Chapter 10

1685 Kata
"Kalo lo hancur gue bisa lebih hancur dari itu" - Bitter -xXx- Sudah dari sepuluh menit yang lalu, Alfa berdiri di halte dekat sekolahnya ia sudah janjian dengan Vina untuk membicarakan beberapa soal bahasa yang sedikit sulit. Tapi Alfa tak kunjung melihat batang hidung Vina sejak tadi, mungkin Vina sedang sibuk sampai melupakan janji nya pada Alfa. Tak lama kemudian ponsel milik Alfa berbunyi, Alfa segera mengangkat panggilan itu. "Halo, fa maaf gue gak bisa dateng soalnya mama lagi drop jadi gue gak bisa nepatin janji gue," ucap Vina dari balik ponsel. "Iya gak papa Vin, gue doain nyokap lo cepet sembuh ya," ucap Alfa, ia tahu jika ia sudah membuang waktunya tapi ia juga tak ingin memberatkan Vina. Alfa segera mematikan sambungan telepon. Alfa melirik ke salah satu warung yang dekat dengan halte, disana ada sebuah warung bakso. Alfa memutuskan untuk pergi kesana karena sejak tadi perutnya sudah memanggil ingin diisi. Setelah sampai disana ia mendaratkan pantatnya disalah satu kursi panjang. Memang jika malam seperti ini banyak penjual makanan berat di sekitar jalan di dekat halte, karena banyaknya pelanggan yang melintasi jalan ini. "Pak, bakso campur satu!" ucap Alfa seraya menghadap sang penjual bakso. "Siap neng," penjual bakso itu mulai meracik isian bakso campur pesanan Alfa. Alfa menatap jam yang melingkar cantik di tangannya. Sudah hampir larut malam, ia pun segera mengambil beberapa buku dari tasnya. Besok ia ada tes menyanyi dengan Wildan namun ia sama sekali tak latihan untuk besok. Mungkin ia hanya mampu berdoa untuk tes besok, semoga saja Pak Awan tidak akan memberinya nilai C untuk praktek menyanyi. Tak lama pesanan Alfa tiba, ia pun segera menyantapnya dengan lahap. Disambi makan ia juga mengerjakan beberapa soal bahasa yang ada di buku. Setelah acara makan-makannya selesai ia pun segera membayar bakso dan membereskan buku-bukunya. Malam ini sangat dingin sampai deru nafas Alfa menimbulkan uap. Saat Alfa menyeberang jalan tak disangka ada motor ninja hitam yang melesat dengan kecepatan tinggi yang menabrak Alfa. Alfa terserempet motor, banyak luka lecet yang ditimbulkan juga luka kepala yang sudah mengeluarkan banyak darah dari kepalanya. Alfa kehilangan kesadaran diri. Sampai ia tahu yang menabraknya adalah pengendara motor ninja hitam itu. Wildan. -xXx- Wildan yang sejak tadi mondar-mandir di depan pintu berwarna putih itu akhirnya merasakan khawatir yang hebat dengan keselamatan Alfa, karena selama ini ia hanya khawatir dengan keadaan ibunya saja. Ia tahu jika Alfa mengeluarkan banyak darah dan mungkin ia butuh donor darah dari seseorang. Seorang dokter berkaca mata dengan kumis tebal keluar dari pintu masuk UGD. "Apakah anda keluarganya?" tanya sang dokter sambil menaruh stetoskop miliknya ke dalam saku jas putihnya. "Bukan dok, saya teman sekelasnya, memang apa yang terjadi dengannya?" tanya Wildan sedikit sopan. "Dia kekurangan banyak darah tapi untung saja stok darah di rumah sakit masih tersedia jadi ia masih bisa terselamatkan, dia harus banyak istirahat," jelas dokter. Wildan hanya manggut-manggut mengerti. "Terima kasih dok," balas Wildan sambil tersenyum, "tentu, baik silahkan urus administrasi pasien," jawab dokter lalu pergi meninggalkan Wildan. Tak berapa lama setelah mengurus administrasi, Wildan memasuki salah satu ruangan tempat Alfa sekarang dirawat. Alfa terlihat sangat pucat dengan luka sobek di dahinya, mungkin ia harus mengucapkan beribu-ribu maaf pada Alfa. Wildan duduk di kursi di samping Alfa, ia seperti merasakan apa yang dirasakan Alfa sekarang meski ia tak terluka. Ia segera mengambil ponsel Alfa yang tergeletak di atas meja kecil. Wildan menscroll kontak Alfa untuk mencari salah satu nomor orang tua Alfa sampai ia menemukan satu nama yang mampu membuatnya terkejut, bola matanya membulat sempurna. Elfa? Mungkin itu bukan orang yang sama. Wildan kembali mencari nama saat menemukan nomer ponsel Papa Alfa. Ia pun segera menghubunginya. "Halo selamat malam om, saya ingin memberitahukan jika Alfa masuk rumah sakit," ucap Wildan sedikit canggung. "..." "Di Rumah Sakit Permata Bintang nomer 237 di lantai dua," jawabnya lagi. "..." "Sama-sama om selamat malam," balasnya lagi. Lalu ia mematikan sambungan telepon. Wildan meletakkan kembali ponsel milik Alfa ke meja. Wildan beranjak dari kursi sebelum Alfa sadar nanti karena ia tahu jika Alfa itu sangat membenci dirinya, "Cepet sembuh ya fa, gue pulang dulu," pamit Wildan sambil mengelus pelan puncak kepala Alfa. -xXx- Paginya tidak ada yang berbeda hanya saja raut wajah Wildan tak secerah biasanya. Dapo selaku teman curhat Wildan merasa ada yang aneh pada Wildan hari ini. "Lo kenapa wil? muka lo kok kayak baju belum disetrika gitu," tanya Dapo yang sekarang sedang berjalan beriringan di samping Wildan. "Gak papa, gue lagi gak selera aja buat ngomong," balas Wildan cuek seraya mempercepat langkahnya menuju ke kelas. Dapo hanya mengendikkan bahunya lalu berjalan menyusul Wildan. Saat sampai di kelas pun Wildan masih terdiam ia tak berbicara sepatah katapun pada siapapun. Ardi yang sedari tadi tengah mengoceh tentang balapan motor GP kesukaannya, hanya dilemparkan tatapan cuek dari Wildan sampai Ardi menyadari sesuatu. "Lo kenapa kek kambing cengo gitu sih? Gue cerita dari tadi malah lo kacangin," tanya Ardi sambil merubah posisi duduknya agak condong. Wildan hanya melirik sekilas kemudian kembali melakukan aktivitasnya. Tak lama kemudian, Pak Awan datang bersama gitar coklat di tangannya, Wildan menoleh ke arah tempat duduk Alfa, kosong. Wildan menghembuskan nafas kasar lalu kembali memperhatikan Pak Awan di depan. "Selamat pagi anak-anak!" sapa Pak Awan sumringah menatap murid-muridnya. Semua murid membalas serempak kecuali Wildan. Ia sama sekali tak ingin melihat senyuman siapa pun hari ini. "Baik, bapak akan memanggil urutan tampil sesuai urut absen ya," jelas Pak Awan sambil membuka perlahan buku panjang berwarna kuning itu. "Alfa dan Wildan!" panggil Pak Awan dari depan yang membuat Wildan kembali menghembuskan nafas. Ardi sebagai teman semeja Wildan merasa ada yang berbeda dengan Wildan hari ini. "Alfa gak masuk pak!" seru Rachel yang membuat Pak Awan mengangguk paham, "kalau begitu Wildan menyanyi solo saja, biar Alfa mengikuti tes praktek susulan,". Jessie dan kawan-kawan sejak tadi hanya bersorak ria karena Alfa tidak masuk, mereka sudah siap dengan yel-yel mereka untuk menyemangati Wildan. Sudah menjadi kebiasaan lama Jessie dan kawan-kawannya menjadi suporter setia Wildan. Wildan menoleh ke arah Jessie yang sudah berteriak senang sedari tadi, namun ia hanya memajang wajah flat dengan gaya coolnya. Wildan beranjak dari kursinya lalu menoleh ke arah Adam yang sibuk sendiri dengan buku biologinya. "Dam, gue pinjam gitar lo!" seru Wildan dingin tanpa memandang ke arah Adam yang tengah gelagapan saat diajaknya bicara. Sebenarnya dari sejak kelas sepuluh Adam sang nerd anti mainstream itu sangat takut pada Wildan, bukan masalah wajah Wildan yang serem atau apapun, melainkan ia tak mau menjadi sasaran Wildan berikutnya, setelah dia. Flasback On Wajahnya menatap cowok berkaca mata itu dengan bersungut-sungut marah. Sudah lama cowok nerd di depannya itu menjadi incarannya sejak MOS. "Lo..lo mau apa?" nada cowok itu terdengar ketakutan, ini adalah hari keempat ia menjadi sasaran bullyan Wildan sang penguasa. Setelah ia hampir saja diomelin oleh Pak Ridwan karena kabur saat jam fisika hanya gara-gara menuruti permintaan Wildan untuk membawakan seragam basketnya. "Cowok nerd kayak lo itu gak pantas jadi murid disini mending lo sekarang puterin lapangan basket seratus kali!" seru Wildan berapi-api. Cowok di depannya itu hanya bisa menahan ketakutannya, sebenarnya sudah lama ia ingin pindah dari sekolah ini, tapi sang orang tua tidak mengijinkannya karena keterbatasan biaya. Wildan memutar bola matanya jengah akan kelakuan cowok di depannya, "cepetan sana! Kalo enggak bakal ada yang lebih parah buat lo dari pada ini," sergah Wildan sambil menekankan setiap perkataannya. Edo sang pemilik kaca mata hitam bundar itu mulai berkeringat dingin, ia berjalan menjauhi Wildan, wajahnya sudah pucat pasi. Ia mengidap penyakit jantung tapi belum banyak orang yang tahu akan itu. Walau Wildan tahu itu pasti ia tak akan mengampuni Edo. Wildan dan teman-temannya sudah bersiap menonton tontonan gratis yang akan segera dimulai. Edo mulai berlari mengitari lapangan sambil membawa selembar kardus yang sudah di kalungkan di lehernya yang bertuliskan 'culun anti mainstream'. Wildan sesekali tertawa saat Edo tak sengaja terjatuh lalu bangkit lagi. Menurutnya menindas orang itu sangat menyenangkan. Begitu menyenangkannya sampai ia tak tahu lagi apa itu arti kemanusiaan. Seminggu setelah kejadian menyedihkan yang menimpa Edo, ia tak pernah kembali terlihat bahkan muncul di sekolah. Wildan pun sampai kebingungan untuk mencari pengganti Edo sebagai target pembullyannya berikutnya. Namun ada juga gosip yang banyak beredar di sekolah, ada yang bilang jika Edo itu meninggal bunuh diri gara-gara Wildan sang raja bully, ada juga yang bilang jika Edo sudah pindah sekolah tapi gosip itu semua belum terbukti kebenarannya. Saat ini Wildan dan teman-temannya tengah sibuk dengan pikiran mereka sendiri. "Gue takut kalo lo bakal jadi amukan Bu Carloz lagi," ucap Ardi pada Wildan yang tengah sibuk menyesap rokok. Mata Wildan melirik ke arah Ardi yang tengah gusar sendiri padahal Ardi tidak ikut andil dalam acara pembullyan Wildan. Meski dulunya memang iya, tapi Ardi sudah kapok ketika Bu Carloz menyeretnya dengan Wildan ke BK karena mereka ketahuan sering memalaki teman-temannya yang memang tidak sefamous mereka, setiap hari. "Gue yang kena, kenapa lo yang ribet, kita tinggal liat aja tuh culun berani gak nantang gue," jawab Wildan santai seraya membuang puntung rokoknya ke sebarang tempat. "Bukan masalah kena atau gak kena, masalahnya tuh kalo kita kena, bukan Bu Carloz lagi yang bakal ngomel tapi polisi juga," Agung sang kapten voli angkat bicara. "Bener tuh, lo mikir gak sih? waktu lo milih Edo buat jadi bahan pembullyan lo," tanya Duta yang sedari tadi sudah mengernyit masam ketika melihat Bu Carloz yang sedang mondar-mandir di bawah. "Gue udah nyiapin semua dengan sebaik mungkin, tapi tuh culunnya aja yang pake acara cari sensasi segala," timpal Wildan yang mulai jengah akan perdebatan ini. "Jangan mentang-mentang lo sebagai penguasa di sini bisa bertindak sesuka hati lo, kalo lo mikir pasti gak akan gini akhirnya," gertak Ardi geram akan perilaku Wildan yang egois. "Kalo lo emang gak mau ikut campur, mending lo pergi!" seru Wildan yang mulai emosi. Ardi yang merasa tersinggung akan ucapan itu memilih untuk meninggalkan rooftop. Wildan menghembuskan nafas kasar, " kalo diantara kalian semua yang gak mau ikut campur dalam masalah ini mending pergi dari pada lo gue banting dari sini," suara Wildan menggelegar yang membuat semua siswa disana seketika merasa takut akan amukan Wildan. Satu persatu siswa meninggalkan rooftop, Wildan tersenyum masam ketika hanya Pandego saja yang tertinggal karena ia sedang tidur pulas di atas kursi. Manusia b******k! -xXx-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN