"Lo gak akan bisa memaksakan cinta sekalipun nafas terakhir lo nanti, tapi lo bisa memahami apa itu cinta sekuat tenaga lo" - Cold
-xXx-
"Wildan?" tanya Alfa sambil memincingkan matanya, ia tak habis pikir jika seorang Wildan yang paling menyebalkan di dunia sedang membaca buku di depan pintu.
"Lo ngapain disini? Sambil baca buku lagi, kesambet apaan?" timpal Alfa yang membuat Wildan menyudahi acara membacanya tadi dan beralih menatap Alfa.
"Gue nungguin lo nyet! Bukannya bilang terima kasih, lo tambah ngejek gue," jawab Wildan sambil berjalan menghampiri Alfa.
"Tunggu, Kapan gue nyuruh lo buat nungguin gue? Dan satu lagi kenapa lo bisa panggil gue 'nyet' emang muka gue kayak monyet?" tanya Alfa bertubi-tubi sambil memundurkan langkahnya.
"Gue mau ngajak lo pulang bareng karena ini udah malem, lagian gak baik cewek sendirian gini apalagi malem-malem," jawab Wildan lembut sambil memasukkan buku yang ia baca tadi.
"Gue bisa dijemput papa, dan lebih gak baik lagi kalo malem-malem gini gue sendirian dan pulang bareng sama lo," timpal Alfa sambil menunjuk kearah Wildan.
"Only once, please," ucap Wildan memohon dengan pupyeyes miliknya, Alfa hanya memutar bola matanya jengah. Nih bocah mau minta diapain sih?!.
"Oke fine, only once no more!" peringat Alfa sambil membetulkan letak tas miliknya. Wildan tersenyum senang ketika mendengar jawaban Alfa. Mereka pun berjalan beriringan menuju keluar sekolah.
-xXx-
Hari ini semua panitia inti acara akhir tahun berkumpul di ruang rapat gedung barat. Termasuk Ardi, Vina dan Alfa beserta Bu Carloz dan Pak Ridwan. Karena hari ini semua murid Smaga dipulangkan lebih pagi.
"Baik anak-anak, apa yang belum kita bicarakan disini?" tanya Bu Carloz sambil membuka perlahan proposal yang ia buat kemarin.
"Panitia saja bu yang belum di bentuk, mungkin saya perlu masukan untuk pembuatan panitia ini," ucap Alfa sambil menatap Bu Carloz.
"Begini Alfa, ibu dan Pak Ridwan tidak bisa membantu kalian sepenuhnya karena semua tugas sudah saya serahkan pada kalian, jadi ibu mohon kerjakanlah sebaik mungkin" nasihat Bu Carloz sambil menutup proposal itu.
"Jika kalian tidak bisa melaksanakannya bapak tidak akan memberatkan," ucap Pak Ridwan lembut sambil tersenyum.
"Kalau begitu kami harap ibu dapat mendampingin kami," ucap Vina sambil berharap.
"Tentu, ibu akan membimbing kalian namun kalian yang harus merancang semuanya," jawab Bu Carloz tersenyum.
-xXx-
"Alfa!" suara itu menginterupsinya untuk berhenti melangkah dan berbalik. Disana berdiri cewek dengan cowok babak belur di sampingnya.
"Midah? Kenapa dia bisa babak belur gitu?" tanya Alfa sambil menghampiri Midah yang sedang kesusahan untuk menuntun Wildan yang sedang pingsan itu.
"Dia habis tawuran bareng sama anak SMA sebelah, gue tahunya dia udah pingsan di depan gerbang kek gini," jelas Midah sambil mengernyit masam karena Wildan terlalu berat untuk dituntun oleh dirinya sendiri.
Alfa segera membantu Midah dan membawa Wildan ke UKS. "Kenapa lo ngasih tahu gue dulu bukannya Vina? Secara kan dia ketua PMR," tanya Alfa sambil mengerutkan dahinya.
"Ya gak papa sih, kan yang lebih deket dari gerbang elo, lagian gue juga gak liat Vina dari pagi," jawab Midah sambil menatap Alfa.
"Loh bukannya Vina ada tugas di depan gerbang?" tanya Alfa yang kini sudah dekat dengan UKS, "tapi tadi gue gak liat dia mungkin ada urusan lain jadi dia ninggalin tugasnya," jawab Midah seraya membuka pintu UKS.
Dengan cekatan Alfa dan Midah mengobati luka lebam dan memar Wildan. Meski begitu Alfa juga ikut menjadi anggota PMR Smaga. "Fa, kalo gitu gue pergi dulu ya, tadi udah janji sama Fino bakal ngerjain tugas bareng," pamit Midah yang hanya dijawab anggukan oleh Alfa.
Alfa hanya duduk terdiam disana sambil sesekali menoleh ke arah jam tangan miliknya. Matanya menatap wajah yang penuh lebam disana. Miris jika untuk mengatakan keadaannya.
"Nih cowok kok gak pernah taat peraturan sih, boro-boro sopan sama guru, dateng pagi aja gak bisa," gumam Alfa seraya mengambil ponselnya dari dalam saku. Ada sepuluh missed calling dari Malda.
Alfa segera bangkit dari kursi sebelum suara itu menginterupsinya untuk duduk kembali, Wildan sudah sadar meski belum sepenuhnya.
"Meski gue gak akan pernah bisa taat aturan tapi gue masih punya harga diri yang bisa gue pertahanin," ucap Wildan sedikit serak, Alfa menatap Wildan miris.
"Lo punya bokap?" tanya Alfa sambil menaikkan satu alisnya yang membuat Wildan hanya tersenyum sisnis.
"Punya, tapi bokap gue udah gak ada,"balasnya sambil mengernyit masam karena rasa sakit yang ditimbulkan oleh masa lalunya yang kelam.
"Maaf kalo gue ngungkit masalah lo," ucap Alfa sambil memasang wajah bersalahnya, Wildan hanya mengangguk lalu tersenyum tipis, bahkan hampir tidak terlihat.
"Lo mau nggak jadi temen gue?"
-xXx-
Alfa memejamkan matanya perlahan sambil sesekali mengingat kejadian siang tadi. Papanya yang sedari tadi melihat hanya tersenyum kecil lalu segera pergi ke kamarnya.
Suara pintu terbuka itu mengalihkan perhatian Alfa dari jendela menuju pintu masuk, ia melihat Elfa berpakaian hot pant dengan kemeja transparan berwarna ungu muda. Mata Alfa pun membelalak sempurna.
"Elfa!" panggil Alfa dari ruang keluarga. Elfa yang merasa dipanggil hanya memutar bola matanya malas, lalu pergi menghampiri Alfa yang tengah terheran-heran akan perubahan Elfa yang drastis.
"Ada apaan sih?" tanya Elfa sinis sambil menguncir rambutnya yang tadi terurai bebas sekarang terikat rapi. Alfa mengangkat kedua alisnya kemudian mengerutkan dahinya sampai membuat Elfa mendengus kesal untuk yang kesekian kalinya.
"Kamu gak punya baju buat dipake lagi?" tanya Alfa seraya bangkit dari kursi untuk menghampiri Elfa, Elfa hanya tersenyum sinis sambil melipat tangannya di depan d**a.
"Gak usah ikut campur sama kehidupan gue! Urus aja hidup lo sendiri!" timpal Elfa lalu pergi meninggalkan Alfa yang hanya bisa tersenyum masam ketika melihat punggung Elfa yang berlalu di balik tembok.
Ia menghela nafas sabar seraya kembali melangkahkan kakinya keluar rumah untuk menghirup udara segar. Alfa memutuskan untuk pergi ke kedai teh dekat rumahnya walau itu hanya untuk merefresh dirinya.
Kedai Navara, tempat yang biasa dikunjungi Alfa dikala dirinya sedang suntuk, dan kali ini ia hanya menatap kosong ke jendela, yang menampakkan sang matahari yang hampir tenggelam.
Ditemani secangkir teh hijau dan gorengan sudah cukup membuat Alfa lebih baik. Tak lama, Navara sang pemilik kedai sekaligus teman SMP Alfa datang dengan sepiring biskuit matca.
Celemek berwarna pastel yang sudah dipenuhi noda itu menghiasi baju Navara. Alfa hanya menyeringai saat Navara datang dengan senyuman yang menghiasi pipi chubbynya.
"Hai fa! Tumben kesini," sapa Nana sambil meletakkan sepiring biskuit di meja kemudian mendaratkan pantatnya ke kursi di depan Alfa.
"Hehe lagi banyak pikiran aja jadi butuh refresing," jawab Alfa sekenanya kemudian menyeruput teh hijau miliknya. Nana hanya tertawa kecil.
"Gimana sama Elfa? Udah lebih baik?" tanya Nana sambil menautkan kedua tangannya di atas meja. Raut wajah Alfa menjadi lebih buruk dari sebelumnya bahakan dapat dikategorikan sebagai ekspresi sedih.
"Maaf fa kalo gue buat lo jadi sedih kayak gini, gue gak bermaksud," pinta Nana seraya menatap Alfa sendu. Alfa hanya mengangguk samar seraya menarik ujung bibirnya membentuk senyuman kecil tak berarti.
-xXx-
Matanya beralih pada buku yang bertuliskan 'fisika' sungguh jenuh bila memikirkan rumus-rumus yang bisa membuat kepalanya seketika pecah dalam hitungan detik. Alfa melirikkan matanya ke ujung ruangan, disana sudah ada Adam si kutu buku tengah membaca buku tentang astonomi lebih tepatnya tentang Galaksi Andromeda.
Pandangan Alfa kembali beralih pada buku fisika dan tugas fisikanya yang belum selesai karena kemarin malam ia tidak mengerjakan tugas akibat rasa kantuknya yang tidak bisa ditahan lagi.
Kringggg....
Bel berbunyi dan sekarang jam killer akan segera dimulai, meski ini adalah jam terakhir tapi tak banyak siswa yang telah menyiapkan posisi tidurnya untuk pelajaran fisika hari ini.
Pak Ridwan masuk ke kelas dengan setumpuk buku paket bersampul jingga dengan gradasi ungu. Kemudian beliau duduk di kursi guru sambil menatap tajam ke arah murid-muridnya.
"Kumpulkan tugas yang kemarin!" titah Pak Ridwan seraya membuka lembaran paket fisika yang ia bawa tadi. Alfa hanya pasrah untuk kali ini, ia tak ingin menjadi anak yang suka berbohong seperti Wildan, jadi ia memutuskan untuk mengakuinya.
Alfa bangkit dari kursi kemudian segera berjalan menuju ke depan sementara siswa yang lain sibuk dengan menyontek jawaban teman. Pak Ridwan hanya menatap Alfa betanya-tanya.
"Maaf pak, saya tidak mengerjakan tugas fisika karena saya tidak terlalu paham dengan materinya," aku Alfa sambil menatap Pak Ridwan yang sekarang tengah melihatnya dengan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan.
Seketika kelas menjadi sunyi hanya terdengar beberapa siswa yang mengedip-kedipkan matanya takjub akan keberanian Alfa. Alfa pun tidak mempedulikan itu semua. Sejenak dari ujung sana si pendiam, Adam sedang bertepuk tangan yang disusul oleh siswa lainnya.
Pak Ridwan segera menatap muridnya tajam dan seketika tepuk tangan dan gemerisik yang ada berhenti. Pandangan Pak Ridwan kembali kepada Alfa yang tengah berdiri di samping mejanya dan kali ini tatapan yang semula tajam berubah tatapan berbinar.
"Inilah yang bapak mau selama ini, ternyata tak salah jika Bu Caloz memilihmu sebagai tangan kanannya juga Pak Rahmad yang memilihmu menjadi siswa teladan tahun lalu, memang kamu adalah murid yang terbaik Alfa, bapak bangga sama kamu," Puji Pak Ridwan yang membuat seluruh murid di kelas bertepuk tangan riuh, sedangkan Alfa ia hanya mengendikkan bahunya. Just do it.
-xXx-