9
Love for Revenge
Runa menarik tangan Zoffan untuk menghindari tatapan curiga Eya. Ia bawa si bungsu ke belakang rumah menjauh dari telinga-telinga yang berniat ingin tahu.
”Kenapa kamu mau menikah dengan Eya?!” Runa mengecilkan suaranya karena bisa saja Eya menangkap pembicaraan mereka.
”Tadi juga aku udah kasih penjelasan sama Umi ’kan?” Zoffan berkilah. Sejak berurusan dengan Eya Driella, dia jadi sering berbohong. Dasar perempuan sialan itu!
Runa menatap bungsunya dengan mata yang menyipit menyiratkan ketakpercayaan. Tangan dia lipat di d**a. Hati Zoffan merutuki uminya yang pintar sekali mencurigainya. Dulu waktu Bang Fiyyan ingin menikah dengan Kak Zura, umi terima dengan senang hati. Waktu Bang Fiyyan ingin menikah dengan Eya, umi juga tidak menolak-nolak sekali—walaupun menangis seharian—tapi enggak ada deh sesi tanya jawab kayak begini.
”Apa salahnya, Mi? Zoffan ingin membantu Eya. Dia sedang dalam kesulitan. Abang saja rela masa aku enggak? Umi harusnya bangga kedua anaknya baik pada sesama.”
Dipukulnya lengan atas putranya, mata Runa mendelik. ”Iya Umi tidak menyalahkan niat kamu untuk menolong. Umi malahan senang, kamu mau membantu Eya. Tapi kenapa harus dengan menikah? Enggak cukup apa abang kamu bikin Umi gagal jantung mendengar berita itu? Sekarang giliran kamu lagi!”
Jelas saja, Umi! Wanita itu harus diikat biar enggak lari kemana-mana dan mengacau lagi. Dia harus merasakan pembalasan, Mi. Enggak ada bantuan yang manis untuk perempuan itu. Zoffan hanya membantu Abang Fiyyan supaya enggak digigit ular, itu saja.
”Kalau Umi enggak mau ikut bantu dia, ya udah usir aja dari rumah. Zoffan udah enggak betah tidur di ruang tamu!”
Plak!
”Aduh. Umi ini main tabok aja. Zoffan udah gede, Mi, masa dipukul-pukul sih? Cuman aku nih yang Umi tabok-tabok begini, Abang Fiy Umi sayang-sayang. Mending aku lahirnya duluan aja ah, susah jadi yang kecil.”
”Jujur dulu sama Umi! Kamu yang melakukannya, ’kan?!”
”Apa Mi? Umi gini amat sama Zoffan!”
”Umi lihat ada jejak tangan di leher Eya. Siapa lagi yang jahat sama dia kalau bukan kamu! Kamu dari awal sudah Umi perhatikan sering menerobos ke kamarnya!”
Zoffan batuk kecil. Perempuan itu mengadu kepada Umi?
”Aku mau menikah dengan Eya! Umi harus setuju! Tapi kalau enggak setuju, aku akan usir dia dari sini!”
”Baiklah, bukan kamu.” Runa menghirup udara segar dari hutan beraroma bunga cengkeh. ”Umi tahu Eya cantik, kamu pasti sudah suka sama dia.”
Batuk Zoffan semakin kuat. Umi kadang pintarnya bikin keki! Umi saja enggak sadar, Zoffan sudah membuang Eya ke hutan! Uh untung anaknya Abi Syofiyyan ini anak baik, jadi dia urung melakukannya.
”Jadi gimana? Umi pilih yang mana?”
”Mulut kamu kayak enggak diajarin adab bicara pada orang tua, Vaiden Ali!”
”Maaf, Umi. Mi, kasihan Eya Mi. Dia itu yatim piatu, dikejar utang lagi oleh orang-orang jahat. Umi enggak takut dia bunuh diri karena udah enggak kuat sama teror itu?”
”Tapi Umi masih banyak tanda tanya sama kamu.”
”Kapan-kapan aja tanya-tanyanya. Umi kayaknya udah sayang sama dia. Jadikan menantu dong. Kalau Umi setuju, Abi bakalan nurut. Pasti. Soalnya Zoffan ini anak lelaki, nikahnya enggak pake diwaliin sama Abi.”
”Kayaknya anak Umi ini emang sudah kena virus cinta Eya. Umi mau bilang apa lagi kalau kamu begini.”
Umi!!! Terserah Umi mau mikir apa ah!
***
”Eya enggak apa-apa nikahnya sama Zoffan? Dia masih kuliah.” Sekarang giliran Eya yang menjadi tergugat—yang ditanyai oleh Runa Fahiyya.
Tante tanya sama anaknya, sebenarnya dia niat menikah sama Eya karena apa? Mau membantu Eya? Enggak mungkin, Tante. Yang ada dia mau menyiksa aku!
Sepertinya Zoffan adalah spesies yang sulit dikalahkan. Akal pintar Eya enggak mempan untuk melawan lelaki itu.
”Kalau Eya gimana ya, Tan. Mungkin Tuhan memberikan jodoh aneh begini. Eh maaf, maksud Eya bukan anaknya Tante Runa yang aneh. Kisah hidup Eya yang aneh. Banyak kejutan. Tapi Eya akan terima kok Tan, Eya—” udah enggak tahu tujuan Eya di sini, Tan. Mana ada juga yang mau nikah sama Eya kalau bukan b******n kecil anak Tante itu. Anggap aja dia lagi tanggung jawab sama perbuatannya.
”Eya udah pasrah. Niat baik anak Tante enggak akan Eya tolak. Tapi Tante bilang pada anak Tante, ya, suruh cepat tamat. Eya enggak mau jadi tulang punggung keluarga.”
Runa tertawa. Aduh, betul juga. Zoffan kuliahnya masih beberapa semester lagi. Selama Zoffan kuliah, terpaksa dua anak manusia itu enggak bisa pisah rumah dulu dari Runa.
”Eya belum mau bilang pada Umi siapa yang sudah jahat dengan kamu?”
”Itu lagi? Enggak ada ah Tante. Itu cuman ruam biasa karena aku garuk jadinya kayak memar gitu. Enggak ada yang jahat sama aku. Kalau ada, aku hajar duluan lah.”
”Tapi Zoffan enggak ngapa-ngapain kamu, ’kan?”
Radar Tante Umi kuat banget! Coba Tante ajak Eya visum sekalian, yuk! Kita cari tahu apa yang udah anak Tante lakukan pada Eya. Tapi balik lagi, yang ada Tante malah dukung buat menikah. Apa lagi? Zoffannya juga mau menikah dengan Eya. Itu lelaki bodoh. Katanya jahat, eh malah mau menikahi Eya. Dia aneh banget. Eya enggak habis pikir.
”Cuman maksa aku nikah dengan dia.”
Runa tertawa lagi. Dipukulnya pundak Eya. ”Iya iya dia memaksa kamu menikah. Laki-laki memang seperti itu, Ya. Kalau mereka sudah suka pada satu perempuan, dia akan membuat perempuan itu halal bagi dia. Itu yang dulu Zahfi lakukan kepada Zura.” Runa segera menyesal karena sudah membahas cerita itu pada Eya.
”Zahfi juga memaksa Zura?” Rasa ingin tahu Eya memuncak. Kedengarannya ini cerita yang lucu dan pasti akan sakit untuk dia dengar. Meskipun begitu, Eya tetap ingin tahu.
”Fiy ditolak Zura. Semangatnya jatuh karena menantu Umi itu. Padahal, waktu akan melamar Zura, Fiy semangat sekali, bahagia sekali saat dia cerita soal rencananya. Tapi waktu berlalu, Fiy tidak membahas-bahas lamaran itu lagi. Akhirnya Umi tanya langsung. Kata Fiy, dia ditolak Zura. Umi ikut sedih.”
Eya menyeka matanya. Ada rasa sakit ketika mendengar kesedihan Zahfiyyan. Tapi yang lebih sedih lagi hati Eya sendiri. Zahfiyyan berusaha begitu keras untuk menikahi Zura. Sementara Eya tidak digubris oleh lelaki itu. Bertahun-tahun Eya mencintai Zahfiyyan sendirian. Lalu kabar bahwa Zahfiyyan telah menikah menjadi kabar yang sangat buruk waktu itu. Andai Eya yang diperjuangkan Zahfiyyan seperti Zura.
”Papa Zura menikah dengan adik Umi. Fiy itu dibesarkan oleh papa kandung Zura. Jadi Fiy tetap akan menikahi Zura karena Heri, papanya Zura, sudah restu pada Fiy. Zura merasa jika ia terpaksa menikah. Dan Umi baru tahu sebenarnya Zura juga sudah suka sejak lama suka dengan anak Umi.”
Oh iya, Zura pernah bilang hal itu di mobil dan Tante mendengar pengakuan Zura.
”Maaf. Umi jadi bikin Eya sedih. Umi juga restuin Eya dengan Zoffan. Umi percaya anak Umi yang bungsu juga akan mencintai Eya.”
Tangisan Eya semakin banjir. Tubuhnya dipeluk oleh Runa. Semakin diusap punggungnya, Eya semakin menangis. Eya enggak akan seberuntung Zura. Eya enggak akan pernah mendapatkan cinta. Cinta yang bertahun-tahun Eya harapkan malah berbalik menyakitkan. Apalagi menikah dengan orang yang membencinya, mana mungkin Eya akan bahagia. Salahkah Eya mencintai Zahfiyyan? Kenapa takdirnya seperti ini?!
”Makasih, Tante. Eya sudah enggak punya siapa-siapa lagi. Kasih sayang Tante begitu berarti untuk aku. Makasih sudah peduli kepada Eya.”
Eya merasakan ada yang tak beres dengan tubuhnya. Ada sesuatu yang mengaduk di dalam sana. Ia lepaskan pagutan Runa lalu berlari ke kamar mandi. Runa mengikuti dengan berlari juga.
”Eya kenapa?” tanyanya ikut masuk ke kamar mandi yang tak sempat dikunci. Disentuhnya punggung Eya yang merunduk ke toilet.
”Enggak—” Eya menunduk lagi dan memuntahkan cairan kekuningan.
Eya menyeka mulut saat merasa lega. ”Maaf. Tante lihat itu,” ucapnya menahan malu. Apa yang dia lakukan barusan sangat menjijikkan.
”Kamu itu memang sudah mulai enggak sehat sejak kamu minum obat tidur itu! Kalau ada masalah, ya bicara dengan Umi. Jangan dihadapi sendiri-sendiri. Jangan minum obat tidur hanya supaya kamu bisa istirahat!”
Eya memeluk Runa hingga wanita berhijab dongker itu terhuyung ke belakang. Eya rela sakit asalkan ada yang cerewet seperti itu kepadanya. Eya suka dengan cara Runa mengkhawatirkannya.
”Eya sayang Tante Runa. Makasih sudah ngomel sama Eya.”
”Kamu ini aneh sekali. Diomeli malah bilang terima kasih. Udah udah, ayo kita cari obat buat kamu.”
***