"Meskipun ada fisika, biologi, geografi, sejarah tapi hati gue tetep buat lo" - Book
-xXx-
Pagi ini, Alfa dan Elfa berada di ruang tamu. Sibuk dengan pikiran mereka sendiri-sendiri. Tak ada yang ingin memulai percakapan. Mereka sama-sama diam.
Sebelum ponsel milik Elfa berdering yang membuat Alfa mengalihkan pandangannya ke Elfa. Elfa segera mengangkat teleponnya.
"..."
"Iya, di bar yang biasa kan?" tanya Elfa kepada lawan bicara dibalik telepon.
"..."
"Okay, nanti lo bawa anggur yang biasa ya sekalian ajak Mona sama Ferrel," balas Elfa, yang sontak membuat mata Alfa seketika membulat sempurna.
Setelah Elfa menutup saluran telepon, Alfa segera menghampiri Elfa. "Kamu mau ke bar itu lagi?" tanya Alfa pada Elfa, Elfa hanya memutar bola matanya malas.
"Iya, terus lo mau apa? Ngelarang gue kayak yang dilakukin papa? Udah deh, berhenti untuk ngelakuin hal yang sama karena itu gak akan pernah terjadi," cerocos Elfa yang membuat Alfa ternganga.
"Kamu gak mau berubah?" Kali ini suara Alfa mulai menyayu yang membuat Elfa berdecak sebal. "Kalo lo mau akting jangan disini deh!" ketus Elfa, Alfa menundukkan kepalanya.
Ia selalu bertanya-tanya kapan ini akan segera berakhir?. Alfa berjalan menjauhi Elfa. Hatinya bagai disayat pisau yang tajam. Seandainya kecelakan dua tahun lalu tidak terjadi semua tidak akan berakhir seperti ini.
-xXx-
Alfa duduk terdiam di kamarnya sambil sesekali memetik senar gitar yang ada di pangkuannya, ia sedang berpikir akan kah hidupnya akan terus seperti ini?. Alfa menoleh ke jam dinding berbentuk owl yang tergantung di dinding kamarnya. Sudah menjelang sore.
Laptop hitam di depan Alfa masih menyala, kemudian ada panggilan video call dari Dapo, Alfa pun segera menerimanya. Disebrang sana ada Dapo yang sedang memangku gitar seperti yang dilakukan Alfa, namun Dapo sedang ada di halaman belakang rumahnya.
"Hai fa!" Sapa Dapo agak canggung, "hai juga dap!" Balas Alfa tersenyum. Namun, sekilas Dapo bisa melihat kesedihan yang Alfa rasakan sekarang.
"Mau dengerin lagu nggak?" Tanya Dapo di seberang sana, Alfa hanya mengangguk samar. Dapo menarik nafasnya kemudian mulai memainkan gitar di pangkuannya.
-xXx-
Kali ini, Alfa telah melanggar peraturan sekolah karena terlambat lima menit. Alfa menurutuki kesalahannya sejak tadi. Ia bangun kesiangan hari ini karena kemarin ia lembur untuk mengerjakan tugas fisikanya.
Sesekali ia bersembunyi di balik tembok ketika melihat Bu Salma yang mondar mandir di dekat pos satpam. "Kenapa gue harus telat sih?!" kesalnya sambil berdecak sebal karena jam pertama hari ini adalah pelajaran bahasa kesukaannya, dan ia melewatkannya.
Alfa segera mengambil note kecil beserta bolpoin dari dalam sakunya kemudian ia segera menuliskan sesuatu disana.
Saya Alfa Siregar melanggar peraturan no.4 SMA Garuda tentang terlambat datang ke sekolah dengan pengurangan poin sebesar 5 poin.
Tak lama datang seorang cowok dengan baju tak rapi juga jaket hitam yang menyelimutinya. "Lo telat?" tanya cowok itu sambil membuang asap putih pekat ke udara.
"Iya, terus lo mau apa?" tanya Alfa sinis sambil sesekali menunduk saat melihat Bu Salma yang menoleh ke arah pagar sekolah. Juga bau asap rokok itu yang membuat Alfa mengernyit mmasam mencoba untuk menahan nafas agar asap itu tidak singgah ke paru-parunya.
"Dari pada lo sembunyi-sembunyi gak jelas kayak gitu mending lo ikut gue masuk pintu belakang," ajak cowok itu sambil menyeringai. Alfa menimang-nimang keputusannya, kemudian ia ingat bagaimana disiplinnya Pak Aman.
"Lo mau bunuh diri? Pak Aman udah ngunci semua pintu di sekolah ini, lagian lo tuh gak pernah mikir apa!" ketus Alfa, Wildan hanya tersenyum kecil. Ia segara menarik tangan Alfa lalu berjongkok di belakang pagar, dan tepat saat itu Bu Salma menghampiri gerbang untuk mencari asal suara.
"Tuh kan udah gue bilang, lo mau dihukum ngebersiin lapangan, kalo gue sih ogah mending bolos aja," ucap Wildan sedikit berbisik. Yang membuat Alfa geli mendengarnya.
"HEI KALIAN!" pekik Bu Salma saat mengetahui Wildan dan Alfa yang tengah mengobrol. Dengan cekatan Wildan menarik tangan Alfa lalu mengajaknya segera naik ke motor ninja hitam miliknya. Mereka pun melesat menembus terik matahari yang mulai bersinar.
Alfa masih tak percaya jika ia sekarang tengah membolos dengan troublemaker yang sekarang sedang mengendarai motor di depannya.
Matanya tertuju pada kaca spion motor yang menampakkan wajah Wildan disana, ia mengamatinya dengan detail, menyusuri setiap lekukan pada wajah Wildan.
"Pegangan! Jangan ngeliatin gue aja nanti naksir," ingat Wildan yang membuat Alfa langsung mengalihkan pandangannya dari kaca spion motor. Yang membuat Wildan tersenyum dari balik helmnya.
Tak lama, Wildan menghentikan motornya di sebuah cafe bernuansa Eropa yang kental. Seperti biasa Wildan selalu memilih tempat di dekat jendela.
Alfa hanya menatap kosong ke arah cafe, ia masih terlihat bingung atas semua ini. "Ayo! Lo mau nungguin disitu sampe lumutan?" tanya Wildan. Kemudian Alfa pun terbangun dari lamunannya dan segera menyusul Wildan masuk.
Alfa mengamati seluruh cafe ini, semua tercat sempurna dengan warna putih dan alunan musik jazz yang mengalun lembut.
"Lo sering kesini?" tanya Alfa yang tidak mengalihkan pandangannya dari panggung kecil di ujung ruangan. "Lumayan, lo suka?" tanya Wildan sambil melambaikan tangan memanggil pelayan.
"Gue suka sama dekor cafe ini," jawab Alfa yang masih setia menatap seluruh cafe satu persatu. Wildan tersenyum ketika melihat ekspresi Alfa.
"Ngapain lo senyum-senyum?" tanya Alfa tiba-tiba yang membuat Wildan mengalihkan pandangannya ke buku menu. I winner, you loser.
-xXx-
"Ayo pulang? Gue udah capek" ucap Alfa sambil mengucek matanya yang makin memerah itu. "Yuk, lagian gue juga capek dan besok ada ulangan fisika," ucap Wildan sambil menghentikan kegiatannya melempar bola basket ke keranjang.
"Besok! Beneran ada ulangan fisika?" tanya Alfa memastikan, dan Wildan hanya menjawab dengan anggukan. Alfa kemudian menjambak sebagian rambutnya frustasi, ulangan fisika itu bagaikan halilintar terdasyat di hidup Alfa.
Wildan hanya menatap Alfa bingung sambil terheran. Kemudian Wildan segera mengajak Alfa pulang. Sebelum pulang mereka menghentikan langkahnya di tempat parkir.
"Lo kedinginan?" tanya Wildan sedikit khawatir saat melihat Alfa yang mengelus-elus kedua lengannya. Namun Alfa hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
Wildan melepaskan jaket hitam yang melekat ditubuhnya, "nih pake, nanti lo sakit," ucap Wildan sambil memberikan jaket hitam itu pada Alfa.
"Gak! Lo kan nyetir jadi yang harus pake jaket itu lo," tegas Alfa sambil menyodorkan kembali jaket itu pada Wildan.
"Gue gak terima penolakan," timpal Wildan sambil memakaikan jaket itu ditubuh mungil Alfa. Alfa hanya diam patuh, ia rasanya tak dapat berbicara lagi.
"Ya udah yuk pulang," ajak Wildan sambil naik ke atas jok motornya, pandangan Alfa mulai berubah terhadap Wildan. Dengan cepat Wildan menyalakan mesin motornya, dan Alfa pun ikut menaiki jok.
Dengan perlahan jaket hitam yang melekat ditubuhnya itu, ia lepas tanpa sepengetahuan Wildan. Motor ninja hitam itu pun berjalan, Alfa memasangkan kembali jaket hitam itu ke tubuh jangkung Wildan, agar Wildan tidak sakit nanti. Karena sebagai anggota PMR yang baik harus rela berkorban terhadap sesama. Tanpa mereka tahu, senyum telah mengembang di wajahnya. 'Cause you is my reason.
-xXx-
"Pagi anak-anak!" sapa Pak Ridwan sambil tersenyum membawa lembaran kertas ulangan harian.
"Pagi pak!" Balas semua murid kompak, Alfa mulai malas ketika mendengar akan ada ulangan fisika. Jika saat dengan Malda dulu, ia bisa bertanya jawaban ataupun cara menyelesaikan namun sekarang bagai dijungkir balik nasibnya.
"Kerjakan soal ini dengan baik ya, kemarin kalian sudah belajar bukan?" tanya Pak Ridwan sambil membagikan lembar soal ulangan.
"Belum pak!" Jawab semua murid serempak yang membuat Pak Ridwan makin melebarkan senyumannya.
"Saya kemarin pergi menjenguk kakek saya yang sakit pak jadi gak sempet belajar," balas salah satu murid yang bername tag Suci Rindya K.
"Itu bukan alasan Suci! Baik, waktu mengerjakan soal 60 menit yang dimulai dari sekarang," suara bariton itu membuat semua murid langsung mulai mengerjakan soal fisika yang tertera disana.
Alfa mendengus kesal ketika soal pertama yang muncul adalah materi yang paling ia benci yaitu bab kinematika dengan analisis vektor. Ia hanya bisa menghitung dengan hati nuraninya, kerena gara-gara membolos dengan Wildan kemarin membuatnya ia tidak belajar sama sekali untuk ulangan fisika hari ini.
Ekor mata Alfa mengarah ke Rachel yang duduk di samping Alfa dengan gaya tidur seperti biasa. Mungkin Rachel telah merencanakan untuk tidur saat ulangan harian agar mengikuti ulangan susulan minggu depan.
"Kenapa gue harus ngerjain ini?" desah Alfa ditengah-tengah ia menuliskan jawaban ke kertas lembar jawaban. Tak lama, waktu kurang lima belas menit namun Alfa masih berkutat pada nomor dua puluh yang menandakan ada tiga puluh soal yang belum ia jawab.
Ia mencoba untuk menemukan secelah jalan kecil. Matanya menyusuri seluruh kelas dengan ekor matanya. Dilihatnya Pak Ridwan yang tengah sibuk dengan lembaran-lembaran kertas di mejanya.
Sedangkan, Evita Putri a.k.a cewek cantik bak model yang pintar fisika itu tengah mengerjakan soal fisika dengan serius, hanya kemungkinan kecil ia dapat menanyakan jawabannya.
Mata Alfa melirik ke arah samping bangkunya tempat Wildan dan Ardi duduk. Ardi tengah mengerjakan soalnya dengan cermat sedangkan Wildan hanya terdiam sambil menyilang semua jawaban dengan sesuka hatinya, cepat dan belum tentu benar.
Alfa lagi lagi hanya mendengus kesal, sepertinya ia harus menggunakan jurus awutan miliknya, Alfa menarik nafas dalam-dalam lalu membaca basmalah sambil menyilang jawaban yang ia anggap kemungkinan besar akan benar.
"Waktu sudah habis," ucap Pak Ridwan tepat saat Alfa menyilang jawaban nomor lima puluh. Ia membuang nafas kasar seraya membereskan mejanya.
"Kumpulkan ke depan!" titah Pak Ridwan, dengan segera semua murid mengumpulkan hasil jawaban beserta soalnya ke muka.
Tapi satu yang tidak di ketahui Alfa sejak tadi, jika ada seseorang yang tengah mengawasinya dari balik soal fisika. I get you
-xXx-