* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Zi, zi, please jangan nangis lagi—“ Lalu dengan spontanitasnya Jevan langsung memeluk gadis itu masuk ke dalam pelukannya. Entah apa yang dia pikirkan, atau apa juga yang sedang dipikirkan Enzi karena gadis itu gak menolak, yang pasti Jevan membiarkan Enzi tersedu di dadanya, membasahi kaosnya, dengan tangan terus mengusap punggung gadis itu naik turun. Dan jangan lupa, mereka masih di tempat parkir depan kafe, masih banyak yang lalu lalang, masih banyak yang ngelihat. Dipeluk begitu, Enzi jadi makin kejer nangisnya. Dia menenggelamkan wajahnya di pelukan Jevan—gak peduli kalau cowok yang lagi memeluk, mengusap kepala, dan memberikan kalimat pen

