19 That Guy and... Trip Eya duduk dengan gelisah di bangku depan cermin besar. Dipandangnya wajah yang tanpa pulasan make up. Bibirnya terlihat pucat. Ia basahi berkali-kali tapi tak jua membuat warnanya kembali. Ia pukul pipinya tak kuat. Sakit. Memejam sebentar, Eya pun membuka mata perlahan. Bola matanya masih merah. Bukan merah akibat baru bangun tidur tapi karena menangis. Huft. ”Gimana ini?” Tangannya masih menampakkan getaran akibat petistiwa tadi. Ketika bangun dari tidur, ia dapati bercak darah di celananya. Walaupun sedikit tapi membuat Eya kalang kabut. Ia takut kandungannya kenapa-kenapa. Matahari telah tergelincir ke barat. Sepertinya Eya tidak bisa pulang hari ini. Kalau dia nekat, dia bisa kemalaman di jalan. Bukan. Bukan karena itu. Eya merasa cemas. Ia takut akan

