Chapter 15

1448 Kata
"Jika mata hati ini bisa sembuh aku ingin kau yang pertama kali ku lihat" - Broken heart -xXx- Setelah ia berhore ria dengan kawan-kawannya karena keberhasilannya hari ini, Wildan pergi ke sekolah lagi karena handphonenya tertinggal di kolong mejanya yang membuatnya harus rela menahan sakit di mukanya untuk beberapa saat. Meski sudah sedikit diobati tapi rasa perih akibat terkena pukulan tadi masih terasa. Sekolah sudah lumayan sepi hanya tinggal beberapa anak basket yang masih berlatih. Dan juga satu lagi. Wildan lupa jika tadi ada rapat OSIS bahkan dia tidak meminta ijin atau apalah itu. Ia menengok ke arah ruang rapat OSIS sudah sepi, mungkin semuanya sudah pulang. Ia segera mengacir ke kelasnya karena kelas belum di kunci ia pun tak berbasa-basi lagi. Setelah mengambil ponselnya, tak sengaja pandangannya menangkap seorang gadis yang tengah berlari dari lorong tempat ruang seni dan ruang musik. Dengan bermodal rasa penasaran yang tinggi, Wildan mengikuti gadis itu sampai ia terhenti di lorong kecil yang menghubungkan dengan rooftop room 3. Bahkan tidak banyak orang yang ingin kesana. Mungkin hanya beberapa orang yang sedang menyibukkan diri. Ia melongok dari ujung lorong, tidak terlihat gadis itu lagi bahkan jejaknya pun tak ada. Jika ada makhluk tak kasat mata disini, Wildan tidak takut akan itu. Sekolah semakin sepi ketika sudah terlihat Pak Aman yang mulai mengunci ruangan mulai dari koridor kelas sepuluh sampai gudang. Wildan yang sedari tadi sudah penasaran memutuskan untuk naik ke atas. Udara sore ini memang sangat dingin sampai menusuk tulang. Gadis perawakan kurus itu terlihat sedang membuang sesuatu. Wildan berjalan mendekati sambil memincingkan matanya untuk memperjelas penglihatannya. Saat gadis itu berbalik tampak dengan jelas jika itu bukan sunder bolong ataupun hantu sadako. Wildan menghembuskan nafas lega ketika mendapati jika sekolahannya bukan tergolong sekolah angker. "Lo ngapain disini?" tanya gadis sambil mengerutkan dahinya. "Gue penasaran aja siapa cewek yang hampir maghrib gini masih keluyuran di sekolah," jawab Wildan sambil menyeringai. "Tuh kenapa muka lo? habis tawuran pasti, ya kan?" tanya Alfa seraya membuang beberapa kertas dokumen yang sudah tak terpakai lagi. "Nggak kok, tapi habis ngegebukin anak orang, lagian magrib maghrib gini lo ngapain sih?" tanya Wildan heran. "Ya sama aja kali, nggak gue cuma buang sampah doang," jawab Alfa. "Lha terus kenapa kok harus disini? perasaan tempat sampah banyak deh," tanya Wildan sambil terheran-heran. "Lihat nih," Titah Alfa sambil menunjuk ke arah dimana ia baru saja membuang sampah. Wildan pun menghampiri Alfa lalu melihat apa yang ditunjuk Alfa. "Disini juga ada bak sampah ternyata," ucap Wildan kagum setelah melihat bak sampah berukuran besar jauh di bawah sana. "Gue biasa buang sampah disini biar sekalian bisa lihat pemandangan sekitar sekolah kalo sore gini," pandangan Alfa beralih lurus ke depan menatap matahari terbenam. "Oh gitu, bokap nyokap lo gak nyariin apa kalo lo pulang kesorean?" tanya Wildan tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan kota. d**a Alfa terasa sesak saat dihadapi dengan pertanyaan semacam itu. Tak terasa air mata sudah membasahi kedua pipinya. Ia tak ingin mengulang kejadian itu bahkan mengingatnya. Itu semua bisa membuatnya menjadi trauma. -xXx- Hari ini benar-benar hari yang menyebalkan untuk Alfa. Pagi ini ia tak sengaja bertemu dengan Dony dan ia harus rela bukunya berhambur ke lantai karena ditabrak Dony, Dony pun tidak membantunya malah pergi melarikan diri. Dan setelah itu saat pelajaran olahraga ia harus rela mendapatkan lemparan bola basket dari Vina yang dengan tepat mendarat di kepalanya, untung saja tidak benjol atau pingsan. Lebih parahnya, sekarang ia harus merevisi proposal yang baru saja di buat oleh Wildan. Bahkan bahasanya saja tidak jelas sama sekali. "Nih anak gak pernah belajar bahasa indonesia apa!" desah Alfa kesal seraya mulai menghapus beberapa kalimat lalu membenahinya dengan kalimat yang benar. Sudah dari satu jam lalu ia menatap layar laptopnya sambil sesekali mengistirahatkan matanya dengan pergi ke perpustakaan untuk mengambil tinta dan kertas untuk keperluan mengeprint. Alfa sudah cukup bersabar ketika mendapat cobaan seberat ini. Karena ia menganggap jerih payah penderitaannya hari ini adalah sedekah. Tak lama bunyi ketukan pintu membuat konsentrasi Alfa menjadi kabur berantakan. Sudah dua kali ia mendapatkan pemberitahuan tak penting dari teman sekelasnya. "Ada apa lagi sih!" pekik Alfa kesal karena sudah tidak tahan. Lawan bicara nya seketika melotot saat mendengar respon Alfa barusan. Kemudian pria itu berdeham, yang membuat Alfa memutar bola matanya kelas lalu berbalik untuk melihat siapa yang baru saja memancing kucing yang sedang tidur eh bukan tapi kerja. "Oh maaf pak, saya kira tadi teman saya," ucap Alfa seraya bangkit dari kursi sembari tersenyum kikuk ketika lawan bicaranya adalah Pak Ridwan. "Tidak apa, jadi bapak kesini ingin meminta bantuan kamu untuk menjilid proposal akhir tahun ini di tempat Bu Tutik," jawab Pak Ridwan sambil menyerahkan beberapa proposal yang kurang lebih tebalnya hampir lima belas puluh sentimeter. Lagi? "Baik pak, apakah proposalnya akan digunakan secepatnya?" tanya Alfa sesopan mungkin yang mencoba untuk menyembunyikan ledakan besar di kepalanya. "Tidaklah, tapi bapak akan menggunakannya pada rapat guru nanti sore," Alfa baru saja ingin menyerukan kata 'yes' tapi mungkin tidak, karena rapat guru akan dimulai satu jam lagi. Sedangkan proposal akhir tahun OSIS belum selesai ia revisi padahal Ardi sudah pesan pada Alfa agar menyelesaikannya dengan cepat. "Kalo begitu saya akan menjilidnya setelah ini," ucap Alfa, lalu Pak Ridwan mengangguk dan pergi meninggalkan Alfa. Alfa kembali duduk di kursi sambil memijit pelan pelipisnya. "Kapan gue bisa tenang walau itu hanya semenit aja?" tanya Alfa pada dirinya sendiri ketika menatap tumpukan kertas yang diberikan Pak Ridwan barusan. -xXx- Tatapan itu beralih padanya sambil mendesahkan beribu kata yang tak bisa ia mengerti, setelah itu banyak orang yang menghampiri, tapi ia hanya bisa terpaku sambil bersembunyi dibalik pohon yang rimbun. Tatapan yang dapat ia lihat hanya manik mata berwarna coklat yang berusaha mengatakan sesuatu padanya. Mimpi itu kembali datang menghampiri Alfa, mungkin ia tidak menghitung berapa kali mimpi itu menghantui tidurnya. Ia melirik jam weker di samping tempat tidurnya, sekarang sudah pukul lima. Alfa segera bangkit dari tempat tidurnya lalu mencoba menetralkan deru nafasnya yang tidak karuan. Ia kembali teringat pada saat saat terakhir dirinya bertemu mereka, orang yang paling ia sayangi. Bahkan disaat itu pula Elfa menjauhinya dan tak lagi bicara padanya. Yang paling ia ingat adalah saat Elfa mengatakan kata-kata yang mampu menyayat hati Alfa begitu dalam, sampai saat ini. Alfa pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Tak lama Alfa sudah siap dengan seragam sekolahnya ia pun segera turun untuk menikmati sarapan bersama Elfa dan papanya. Dari ekor matanya ia sudah tahu jika kakak kembarannya itu akan tiba dengan wajah sumringah. Elfa benci melihat itu, bahkan ia tak tahan jika melihat senyum diwajah Alfa terlalu lama. "Elfa berangkat," pamit Elfa lalu pergi tepat disaat Alfa mendaratkan pantatnya di kursi dengan bahan kain beludru merah itu. Alfa mengerutkan dahinya ketika melihat tingkah Elfa saat ia datang. "Kamu gak mau kalo aku disini?" tanya Alfa, yang membuat Elfa menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya. Raut wajah yang sama saat terakhir Alfa berbicara pada Elfa, kesal dan benci. "Kalo iya kenapa? Gue udah gak tahan kalo lo terus ngusik hidup gue, apalagi ikut campur masalah pribadi gue, basi tau gak!" Papa Alfa yang mendengar langsung menggebrak meja makan dengan keras yang menimbulkan kekagetan dahsyat dari keduanya. "Saya tahu jika saya bukan ayah kandung kalian berdua hanya saja saya sebagai adik dari ayah kalian merasa prihatin karena tingkah kalian yang seperti ini, bahkan jika seandainya saya menjadi ayah kandung kalian saya akan mengambil keputusan dengan memasukan kamu, Elfa, ke dalam asrama," Papa Alfa memberi jeda sedikit lalu melanjutkannya lagi, "Tapi untung saja itu tidak akan terjadi karena saya sangat menghormati keputusan ayah kalian untuk memasukkan kalian ke sekolah yang terbaik dan bermutu tinggi, bahkan kamu Elfa, kamu memilih untuk berbeda sekolah dengan Alfa, saya pun menuruti apa maumu, jadi saya meminta atas nama ayah kalian agar kalian tidak menjadikan hal sepele menjadi masalah yang makin bertambah besar dan berhenti untuk menjadi anak kecil," final. Papa Alfa meninggalkan meja makan lalu pergi ke kamarnya. Elfa hanya menatap cuek Alfa yang matanya sudah mulai berkaca-kaca. Sandiwara, hanya itu yang ada dalam otak Elfa ketika melihat Alfa hampir menangis karena omelan papa tirinya tadi. Bahkan Elfa tak pernah menganggap pamannya itu sebagai ayahnya sejak pamannya memutuskan untuk mengasuh dirinya dan Alfa. Bambang sebenarnya mempunyai istri namun istrinya meninggal ketika melahirkan anaknya dan saat itu pun anaknya juga meninggal. Ia pun tak memutuskan untuk menikah lagi karena ia tidak akan menggantikan kedudukan istrinya di hatinya. Dan pada suatu hari kakaknya yang tengah mengendarai mobil bersama kakak iparnya mengalamai kecelakaan maut, nyawa mereka sudah tak dapat tertolong karena ledakan mobil yang membuat keduanya sulit untuk dikenali lagi. Dari sejak itulah Bambang memutuskan untuk meminta agar Alfa dan Elfa menjadi anak angkatnya. Elfa kembali melajutkan langkahnya tapi pergelangannya sudah dicekal oleh tangan Alfa yang membuat Elfa berdecak sebal akan ini. "Ikut aku!" -xXx-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN