"Kenapa harus dia yang mengambil ingatan ini?" - Water
-xXx-
Rumah besar itu terlihat sepi, hening tak ada suara. Pilar-pilar besar yang menambah kemewahan rumah menjadi tak berarti ketika semua tak lagi tersenyum dan tertawa.
Langkah kakinya menggema di seluruh ruangan. Pandangannya tertuju pada wanita paruh baya yang tengah duduk di kursi roda. Ia sedang menatap keadaan langit senja hari ini dari balik jendela.
"Ma!" suara itu menggema di seluruh penjuru yang membuat wanita itu segera melihat ke sumber suara, tatapan itu kosong bagai hampa.
Hanya ada kekosongan tak berarti disana. Tatapan itu sudah menghantuinya sejak lama, sampai kejadian itu kembali berputar di ingatannya.
Suara itu kembali berdenging di telinganya, matanya terasa melihat kejadian tragis itu lagi. Dentuman yang sama ketika itu sangat memekakkan telinga. Suara rintikan hujan itu juga akan tetap sama seperti dulu.
Namun ia segera menepis semuanya sebelum ia menjadi kalap seperti beberapa bulan yang lalu. Ia berjalan menghampiri wanita itu sambil menahan sesak yang menjalar disekujur tubuhnya.
Beberapa menit ia menatap manik mata yang sama dengan raut wajah yang sama bahkan ini lebih buruk dari dulu. Wanita itu terus menatapnya penuh tanya.
"Kennan? Itu kamu nak?" nama itu yang paling Wildan benci di dunia ini. Orang yang begitu berarti baginya, tapi orang itu telah menghancurkannya segalanya.
Terbesit rasa menyesal di dalam batinnya, ia tak ingin mengulang masa lalunya yang kelam. Sudah cukup banyak kunci yang ia gunakan untuk mengunci beribu gembok di dalam peti masa lalunya.
"Ini Wildan ma," suara serak itu sekarang membuat wanita itu yang tadinya sedikit tersenyum sekarang kembali muram seperti dulu, ia kembali menatap jendela.
Wildan menarik nafas panjang, sudah bertahun-tahun ia menunggu mamanya menyebutkan namanya walau itu hanya sekali saja. Tapi mungkin itu tak akan terjadi.
-xXx-
Pak Ridwan memasuki kelas sambil tersenyum sumringah seperti biasa, ia juga tak lupa menampakkan setumpuk kertas hasil ujian kemarin ditangannya.
Semua siswa mulai berbisik-bisik akan hasil ujian kemarin termasuk Alfa. Ia sudah merapalkan beribu doa agar hasil ujiannya kali ini mendapat nilai di atas rata-rata.
Hanya satu murid saja yang bersikap cuek dengan pelajaran ini. Ia sama sekali tak peduli dengan ujiannya bahkan nilainya. Laki-laki itu hanya berharap pelajaran paling menyebalkan di hidupnya ini segera berakhir.
"Pagi anak-anak, pasti kalian sudah tahu bapak akan melakukan apa hari ini," ucap Pak Ridwan sambil tersenyum lebar.
Siswa dan siswi yang sedang duduk disana hanya tersenyum masam seraya menahan setiap detak jantungnya yang sudah berdebar bagai bom.
Selembar kertas yang bermakna adalah ujian fisika. "Bapak akan membagikannya sekarang ya, tapi saya akan menyebutkan nilainya juga," seperti biasa Pak Ridwan akan melakukan hal tersadis yaitu menyebarkan aib seorang siswa.
Aib baik itu tak masalah tapi yang ini bukan aib yang baik bahkan yang paling buruk. Alfa hanya menatap lebaran itu dengan berharap agar dia masuk siswa tujuh besar terbaik.
"Bapak akan menyebutkan dari yang pertama, jadi yang bapak panggil silahkan maju ke depan mengambil hasil ujian," jelas Pak Ridwan, seluruh siswa hanya mengangguk samar.
"Evita seratus, Ardi seratus, Vina sembilan puluh delapan, Adam sembilan puluh tujuh, Wildan sembilan puluh lima, Suci sembilan puluh lima, dan yang terakhir ... A ... Al ... Aldi sembilan puluh empat," rasanya tubuh Alfa lunglai seketika.
Seluruh siswa yang dipanggil maju ke depan dan mendapat lembaran hasil ujian beserta reward dari Pak Ridwan. Setelah itu yang lainnya dibagikan seperti biasa.
Alfa meratapi hasil ujiannya. Tak jauh beda dengan milik Rachel. Ia mendapat delapan puluh satu sedangkan Rachel delapan puluh. Rasanya ia ingin membanting apapun sekarang. Ini semua karena Wildan.
"Gue bakal balas perbuatan dia," desah Alfa. Ia menatap Wildan yang sedang tersenyum ketika digoda oleh Ricky dan Dion yang duduk di belakangnya.
Kringgg...
Bel sudah berbunyi yang membuat seluruh murid berhambur ke luar. Alfa pun juga ikut keluar kali ini ia memilih untuk sendirian karena ia tak ingin membuat seseorang menjadi pelampiasannya sekarang.
Sementara itu di berbeda ruang, Wildan sedang bercengkerama dengan teman-temannya di kantin. Karena baru pertama kalinya ia mendapat nilai yang bagus, ia ingin mentraktir teman-temannya, meskipun tanpa nilai baik pun ia juga sering mentraktir temannya.
"Eh eh kalo gak salah gue baru denger katanya SMA sebelah lagi ada sengketa sama anak SMA Mekar Jaya," celetuk Pandego sambil memasang tampang serius.
"Sejak kapan?" tanya Agung antusias sambil menyeruput es tehnya.
"Kalo menurut info yang gue denger katanya sih udah mulai kemarin, dan lo tau mereka bakal ngelakuin tawuran gede-gedean besok, lo gak mau ikut wil?" tanya Pandego tiba-tiba yang membuat Wildan langsung menatap oon teman-temannya.
"Gue? Mungkin," jawabnya singkat, padat dan kurang bermutu. Pandego mengingat lagi apa yang ia dengar dari temannya kemarin.
"Oh iya satu lagi, yang jadi komandannya cewek bro, cantik sih katanya, tapi gue belum pernah liat dia," dahi Wildan mulai mengerut, ia sangat penasaran begitu Pandego berbicara tentang hal itu.
"Siapa namanya? Siapa tahu bisa gue gebet ntar," tanya Duta lalu langsung dihadiahi jitakan jitu dari ahli karate a.k.a Dony Pratama.
"Inget Suci, ta. Lo mau kalo misal Suci ngamuk-ngamuk kayak dulu, kalo gak salah waktu itu dia hampir mengerobohin stand istrinya Pak Aman kan, gara-gara lo ngegombalin Apro waktu di parkiran," celetuk Dony yang membuat Duta menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
-xXx-
Alfa menatap tugas bahasanya yang sedikit lagi selesai. Hari ini hujan turun dengan derasnya yang membuat Alfa ingin tidur, bersembunyi dibalik selimut tebal.
Ia kembali menulis sampai tugasnya selesai,"and finish," ucapnya seraya melihat rentetan tulisnya yang panjang kali lebar kali tinggi. Ia sudah menghabiskan dua pulpen sekaligus hanya untuk menulis tugas ini.
Karena tugas bahasa begitu banyak yang membuatnya harus menyalin dua kali lipat dari pada yang asli. Meski bahasa tak begitu penting bagi kebanyakan teman Alfa, tapi Alfa begitu menyukai pelajaran ini.
Ia melirik ke arah jam weker berbentuk owl di nakasnya, sudah malam tapi belum terlalu larut untuk mencari udara segar di luar.
Alfa mengambil jaket abu-abunya lalu berjalan keluar kamar. Ia tak melihat Elfa dari sejak tadi, jadi ia berpikir untuk pergi ke kamar Elfa dan menunda untuk acara mencari udara segar di luar.
Kamar Elfa tampak selalu sepi, Alfa pun mengetuk pintu kamar perlahan namun tak ada jawaban, sunyi. Mungkin Elfa sedang keluar.
Tapi rasa penasaran sudah membuatnya kehilangan kesabaran untuk melihat isi kamar Elfa. Sudah lama ia tidak masuk ke kamar Elfa mungkin terakhir kali saat dirinya tahu jika papa dan mamanya sudah tidak ada di dunia ini.
Alfa menggerakkan knop kunci kamar Elfa, tidak dikunci. Alfa berpikir mungkin ia tidak akan mengusik kehidup kembarannya itu lagi setelah melihat apa rahasia dari kamar ini.
Karena sudah berulang kali ia berusaha untuk masuk tapi tetap dilarang keras oleh Elfa, ia tak tahu apa yang dirahasia kan oleh Elfa selama ini.
"Ngapain lo?" suara itu membuat Alfa menghentikan aksinya. Sedikit lagi pintu itu terbuka sempurna, Alfa memincingkan matanya ketika melihat bingkai foto itu.
Itu foto Elfa dengan seorang laki-laki yang wajahnya tak asing lagi bagi Alfa. Tapi Elfa segera menutup pintu itu secepat kilat yang membuat Alfa mengernyit heran karenanya.
"Udah gue bilang berapa kali sih, jangan masuk kamar gue!" ketus Elfa yang membuat Alfa semakin mengerutkan dahinya. Tatapan Elfa sama seperti tatapan saat kecelakaan itu terjadi.
"Ada apa sih el, kenapa aku gak boleh masuk kamar kamu?" Elfa memutar bola matanya malas, Alfa tidak bisa sedih lagi ia harus tahu apa yang sedang sebenarnya terjadi.
"Lo gak perlu tahu, yang terpenting jangan pernah buka kamar gue, minggir!" sergah Elfa lalu segera masuk ke dalam kamarnya sebelum itu dentuman keras akibat pintu itu hampir membuat Alfa jantungan.
Tidak ada kelemahan yang akan terus ditutupi pasti suatu saat kelemahan itu akan menjadi benteng terkuat untuk melindungi diri.
-xXx-