18 Back to Home Ketukan demi ketukan Eya lakukan pada daun pintu sebuah rumah sederhana. Mentari tengah bersinar dengan galak hingga menembus kulit. Dahaga menyiksa diri. Diselingi salam, Eya mengetuk sekali lagi. ”Wa’alaikum salam. Ya Allah, Eya mah. Ayo ayo masuk, Nak.” Ibu Parwati si pemilik rumah menyambut Eya dengan baik. Parwati menyilakan Eya duduk dan ia sendiri ke belakang untuk membuatkan minuman. ”Lama tak pulang, apa kabar Eya?” tanya Parwati ketika meletakkan segelas es teh di atas meja. ”Alhamdulillah Eya sehat. Ibu Par sehat? Gimana sama Anti? Ada di rumah?” Anti adalah putri Parwati teman kecil Eya. ”Sudah menikah dan tinggal dengan suaminya di Bandung. Kalau Eya gimana? Sudah bermenantukah ibu ini?” Eya tersenyum. ”Eh diminum tehnya. Cuman ini yang ada di ruma

