Sekali Hap Pingsan

1403 Kata
Setelah tadi pagi makan sampai kekenyangan, jam sepuluh pun Sri sudah mengantuk sampai tertidur pulas. Ia bangun pukul satu, sehingga buru-buru dirinya pergi ke kamar mandi. Meski terlahir dari keluarga pejudi dan pemabuk, Sri tak pernah melewatkan kewajibannya kecuali Subuh tadi. Selepas shalat, Sri merasa perutnya kembali lapar. Entah kenapa, padahal, biasanya ia kuat makan hanya sekali setiap hari. Tapi kali ini, ia merasa benar-benar keroncongan. Perut ratanya bahkan baru saja berbunyi. “Aih. Kamu kenapa sih kok mendadak mudah keroncongan?” tanyanya sambil menunduk, melihat dan mengusap perut. “Biasanya juga sekali makan setiap hari tuh,” sambungnya seraya berdiri dari duduk di tepi ranjang. Sri berjalan menuju pintu yang sedari tadi ia kunci. Para pekerja yang tadi pagi berisik di luar kamar sudah tak terdengar dari jam sembilan lebih. Entah ke mana mereka, Sri tak tahu. Tapi, ia yakin kalau pekerja di rumah suaminya itu kembali melakukan pekerjaannya masing-masing. Ia membuka pintu perlahan setelah membuka kuncinya terlebih dahulu. Lantas mengintip dan melihat ke sisi kiri dan kanan. Benar saja, Ranti dan Shanty tidak da di sana. Perlahan pula, wanita yang rambutnya berantakan habis shalat itu pun keluar. Ia berjalan mengitari ruangan di lantai atas. Semalam, Sri melakukan hal itu. Namun, karena dalam keadaan takut, ia tak menyadari setiap keindahannya. Barulah sekarang, terlebih setelah ia ke balkon utama, kedua matanya takjub melihat kolam renang yang di sekelilingnya dihiasi banyak tanaman bunga. Kedua matanya berbinar melihat apa yang belum pernah ia lihat secara langsung. Ia bahkan menganga sehingga buru-buru menangkupnya dengan kedua tangan karena meski pun kecil kemungkinan, bisa saja ada lalat yang masuk ke mulutnya. “Gila. Ini sih keren kebangetan,” katanya masih takjub. “Aku liat beginian itu di film-film. Tapi sekarang? Masya Allah. Keren abis pokonya.” Karena penasaran, Sri pun bergegas pergi ke bawa. Ia ingin menyentuh air di kolam yang baru saja dilihatnya. Ia juga ingin menghidu aroma bunga segar yang tampak warna-warni dan beragam jenisnya. Belum lagi kolam ikan yang sekelilingnya dihias bak sebuah air terjun di kedua tumpukkan batu. Sri tak sabar. “Eh, Nyonya mau ke mana?” Tiba-tiba saja Shanty bertanya. Sri yang baru saja turun dari anak tangga pun terperanjat sampai menyentuh d**a. “Astagfirullah, Mbak. Kaget saya. Untung nggak sampai rata ini d**a!” katanya. “Aih.” Shanty sontak tertawa. “Saya juga kaget karena Nyonya tiba-tiba turun dari kamar. Tuan bilang, jangan biarin Nyonya ke mana-mana. Soalnya takut kabur.” “Kabur? Oh, ya ampun si Om. Mana ada aku mau kabur? Uang nggak punya. Jalan pulang nggak tau. Bayangin aja.” Sri tergelak. “Iya, juga sih. Tapi kok manggil Om?” Shanty tak paham. Baru kali ini ia mendengar seorang istri manggil Om sama suaminya sendiri. “Ya, kan memang sudah Om-Om. Saya ini loh baru sembilan belas tahun. Parah, kan?” “Iya, sih. Tapi memangnya nyonya mau ke mana? Kok, kelihatannya buru-buru?” Shanty pun menyengir kikuk. “Itu loh. Dari atas saya lihat ada kolam berenang. Saya mau ke sana. Nggak apa-apa, kan?” Sri balas menyengir. “Nggak apa-apa, Nyonya. Mau sekalian berenang juga nggak apa-apa.” “Serius? Nggak dalem, kan?” Sri pun tampak senang. Di kampung, ia biasa renang di kali. Itu pun sewaktu kecil dulu. “Lumayan lah. Tapi kalau bisa berenang mah aman,” timpal Shanty. “Temenin saya mau?” tawar Sri, tak bohong. Ia memang ingin berenang, tapi ditemani. “Aih. Saya ini pembantu. Masa berenang sama Nyonya?” “Ya, nggak apa-apa. Ayo!” ajaknya seraya meraih tangan Shanty. Lantas ia menggusurnya. “Eh, bentar, Nyonya. Ajak Ranti boleh?” Shanty menyengir lagi. Kali ini benar-benar menyerupai kuda. Sri bahkan sampai tertawa melihatnya. “Ya, nggak apa-apa. Dah sana buruan ajak. Saya mau ke sana duluan kalau gitu,” katanya. *** Tak tanggung-tanggung, Sri bersama Ranti dan Shanty pun berenang selama hampir dua jam. Ketiganya menghabiskan waktu bersama sambil bercanda, layaknya remaja pada umumnya. Dan sebagai yang paling bontot, Sri pun yang paling banyak bicara. “Kalian udah pada kedinginan belum, sih?” Sri pun menepi dan menyandarkan punggungnya ke dinding kolam. Ia menyeka rambut yang berantakan dan lalu memerasnya sedikit. “Udah, sih. Jam berapa ya sekarang? Udah lewat Ashar belum?” Shanty memastikan. Pasalnya, sebentar lagi Safka pulang. “Aih. Kayaknya udah deh. Gawat!” Ranti pun seketika beranjak naik ke dari kolam. “Eh, gawat apaan?” Sri tak paham. Ia mendongak sebelum akhirnya menyusul naik bersama Shanty. “Tuan sebentar lagi pulang, Nyonya. Ayo! Aduh, mana kita belum masak pula,” timpal Shanty. “Aih. Iyakah?” Sri pun ikut kalang kabut. “Kalau gitu ayo!” ajaknya. Namun, sayang. Ketiganya sudah terciduk oleh Safka yang tadi memutuskan pulang lebih awal. Ia yang seharusnya sampai pukul lima, pukul empat sudah ada di dalam rumah. Ia menggeleng sambil memelak pinggang. Bukan karena marah, karena bibirnya justru tersenyum lebar. Ia benar-benar merasa lucu saat melihat sri dan para pekerjanya berenang, sejak lima menit yang lalu. “Tuan?” Ranti yang lebih dulu berdiri di tepi kolam pun seketika memeluk d**a dan berbalik membelakangi tuannya. Pun dengan Sri dan Shanty yang juga seketika berbalik menghadap kolam. “Gimana ini?” Sri berbisik pada Shanty. “Nggak apa-apa. Tuan baik kok orangnya, kita tunggu dia pergi aja, baru pergi dari sini.” Shanty balas berbisik. “Ok!” Sri mengangguk ragu. Pasalnya, ia langsung membayangkan seringai galak Safka. Ia pikir, suaminya itu akan mengacungkan semacam gergaji karena ia dan para pekerjanya sudah berani berenang di kolam miliknya itu. Namun, setik berikutnya, Safka justru bertepuk tangan. “Sudah puas berenangnya, anak-anak? Kalau sudah, harap segera mandi sampai bersih, ya. Kita makan bareng-bareng nanti,” katanya, sambil lalu. “Aih?!” batin Sri, Ranti dan Shanty. Hening. Sri dan kedua remaja berusia empat dan enam tahun di atasnya itu pun tak lagi mendengar suara Safka. Ranti menoleh. “Aman!” katanya yang seketika bernapas lega. “Sekarang kita harus cepat-cepat mandi. Kamu, Shanty ... mandi di kamar mandi tamu. Ayo!” “Let’s go!” Shanty langsung menimpali. Sementara itu, Sri justru terbengong sampai akhirnya Ranti meneriakinya untuk segera pergi. “Astaga! Aku harap si Om nggak punya pistol. Kalau punya, bisa-bisa aku ditembak sampai mati,” batinnya seraya melangkah pergi. Namun, baru saja langkahnya mencapai tangga, Sri terpikir kalau ia harus pergi ke mana. Sebab Safka sudah pasti ada di kamarnya. “Aih. Aku mandi di mana dong?” batinnya lagi. Seketika sri pun lari ke kamar mandi di mana ada Ranti di sana. Namun, Ranti menolak kedatangannya karena sudah terlanjur mandi. Begitu juga saat Sri mendatangi Shanty, wanita itu tak mau membuka pintu. “Sial!” Sri merutuk. “Ada kamar mandi lain nggak sih? Eh, tapi ... kalau pun ada aku nggak bisa dong telanjang lagi. Ya, ampun ... gimana ini?” batinnya. Tanpa ia sadari, Safka memerhatikannya sedari tadi dari atas. “kamu ngapain, sih? Nggak liat itu jejak kaki bikin basah ke mana-mana? Mandi sana. Aku dah lapar,” katanya, sukses membuat Sri terperanjat. “I-iya, iya.” Terpaksa, dengan langkah berat, Sri pun menaiki anak tangga. Selain tubuhnya bergetar karena dingin, kakinya pun bergetar karena takut. Safka yang paham akan isi pikiran Sri pun menggeleng. Ia sudah memegang handuk untuk dirinya mandi. Namun, melihat Sri menggigil ia pun menyusul istrinya yang tak kunjung sampai di atas. “Kamu ini manusia apa siput, sih? Jalan kok lelet amat?” tanyanya, tak berkeprimanusiaan. “Gajah, Om. Makanya jalanku lelet. Berat!” timpal Sri tanpa ekspresi. Namun, begitu Safka menyelimutinya dengan handuk, Sri pun sontak berhenti dan melihat lelaki di sampingnya itu. “mau ngapain kamu?” Otaknya masih suuzan. “Dih! Otakmu tuh beneran koslet, ya? Pikirannya kok aneh-aneh mulu, sih? Ya, kali saya mau aneh-anehin kamu di sini? Nanti aja di kamar. Eh,” jawabnya sambil menahan tawa. “Gosah macam-macam. Kecil-kecil begini, saya itu jago pencak silat. Sekali hap, pingsan kamu!” ucapnya, seraya buru-buru melangkahkan kaki. Kali ini langkahnya cepat. Sebab Sri ingin mendahului masuk ke kamar. “Kan, lari dia!” Safka menggeleng. Ia juga tertawa melihat tingkah Sri yang masih sama. “Serah kamu lah, Sri. Tapi besok-besok. Setelah kamu lihat ketulusan hatiku, jangan sebut aku Safka kalau nggak bisa bikin kamu jatuh cinta,” sambungnya. “Apa, Om?” Sri tak berbalik. Tapi ia sedikit memelankan langkah kakinya. “Kagak. Dah lah sana buruan mandi sendiri, kalau memang nggak mau aku mandiin.” “Dih, najis!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN