Luka bukanlah kenangan melainkan serpihan kesedihan yang lemah.
-xXx-
Jam tenang kelas ini sudah di mulai, dijam seperti ini memang sangat cocok untuk siapapun tidur karena cuaca di luar sedang panas-panasnya tapi di dalam ruangan ini sangat dingin karena berkat ac dan dua kipas angin yang terjaga.
Hanya beberapa murid yang masih sibuk menulis materi di papan sementara yang lain sudah terlelap dalam mimpi termasuk Wildan, karena ia ingin menyiapkan tenaga untuk membantu SMA sebelah dalam pertarungan nanti siang.
Pak Mur masih sibuk menulis di papan tulis sambil sesekali membenarkan letak kaca matanya. Kelas terlihat tenang saat pelajaran bahasa karena semua muridnya tertidur.
Sudah menjadi kebiasaan jika jam bahasa adalah waktu yang paling elit untuk tidur di sekolah. Alfa melirik ke arah Rachel yang sudah terlelap dalam tidur sementara siswi lain seperti Vina dan Evita masih sibuk menulis seperti dirinya.
Sekarang sudah menunjukan hampir jam pulang, tinggal sepuluh menit saja bel pulang akan berbunyi. Pak Muriadi pun sudah berberes-beres.
"Anak-anak silahkan kalian membereskan buku jangan lupa kerjakan tugas kalian," murid yang tadinya terlelap dalam tidur seketika terbangun karena suara Pak Muriadi, mereka hanya menatap linglung, lalu mengangguk patuh.
Setelah semua murid berkemas lalu berdoa bersama. Hanya tinggal menunggu bel pulang berbunyi.
Kringgg... Kringgg...
Bel pulang berbunyi, seluruh siswa sudah mengacir kemana mana, begitu juga Wildan. Ia pergi menuju ke arah parkiran untuk mengambil sepeda motornya. Setelah menghidupkan mesin sepeda ia pun segera melesat pergi menuju markas biasanya bersama anak dari SMA Pelita Jaya.
Gudang bekas prabik sepatu itu kini beralih fungsi menjadi markas besar komplotan yang beranggotakan pentolan SMA bertampang kriminal dan yang menjadi salah satu anggotanya adalah Wildan.
Yogi Pramuda adalah pelopor dari komplotan ini. Ia adalah siswa pentolan SMA Pelita Jaya. Yogi juga teman dari Wildan saat mengikuti pertarungan. Anak pentolan Pelita itu patut diacungi jempol dua untuk tampang kriminalnya.
"Hei ! Apa kabar sob?" sapa Yogi ketika Wildan baru saja datang dengan jaket hitam kesayangannya.
"Always be good, gimana sama cewek Mekar Jaya?" tanya Wildan seraya meletakkan tas tak berisinya ke meja besar disudut.
"Lumayan sih, jadi lo bawa anggota baru nih," jawab Yogi sambil beralih menatap Dony dan Ricky yang sedang berdiri di belakang Wildan.
"Iya, itu temen gue, yang ini Dony dan ini Ricky mereka berdua temen sekelas gue," Wildan memperkenalkan Dony dan Ricky yang hanya tersenyum lebar sejak tadi.
"Oh okay, itu bisa jadi penambah kekuatan kita untuk ngelawan Mekar Jaya," sahut Alexa Ferco a.k.a anggota komplotan yang menjabat sebagai ketua I.
"Setuju, gue gak sabar buat ngegebukin mukanya Erick, gue bakal buat dia jadi perkedel daging," celetuk Enji berapi-api dari sudut ruangan. Kebanyakan anggota dari komplotan ini adalah seorang bad person.
Komplotan ini bukan suatu wadah masa untuk jadi yang paling sangar ataupun penguasa, Yogi selaku pelopor membentuk komplotan ini hanya untuk menjaga harga diri dan martabat sebagai bad person.
"Gimana sama keadaan Ghino? katanya dia masuk rumah sakit gara-gara dikeroyok sama anak SMA Mekar Jaya," tanya Wildan pada Yogi.
"Iya sih, gue aja sampe di samperin bokapnya dia kapan hari," jawab Yogi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Setelah berbincang-bincang, mereka semua memutuskan menyusun rencana untuk memukul mundur SMA Mekar Jaya.
"Oy! Udah waktunya nih!" teriak Yoga dari ambang pintu sambil memegang persenjataan berupa kayu panjang yang sudah ia bentuk seperti tongkat baseball.
"Jadi, kalian udah siap!" teriak Yogi mengobarkan semangat anak-anak geng komplotannya sambil mengulurkan tangannya. Lalu dengan mata berkilat-kilat semangat, mereka menerima uluran itu.
"Siap!" teriak mereka bersemangat. Mereka pun keluar dari pabrik lalu satu persatu motor ninja besar menembus dinginnya udara sore hari.
Tiba ditempat yang sudah di rencanakan mereka sudah mulai melakukan gencatan, seperti aksi saling melempar dan saling memukul, bahkan sudah ada yang terluka. Semua anggota di kerahkan untuk merebut tahta atas wilayah ini.
Memang tempat ini dulu adalah milik Pelita Jaya tapi sejak Mekar Jaya datang ke tempat ini lapangan yang cukup luas untuk membangun rumah bertingkat ini beralih tangan dari Pelita Jaya ke Mekar Jaya. Itulah yang menyebabkan permusuhan ini terjadi, karena perebutan kekuasaan. Tapi bukan berarti Pelita Jaya haus akan kekuasaan.
"Lo kemarin udah ngeroyok temen gue sekarang terima ini!" pekik Wildan lalu mendaratkan bogeman dahsyat dirahang atas Dodi yang menjadi salah satu anak buah Erik.
Meski kebanyakan murid yang ikut andil dalam kegaduhan ini adalah seorang bad person, tapi mereka juga manusia yang bisa merasakan luka dan sakit.
Cewek dengan rok span pendek itu hanya satu-satunya perempuan yang menjadi anggota komplotan Mekar Jaya. Wildan tak bisa melihat wajah seutuhnya karena tertutup dengan kain hitam yang telah diikat hingga menutupi hidung dan mulutnya.
Perempuan itu membawa s*****a seperti pistol dan sebuah balok kayu panjang yang sudah dibentuk seperti tombak. Sepertinya perempuan itu merupakan lawan sepadan untuk Wildan.
Wildan melangkahkan kakinya menuju perempuan itu, lebih dekat rasanya Wildan tidak asing lagi dengan wajah itu. Dengan secepat kilat perempuan itu menodongkan pistol tepat di depan wajah Wildan.
"Mau apa lo!" tegas gadis itu, Wildan tersenyum kagum lalu mengangkat kedua tangannya ke udara. Bukan Wildan jika ia tak pandai bertarung. Tapi Bukan Wildan juga jika ia berani menyakiti seorang perempuan.
"Slow aja lah, jadi ini ketuanya," timpal Wildan sambil berjalan perlahan mengitari gadis berambut panjang itu. Gadis itu pun tampak serius saat menanggapi ucapan Wildan.
"Terus? Oh lo anak buahnya Yogi pasti, ternyata dia udah bangun benteng buat ngalahin Mekar Jaya, " balas gadis itu sambil melotot tajam tak lupa pistolnya yang masih mengarah lurus ke Wildan.
"Sebenernya gue bukan anak Pelita sih cuma sekedar bantu temen doang," sahut Wildan yang mampu membuat gadis di depannya terus waspada akan ada gerakan yang bisa mengancam keselamatan.
Gadis itu segera menyerang Wildan dengan jurus karate miliknya. Wildan pun begitu, ia sudah menekuni olahraga ini sejak kelas tujuh SMP.
Pertarungan sengit pun tak dapat di lewatkan, sementara itu pasukan komplotan Pelita Jaya yang dipimpin Yogi sedang sibuk adegan baku hantam, bahkan kepala Yogi sudah berdarah akibat hantaman batu dari anak Mekar Jaya.
Sementara Enji dan Alexa sedang ada disalah satu gudang tak terpakai yang masih sibuk dengan Erick yang terbukti sebagai ketua geng yang telah mengeroyok Ghino waktu itu.
"Jadi lo yang buat temen kita masuk rumah sakit ya?" tanya Alexa yang mulai geram akan ini semua. Cowok di depannya yang bernama Erick itu sudah babak belur bahkan wajahnya tak lagi berbentuk karena berkat seribu pukulan dari Enji.
"Jawab!" pekik Alexa yang hampir kalap akan ini, sudah lama ia ingin menonjok muka kriminal seperti Erick, bahkan ia juga ingin mengirim manusia b*****h itu pergi ke pemakaman umum. Yang ditanya hanya bisa mengangguk pasrah.
"Oh terus lo gak tanggung jawab gitu? Ninggalin Ghino sendirian di hutan sementara lo, hura-hura sama geng lo, b*****t!" tanya Alexa sambil memainkan sebilah pisau di tangannya. Balas dendam adalah alat untuk menyelesaikan segalanya bagi seorang bad person seperti mereka.
"Kalo ada balas budi berarti juga ada balas dendam dong, ya gak nji?" Enji mengangguk antusias sementara Erick hanya bisa berdoa agar dirinya tidak meninggal di tempat mengerikan ini dan di tangan kedua musuhnya itu.
"Eh iya gue lupa, katanya sih Ghino kena patah tulang di bagian rusuk sama kakinya, terus dia juga katanya bakal di bawa ke Jerman buat pengobatannya," Alexa memberi jeda sedikit kemudian melanjutkannya lagi "jadi gini Erick sayang, lo mau patah dibagian mana rusuk atau kaki? Gue udah baik lho mau nawarin lo, coba kalo elo ke Ghino, itu sama sekali gak baik, ngerti?" mata Erick seketika membulat mendengar penuturan Alexa barusan.
Di mata Alexa dan Enji mereka sudah cukup puas atas kecaman yang membuat musuh yang sedang duduk di depannya itu mati kutu. "Enji? Lo mau nambahin sesuatu gak? Kalo ada tambahinnya yang mantap sekalian ya buat temen kita yang tersayang ini bisa menikmati hidupnya dengan senang hati,"
"Oh terima kasih Alexa, gue gak bakal nyia-nyiain kesempatan ini, hajar!" aba-aba itu membuat teman-teman Enji dan Alexa memulai pembalasan dendam yang akan segera terbayarkan.
Dilain sisi dan ruang, Wildan sudah mampu mengalahkan gadis bertopeng itu meski ia mendapat beberapa pukulan telak yang membuat mukanya dipenuhi warna berkat lebam dan lecet.
Wildan menatap gadis bertopeng itu, gadis itu tampak lemah dan tak berdaya, bahkan lebih buruk dari pada sebelumnya. Untung saja Wildan masih mengerti sedikit tentang sikap kemanusiaan, jadi ia tidak membuat gadis di depannya itu sampai patah tulang atau pun gagar otak akibat terbentur dengan kerasnya aspal.
"Sorry gue bukan cowok yang suka menganiaya cewek jadi gue gak bakal ngebuat lo patah tulang kok karena itu prinsip gue," ujar Wildan sambil menyeringai lebar yang membuat gadis yang tengah tersungkur itu hanya tersenyum masam dibalik topengnya.
"Gue bakal balas semuanya!" Ucap gadis itu lirih bahkan hanya seperti angin lalu. Wildan mengambil sapu tangannya lalu melemparkannya pada gadis di depannya.
"Tuh buat ngelap muka lo, gue gak tega ngeliatnya jadi good luck ya, semoga kita bisa main karate lagi dan gue pastiin lo bakal kalah telak untuk ronde selanjutnya," sesaat kemudian Wildan berjalan menjauhi gadis itu.
Ini semua belum selesai Wildan Thaufan!
-xXx-