baik saya akan mengumumkan tugas dari kalian di sini, jika ada yang merasa tidak sesuai harap lapor pada saya," ucap Alfa tegas.
"Bagi anggota OSIS dan sebagian anggota PMR akan berpartisipasi dalam urusan inti acara dan perlengkapan, sedangkan Dewan Ambalan Penegak akan menjadi bagian keamanan serta ketertiban dalam acara," jelas Alfa.
"Kita akan membuat menjadi beberapa tim sesuai organisasi masing-masing bila ada pertanyaan silahkan bertanya pada kami," ucap Ardi menggelegar.
Kemudian ada sesorang murid yang bertanya, Jessie. Ia mengenakan bando besar berwarna merah muda dengan hisana bunga mawar di atasnya, seperti ondel-ondel.
"Iya silahkan," jawab Vina, "apa nama acara ini?" tanyanya sambil membenahi poninya yang sudah menutupi dahinya itu dan hampir masuk ke mata.
Kemudian mereka bertiga berembuk dan memutuskan untuk voting saja dari pada nanti ada yang tidak setuju.
"Hmm kami akan membuka usulan tentang nama acara ini, jadi bagi kalian yang ingin mengusulkan silahkan mengacungkan tangan," jelas Alfa.
"Gimana kalo Monkey's Day," ucap cowok dengan gaya rambut model Leonel Messi yaitu pesepak bola asal Argentina.
"Bukan, itu mah kelihatan banget kalo kita itu ras monyet, mending Zombie Festival," ucap cewek dengan kuncir dua di rambutnya.
"Lebih baik Scary Festival aja biar unik," usul cowok dengan alis tebal seperti ulat bulu yang tengah menyisir rambutnya sampai terlihat tipis.
"Gak, bukan itu tapi Barbie Day," ucap gadis centil dengan kaca mata merah yang bertengger di atas hidungnya, suaranya bahkan sudah mirip dengan barbie.
"Najong lu, masa yang cowok juga suruh pake baju barbie gak gak, mending GTA Festival biar kerenan dikit lah," ucap cowok dengan gaya model rambut mohak bercat hijau dan kuning.
"Gak, gua gak suka GTA apaan tuh? Gak mutu, lebih cocok yang alim gitu jadi Muslim Garuda," ucap Malda sambil memutar bolpoin hitam di tangannya.
"Njing lo yang beda agama gimana? masak juga suruh baca sholawatan sama pake baju muslim, lebih pas itu Smagves alias SMA Garuda Festival," ucap Wildan sambil menyeruput es teh yang baru ia beli tadi siang.
"Stop, kami bakal nampung usulan kalian semua dulu nanti bakal kita bahas lagi pada rapat berikutnya karena ini udah hampir jam enam kita akhiri rapat ini dengan berdoa bersama," ucap Ardi sambil membetulkan letak proposal miliknya.
"Berdoa menurut keyakinan masing-masing, berdoa mulai," Alfa mengaba - aba kemudian mereka semua berdoa kecuali Wildan yang sibuk sendiri dengan ponselnya.
"Selesai,",ucap Alfa mengakhiri, "selamat sore," lanjutnya sambil membereskan buku-bukunya. "Gue duluan fa, udah ditunggu bokap" pamit Malda yang hanya dijawab anggukan oleh Alfa.
Setelah semua pulang hanya ada Alfa diruangan itu sendiri, tanpa kawan sebelum ia melihat seseorang yang tengah bersandar di depan pintu ruang OSIS.
-xXx-