Chapter 8

1351 Kata
"I miss you" - Sour -xXx- Jam pelajaran seni budaya sekarang sudah dimulai, meski pelajaran ini tidak terlalu penting tapi Alfa begitu menyukai pelajaran ini. Entah kenapa. Pak Awan yang baru datang langsung meletakkan gitarnya di meja guru dan segera membahas tentang tugas kelompok yang hatus dilakukan untuk minggu ini. "Baik, sekerang kita akan menjajaki masalah menyanyi, mungkin kalo menyanyi solo kalian sudah pandai, jadi Pak Awan akan membuat materi ini menjadi berkelompok ya," ucap Pak Awan dengan gayanya. Beliau pun segera mengambil buku absensi siswa dan membagi menjadi beberapa kelompok. "Bapak akan membaginya menjadi beberapa kelompok, jadi satu kelompok terdiri atas dua orang jadi berpasangan ya," jelasnya sambil sesekali memegangi dagunya, itulah kebiasaannya. "Ardi dengan Vina, Adam dengan Rachel, Alfa dengan Wildan, Daffa dengan Jessie,..." urutnya, Alfa hanya bisa mendengus kesal saat ia dan Wildan menjadi satu kelompok. "Kalau begitu kalian bisa menentukkan lagunya sekarang dan jangan lupa minggu depan akan ada penilaian tentang ini, untuk yang membawa alat musik akan saya beri nilai plus," tambahnya kemudian Pak Awan berjalan pergi keluar kelas. Tak lama, Alfa memutuskan untuk menghampiri Wildan yang sekarang tengah bermain gitar disana. Alfa berdeham, namun ternyata Wildan tidak peka akan keadaan. Kali ini Alfa berdeham lebih keras. Wildan hanya melihat Alfa yang tengah melakukan hal aneh seperti itu, berdiri tak jelas di samping meja Wildan. "Kita sekelompok?" tanya Wildan yang membuat Alfa memutar bola matanya malas. "Iya," jawab Alfa singkat padat dan jelas tak perlu bertele-tele, Wildah hanya ber-oh ria. Kemudian mereka membicarakan masalah lagu yang harus dinyanyikan. Kringgg... "Baik anak-anak, waktu sangat cepat berlalu, jadi siapkan mental kalian untuk mendengarkan kritikan pedas dari saya, dan satu lagi penampilan kalian besok juga akan saya pilih menjadi wakil dari sekolah untuk ajang bergengsi tingkat kabupaten," jelas Pak Awan yang membuat semua murid menatap berbinar ke arah Pak Awan. Lain halnya dengan Wildan yang sedari tadi hanya manggut-manggut karena alunan musik yang beralun dari headset yang terpasang di telinganya, ia tidak mengerti sama sekali dengan ucapan Pak Awan di depan dan juga tidak ingin mengerti apa yang dibicarakan. Lalu Pak Awan mengemasi barang-barangnya lalu segera pergi keluar kelas. Alfa menutup kembali buku paket miliknya, matanya tertuju pada Rachel yang menatapnya seperti anak kucing minta makan. "Lo kenapa hel?" tanya Alfa sambil mengemasi buku-bukunya dan dimasukkannya ke dalam tas. "Gue boleh tuker kelompok gak sama lo?" Tanyanya, Alfa berpikir sejenak kemudian ia menemukan akal supaya dapat membuat Rachel marah. "Gak," jawab Alfa tegas yang membuat nyali Rachel seketika menciut seperti ban kempes. Alfa hanya melihat Rachel sekilas kemudian melanjutkan kegiatannya yang tertunda, karena setelah ini ia ada jam olahraga. "Ya udah, gak papa," balas Rachel sambil menundukkan kepalanya. "Canda, lo boleh tuker kok asal lo bilang dulu sama Pak Awan lagian siapa yang mau sama kambing congek kek dia," jawab Alfa sumringah yang seketika membuat mata Rachel berbinar sekaligus senyum mengembang diwajahnya bak musim semi. "Oke deh," jawabnya bersemangat. Kemudian mereka berdua segera pergi ke loker dan berganti baju. Sepuluh menit kemudian, semua murid sudah berkumpul di lapangan, meski cuaca sedang panas namun Pak Arifin tetap memutuskan untuk olahraga di luar. Wildan selaku ketua kelas ia hanya diam di bawah tiang sambil memantul-mantulkan bola basket. Pak Arifin hanya bisa menghembuskan nafas penuh sabar untuk berkali-kali, lalu beliau membunyikan peluit dengan kencang yang membuat semua siswa menutup kedua telinganya. "Wildan! Kamu itu bukan anak kecil lagi, jadi lakukan kewajiban seorang ketua kelas!" Teriak Pak Arifin yang membuat Wildan hanya mendengus kesal akan itu. "Tuh guru bawel banget, apa gue harus pake penutup kloset buat nutup tuh mulutnya," keluh Wildan yang membuat Ardi menggeleng-gelengkan kepalanya heran. "Lo itu satu-satunya murid yang paling durhaka di sekolah ini yang pernah gue temuin," ucap Ardi yang melenggang meninggalkan Wildan bersama Dapo. Wildan terdiam, ia sedang memikirkan sesuatu, ucapan Ardi tadi memberikannya ide. Wildan dan Dapo berlari menghampiri Pak Arifin sambil tersenyum iblis. Pak Arifin hanya menatapnya dengan bingung bercampur heran. "Baik pak!" jawab Wildan tersenyum. Kemudian dengan cepat Wildan membariskan semua temannya yang membuat Alfa tercengang hebat, seorang Wildan mampu menertibkan temannya dengan begitu cepat seperti itu. Pake pelet apa dia sampe semua anak pada nurut kayak gitu. "Terima kasih Wildan, setelah ini kita akan melakukan penilaian untuk olahraga basket, jadi bentuk tim kalian yang terdiri atas lima orang, penilaian akan dilakukan lima menit lagi," jelas Pak Arifin. Kemudian salah satu murid mengacungkan tangannya. "Pak, timnya itu cowok-cewek apa cowok sendiri cewek sendiri?" tanya salah satu murid yang bernama Abel atau sering disebut gudangnya fashion. "Oh itu, seperti yang saya katakan pada pertemuan minggu lalu jika timnya sendiri sendiri antara cewek dan cowok," jawab Pak Arifin sambil membetulkan letak topi biru keberuntungannya. Rachel tertunduk lesu yang membuat Alfa segera menoleh, "lo kenapa hel?" tanya Alfa yang sedang berdiri disamping Rachel. "Tadi rencananya kalo cewek cowok gue mau setim sama Wildan, eh Pak Arifin pilihnya gitu," jawabnya lesu yang membuat Alfa hanya menggeleng-gelengkan kepala. Lima menit berlalu, penilaian basket pun dimulai sekarang adalah waktu untuk tim Wildan yang beranggotakan Ardi, Daffa, Duta, Agung yang melawan tim Adam. Pertandingan seru pun dimulai, banyak siswi dari kelas sepuluh yang rela mendapatkan pengurangan poin hanya demi melihat Wildan yang sedang bertanding basket, bahkan Jassie dan gengnya sudah meneriakkan yel-yel mereka untuk mendukung tim Wildan. Alfa hanya memutar bola matanya malas ketika melihat Jessie yang sudah menari-nari ria diatas tribun seperti menonton sepak bola. Bola basket memantul terus menerus, saat Wildan akan melakukan umpan tak sengaja bola itu mengenai wajah Adam. Adam pun seketika terjatuh dan semua murid yang berada di lapangan segera menghampiri Adam yang terjatuh di tengah lapangan. Pandangannya mulai kabur dan seketika gelap. Adam pingsan. Ia segera dibawa ke UKS oleh Wildan dan kawan-kawan. Dengan cekatan Vina dan Alfa mengobati mimisan pada Adam juga bagian yang lecet, meski tidak parah namun itu juga menimbulkan rasa sakit dan terkadang juga nyeri. Alfa menatap Wildan tajam yang sedang berdiri tak jauh dari dimana Adam terbaring, "kalau mau ngumpan itu diliat dulu, jangan asal lempar aja," ketus Alfa sambil dengan cepat memalingkan wajah dari Wildan menuju kotak P3K yang ada didepannya. "Gue tahu, itu juga bukan salah gue, lagian gue gak sengaja," elak Wildan hanya diberi tatapan sinis dari Alfa. Wildan, ia hanya tersenyum masam. Lalu ia segera meninggalkan UKS dan segera kembali ke lapangan. Vina yang sedari tadi diam hanya melihat Alfa dengan bingung, "sebenernya, hubungan lo sama Wildan itu apa sih?" tanya Vina tiba-tiba yang membuat Alfa langsung mendongakkan kepalanya. "Gak ada," balasnya singkat, namun Vina semakin gemas untuk mengetahui yang sebenarnya tentang Alfa dan Wildan. "Apa jangan-jangan lo backstreet ya?" tanyanya lagi, yang membuat Alfa melempar tatapan membunuh yang langsung membuat nyali Vina seketika menciut untuk menanyakannya pertanyaan berapi lagi. "Gue balik ke lapangan dulu, nanti kalo butuh gue panggil aja," pamit Alfa yang hanya diangguki Vina, kemudian Alfa berjalan meninggalkan Vina yang masih mematung disana sambil bergulat dengan pikirannya sendiri. Awas lo!. -xXx- Mata Alfa mulai mencari dimana sosok yang ia tunggu sejak tadi, sudah dari satu jam yang lalu ia duduk disana sambil sesekali meminum hot chocolate kesukaannya. Dan lima menit kemudian datang seseorang yang ia tunggu sejak tadi. Dengan hoody abu-abu yang dipadukan dengan celana jeans juga sneakers hitam putih, Wildan tampak begitu ... sangat biasa menurut Alfa. Wildan langsung menebarkan pandangannya dan melihat Alfa, ia pun segera menghampirinya lalu mendaratkan pantatnya di kursi depan Alfa. "Sorry lama, habis gebukin anak orang," ucap Wildan yang membuat Alfa menatap Wildan intens. "Kenapa lo?" tanya Wildan memastikan. "Lo habis ngeroyok orang?" tanya Alfa menginterogasi, yang hanya dijawab anggukan oleh Wildan. Alfa hanya menghembuskan nafas sabar, karena memiliki teman seperti itu, tapi teman yang terpaksa. "Jadi kita pilih lagu apa?" tanya Alfa pada Wildan yang tengah menatapnya sejak tadi. "Bukannya lo gak suka sama gue ya, tapi kenapa kita sekelompok? Apa jangan-jangan lo naksir gue ya?" tanya Wildan menggoda. "Enak aja, kalo gak gara-gara Pak Awan mana mau gue sekelompok sama lo mending gue tuker sama Rachel," jawab Alfa lalu menyesap hot chocolatenya sedikit. "Ya deh, gimana kalo lagunya Charlie Puth - one call a way?" tanya Wildan pada Alfa yang sekarang tengah fokus menatap sesuatu dari balik luar jendela cafe tempat mereka sekarang. Ardi? -xXx-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN