Kamu adalah pemilik hatiku" - Miss
-xXx-
Gadis itu beberapa kali mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya dengan ruangan ini. Matanya menangkap sesuatu yang janggal. Kepalanya terasa seperti dihantam palu berulang kali.
"Gue dimana?" desah Alfa yang mulai menyesuaikan dengan ruangan yang tak asing ini.
"Di UKS lah," jawab seseorang yang sedang bersandar di ambang pintu. Mata Alfa seketika membulat sempurna ketika mendapati 'setan kesayangannya' sudah ada disini.
"Ngapain lo?!" tanya Alfa curiga sambil menaikkan selimut biru itu sampai menutupi hidungnya jadi yang terlihat hanya matanya saja.
"Gak terima kasih malah ngintrogasi gue kayak maling gitu," balas Wildan sambil menjentikkan jarinya.
"Emang lo ngapain? pake acara ngucapin terima kasih segala," tanya Alfa sambil mengerutkan dahinya.
Wildan menghampirinya, Alfa mencoba menjaga jarak dengan Wildan kerena tampangnya tidak meyakinkan untuk dijadikan teman. "Gue yang nolongin lo, lupa?" Alfa dengan susah payah menelan salivanya, ketika Wildan memajukan wajahnya membuat Alfa terkesiap.
Semakin dekat, Alfa segera menutup matanya lalu menghantarkan pukulannya tepat di wajah Wildan.
"Awww..." pekik Wildan yang merasakan hidungnya sudah berdenyut kesakitan karena pukulan Alfa. Mata Alfa terbuka, ia melihat hidung Wildan memerah bahkan membiru. Apakah ia terlalu keras memukulnya?.
Wildan menjauhkan wajahnya dari Alfa, ia takut kalau nanti ada pukulan susulan yang membuat tulang hidungnya bisa bisa patah. Alfa terbangun dari posisi tidurnya.
"Lo...harus tanggung jawab!" Alfa sama sekali tak menganggap itu salahnya bahkan sedikit pun tidak.
"Ogah, yang salah elo kenapa yang jadi kena getahnya gue?" Wildan menatap lekat Alfa rasanya ia ingin membungkam mulut itu.
"Kok gue, emang gue ngapain elo? Nyium lo? Geer lo, lagian lo emang mau? kalo mau juga gak papa kok, that's your choice," mata Wildan berkilat-kilat senang sambil menujukkan senyumnya.
"Iih pikiran lo m***m wil, sana pergi! gue mau tidur dulu," sergah Alfa sambil mengibaskan tangannya.
"Gue gak mau tau lo harus tanggung jawab, karena lo gue bisa masuk rumah sakit cuma gara-gara ditonjok sama cewek," jelas Wildan panjang lebar.
Alfa menarik selimutnya lalu membalutnya sampai menutupi seluruh tubuhnya dan tidur. Ia tidak peduli dengan Wildan bahkan ia sudah bersumpah tidak akan pernah memaafkannya.
Wildan mendengus kesal ia menarik selimut Alfa lalu memaksa Alfa untuk bangun dari tempat tidur. "Obatin gue!" Titah Wildan.
"Gak mau, suruh ngobatin Vina aja gue lagi pusing dengerin ocehan lo mulu," elak Alfa lalu kembali tidur.
Wildan memaksa Alfa untuk bangun lagi kali ini Alfa sudah sangat kesal dengan kelakukan Wildan. "Lo doyan banget sih ngeganggu hidup orang, mending lo sekarang pergi terus seret si Vina atau Jessie buat ngobatin lo," Alfa tetap mengelak dan pada akhirnya ia tertidur kembali.
Wildan tak mau kalah ia menarik lagi Alfa dari posisi tidurnya ia menatap Alfa sampai ingin tertawa. "Wildan! gue kan udah bilang, gue gak mau!" seru Alfa kesal.
"Tapi gue mau, terus gimana?" tanya Wildan, Alfa memutar bola matanya malas ia mengambil salah satu bantal.
"Itu urusan lo!" timpal Alfa sambil melemparkan bantal itu tepat di muka Wildan. Wildan memekik keras ketika batal itu mengenai hidungnya yang membuatnya semakin membiru.
"Alfa! Lo kok keras kepala sih kayak batu, mending lo sekarang ngobatin gue kalo enggak bakal ada poin pengurangan buat lo," suara Wildan membuat Alfa seketika melotot saat mendengarnya.
Ia mengingat sesuatu, jika ada peraturan di sekolah yang mengatur tentang k*******n terhadap sesama murid atau guru.
"Tapi kan yang salah buka gue wil, please help me for this," Alfa memasang puppy eyesnya yang membuat Wildan tak dapat dibuat luluh olehnya.
"Gak! gue gak terima penolakan, jadi lo harus ngobatin gue," mata Alfa berubah menjadi sedih tapi tidak dengan Wildan, ia tersenyum lebar ketika melihat kilatan kesedihan di mata Alfa.
Sesaat setelah itu Alfa turun dari tempat tidur lalu mencoba mencari alat kompres. Sekitar lima menit kemudian Alfa datang dengan baskom bersama dengan alat kompres.
"Duduk disana!" Titah Alfa sambil menunjuk ke arah sofa ingin yang tak jauh dari sana. Wildan berjalan dengan bersemangat.
Di dalam hati Alfa, ia sudah merapalkan seribu sumpah serapah yang ia tunjukan pada cowok menyebalkan di depannya.
"Aw...aw... pelan-pelan aja dong fa, gue juga manusia kali bukan barang," protes Wildan ketika tangan Alfa menekan pada bagian hidungnya yang sakit.
"Udah diem dari pada gak gue obatin mending tutup tuh mulut," ucap Alfa lalu kembali melakukan tugasnya. Wildan mengernyit masam.
Setelah Alfa sudah selesai mengobati Wildan ia segera membereskan semuanya. "Thanks," ucap Wildan, tapi Alfa mengacuhkannya.
Alfa menatap datar Wildan ia bisa merasakan jika ada rasa bersalah pada dirinya. "Sama-sama," balas Alfa cuek.
Semoga dia gak tahu yang sebenarnya.
Alfa menata kembali tempat tidurnya tadi lalu ditinggalkannya Wildan sendirian, belum ada dua langkah ia meninggalkan UKS panggilan itu kembali bergema di telinganya.
"Pengumuman kepada seluruh ketua kelas dan sekretaris dari kelas sepuluh, sebelas, dan duabelas harap berkumpul di aula sekarang juga, terima kasih,"
Alfa sangat membenci panggilan itu, dibelakangnya sudah ada Wildan yang menyinggung senyum senang. "Ternyata tuhan gak mau kita pisah, mari bu sekretaris," tangan Alfa tak sabar untuk menggorok leher Wildan setelah ini.
Alfa dan Wildan segera berjalan menuju aula. Saat disana mereka sudah disambut oleh Bu Carloz selaku bagian kesiswaan. Alfa menatap Bu Carloz antusias, tidak dengan Wildan karena ia tengah sibuk berbicara dengan cewek disebelahnya.
"Rumah kamu dimana?" tanya Wildan pada gadis di sampingnya yang ternyata adik kelasnya.
"Di jalan Melati kak," jawab gadis itu malu-malu yang membuat Alfa muak melihatnya. Tuh cewek kenapa gitu banget sih.
"Boleh minta nomor telpon gak?" tanya Wildan gadis itu lagi-lagi hanya tersenyum malu. Bu Carloz yang melihatnya dari tadi hanya berusaha tetap sabar menghadapi muridnya yang satu itu.
Bu Carloz berdeham keras yang membuat seluruh siswa memperhatikannya. "Selamat siang murid-murid," sapa Bu Carloz hangat.
"Selamat siang bu," suara dari murid-murid tak kalah kompak.
"Tak lama kita akan berpisah untuk sementara waktu karena adanya liburan semester," Bu Carloz memberi jeda sejenak lalu melanjutkannya lagi, " jadi sekolah kita akan mengadakan sebuah pensi dan acara liburan semester,"
Semua mulai berbisik akan acara ini. "Untuk itu ibu ingin kalian mengumumkan pada teman-teman di kelas kalian untuk mempersembahkan sesuatu, bagi ada yang minat silahkan daftar di Aldo kelas duabelas atau Alfa kelas sebelas, jika untuk acara liburan semester akan ada pemberitahuan lagi lebih lanjut," jelas Bu Carloz yang membuat semua murid mengangguk-angguk mengerti.
-xXx-
Suasana mulai ramai ketika Alfa memasuki kelasnya. Mungkin suasana seperti ini cocok untuk kebanyakan SMA umumnya tapi tidak dengan Alfa. Ia lebih suka kelas yang tentram dan damai.
Alfa bergerak maju ke depan kelas lalu mengetukkan penghapus papan ke papan tulisnya yang menimbulkan bunyi nyaring. Perhatian semua siswa tertuju pada Alfa.
"Pak Muriadi gak masuk lagi?" tanya Alfa sedikit kencang yang membuat Wildan yang berdiri di sampingnya mengerutkan dahinya.
"Iya, katanya Pak Muriadi izin gak masuk karena ada acara keluarga," jelas Rachel yang tadinya sedang sibuk buku tugas bahasanya.
"Oh gitu, siapa saksinya?" Alfa memincingkan matanya curiga ketika mendapati teman-temannya sudah berlaku curang disini.
"Siapa yang berani ngelakuin hal ini?" tanya Alfa lagi, ia tak peduli jika harus dikatakan over protektif tapi inilah dia. Alfa yang disiplin.
Semua temannya menunjuk ke arah Ricky dan Dion yang menjabat sebagai tampang kriminal SMA Garuda, mereka juga termasuk geng komplotan Wildan.
"Kok gue, kan dari tadi gue cuma duduk manis disini sambil liatin lo, fa," elak Ricky sambil memainkan alis tebalnya.
"Udah jangan ngeles, gue ada pengumuman jadi gini, akhir tahun ada pensi jadi kalo ada yang minat buat unjuk bakat lapor ke gue," jelas Alfa singkat.
"Singkat banget," bisik Wildan yang sedang berdiri di samping Alfa, Alfa menatap Wildan sambil melotot ia tak ingin mengeluarkan banyak kata-kata sekarang.
Sampai salah satu murid mengangkat tangannya. "Fa, kalo misal kelas kita buat band gimana?" Agung sang kapten voli angkat bicara.
"Boleh, tapi kelas kita gak akan ngeluarin uang kas jadi untuk yang mau ngebentuk band pengeluaran dari kalian sendiri," jawab Alfa antusias ketika mendapat lemparan pertanyan itu.
Dion yang sedari tadi mencoba mengumpulkan keberaniannya akhirnya bisa mengangkat tangannya. Alfa menunjuk Dion dengan dagunya. "Kalo yang jadi vokalisnya elo mau gak?" tanya Dion gugup.
"Kenapa harus gue?" Alfa berbalik tanya yang membuat Dion gelagapan sendiri. Ardi yang sedari tadi bungkam tak ingin melewatkan perdebatan ini.
"Just do that fa, vokalis cewek itu bisa nambah pandangan orang terhadap band kita," balas Ardi penuh percaya diri.
"Apa susahnya sih nurut sekali aja," sindir Wildan yang sedari tadi hanya menjadi penonton tak dibayar dalam acara perdebatan ini.
"Shut up!" timpal Alfa sambil menatap Wildan, pandangannya kembali ke teman-temannya. Ia tak ingin menghancurkan harapan temannya tapi ia juga tak bisa memikul dua beban sekaligus.
"Gini guys mungkin gue gak bakal bisa jadi vokalis yang handal dan baik, karena disisi lain gue harus jadi panitia inti acara itu juga gue selaku panitia inti belum ngelakuin rencana apapun," jelas Alfa sambil memasang raut wajah menyesalnya.
"Gue juga fa, gue juga panitia inti tapi gue bisa ngeluangin waktu gue buat jadi personel di band ini, you know?" Ardi menatap Alfa kecewa.
"Gue juga bisa buat jadi vokalis yang lebih baik dari pada Alfa?" Suara nyaring itu membuat sorot perhatian tersedot pada cewek berjepit topi besar di rambutnya.
Apa ini bercanda?
-xXx-