Chapter 11

1296 Kata
I can't hate you -xXx- Mata Ardi dan Dapo dengan bersamaan seketik membulat sempurna ketika melihat kejadian langka ini bahkan secara live. Edo yang tiba-tiba saja dulu menghilang entah kemana sekarang tengah berdiri tegap di tengah jalan sambil sesekali membuat klakson para pengendara berbunyi dengan nyaring. Tak jauh dari jalan raya, Wildan terdiam sambil melihat kejadian itu. Ia terus memutar ulang otak ya mencoba mencerna semua kejadian ini. Semua siswa sudah ribut di trotoar sekolah. Banyak guru yang sudah membujuk Edo untuk menyingkir dari jalan tapi ia tetap bersikeras untuk bunuh diri dengan cara sekonyol itu. "Edo! Kesini nak nanti kamu bisa celaka," Bu Carloz angkat bicara ketika sebuah truk dengan muatan tebu hampir menabrak anak itu. "Kalo saya kembali apakah saya akan dipandang sebagai murid bukan sebagai manusia rendahan?!" tanya Edo disela-sela tarikan nafasnya. Siang ini arus lalu lintas cukup ramai. Jadi hanya kemungkinan kecil Edo dapat terselamatkan. "Nak Edo, kita bisa selesaikan masalah kamu baik-baik, jadi jangan gitu nak, kami semua itu keluarga kamu," ucap Pak Rahmad selaku kepala sekolah. "Bapak bilang mereka semua keluarga saya? Punya bukti apa bapak, saya tahu jika saya bodoh tapi hatinya tidak sebodoh itu pak!" Seru Edo yang mulai berkaca-kaca. Cukup lama saat perdebatan hebat itu terjadi antara Edo dengan guru lainnya pun. Tapi semua itu semakin membuat gadis dengan rambut panjang itu memutar bola matanya jengah. Kalo tarik ulur terus mana mungkin cepet kelar. Gadis itu mengikat rambutnya lalu dengan perlahan berjalan menuruni trotoar sambil sesekali menengok ke kanan dan ke kiri. "GUE BAKAL KESANA!" seru gadis itu yang membuat sebagian murid berteriak karena aksi nekat gadis yang bernama Alfa itu. "KALO LO MAJU GUE BAKAL MUNDUR!" teriak Edo tak mau kalah yang membuat Alfa semakin bosan mendengarnya. "MENDING KALO LO MAU MATI CARI TEMPAT YANG LEBIH ELIT DEH, JADI JANGAN NOLAK! TETEP DISITU!" teriak Alfa kencang yang membuat Wildan berdecak. Edo tetap teguh dalam pendiriannya. Karena arus lalu lintas lebih padat jadi Alfa sulit untuk menyeberang jalan ia pun segera meminta bantuan. "MAL PANGGILIN PAK KEMAL SURUH DIA BAWA KERUCUT LALU LINTAS " teriak Alfa pada Malda yang tak jauh dari sana. Tak lama Pak Kemal datang dengan KERUCUT lalu lintas ditangannya, Alfa pun segera menyebarkannya di sekitar jalan yang membuat banyak kendaraan berhenti dan memudahkan Alfa menarik Edo untuk minggir. Namun Edo malah mendorong Alfa sampai Alfa terjatuh dan lututnya lecet. Usaha Alfa tak sampai disini saja ia terus membujuk Edo sambil menariknya untuk menepi. "LO JADI COWOK KENAPA LEMAH GINI SIH, BANCI TAU GAK, KALO LO GAK MAU MINGGIR GUE BAKAL MATI IN LO DISINI," ancam Alfa. "Iya gue emang banci, kenapa lo harus nolong gue, biarin gue mati," ucap Edo tak mau kalah. "Gue bakal jamin hidup lo tentram habis ini, lagian kalo lo mau cari sensasi juga gak kayak gini caranya, norak!" timpal Alfa yang membuat Edo memincingkan matanya. "Biarin gue mati pergi lo!" seru Edo lagi sambil mendorong tubuh Alfa sampai membentur aspal. Para siswa yang menyaksikan pun berteriak histeris. Alfa segera bangkit lalu menatap miris ke cowok di depannya itu. "Lo emang cowok paling b******k yang pernah gue kenal, lo banci tau gak, kalo lo emang punya otak gak mungkin lo ngebuat hidup lo jadi kayak gini, mending lo sekarang minggir dan berhenti buat jadi cowok yang suka cari sensasi!" Timpal Alfa yang sukses membuat Edo tertohok karenanya. Dengan perlahan Edo menepi ke trotoar sambil menundukkan kepalanya di susul dengan Alfa yang masih bisa tersenyum walau ia sudah yakin seratus persen bila punggungnya memar kerena terbentur aspal. Flasback Off Wildan berjalan menghampiri Adam lalu mengambil gitar yang berada di samping Adam. Mata tajam milik Wildan menatap Adam sampai membuatnya menjadi menciut. Wildan kembali berjalan ke depan kelas lalu duduk di kursi yang sudah di sediakan. Wildan mulai memetik senar gitarnya. Dan memulai lagunya. -xXx- Pandangan Alfa tertuju pada setangkai bunga yang lengkap dengan coklat di sampingnya. Ia tidak tahu siapa yang memberinya hadiah itu. Ingatannya kembali pada malam terakhir tapi seakan ada sesuatu yang berdengung di telinga Alfa. Ia memutuskan untuk menunda mengingat kejadian itu karena kepalanya benar-benar sakit bila mengingat kejadian itu. Alfa menatap langit-langit rumah sakit yang berwarna putih itu, terbanyang bagaimana nasibnya saat ini. Perban sudah mengitari kepalanya dengan rapi meskipun ia sedikit risih karenanya. Infus itu, mungkin sudah sering kali ia berhadapan dengan cairan itu. Tapi kali ini benar menyakitkan, ternyata sakit itu lebih sakit dari pada orang sehat. Pintu masuk terbuka, Alfa mengalihkan pandangannya ke pintu masuk. Pria jangkung itu berjalan menghampiri Alfa sambil membawa surat dari seseorang. "Besok kamu udah boleh pulang, ini surat dari Malda dia gak bisa jenguk kamu katanya," ucap Papa Alfa sambil memberikan sepucuk surat yang bertuliskan 'To : Alfa'. Alfa mengambil alih surat itu dari tangan papanya lalu segera membuka dan membacanya. Matanya seketika berair tak kuasa menahan pilu itu. Surat itu mampu membuatnya menangis seperti ini. To : Alfa Hai fa, gue tahu kalo lo lagi sakit jadi get well soon ya, maaf gue gak bisa kesana. Maaf juga gue nyembunyiin ini dari lo mungkin gue gak bakal pulang lagi ke Indonesia atau mungkin gue gak bakal tinggal di bumi ini lagi, terserah tuhan deh mau buta gue kayak gimana. Jadi maafin gue atas semua kesalahan gue yang pernah ngebuat lo sakit hati, gue gak bermaksud buat jadiin surat ini perantara sayang gue sama lo, jadi it's oke kalo lo mau ngecek gue karena ngirim surat norak kayak gini. Gue sebagai sahabat lo dari SMP minta maaf sebesar-besarnya karena gak bisa pamit sama lo secara langusng. Lagian pasti lo bakal hidup bahagia disana dengan banyak temen yang pastinya lebih baik dari pada gue yang lemah ini. Mungkin saat surat ini sampe di elo gue udah take off dari bandara, gue pergi ke Jerman buat ngilangin semua penyakit yang gue idap selama ini. So, jangan pernah nangis untuk gue atau apapun itu. Kalo misal gue masih bisa bertahan gue bakal pulang dan ngajak lo pergi ke kedai es krim yang biasa kita datangin dulu. Gue sayang banget sama lo fa. Love you, and don't cry if i cannot be your best friend again. Salam hangat Aisyah Malda Aprezona Seketika sudah banyak air mata yang membanjiri pipi Alfa. Papanya segera mendekap Alfa di dalam pelukannya. "Kenapa Malda harus pergi pa?" desah Alfa sambil menangis tersedu-sedu. "Udah jangan nangis, Malda kan sedang berjuang disana lagian Malda kan gak pingin kamu nangis kayak gini," jawab Papa Alfa lembut yang mencoba menenangkan Alfa. "Tapi kenapa harus sekarang?" tangis Alfa mulai semakin deras. Ia meramas surat yang ada di tangannya sudah sejak lama ia bersahabat dengan Malda tapi kenapa harus secepat ini. Alfa menyadari jika perasaan yang terlalu dalam juga menimbulkan sakit yang sangat dalam juga bahkan lebih dalam dari samudera di lautan. -xXx- Kantung matanya berubah warna menjadi ungu dan juga memerah. Semalaman ia sudah menghabiskan air matanya sampai saat ini. Semua orang yang melihat pasti menyimpulkan jika Alfa habis mengosongkan tabung air matanya sekaligus. Ia memasuki kelasnya sambil sesekali mengucek matanya. Dapo yang melihatnya langsung menghampiri Alfa. " Lo gak papa, Fa?" tanya Dapo khawatir. "Gue gak papa, dimana Wildan?" tanya Alfa to the point, Dapo mengangguk "di rooftop," jawab Dapo. Alfa segera meluncur ke rooftop lalu menghampiri Wildan yang sedang berdiri termenung disana. Alfa menghentikan langkahnya di belakang Wildan. Ia merasa kembali ditusuk pisau ketika ia mengingat kembali isi surat dari Malda kemarin. Tujuannya sekarang adalah Wildan karena tadi pagi ia disuruh Bu Carloz untuk memanggil Wildan. "Wildan," panggil Alfa lembut. Wildan segera berbalik dan melihat pemandangan ini. Alfa terlihat pucat pasi dengan keadaannya sekarang, Wildan mengerutkan dahinya ketika melihat darah ke luar dari hidung Alfa. "Fa, lo gak papa?" tanyanya sedikit khawatir sambil berjalan mendekati Alfa. "Lo di--" kalimat Alfa terhenti, kesadarannya hilang. Tubuh mungil Alfa segera ditopang oleh Wildan. Ia pun segera membawa Alfa ke UKS. That's why -xXx-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN