Sudah Memiliki Istri

1151 Kata
"Kyle, aku dengar kamu baru saja kembali dari luar negeri, bagaimana perjalananmu? Kau pasti sangat lelah. Aku membawa sup ayam untukmu, makanlah selagi hangat." Sambil berbicara Claudine mulai menata sup ayam di atas meja Kyle, dia bersikap seperti seorang istri yang tengah mengunjungi kantor suaminya. Kyle tidak menjawab, dia masih bersandar sambil menatap Claudine yang begitu sibuk mengatur makanan. Claudine duduk di depannya dan menyerahkan sendok. "Cobalah, aku harap kamu menyukainya meskipun aku tidak tau apakah rasanya akan sesuai dengan seleramu." Claudine mengakhiri ucapannya dengan senyuman yang paling ramah. Matanya bersinar setiap kali dia menatap wajah Kyle yang tampan. Pria ini harus menjadi miliknya. Menatap sendok di depannya. Kyle mengerutkan dahinya. "Untuk apa kamu datang? Kamu juga tidak perlu menyiapkan semua ini." "Aku hanya khawatir, kamu selalu mengabaikan kesehatanmu jadi aku berinisiatif untuk membuat sup untukmu. Cobalah sedikit." Kyle hendak menjawab, tetapi kemudian suara ponsel terdengar. Dia menolehkan kepala dan menatap ke arah ponsel pribadinya yang menyala. Kyle mengetuk-ngetuk kan jarinya di atas meja, dia menatap ponselnya tetapi tidak memiliki keinginan untuk mengambilnya, dia masih terdiam dengan ekspresi yang sama tetapi matanya sedikit bergejolak, dia mengabaikan Claudine yang menatapnya dengan tatapan kecewa. "Kyle…" Claudine memanggilnya dengan lebih lembut, dia memasang wajah hampir menangis saat dia menatap Kyle yang mengabaikannya. Tangannya yang memegang sendok terasa pegal. Kyle tidak menjawab, dia masih menatap layar ponselnya yang perlahan meredup, setelah beberapa saat pertimbangan, dia akhirnya mengambilnya dan melihat bahwa sebuah pesan baru telah masuk. Membaca pesan itu, ruang kosong diantara dahi Kyle berkerut lebih dalam tetapi kemudian sudut bibirnya terangkat, sebuah senyum samar muncul di bibir Kyle, membuat Claudine yang memperhatikannya terkejut. Kyle bangkit berdiri dan segera mengambil kunci mobilnya. "Aku memiliki sesuatu yang harus diurus, kamu juga pulanglah." Setelah kata-kata itu Kyle bergegas keluar dan meninggalkan Claudine yang masih memegang sendok ditangannya. Claudine tercengang dia menatap Kyle yang keluar dan menutup pintu ruangan. Hati Claudine dipenuhi amarah. "Kau pikir aku akan menyerah begitu saja?" Claudine berbicara sendiri sambil membanting sendoknya. "Kau milikku Kyle, kau milikku. Aku tidak akan pernah menyerah." Sementara itu diluar ruangan. "Oh, lihatlah itu. Tuan Kyle keluar ruangan, tetapi di mana wanita itu?" Bisik-bisik para karyawan yang bekerja lembur kembali terdengar saat mereka melihat Kyle keluar dari ruangannya. Yang lainnya menimpali. "Apa yang terjadi? Aku yakin tadi wanita itu masuk ke ruangannya." "Mungkinkah dia ditinggalkan? Apakah ini artinya hubungan mereka berakhir?" "Apakah karena dia berani datang ke kantor ini?" "Hem, bisa saja, kira-kira apa yang membuatnya meninggalkan wanitanya seperti itu? Mungkinkah dia sudah bosan dan hendak menemui wanita lainnya? Dia bahkan terlihat sangat terburu-buru." "Hah, apakah itu mungkin?" "Mengapa tidak? Yang kita bicarakan ini Tuan Muda Kyle dan lagi, aku pernah mendengar sebuah gosip yang aneh, dikatakan bahwa sebenarnya Tuan Muda Kyle telah memiliki seorang istri di rumah." "Ey, tidak mungkin. Itu hanya gosip yang telah berlalu, sangat tidak masuk akal jika Tuan Muda Kyle memiliki seorang istri." "Benar, jika dia memang memiliki istri apakah wanita-wanita itu masih bisa dekat dengannya? Istrinya mungkin sudah mengamuk sedari dulu." "Kalian bekerja di sini tetapi masih berani bergosip mengenai bos kalian?" Tiba-tiba, atasan mereka datang dan menegurnya. "Ini masih jam kerja hanya karena bos kalian pergi bukan berarti kalian bisa berleha-leha, kembali ke meja kalian dan kerjakan laporan kalian." Mendengar teguran dari atasan, mereka semua segera membubarkan diri. **** Kyle memarkir mobilnya segera setelah dia tiba, dia turun dari mobilnya dan berdiri menatap rumah yang dia tinggalkan selama satu bulan, dahi Kyle berkerut rumah yang familiar tetapi juga asing disaat bersamaan, rumah besar yang dia beli tepat sehari setelah pernikahannya dengan Rachel. Dia membelinya dengan terburu-buru saat itu, dia ingin menghindari masalah karena dia percaya bahwa lebih baik mereka pisah dari orang tua karena dia tidak ingin ada percekcokan nantinya. Kyle bergegas masuk ke dalam rumah dan dia disambut oleh beberapa orang pelayan. "Tuan Muda…" Kyle mengabaikan mereka dan bergegas pergi ke lantai dua, dia berdiri di depan pintu kamarnya, ragu-ragu sejenak tetapi akhirnya membukanya. Hal pertama yang dia lihat adalah kamar yang gelap yang hanya diterangi sinar bulan. Kyle berjalan dengan ringan dan berdiri disisi tempat tidur. Tatapannya jatuh pada wajah seorang wanita yang tengah membungkus dirinya. Itu adalah Rachel, istrinya. Rachel tertidur dengan rambut yang menutupi sebagian wajahnya, dia membungkus dirinya hingga mencapai lehernya, nafas panasnya berhembus dan dia menggigil di dalam tidurnya. Kyle mengerutkan dahi saat dia mengulurkan tangannya untuk menyingkirkan rambut yang menutupi wajah istrinya. Tetapi, betapa terkejutnya dia saat dia merasakan suhu tubuh Rachel yang begitu panas. Kyle buru-buru menyingkap selimut di tubuh Rachel, dia menepuk wajahnya perlahan dan memanggil namanya. "Rachel…" "Rachel…" Panggilan lembut itu membuat sepasang mata biru milik Rachel akhirnya terbuka. Rachel menatap Kyle dengan tatapannya yang kabur, dia bingung ketika matanya melihat seseorang yang tampak akrab di depannya, wajah pria yang tampak familiar dan mata almond pria itu yang menatapnya dengan tatapan kekhawatiran dan kecemasan. Rachel mulai bertanya-tanya apakah ini nyata? apakah ini Kyle? Suaminya yang tidak pulang selama satu bulan? Jika iya, tidak mungkin dia menatapnya dengan tatapan lembut dan penuh kecemasan seperti itu. Ah, ini mungkin halusinasi atau ini pasti hanya mimpi. Ini mungkin efek demam atau mungkin Tuhan merasa kasihan padanya jadi dia mengirimkan suaminya dalam versi lain padanya, Kyle yang terlihat peduli padanya meski hanya dalam mimpi. Batinnya. Karena Rachel berpikir bahwa ini mimpi, dia segera menangkup tangan yang memegang pipinya. Tangan keduanya saling bersentuhan, Rachel membatin, bahkan sentuhannya terasa sangat nyata. Kyle tertegun sesaat sebelum akhirnya dia melepaskan tangannya dan pergi menjauh untuk menghubungi dokter keluarga. "Cepat datang kemari!" Panggilan singkat yang kemudian terputus begitu saja. Kyle menolehkan kepala dan menatap Rachel yang terbaring dengan nafas panas. Raut wajah Kyle berubah seketika. Kyle berdiri di sana ketika dokter datang dan memeriksa kondisi tubuh Rachel. Ketika dokter bangkit berdiri dan menyimpan alatnya. Kyle segera bertanya. "Bagaimana?" "Tidak ada yang serius, sepertinya Nyonya kelelahan, dia butuh istirahat, saya akan memberikan obat penurun demam." Kyle mengangguk dan menghela nafas lega. Dokter segera memberikan obat padanya. "Nyonya harus meminumnya tiga kali sehari setelah makan, saya akan datang lagi setelah dua hari, jika demamnya tidak turun dia mungkin harus dirawat." Kyle tiba-tiba merasa kesal, dokter ini sangat plin plan, dia segera meraih kerah baju dokter itu. "Jadi, dia harus dirawat atau tidak? Aku tidak mau seseorang mati di kasurku." Dokter terkejut, hampir tercekik. Dia tau pernikahan yang Kyle jalani bukan karena dia ingin tetapi karena rasa tanggung jawab. Tetapi, apakah dia bahkan lebih peduli terhadap kasurnya dibanding istrinya? "Untuk saat ini tidak perlu. Mari kita lihat setelah dua hari, seharusnya besok demamnya juga sudah turun. Tetapi jika besok tubuhnya masih panas, segera hubungi saya lagi." Kyle melepaskan cengkeramannya dan meminta dokter segera pergi. Setelahnya dia berjalan ke sisi Rachel dan mencoba membangunkannya. "Rachel…." Kyle menepuk tubuh Rachel dengan lembut berkali-kali dengan gerakan yang sama. Rachel terbangun, dia membuka matanya dan menyesuaikan pandangannya, saat itulah tatapannya bertemu dengan tatapan dingin Kyle. Kali ini dia menyadari bahwa ini bukan mimpi. Kyle telah kembali. "Kyle…" ucapnya lirih
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN