40 Love Eya menggeleng-geleng dalam keadaan mata terpejam. Kedua tangannya begitu erat meremas bed cover. Napasnya berlarian bagai ada yang memburu dengan senapan di tangan. Padahal ia tidak belari. Ia berbaring di tempat tidur yang nyaman—tempat ia tidur setahunan ini. Harusnya ia tenang. Namun yang terjadi, keringat membasahi pelipisnya. Bayangan-bayangan gelap terputar di memori. Eya rasa ia telah menjerit keras tetapi tidak ada yang datang menolong. Pedih dan perih di pusat dirinya seperti akan membawa ia mati. Eya menjerit lagi tetapi mulutnya dikunci. Ia menggeleng-gelengkan kepala lagi. Teriakan demi teriakan yang ia lakukan percuma. ”Ey, bangun. Kamu bikin aku khawatir.” Eya membuka mata. Sepasang mata teduh menatapnya dengan sorot cemas. Eya melihat keadaan tubuhnya. Ia

